Suasana malam membuat Zahra semakin bersedih, setelah kejadian pagi membuat dirinya syok, ia mencoba berfikir dan mengikhlaskan semuanya. Zahra menganggap belum berjodoh dengan Zidan. Walau begitu rasa sakit itu mungkin akan terus membekas dihatinya.
Zahra tidak memikirkan Zidan, melainkan memikirkan Kakaknya yang hilang entah ke mana. Setelah berpamitan pergi ke kota untuk mencari keberadaan Zidan, sang kakak bak ditelan bumi. Tidak ada yang tahu keberadaannya.
Jam menunjukkan jam satu malam. Namun, mata Zahra tidak mengantuk. Begitu juga Zidan yang sedang menginap di rumah Anita, ia tidak bisa tidur karena memikirkan Zahra.
Zahra memutuskan untuk keluar kamar dan duduk di kursi di depan kamarnya yang berhadapan dengan tempat mencuci baju. Ia melihat ke atas atap kaca, tampak bintang bertaburan menghiasi malam sepi menambah rasa sedih dihatinya.
“Kak Arif aku rindu. Dimana pun kakak berada aku berharap kakak baik-baik saja dan tidak lupa sama aku dan keluarga kakak,” batin Zahra sambil melihat bintang.
“Zahra!” panggil pelan seseorang yang sudah di dekatnya sampai membuat dirinya terkejut.
“Astaghfirullah.” Zahra memegang dadanya, ia sedikit kesal sambil melihat orang tersebut yang masih berdiri di dekatnya. Ya, sudah tentu itu Zidan.
“Maaf,” ucap Zidan.
Zahra hanya diam dan membiarkan mantannya itu duduk di kursi sebelahnya.
“Zahra, aku tahu kamu kecewa!”
“Menurutmu?” potong Zahra yang tidak habis pikir dengan kalimat Zidan. Sudah pasti ia sangat kecewa. Mengapa kalimat seperti itu bisa terlontar mulus dari bibirnya.
“Baiklah, bagaimana sebagai tanda permintaan maafku, kita lanjutkan hubungan ini. Kita menikah dan kita punya anak banyak seperti janji kita dulu.” Zidan meraih tangan Zahra.
Zahra secepat kilat menarik tangannya kembali. “Apa Mas mau mengulangi kesalahan yang sama? Cukup, Mas! Pikirkan perasaan Mbak Risa, cukup aku saja yang kamu kecewakan.” Zahra kemudian melepaskan cincin di jari manisnya dan memberikannya pada Zidan.
Zidan memandangi Zahra, tidak menyangka gadis desa yang dulu ia lamar begitu setia menunggunya.
“Aku juga sadar, aku ini siapa? Mas Lio siapa? Mungkin kalau bi Iyah tidak memberitahuku di rumah ini ada pekerjaan, mungkin aku masih di kampung menunggumu seperti orang bodoh, beruntung bi Iyah tidak tahu wajah pria yang dulu melamarku.” Zahra tertawa kecil sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh di pipinya.
Seiring bertambahnya usia, Zahra berpikir realistis. Mana ada orang kaya tampan dan mapan mau serius dengannya yang hanya orang kampung dan tamatan SMA. Apalagi saat ini ia hanya pembantu di rumah kakaknya.
“Aku minta maaf, Zahra. Aku bukan bermaksud menghilang begitu saja, ada alasan yang perlu kamu tahu. Jujur aku masih mencintaimu,” dalih Zidan agar Zahra mendengarnya dan termakan rayuannya lagi.
“Maaf? Cinta?” Zahra tertawa meledek.
“Simpan kata maafmu itu, Mas. Sampai kapan pun aku masih belum bisa memaafkanmu, karena dirimu kedua orang tuaku menanggung malu sampai akhir hayatnya dan kakakku juga menghilang entah ke mana? Dan berikan saja cintamu itu sama mbak Risa. Sudahlah, hubungan kita sudah berakhir. Sekarang aku lega statusku sudah jelas, jadi aku bisa membuka hati untuk siapa pun.”
“Zahra ....” Zidan masih berusaha merayu Zahra.
“Selamat malam!” Zahra lalu masuk ke kamar dan menguncinya.
Zahra menangis tanpa suara di dalam kamarnya, bohong jika ia tidak sakit hati. Bagaimanapun ia sangat mencintai Zidan. Tapi kembali lagi ia berpikir realistis, apalagi mendengar cerita bi Iyah, jika Zidan akan menikah dengan Risa dalam waktu dekat.
Zidan masih berdiri di depan pintu kamar Zahra sambil melihat cincin yang dulu pernah ia berikan pada Zahra saat melamarnya.
“Sesetia itukah dirimu, Zahra,” batin Zidan, kemudian kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, Zahra bekerja seperti biasa. Membantu Anita memasak di dapur. Ia pun berusaha ikhlas melepas Zidan dan mencoba menerima takdirnya.
“Semangat baru, Zahra. Kamu pasti bisa dan harapanmu semoga bisa bertemu kak Arif,” batin Zahra sambil membuatkan jus untuk Arga.
Pikiran Zahra saat ini bukanlah memikirkan Zidan lagi. Ia ingin fokus bekerja mengumpulkan uang untuk menebus kembali sawah yang sudah digadaikan untuk pengobatan orang tuanya.
Anita juga senang memiliki pembantu yang diajari sekali langsung mengerti dan tidak membantah perintahnya.
“Zahra, nanti masakannya taruh meja makan ya,“ titah Anita saat selesai memasak.
“Baik, Bu. Nanti Zahra antar semua.” Zahra meletakkan piring.
Anita kemudian keluar dari dapur untuk memanggil suaminya. Saat berjalan hendak menaiki tangga, tiba-tiba Anita merasakan sakit di dadanya, ia berjalan merambat di tembok dan terus menekan-nekan dadanya.
“Jantungku kambuh,” Gumamnya sambil berjalan merambat.
Saat hendak menaiki tangga tiba-tiba ia jatuh dan kepalanya terbentur pinggiran anak tangga dan langsung tidak sadarkan diri. Cukup lama Anita tergeletak dilantai sampai Zahra keluar dari dapur.
Zahra yang hendak meletakkan hasil masakan di meja makan terkejut saat melihat Anita tergeletak dilantai, ia meletakkan asal hasil masakannya di meja makan. “Ibu!” teriak Zahra panik saat melihat Anita tersungkur di lantai.
Zahra berlari menghampiri Anita lalu membalikkan tubuhnya. “Bangun, Bu!” Zahra menepuk-nepuk bahu Anita.
“Pak, Arga! Bu, Anita!” teriak Zahra.
Zahra begitu panik lalu memangku kepala Anita dan mencoba menyadarkan Anita.
Arga yang mendengar teriakkan Zahra menyebutkan nama Anita pun sontak berlari dari kamar sambil mengenakan kaosnya.
“Mama!” seru Arga sejenak berhenti di ujung anak tangga, lalu bergegas turun menghampiri sang istri.
“Apa yang terjadi, Zahra!” Arga panik lalu meraih tangan Anita.
“Tidak tahu, Pak. Saya keluar dari dapur, Bu Anita sudah tergeletak di lantai.”
Tidak tinggal diam, Arga kemudian menyuruh Zahra untuk menidurkan Anita dan Arga melakukan CPR. Zidan yang merasa ada yang mengganggu tidurnya bangun dan melihat Arga sedang menekan-nekan d**a Anita dan melihat Zahra serta pembantu lain ikut panik, segera ia turun dari lantai atas menghampiri mereka.
“Kak, Mbak Anita kenapa?” tanya Zidan.
“jantungnya mungkin kumat,” jelas Arga
Zidan kemudian mengambil alih melakukan CPR sedangkan Arga menghubungi rumah sakit dan meminta ambulans datang ke rumahnya.
“Zahra, tolong ambilkan obat Ibu di kotak obat di kamar,” titah Arga setelah selesai menghubungi rumah sakit.
“I-iya, Pak!” Zahra bergegas berlari ke kamar Arga dan mengambil obat yang dimaksud.
Zahra Memang sudah di beritahu jika selama ini Anita mengonsumsi obat untuk jantung dan sudah diberitahu letak obatnya.
“Zidan, bagaimana?” tanya Arga saat Zidan pasrah dengan kondisi Anita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Zidan menggeleng menandakan Anita tidak lagi bernyawa.
“Maaf kak, Mbak Anita sepertinya sudah tidak ada. Denyut nadinya sudah tidak ada. Mbak Anita meninggal.
“Apa? Tidak mungkin?” Arga sejenak melihat Anita dan menangis lalu memeluknya. Arga tidak percaya sang istri meninggal dunia.
Pembantu lainnya menangis begitu juga Zahra yang berdiri dianak tangga, seketika ia terduduk lemas sambil memeluk erat obat Anita.
“Mama! Bangun, Ma! Jangan pergi seperti ini.” Arga terus memeluk Anita.
Zidan terduduk lemas melihat Anita sudah tidak bernyawa. Apalagi melihat Arga yang begitu terpukul melihat istrinya yang sangat ia cintai pergi untuk selama-lamanya.
Zidan adalah saksi Bagaimana Arga berjuang untuk menikahi Anita. Tahu bagaimana setia dan cintanya pada Anita sampai rela tidak dianggap lagi anak oleh orang tuanya.