Anasya sangat sebal hari ini, anasya pikir ia bisa lepas dari Harry Wicaksana. Nyatanya, sekarang ia terlihat seperti tawanannya.
Tidak ada percakapan selama perjalanan ke butik, hanya ada suara mesin mobil yang terdengar saat ini.
"Ini masih lama kah?" Anasya bertanya dengan nada pelan.
"Sebentar lagi sampai, jangan tidur dulu." Harry masih fokus dengan kemudinya.
"Iya iya, cerewet."
"Anasya Raseline."
"Apa?"
"Tidak."
"Dasar cowok aneh."
Anasya tidak merespon lagi lelaki di depannya saat ini, Harry Wijaya. Lelaki aneh yang sangat menyebalkan. Anasya sibuk melihat - lihat isi dari handphonenya, menurutnya ini sedikit menghilangkan rasa bosanku daripada hanya berdiam di dalam mobil.
Setibanya di butik, Harry menggandeng mesra tangan Anasya. Perlu di ketahui, ini hanyalah sandiwara yang di lakukannya agar terlihat seperti mempelai yang sedang mencari gaun pengantin.
"Selamat siang Tuan." Sapa pegawai butik dengan ramah. "Apa ada yang bisa di bantu?" lanjutnya.
"Siang kak, saya dan pasangan saya sedang mencari baju pengantin. Adakah yang cocok dengan kami, sekiranya kami sulit menentukan mohon bantuannya." Harry tersenyum manis setelahnya.
"Jangan bikin malu." Bisik Harry di telinga Anasya.
"Aku gak bikin malu."
"Bersikaplah layaknya kita pasangan serasi."
"Iya-iya cerewet." Anasya memutar bola matanya malas setelahnya.
Anasya dan Harry sudah melihat-lihat gaun yang di sediakan di butik, menurutku model disini cukup manarik semua.
"Bagus kan?Ini barang mahal." Ucap Harry di sebelah Anasya.
"Kami pilih yang ini saja kak." Ucap Anasya memilih sepasang baju pengantin berwarna biru lembut.
"Pilihan yang bagus kak, kalian ingin membuat pernikahan bertema laut?" Tanya pegawai di butik tersebut.
"Iya kak!" Anasya mengangguk cepat sebelum Harry mendahuluiku menjawab.
***
"Pilihan baju yang bagus Anasya, ngomong-ngomong kalau mau pakai tema laut nanti aku bisa pesankan di tepian pantai. Orang sepertimu pasti tidak akan sanggup membayar." Ucap Harry ketika sampai di dalam mobil.
"Harry, aku mohon bisakah kamu berbicara tanpa melibatkan uang?" Anasya bertanya kepada Harry dengan nada tenang.
"Tidak bisa, kita menikah atas dasar uang. Lalu apa salahku jika aku terus mengungkitnya?" Harry menatapku dari kaca mobilnya dengan pandangan tajam.
"Anasya memang tidak sekaya kamu, Harry. Hanya kamu yang pantas membicarakan uang. " Ucap Anasya kemudian menatap kaca di dalam mobil.
"Itu pasti Anasya. " Harry kemudian melajukan mobilnya meninggalkan butik.
"Harry asalkan kamu tau, yang aku butuhkan hanya permintaan maaf dari mulutmu, kata -katamu terlalu menyakitkan bagiku." Anasya menghembuskan napas pelan.
"Anasya, kamu ingin berjalan-jalan dulu atau langsung pulang?" Tanya Harry.
"Pulang saja, Har." Anasya membuang wajahnya acuh.
"Kalau begitu kita beli es krim dulu."
"Harry, aku bilang kita pulang ya pulang. Apa bahasaku kurang jelas? Atau aku harus mempunyai uang dulu biar kamu paham?"
Harry menggeleng pelan, "Bukan, aku tidak butuh uangmu. "
"Lalu kenapa kamu tidak bisa mendengarkan perkataanku?"
"Kamu menangis, makanya aku mengajakmu beli es krim dulu."
"Tidak Harry, terimakasih atas tawarannya. Aku ingin pulang saja."
"Aku memaksa, tidak boleh ada yang menahanku, Anasya."
"Sayangnya aku tidak butuh Harry."
"Tidak ada yang bisa menolak seorang Harry Wicaksana."
"Tapi aku bisa."
"Itu tidak akan terjadi, sekarang ayo turun kita sudah sampai di kedai es krim."
Harry menarik paksa ketika kita sudah sampai di tempat, anasya sebenarnya tidak suka dengan perlakuannya. Anasya hanya butuh maaf terucap darinya. Tidak butuh uang ataupun harta.
Ia menghela napas pelan, untuk kali ini anasya menuruti kemauan Harry.
"Ayo." Harry sudah berjalan di depan Anasya terlebih dahulu.
"Jangan kepedean, aku gak mau di cap buruk. Karna bikin anak orang menangis. Untung saja tidak aku suruh membersihkan air matamu yang menetes di mobilku. " Lanjutnya.
Anasya tersenyum simpul, rupanya Harry hanya menjaga nama baiknya saja.
"Tidak perlu di jelaskan aku sudah paham. " Anasya berjalan di belakangnya dengan wajah masam.
"Pintar. "
Harry masuk kedalam kedai es krim terlebih dahulu, ia memesan es krim coklat untukku.
"Terimakasih." Ucap Anasya singakat.
"Sama-sama. "
Anasya dan Harry menikmati es krim di halaman depan, hanya canggung yang mereka rasakan. Tidak ada percakapan sedikit pun tentang hari ini. Harry terlihat sibuk dengan handphonenya, Harry sepertinya mengetikan beberapa pesan kepada seseorang.
"Itu untuk siapa Har?"
"Tidak perlu tau, tidak penting juga untukmu. "
Anasya menghela napas pelan, Dia memang orang baru. Dan baru beberapa hari kemarin mereka di kenalkan karna perjodohan. Apakah hal seperti itu harus di sembunyikan dari Anasya.
Harry kemudian mematikan hpnya, dilanjut menghabiskan kembali es krimnya.
"Sudah sore, habis ini pulang."
Anasya menganggukan kepalanya, meng-iyaka ucapan Harry.
Harry dengan segera menghabiskan es krimnya, kemudian menungguku dalam diamku.
"Besok aku harus kembali bekerja di laut,"
"Kita mungkin hanya bisa bertemu sebulan dua kali, kecuali nanti kamu ikut aku pindah kota. Mungkin aku tidak akan meninggalkanmu." lanjutnya.
"Pindah kota?"
"Iya, itu juga kalau kamu mau. "
Anasya menelan ludahnya pelan, artinya dia harus meninggalkan kedua orang tuaku.
"Ayo pulang." Harry berjalan mendahuluiku.
Anasya kemudian ikut berdiri, mengikutinya dari belakang.
*****
Sesampainya di rumah, Harry hanya berpamitan kepada kedua orang tuaku. Ia sama sekali tidak meninggalkan pesan untukku.
Setelah kepergian Harry dari rumah aku dengan segera masuk kedalam rumah, disana sudah ada Ibu yang sepertinya sangat menunggu ceritaku hari ini.
"Bagaimana Nas?"
"Apanya yang bagaimana? Tidak ada yang menarik."
"Bagaimana bisa Harry menemukanmu? Ia sangat panik ketika tau kamu kabur."
"Harry yang nemuin Anasya di taman sebelah rumah."
"Terus, kencan hari ini bagaimana?"
"Tidak ada yang menyenangkan Bu, tidak ada pembicaraan yang menarik. "
"Tidak ada cerita yang kaya di sinetron - sinetron, Nas?"
"Oh ibu, ini bukan cerita novel atau sinetron jadi jangan berharap ada kisah romantis disini. "
Anasya merebahkan tubuhnya asal di sofa ruang tamu. Tubuhnya rasanya sudah sangat lelah.
"Bu, kalau sudah menikah. Anasya di ajak Harry untuk tinggal di luar kota." Ujarku lirih.
Ibu menatapku sesaat, mungkin saat ini perasaannya sedang bingung.
"Bagus dong, dengan ikut Harry kamu bisa belajar mandiri."
Anasya membelalakan matanya terkejut, dia pikir Ibu akan menahannya kali ini. "Ternyata memang benar Anasya di jadikan alat untuk pelunas hutangnya. Buktinya ia tidak sedih ketika aku bercerita akan pindah keluar kota." Gerutu Anasya pelan.
Anasya melempar asal bantal di depannya, " memang benar. Sepertinya tidak ada yang memihakku. Dari awal perjodohan. Semua hanya peduli kepada dirinya sendiri." Aku menghembuskan napas pelan.
"Makanya kamu kalau di nasihatin Ibu nurut, ini sebagai bekal kalau kamu sudah tidak hidup sama kami lagi." Ibu duduk di sebelaku.
"Terserah, Anasya sudah capek dengan semuanya. Percuma saja Anasya tadi bercerita namun tidak ada balasan kasih sayang dari Ibu." Anasya tersenyum kecut ketika mendengar Ibu mendengus pelan di sebelahku.