Bab 1 – Tanda di Langit Senja
Senja itu tidak seperti biasanya. Langit desa Eryndor memerah seperti bara api, seakan menelan horizon, sementara angin malam membawa aroma tanah basah dan daun yang gugur. Di puncak bukit, seorang pemuda berdiri menatap langit yang berputar dalam kilau ungu dan emas—Ardan, 17 tahun, rambut hitam legam tersibak angin, mata memancarkan ketakutan sekaligus tekad.
“Ini… pertanda?” gumamnya, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin.
Tiba-tiba, dari sela kabut hutan, muncul sosok berkilau, setengah transparan, bagai bayangan tapi hidup. Sebuah roh kuno, Sylvara, penjaga hutan yang tak terlihat oleh mata manusia biasa.
“Anak manusia,” suara Sylvara bergema, lembut tapi menembus jiwa. “Langit tidak pernah berbohong. Cahaya ini… menandakan pilihanmu.”
Ardan menelan ludah. “Pilihan apa, roh…? Apa maksudnya semua ini?”
“Takdirmu tidak lagi hanya milik desa. Kekuatan besar akan datang padamu… tapi setiap kekuatan besar membawa luka. Apakah hatimu siap?”
Ardan menunduk, memikirkan keluarganya—ibu yang lemah lembut, ayah yang keras tapi penuh kasih, desa yang damai. “Aku… aku tidak ingin meninggalkan mereka,” katanya lirih, suara bergetar.
Sylvara menatapnya dengan mata yang seolah menembus jiwa. “Lemah, bukan berarti salah. Namun, kekuatan tidak pernah menunggu. Jika kau tetap di sini… beberapa jiwa akan hilang, dan dunia ini akan runtuh perlahan.”
Hati Ardan berguncang. Pikiran tentang kenyamanan desa bertabrakan dengan rasa tanggung jawab yang baru ia rasakan. Ia menggenggam tangannya, merasakan getaran energi yang entah dari mana muncul di ujung jarinya. Api kecil menari di telapak tangannya, redup tapi nyata.
“Ini… aku?” bisiknya.
Sylvara tersenyum tipis. “Bukan hanya kau. Itu adalah pertanda—tapi juga ujian. Setiap kekuatan lahir dari pengorbanan. Ingat petuah kuno: ‘Hati yang takut akan gelap, tidak akan pernah melihat cahaya yang sejati.’”
Langit semakin memerah, aurora bergelombang di atasnya. Dalam sekejap, desa di lembah terlihat dari bukit—damai, tenang, namun rapuh di hadapan kekuatan yang baru saja membangkit di dalam dirinya.
“Jika aku pergi… apa akan terjadi pada desa ini?” Ardan bertanya, nadanya pecah.
“Tak seorang pun bisa menebak masa depan, anak manusia. Hanya mereka yang berani melangkah, meski kaki gemetar, yang mampu mengubahnya.”
Suasana hening sejenak. Angin malam membawa aroma bunga liar yang lembut, namun di kejauhan terdengar raungan makhluk malam—peringatan akan bahaya yang akan datang. Ardan merasakan sesuatu menekan dadanya: ketakutan, tanggung jawab, dan rasa ingin tahu yang membakar.
“Aku… aku akan mencoba,” ucap Ardan akhirnya, suaranya tegas namun berat. “Aku tidak tahu apa yang akan menunggu, tapi… aku tidak bisa diam.”
Sylvara mengangguk. “Baik. Maka pergilah ke utara, ke kota Aeloria. Di sana, kau akan belajar. Tapi ingat, anak manusia: ‘Kekuatan tanpa hati adalah bencana yang menunggu waktu.’”
Dengan satu lambaian tangan, roh itu menghilang ke kabut malam, meninggalkan Ardan sendiri di bukit. Ia menunduk sekali lagi ke api kecil di telapak tangannya, yang kini membesar menjadi bola cahaya hangat.
Di bawah langit yang masih bergemuruh merah dan ungu, Ardan menarik napas panjang. Matanya yang dulu polos kini memancarkan tekad. Ia tahu, malam ini adalah awal dari takdirnya—takdir yang akan membawa bahaya, pengkhianatan, cinta, kehilangan, dan tragedi yang jauh lebih besar daripada apapun yang pernah ia bayangkan.
Dan di balik semua itu, sebuah suara dalam hatinya berbisik:
“Bahkan jiwa yang paling rapuh, jika ditempa oleh api kesedihan, bisa menjadi legenda.”