Aku menghembuskan napas panjang setelah menutup pintu. Tangisnya masih terdengar samar. Namun setidaknya kami sudah berjarak. Aku tidak bermaksud menyakitinya, membuatnya sedih, menangis atau apapun. Sungguh. Bagaimanapun keadaannya, aku sangat menyayanginya.
Berkali-kali aku menggumamkan kata maaf, meskipun dia tidak mendengarnya namun permintaan maafku ini tulus. Aku pura-pura? Tidak. Tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaannya. Senyum dan tawanya sangat berarti. Aku meninggalkannya bukan karena aku tidak menyayanginya, aku hanya tidak suka dengan jalan yang dipilihnya. Aku tahu dia salah, makanya aku tidak membelanya.
Kalau ada yang bilang aku hanya diam tanpa berusaha mengingatkan, tidak, mereka salah. Aku sudah mengingatkannya berkali-kali, bahkan puluhan kali. Aku sudah lupa berapa puluh kali tepatnya aku memintanya meninggalkan laki-laki itu. Namun selalu bantahan dan penolakan yang aku dapat. Keinginanku tidak pernah dia dengar. Apakah aku kecewa? Iya. Tidak hanya kecewa. Aku marah. Apa yang dilihatnya dari laki-laki itu sehingga ibuku menjadi buta tidak peduli dengan latar belakang laki-laki itu? Aku tidak habis pikir. Pilihannya untuk tetap mempertahankan laki-laki berengsek itu seolah tidak ada lagi laki-laki di dunia ini yang pantas dicintainya. Karena cinta itu buta? Bullshit, hanya orang bodoh yang mengatakannya.
"Ibu mencintainya, Ray." Selalu itu yang aku dengar kalau aku memintanya menjauhi laki-laki itu. Kenapa selalu cinta yang dijadikan alasan?
"Aku nggak melarang ibu menikah lagi," kataku mengutarakan ketidak setujuanku. "Semua terserah ibu. Ibu bahagia, aku juga bahagia. Tapi kenapa harus dia?"
"Apa yang salah, Ray?"
"Salah, Bu," bantahku cepat. "Ibu tahu siapa laki-laki itu, kan?"
Dia mengangguk. "Kita nggak bisa memilih dimana hati kita akan berlabuh, Ray. Kalau kamu pikir ibu nggak berusaha menjauhinya setelah tahu dia sudah menikah, kamu salah. Ibu sudah berusaha."
"Kalau ibu berusaha nggak akan seperti ini jadinya, Bu." Aku menggeleng-geleng. Dia memang ibuku, tapi terkadang aku tidak dapat memahami jalan pikirannya. "Dia bukan orang yang tepat untuk Ibu. Nggak ada laki-laki baik yang mengkhianati keluarganya. Tinggalkan dia, atau aku yang pergi."
Aku mengira dengan mengancamnya seperti itu dia akan memilihku dan meninggalkan laki-laki berengsek itu. Namun aku salah. Di belakangku mereka tetap menjalin hubungan. Aku tidak asal bicara, aku melihat mereka bersama beberapa kali. Hingga akhirnya, hari ini, dia mengaku sudah menikah dengan laki-laki itu dibawah tangan.
"Astaga, Ibu!" Aku tidak bisa menyembunyikan kemarahan ku. "Apa yang ada di pikiran Ibu? Apa Ibu nggak mikirin perasaan keluarganya? Istrinya? Anaknya? Ya Tuhan!" Aku benar-benar emosi. Kulit wajahku rasanya panas. Kalau aku digambar dalam tokoh kartun, pasti wajahku digambar dengan tinta hitam dengan kepala mengepulkan asap.
"Mereka sudah berpisah, Ray." Ibu menjawab pelan.
Jawabannya tidak berhasil meredam emosiku, justru membuatku semakin marah. "Mereka berpisah karena apa? Ibu tahu nggak?" Aku tidak bisa mengontrol nada suaraku supaya tidak meninggi. "Mereka berpisah karena Ibu. Ibu yang bikin laki-laki sialan itu ninggalin keluarganya. Ibu paham nggak, sih?"
"Ray, ibu…"
"Ibu kenapa nggak dengerin aku?" Aku mendesah kecewa. "Aku sayang Ibu, makanya aku terus ingetin Ibu supaya nggak salah jalan. Kalau sudah begini, lalu aku harus apa?"
"Maafin ibu, Ray." Entah berapa kali aku mendengar maafnya hari ini. Tetapi tetap saja tidak bisa mendinginkan kepalaku yang terlanjur panas. "Tolong, hargai keputusan ibu."
"Aku akan menghargai keputusan Ibu. Sangat mendukung malah. Tapi kalau Ibu memilih laki-laki single sebagai suami. Bukan laki-laki berengsek seperti dia yang ninggalin keluarganya demi perempuan lain."
"Ray, ibu mohon." Ibu menangkupkan tangan dengan air mata yang terus mengalir. Namun sayang, melihatnya tidak lantas membuatku iba. "Tolong terima dia. Kita bisa tinggal bersama sebagai keluarga."
Baru kali ini aku menentang tatapan ibu dengan tajam. Aku tidak habis pikir, darimana ibu memperoleh kata-kata itu. "Ibu nggak perlu mengatakan itu karena sudah tahu jawabanku, kan? Jawabannya, nggak. Aku nggak mau."
"Jangan keras kepala, Ray. Ibu nggak bisa memilih diantara kalian. Pahami posisi ibu." Ibu tetap bersikeras. Astaga, cinta memang mampu mengalahkan logikanya.
"Memang ibu nggak harus memilih." Aku tidak kalah keras kepala. Karena aku tahu jalan yang diambilnya salah. "Kalau ibu mau tinggal sama dia, silahkan. Aku nggak melarang, kok. Tapi kalau ibu mengajakku juga, maaf, Bu. Aku nggak mau."
"Ray…"
"Ibu bisa tinggal sama laki-laki sialan itu disini. Biar aku yang pergi."
"Ray…"
Tekadku sudah bulat kali ini. Aku tidak bisa tetap tinggal dan berpura-pura menyukai suami baru ibuku. Aku bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaan seolah baik-baik saja, padahal menyembunyikan bara di dalam. Mengeluarkan semua isi dalam kepala lebih membuatku lega.
Ibu berusaha menahan, tetapi aku tidak bisa ditahan lagi. Ini adalah puncak dari kesabaranku. Kewajiban ku sudah aku lakukan, kan? Aku sudah mengingatkannya kalau langkahnya keliru. Sudah bukan kuasaku lagi kalau jalan yang salah itu yang tetap dilaluinya. Meninggalnya tidak lantas membuatku jadi durhaka, kan? Aku menyayanginya.
Aku mempercepat ayunan langkah sebelum suara tangisnya membuatku berhenti dan berbalik. Semoga dia bahagia dengan pilihannya. Aku akan meraih bahagiaku sendiri. Mungkin suatu saat aku bisa menemuinya lagi kalau aku sudah bisa berdamai dengan rasa kecewaku karena pilihan yang diambilnya.
Awan hitam menggelayut siap menumpahkan isinya. Udara lembab membuat hembusan angin menjadi dingin. Aku harus segera tiba di stasiun sebelum hujan turun. Aku tidak membawa jas hujan atau payung. Akan tidak enak kalau bajuku basah sedangkan tujuanku masih lumayan jauh.
"Ta, cepetan. Nanti keburu hujan." Teriakan itu membuatku menoleh. Tatapan kami bertaut. Cantik. Rambut sebahunya yang lurus sedikit berantakan ditiup angin.
"Ya." Dia lebih dulu melepaskan pandangan lantas berlari memenuhi panggilan.
Sial. Sudah mulai gerimis. Aku harus cepat kalau tidak mau basah sampai stasiun.
**