Hujan deras turun sepanjang sore, membuat suasana kota terasa lebih sendu dari biasanya. Di balik kaca mobil, Raka hanya bisa memandangi setiap tetes air yang jatuh seperti berlomba. Mobil yang ditumpanginya akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar berwarna krem, dengan lampu teras yang menyala lembut.
“Rak, ibu nggak bisa antar lebih lama. Barang-barang kamu sudah ibu titipkan di mobil belakang,” suara ibunya terdengar dari kursi depan.
Raka mengangguk pelan. Ia tahu, keputusan pindah mendadak ini bukan pilihan. Ayahnya dipindahkan kerja ke luar kota, dan rumah dinas baru belum siap ditempati. Karena Raka kuliah di kota ini, ia harus tinggal sementara di rumah sahabat lama ibunya—Alya.
Rumah itu tampak besar, hangat, dan… entah kenapa membuat Raka gugup.
“Ibu pamit dulu. Jangan nakal, ya. Dengar kata Tante Alya.”
Raka mendengus kecil. “Aku bukan anak kecil, Bu.”
Ibunya hanya mencubit pundaknya, lalu turun dan memencet bel. Tak sampai satu menit, suara langkah terdengar dari dalam rumah. Pintu terbuka.
Raka menahan napas.
Di depan mereka berdiri seorang wanita yang membuat suasana dingin sore itu langsung terasa hangat. Alya—dengan rambut panjang hitam yang tergerai lembut, mata cokelat hangat, dan senyum yang entah bagaimana langsung menenangkan tapi sekaligus… memabukkan.
Ia memakai cardigan tipis warna cokelat muda dan tanktop putih di dalamnya, lehernya jenjang, kulitnya bersih dan dewasa. Wanita itu tampak seperti usia awal 30-an, matang, elegan, mempesona—perpaduan yang sulit dijelaskan dengan kata sederhana.
“Astaga, Mei… akhirnya kamu sampai juga,” ucap Alya sambil memeluk ibu Raka.
Kemudian tatapannya beralih pada Raka.
“Dan ini pasti Raka.”
Raka menelan ludah. Ia berusaha tersenyum, meski di dalam batin ada sesuatu yang aneh. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“H-Halo, Tante,” ucapnya sopan.
Alya tersenyum kecil. “Nggak usah tegang begitu. Masuk, yuk. Hujannya makin deras.”
Begitu masuk, aroma vanilla lembut langsung memenuhi hidung Raka. Rumah itu rapi, hangat, penuh nuansa cokelat kayu dan lampu-lampu kuning redup. Ruangannya besar tapi tidak terasa kosong.
Alya berjalan di depan, membuat Raka sesekali terpaku melihat gerakannya yang anggun. Ada sesuatu pada cara Alya berjalan… sesuatu yang dewasa, yakin, dan memikat.
“Hari ini pasti melelahkan, ya? Kamu pasti belum makan,” katanya sambil menaruh payung panjang di tepi pintu.
“Belum, sih…” Raka menggaruk tengkuknya.
“Bagus. Tante masak sup ayam. Biar tubuhmu hangat.”
Suara Alya begitu lembut, dan entah kenapa membuat perut Raka ikut bergejolak.
Ibunya tertawa kecil melihat wajah Raka. “Alya ini memang selalu kayak gitu, Rak. Dulu waktu aku hamil kamu aja dia yang paling cerewet urusanku.”
“Tante Alya sahabat mama sejak SMA, ya?” tanya Raka.
Alya mengangguk. “Iya. Mama kamu itu dulu sering kabur les, dan aku yang selalu menutupinya.”
Ibunya mendelik. “Hei! Jangan cerita itu!”
Mereka tertawa bersama. Suasana menjadi lebih cair.
Setelah beberapa menit mengobrol, ibunya akhirnya pamit karena harus kembali menempuh perjalanan jauh. Raka tidak bisa menyembunyikan rasa sedih sekaligus leganya.
Alya menepuk bahunya. “Kamu pasti kangen. Tapi tenang… rumah ini terbuka untukmu. Anggap aja rumah sendiri.”
Raka mengangguk, tapi hatinya belum tenang. Justru ia bingung dengan sensasi yang muncul setiap kali melihat wanita itu.
Alya berjalan menuju dapur.
“Raka, simpan dulu tasmu di kamar atas, ya. Kamar kedua dari kiri. Setelah itu turun makan.”
“Baik, Tante.”
Kamar yang ditunjukkan Alya ternyata besar dan bersih. Ada jendela besar dengan tirai putih tipis, ranjang queen yang empuk, dan meja belajar kayu. Raka meletakkan tasnya, lalu duduk di tepi ranjang.
“Gila… rumahnya nyaman banget.”
Matanya menatap plafon.
Dan tiba-tiba bayangan wajah Alya muncul di kepalanya: senyumnya, suaranya, caranya memandang… Semuanya terasa menyita perhatian.
“Astaga, Rak… fokus. Jangan aneh-aneh,” gumamnya sambil menutup wajah.
Ia turun ke bawah begitu dipanggil Alya untuk makan.
Di meja makan, semangkuk sup ayam hangat sudah terhidang. Alya duduk di seberangnya, rambutnya diikat setengah ke belakang, membuat wajahnya terlihat semakin dewasa dan cantik.
“Coba rasakan. Ini resep turun-temurun,” kata Alya.
Raka mencicipinya. Rasanya lembut, gurih, dan hangat.
“Enak banget, Tan…”
Alya tersenyum bangga. “Tante senang kamu suka.”
Raka tidak bisa menahan dirinya untuk memperhatikan wajah Alya lama-lama. Cahaya lampu kuning memantul lembut di kulitnya. Setiap gerakan kecil ketika Alya memegang sendok… bahkan ketika ia meniup sup panas… semuanya tampak begitu dewasa dan… menggoda.
Alya tiba-tiba memanggilnya.
“Raka?”
“H-Hah!? Iya, Tan!”
Alya menahan tawa kecil. “Baru datang saja sudah melamun. Kamu pasti capek.”
Raka menggeleng cepat. “Bukan capek, Tan. Cuma… masih menyesuaikan tempat baru.”
Alya menatapnya dalam. Ada sesuatu dari tatapan itu—hangat, tapi seolah bisa membaca isi hati.
“Kalau ada apa-apa, bilang ke Tante, ya. Jangan sungkan.”
Raka mengangguk lagi.
Ia terlalu sering mengangguk hari ini.Setelah makan, mereka duduk di ruang keluarga menonton TV. Alya duduk di sofa panjang, sementara Raka duduk di lantai dengan bantal sandaran.
Namun, ia bisa mencium wangi tubuh Alya dari posisinya—aroma vanilla, bunga, dan sesuatu yang sulit dijelaskan. Setiap kali Alya bergerak, jantungnya ikut bergerak.
“Raka,” panggil Alya tiba-tiba.
Ia menoleh.
“Kamu masih ingat Tante, nggak? Waktu kamu umur lima tahun, kamu pernah bilang mau nikah sama Tante,” ucapnya sambil tertawa geli.
Wajah Raka langsung panas.
“Hah?! Nggak mungkin!”
Alya mengangguk penuh keyakinan. “Tante ingat banget. Kamu bilang Tante cantik.”
“Ya ampun…” Raka menutup wajahnya. “Itu waktu kecil, Tan.”
Alya mendekat sedikit, suaranya merendah.
“Sekarang kamu masih anggap Tante cantik?”
Raka terdiam. Ia tidak menyangka pertanyaan itu keluar.
Dan Alya menatapnya… lama.
Terlalu lama.
Raka menelan ludah. “Tante… cantik kok.”
Alya tersenyum tipis—senyum yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ada sedikit… godaan.
“Tante senang mendengarnya.”
Raka merasa kepalanya panas.
“Sudah malam, kamu mandi dulu lalu tidur. Jangan begadang,” ucap Alya sambil berdiri. Rok pendek rumahan yang ia pakai ikut bergerak lembut, memperlihatkan betis mulusnya.
Raka hanya bisa memandang.
Alya sempat menoleh sebelum naik ke tangga.
“Oh iya…” katanya.
“Hmm?”
“Mulai besok, kalau kamu merasa canggung, bilang aja. Tante nggak suka ada jarak.”
Raka mengangguk lagi.
Alya tersenyum, lalu naik ke atas.
Raka menarik napas panjang.
Ia menyandarkan kepala ke sofa.
“Bahaya banget ini…”Malam itu, Raka mandi dengan kepala dipenuhi bayangan Alya. Ia berusaha tidur, tapi suara langkah Alya di lantai atas, suara pintu tertutup, bahkan bayangan siluet tubuhnya terus muncul di kepalanya.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat mata Alya yang hangat… senyumnya… dan pertanyaan itu:
“Sekarang kamu masih anggap Tante cantik?”
Raka memegang d**a.
Degupnya keras.
Dan di tengah malam yang sunyi, ia sadar satu hal:
Tinggal bersama Alya… mungkin akan jadi pengalaman paling berbahaya sekaligus paling menggoda dalam hidupnya.