Seminggu berlalu, Rezky, Raka, dan Reka kembali bersekolah. Bekas memar masih terlihat di wajah tampan Raka dan Reka. Selama seminggu pula Aaro layaknya anak kecil yang meminta mainan pada ibunya. Aaro selalu mengikuti Rasya kemanapun, ia tak lelah meminta maaf. Walaupun Rasya mengabaikannya. Sekarang, Rasya yang menjadi Kutub Utara dan Rangga yang menjadi Gurun Sahara.
Selama seminggupun ia sering mengunjungi Raka dan Reka, bukan mereka sebenarnya tujuan ia datang ke rumah sakit, tapi Rasya. Bahkan Rangga sudah melakukan hal haram baginya, meminta maaf pada orang yang telah dihajarnya. Ya! Rangga meminta maaf pada Raka dan Reka atas insiden seminggu yang lalu, demi Rasya tentu saja. Jika tidak dibujuk oleh Rezky pun ia tak akan mau.
Wajah Rangga datar tanpa ekspresi
"Maaf," satu kata yang tak terdengar tulus.
"Apa? Gue gak denger," Raka memancing si iblis yang bersarang di tubuh Rangga. Rangga menggeram kemudian menghembuskan napasnya kasar.
"Gue minta maaf," kali ini volume suara Rangga lebih keras. Raka tersenyum penuh kemenangan, Reka ia hanya megangguk-ngangguk, sejak awal ia tak pernah menyalahkan Rangga yang membuatnya terbaring di ruang inap rumah sakit ini. Ia malah bersyukur karna bisa tidur dengan tenang tanpa memikirkan sekolah selama beberapa hari.
"Lo minta maaf ya? Gue mau maafin kalau lo bertekuk lutut di hadapan gue," Rangga memejamkan matanya ketika mendengar permintaan Raka, ia bersumpah jika tidak ada Rasya kemungkinan besar ia akan merobek mulut b******k milik Raka. Rasya sedari tadi bersender pada dinding dengan tangan yang ia lipat di depan d**a, juga wajah tanpa ekspresinya yang terus menatap Rangga.
Rangga mulai berjongkok, memposisikan tubuhnya agar berlutut, sebelum mulutnya mengucapkan kata maaf Rasya sudah memerintahkannya berdiri, dengan cepat ia langsung berdiri. Perintah Rasya adalah hal mutlak baginya.
"Lo kok jadi nyebelin sih, Rak? Ngapain pake acara berlutut segala? Lebay lo!" Rasya mendekati Raka, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang kesal.
"Kalau orang udah minta maaf ya harus lo maafinlah!"
"Apa salah gue minta hal itu? Dia aja udah hajar gue tanpa sebab yang jelas, Sya," Raka membela dirinya.
Rasya mencebik kesal. Apa yang dikatakan Raka memang tidak salah, kemungkinan besar dia juga akan menyuruh orang itu berlutut meminta maaf ketika dia diperlakukan sama seperti Raka.
"Tau ah!" tukas Rasya. Dia keluar dan membanting pintu. Rangga tersenyum penuh kemenangan pada Raka sebelum keluar dari ruangan ini mengejar Rasya.
Raka memukul kasurnya, wajahnya mengeras, Rezky bangkit dari duduknya dan menghampiri Raka, tersenyum simpul dan menyabari sahabatnya itu
"Sabar," Reka menyumbat telinganya dengan aerphone, malas mendengar pembicaraan kembaran dan sahabatnya itu.
"Sya... Kalau orang udah minta maaf ya harus lo maafinlah ingat kata-kata itu kan? Maafin gue ya? Lo udah seminggu loh gak ngomong sama gue," Rangga menunjukkan puppy eyesnya, andalan jika meminta sesuatu pada kakak-kakaknya ataupun orang tuanya.
Rasya bergedik ngeri, saat itu kebetulan Rezky melintas bersama Raka, ia memilih mengikuti mereka dari pada harus melihat ekspresi Rangga yang mengerikan.Wajah datar, dingin tanpa ekspresi lebih cocok para Rangga ketimbang wajah sok manis itu. Rangga mendesah kasar, ia menjambak rambutnya sendiri.
Di dalam hati Rasya, ia sudah memaafkan Rangga, hanya saja ia senang melihat Rangga menunjukkan sisi lain pada dirinya. Ia senang melihat Rangga merengek meminta maaf, walaupun ia mengakui kengerian saat Rangga bersikap seperti itu, tapi ada bagian hatinya yang menghangat.
**
Maafin gue, princess
Rangga menggeser secarik kertas bertuliskan kata-kata maaf ke meja Rasya. Gadis itu melirik ke samping, Rangga tersenyum dan mengucapkan maaf tanpa suara.
Kembali Rasya memperhatikan papan tulis dan meremas kertas bertuliskan permintaan maaf.
Rangga memukul mejanya, seisi kelas terkejut dan mengarahkan pandangan ke arahnya. Bu Joana menghampiri Rangga, walaupun ia agak ketakutan mengingat reputasi Rangga dan siapa orang tua muridnya ini, tapi ia harus menengur anak tampannya satu ini. "Rangga tolong jangan buat keributan," walaupun kalimat yang ia keluarkan setenang air, Rangga dengan mudah menemukan ketakutan pada suara bu Joana. Ia menyunggingkan senyum sinisnya sebelum berdiri dan menendang meja sampingnya yang kosong. Bolos pelajaran solusi dari masalah yang dihadapinya saat ini. Walaupun tak berpengaruh apa-apa, tapi setidaknya ia bisa menenangkan pikirannya dan mencari cara lagi agar Rasya memaafkannya.
Rasya memandang punggung Rangga yang berjalan keluar kelas, sebegitu frustasinya kah ia karna dirinya? Apakah ia benar-benar mencintai dirinya? Pikiran Rasya terbang kemana-mana, kini ia tak bisa menyerap pelajaran kimia yang dipaparkan bu Joana.
*
"Heh! Mana mungkin gue jatuh cinta sama dia," Rasya melempar kulit kacang ke arah Rezky, kini mereka ada di atap rumah, sesi curhat antara adik dan kakak sudah dimulai dari sejam yang lalu. Cocacool dan sebungkus kacang elang menemani sesi curhat mereka.
"Dari cerita lo mah gue yakin 99% lo udah jatuh cinta sama Rangga tanpa lo sadari."
"Pertama, walaupun lo nggak bicara sama dia tapi lo udah maafin dia padahal lo kan orangnya kalau gak disogok mana mau maafin. Kedua, lo suka liat dia yang merengek-rengek gitu, lo kalau gak di deket dia ngerasa ada yang kosong, ketiga kemaren pas Raka nyuruh dia tekuk lutut lo langsung halangin, bagi cowok nih bertekuk lutut di hadapan orang yang udah dihajarnya habis-habisan itu hal yang haram! Keempat, lo marah-marah pas liat dia bicara sama cewek lain, alias lo cemburu! Sekarang lo mau ngelak apa lagi? Kalau bukan cinta apa namanya huh?"
Rasya mendengus, ia tak mungkin jatuh cinta pada berung kutub yang berselimutkan iblis.
"Gak lah! Mana mungkin!"
"Rasya Anugrah Pitona, kembaran gue paling cantik, lo itu udah jatuh cinta sama dia! Ish, percaya deh sama abang lo ini," Rezky mengedip-ngedipkan matanya, tangan Rasya mendorong wajah menjijikan itu.
"Mana mungkin gue jatuh cinta dalam sekejap sama dia."
"Cinta itu datang tanpa kita sadari dan kehendaki, Sya."
"Cinta itu bukan rasa yang bisa dibuat-buat, ia tercipta sendiri. Bahkan, dengan siapa kita jatuh cinta kita tak bisa memilih."
"Dan, itu karma buat lo yang udah benci Rangga tanpa sebab... haha. . . " Rezky langsung kabur setelah berkata itu.
Rasya melempar gitar yang ada di sampingnya ke bawah sana, gitar itu hancur.
"Bang gitar lo hancur," Rasya berteriak tanpa nada, datar.
Rezky kembali dan langsung meloncat melalui balkon, ia ke ujung atap, melihat ke bawah, gitar kesayangannya hancur.
Ia berbalik dan menatap geram Rasya, yang ditatap hanya menggedikan bahunya, berdiri dan masuk ke kamarnya.
"Rasya gue bakal bunuh lo!" tentu saja itu hanya omongan, tapi di dalam hatinya paling dalam ia ingin sekali membunuh adiknya tersebut karna gitar kesayangannya dilempar dari atap lantai dua.
Rasya termenung di ranjangnya, ia memikirkan kata-kata Rezky, benarkah ia telah jatuh cinta pada Rangga? Si kutub utara yang amat ia benci? Otaknya kembali memutar kejadian sepulang sekolah. Saat dia mencari Rangga. Rencananya ia ingin berbaikan dengan pria itu, tapi yang didapatinya adalah Rangga yang berbicara pada seorang gadis cantik, terlihat akrab, bahkan Rangga memegang pundak gadis itu. Mata Rasya memanas, tangannya mengepal, "dasar playboy," tembok di sampingnya menjadi sasaran emosinya. Ia menghentakan kakinya lalu pergi dari perpustakaan.
"Aaah katanya aja mau nikahin gue, belum nikah aja udah jalan sama cewek lain," Rasya berteriak kesal, boneka silumannya ia tampar-tampar.
Fix! Dia memang sudah jatuh cinta pada orang yang sebelumnya ia benci, sangat ia benci.
*
Rasya datang bersama genknya, Raka, Reka, dan Rezky. Mereka berjalan beriringan, Rasya bersebelahan dengan Rezky, Rezky merangkul Rasya posesif. Reka juga melakukan hal yang sama, merangkul Raka posesif layaknya sepasang kekasih. Berkali-kali Raka menurunkan tangan kembaraannya. Wajahnya sudah ditekuk karna ulah Reka.
Aaro baru saja keluar dari kelas. Rezky menurunkan tangannya dari bahu Rasya, Raka maju dan ganti merangkul Rasya, sengaja memang Raka melakukan itu, selain untuk kabur dari Reka, dia juga ingin memanasi Rangga. Rasya tidak terlalu peduli dengan Raka yang kini merangkul pundaknya. Ini kegiatan yang biasa mereka lakukan.
Rangga memasang muka datarnya. Ia berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Rasya ataupun yang lainnya. Berjalan dengan dagu yang terangkat dan tangan yang dimasukkan ke saku celananya, angkuh.
Rasya mendelik, ia berbalik dan melemparkan kaleng s**u beruangnya ke arah kepala Rangga. Kena telak! Rangga berbalik, memandang Rasya tajam. Ia memungut kaleng s**u itu dan melemparkannya kembali.
"Oh maaf, gue salah sasaran, harusnya gue lemparnya ke kepala lo," Rangga berkata dengan nada yang amat sangat menjengkelkan, kaleng tadi ia lemparkan pada Raka, tempat ke ulu hatinya. Lemparannya amat sangat kuat, Raka merasa bahwa ia baru saja kena pukulan telak di ulu hatinya, semengerikan itukah kekuatan Rangga? Padahal jarak mereka sekitar dua meter lebih.
"Lo gak papa?" 3R serentak bertanya, Raka hanya mengangguk, padahal ia mengalami kesulitan untuk bernapas. Rangga menyunggingkan senyum sinisnya dan berlalu tanpa permisi.
Ia sengaja tak memperdulikan Rasya, setelah berkonsultasi dengan Raihan, calon mertuanya ia memutuskan mendiamkan Rasya, memberinya waktu untuk menenangkan dirinya. Jangan memberondong dia dengan kata maaf, itu kata Raihan padanya.
Sedangkan Rasya ia makin yakin bahwa Rangga berselingkuh darinya. Bakso di mangkoknya menjadi sasaran amarahnya. Garpu menancap dengan s***s di bakso tersebut. Ketiga pemuda di hadapannya pun bergedik ngeri.
"Lagi PMS ya, Sya?" Reka bertanya dengan polosnya.
TAK!
Lagi, garpu menacap di bakso dengan s***s, Rasya menatap tajam Reka.
"Kenapa? Lo mau beliin gue pembalut?" Rasya bertanya dengan kesal. Ia langsung memakan bulat-bulat baksonya.
"Rasya, makannya!" Rezky mengingatkan dan dibalas tatapan tajam oleh Rasya. Ia sedang kesal.
"Ky, udah biarin aja, dia butuh pelampiasan, daripada lo yang dihajar," Raka mengingatkan Rezky untuk tidak membuat Rasya tambah kesal.
"Semua cowok sama aja, playboy!" 3R menggeleng bersamaan
"Gue gak!"
"Gue cowok setia!"
"Gue jomblo, gimana mau jadi playboy?" Reka berkata dengan polosnya, wajahnya murung.
"Reka!" Rezky dan Raka berteriak bersamaan, kenapa anak ini begitu oon?
"Apa? Mau?" Raka malah menawarkan somaynya yang sisa setengah.
Rasya mendengus kesal, ia berdiri, berjalan menuju kelasnya, saat di koridor ia berpapasan lagi dengan Rangga. Rasya menatap Rangga tajam, kakinya ia hentak-hentakkan. Rangga mengerutkan dahinya, ada apa dengan gadisnya? Ia menggedikan bahu dan terus berjalan, berusaha untuk tidak mempedulikan gadisnya. Rasya tercengang ketika Rangga mengabaikannya. Dia pikir pria itu akan menanyai keadannya atau apapun itu seperti yang biasa dilakukan Rangga akhir-akhir ini. Nyatanya tidak. Oh baiklah!
"Hah! Cowok sama aja, playboy semua. Kata-katanya gak bisa dipengang. Katanya mau nikahin gue pas lulus SMA, belum pacaran aja udah selingkuh apalagi nikah?! Cih!" Rasya mengungkapkan kekesalannya, Rangga terhenti dan berbalik menatap Rasya yang kini berkacak pinggang.
"Maksud lo apa, Sya?"
"Apa? Pura-pura b**o atau emang b**o beneran?" Rasya menyilangkan tangannya di depan d**a.
Rangga mendekat, ia bingung kenapa Rasya tiba-tiba begini. Selingkuh? Oh hell! Bahkan ia tak pernah mengenal kata selingkuh di kamus hidupnya. Dia amat sangat yakin orang yang dimaksud Rasya tadi adalah dirinya. Koridor ini sepi. Hanya ada mereka berdua.
"Gue beneran nggak ngerti deh. Kemaren lo diemin gue, sekarang lo marah-marah sama gue. Kenapa? Gue gak ngerti deh," Rangga memasang wajah bingungnya. Ia benar-benar tak mengerti. Sumpah demi Tuhan!
"Lo tuh selingkuh Rangga Blade!" Rasya berjinjit meneriakkan kalimat itu. Wajahnya memerah, di matanya sudah menggenang air yang siap jatuh kapan saja.
"Lo selingkuh!" tangis Rasya tiba-tiba pecah, kepalan tangannya memukul d**a bidang Rangga, ia terisak dalam pelukan Rangga ketika pria itu memeluknya.
Membiarkan Rasya menangis dan memukuli dadanya, Rangga berpikir, kapan ia selingkuh? Dengan siapa? Ia tak merasa pernah dekat dengan wanita selain ibunya, adiknya, dan Rasya, juga neneknya.
"Gue nggak tau apa maksud lo, tapi demi Tuhan gue nggak selingkuh. Di hati gue cuman ada elo. Gue nggak pernah dekat sama cewek lain, selain lo, Sya, " Rangga meyakin Rasya, pelukannya ia eratkan dengan isakan Rasya.
Di dalam pelukan Rangga, Rasya berpikir, kenapa ia tiba-tiba menangis dan menjadi seemosi ini? Rangga, lelaki pertama yang ia tangisi selain ayah dan kakaknya. Benarkah ia jatuh cinta?
"Gue bersumpah gak ada cewek lain selain lo," Rangga meyakinkan lagi, kini ia berucap sambil menatap mata Rasya dalam.
Tangannya menangkup kedua pipi chubby milik gadisnya. Jempolnya ia gunakan untuk menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Rasya.
Rasya dapat melihat kelembutan dan kejujuran di mata Rangga. Entah siapa yang memulai, bibir Rasya dan Rangga sudah bersatu, keduanya melumat penuh kelembutan dan cinta, di koridor sekolah yang sepi. Ciuman pertama keduanya terjadi.