Bab 3 — Hari Pertama Serumah
Pagi itu, matahari muncul lebih hangat dari biasanya. Lia keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk—senang karena punya tempat tinggal, tapi cemas karena hari ini adalah hari pertama ia benar-benar harus “hidup” di rumah Rey.
Rey sudah di halaman depan, menyiram tanaman. Tangannya sigap, gerakannya tenang, dan wajahnya… tetap tenang seperti kemarin. Lia menatapnya sebentar, lalu menunduk, mencoba mengumpulkan keberanian.
“Selamat pagi,” ucapnya pelan.
Rey menoleh sebentar, anggukan kecil menjadi jawaban. Tidak ada senyum, tapi Lia bisa merasakan ada sedikit perhatian di situ.
“Pagi. Sarapan?” Rey bertanya sambil mengambil sepasang gelas dari meja kecil di dapur.
“Bisa,” jawab Lia. Ia cepat-cepat ke dapur, mencari bahan sederhana. Nasi sisa semalam, beberapa sayur, dan telur. Lia menyiapkan segalanya dengan hati-hati. Rasanya sederhana, tapi baginya ini sudah terasa penting—dia ingin membuktikan kalau bisa berguna di rumah ini.
Saat ia mengaduk telur di wajan, wajan itu melompat sedikit. Lia menahan napas, takut Rey akan marah. Tapi ia salah. Rey hanya melangkah perlahan, menaruh tangan di meja dekatnya. “Pelan saja,” katanya singkat.
Lia tersenyum kecil. Suaranya tenang, bukan marah. Ia pun menarik napas panjang dan melanjutkan memasak.
Sarapan selesai, mereka duduk di meja kecil. Rey mengunyah dengan tenang, sesekali menatap Lia yang terlihat canggung. “Kamu bisa tinggal di sini, tapi ada beberapa aturan,” ucapnya akhirnya.
Lia menatapnya. “Aturan?”
“Tidak ribut pagi-pagi. Barang dikembalikan ke tempatnya. Dan jangan sentuh laci kamar saya.”
“Siap,” jawab Lia cepat, mencoba menyesuaikan diri.
Rey mengangguk sekali. “Kalau mau keluar, bilang.”
Lia mengangguk lagi, lebih pelan. Aturan itu terdengar sederhana, tapi bagi Lia yang terbiasa hidup sendiri, semua ini terasa… baru.
Siang harinya, mereka mulai membagi tugas. Rey bekerja di kebun, Lia membersihkan rumah. Tidak banyak bicara, tapi setiap kali Lia tersenyum atau melakukan sesuatu dengan hati-hati, Rey diam-diam memperhatikannya. Tanpa disadari, Lia pun mulai merasa nyaman. Rumah itu tidak lagi terasa asing.
Ketika sore tiba, Rey duduk di bangku halaman, menatap tanaman yang ia rawat dengan telaten. Lia duduk di sampingnya, tangan kotor sedikit karena memindahkan pot kecil. Ia tersenyum malu-malu.
“Tanamannya rapi,” kata Lia.
Rey menoleh sebentar. “Saya suka melihat sesuatu tumbuh dengan teratur.”
“Semua ini kamu tanam sendiri?” tanya Lia penasaran.
“Iya.”
Lia menunduk, menatap tanah dan pot-pot hijau. “Aku… nggak pernah nanam apa pun sebelumnya.”
Rey diam beberapa detik, lalu berkata, “Kalau mau belajar, bisa.”
Lia mengangkat wajahnya, mata sedikit berbinar. “Boleh?”
“Boleh,” jawab Rey. Nada suaranya tetap datar, tapi ada sedikit hangat yang Lia rasakan.
Malam itu, setelah membersihkan dapur dan menata meja makan, Lia duduk di sofa kecil. Ia menatap Rey yang menutup pintu kamar. Ada perasaan aneh tapi menyenangkan—tidak takut, tidak canggung, hanya… nyaman.
Hari pertama serumah itu berlalu dengan sederhana. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada tawa keras, tapi Lia tahu satu hal: rumah kecil ini, dengan lelaki pendiam di halaman dan aturan-aturan kecilnya, perlahan mulai terasa seperti rumah.
Dan Lia tersenyum sendiri sebelum menutup mata. Hari pertama mungkin kacau, tapi ia merasa… inilah awal sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang hangat.
Bab 4 — Kekacauan Kecil
Hari kedua Lia di rumah Rey dimulai dengan aroma tanah basah dan sinar matahari yang masuk perlahan melalui jendela kamar kecilnya. Lia bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sengaja ingin mencoba membantu Rey di halaman, meski ia sama sekali tidak tahu banyak tentang tanaman.
Setelah sarapan sederhana—nasi goreng sisa semalam yang ia panaskan lagi—Lia melangkah ke halaman. Rey sudah ada di sana, menyiram barisan cabai dan tomatnya dengan gerakan yang sama rapi seperti kemarin.
“Pagi,” sapa Lia pelan.
Rey menoleh sebentar, anggukan kecil sebagai jawaban. Ia tidak tersenyum, tapi Lia mulai terbiasa dengan ekspresi datarnya itu.
“Kalau mau bantu, bisa mulai dari pot-pot kecil di sini,” Rey menunjuk beberapa pot bunga yang belum ia tanam.
Lia mengangguk. Ia memegang pot kecil itu dengan hati-hati, mencoba menata tanah dan menanam biji. Namun, ketidaktahuannya langsung terlihat. Tanah berceceran, biji jatuh kemana-mana, dan beberapa pot hampir terguling.
Rey mendekat pelan, matanya tetap datar. “Pelan saja,” katanya, menepuk tanah yang jatuh.
Lia tersenyum canggung. “Maaf, aku… belum pernah nanam.”
“Tidak masalah,” jawab Rey. “Semua butuh belajar.”
Meski suaranya tenang, Lia bisa merasakan perhatian yang tulus. Ia terus bekerja, meski kekacauan kecil terus muncul. Beberapa biji tercecer ke tanah lain, pot hampir terbalik, dan tanah menempel di sepatu Lia.
Ketika Lia mencoba memindahkan satu pot, Rey sigap menahan agar tidak jatuh. “Hati-hati,” katanya. Suaranya tetap datar, tapi gerakannya lembut. Lia menatapnya sebentar, kemudian tersenyum malu.
“Terima kasih,” katanya.
Rey hanya menunduk sedikit, kembali menata barisan tanaman. Ia tidak banyak bicara, tapi kehadirannya membuat Lia merasa lebih percaya diri.
Siang itu, mereka berdua bekerja bergantian. Rey memang lebih cepat dan rapi, tapi Lia belajar dari gerakannya, mencoba meniru pola tanam yang ia lihat. Sesekali Lia tersandung sedikit atau menjatuhkan alat, tapi Rey hanya membantu dengan tenang, tidak marah, tidak kesal.
Saat sore tiba, mereka duduk di bangku halaman, melihat tanaman yang baru ditanam. Beberapa pot Lia masih berantakan, tapi Rey tidak mengomentari itu. Lia menghela napas, lega sekaligus bangga.
“Tadi aku hampir menjatuhkan satu pot besar,” akunya.
Rey menoleh sebentar. “Tidak jatuh. Itu yang penting.”
Lia tertawa kecil. Ia tidak bisa menahan senyum. Kekacauan kecil hari itu terasa… menyenangkan.
Malam harinya, Lia mencoba memasak lagi. Kali ini lebih hati-hati, tapi tetap ada beberapa gelas yang jatuh dan sendok yang berantakan. Rey datang, membantu merapikan, sambil berkata dengan nada datar: “Pelan saja.”
Lia menatapnya, tersenyum. Ia merasa rumah ini—walau sederhana, walau sedikit kacau—perlahan mulai terasa seperti rumahnya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Lia merasa sesuatu yang hangat di hatinya: rasa nyaman, rasa aman, dan rasa ingin belajar lebih banyak lagi.
Hari kedua itu mungkin penuh kekacauan, tapi Lia menyadari satu hal penting: kekacauan itu terasa manis, karena Rey ada di sampingnya, diam tapi selalu hadir.
Rumah kecil itu perlahan mulai hidup. Dan Lia tersenyum sendiri, membayangkan tanaman-tanaman kecil itu suatu hari akan tumbuh, seperti hubungan sederhana mereka yang perlahan mulai berkembang.