Pukul sebelas malam, Dara menemukan sebutir kismis di dalam laci uang. Ia mengangkatnya dengan ujung serbet, menatap benda itu sejenak, lalu memutuskan bahwa pembukuan kedainya tidak perlu menerima kejutan lagi hari ini. Hujan sudah turun sejak pelanggan terakhir meminta pai dibungkus. Tiga cangkir menunggu di wastafel, papan di pintu menghadap keluar dengan tulisan TUTUP, dan teleponnya bergetar untuk kedua kali.
Bel pintu mendahului tangannya.
'Kami sudah tutup.'
'Bagus. Berarti aku tidak perlu pura-pura datang untuk kopi.'
Bima berdiri di bawah kusen, membawa hujan pada rambut dan bahu kemejanya. Sebelah sepatunya tertahan di luar, seolah ia baru ingat bahwa pintu yang tidak terkunci belum tentu undangan. Dara menghela napas, mengambil handuk kecil dari rak, lalu melemparkannya. Lemparannya mengenai dada Bima.
'Lap dulu. Kamu akan membuat lantai banjir.'
'Masukkan tagihan.'
'Sudah. Tiga puluh tujuh kopi. Sekarang ditambah biaya pel.'
Bima melangkah masuk sambil mengusap rambut. Ia masih tertawa, tetapi bunyinya pendek. Dara memperhatikan cara laki-laki itu meletakkan tas, terlalu hati-hati untuk gerakan yang biasanya sembarangan. Di kursi dekat jendela, Bima memejamkan mata sebelum sempat membuka kancing lengan. Dara mengambil cangkir bersih dan jahe yang belum dikembalikan ke lemari.
Mereka berteman sejak kuliah. Dulu Bima datang dengan buku tebal yang membuat meja kantin miring; sekarang ia datang dengan telepon yang bisa berbunyi kapan saja. Dara sudah meninggalkan pekerjaan kantornya hampir tiga tahun lalu. Kadang ia merasa semua hal berubah kecuali kebiasaan mereka mencari meja yang sama ketika hari terasa terlalu panjang.
'Kopi?' Bima membuka sebelah mata.
'Jahe. Kalau mau memesan, datang sebelum tutup.'
'Aku tidak memesan.'
'Karena itu aku yang memilih.'
Ia menaruh minuman di hadapan Bima, lalu kembali ke wastafel. Air panas mengalir melewati punggung tangannya. Dari belakang, Bima bercerita bahwa jas hujannya tertinggal di tempat kerja dan ia baru menyadarinya ketika sudah masuk mobil. Tidak ada cerita pasien malam itu. Dara tidak meminta. Ia membilas cangkir terakhir ketika telepon kembali bergetar di dekat mesin kasir.
'Teleponmu mau berjalan sendiri,' kata Bima.
'Biarkan. Barangkali mau mencuci piring.'
Nama Ibu terlihat sebelum Dara sempat membalik layarnya. Pesan pertama menanyakan apakah kedai sudah tutup. Pesan berikutnya tidak menunggu jawaban: Minggu siang kamu harus datang. Ada yang ingin Ibu kenalkan. Jangan pakai alasan pekerjaan.
Dara mengeringkan tangan lebih lama daripada perlu.
'Masalah keluarga?' tanya Bima.
'Undangan makan siang. Kedengarannya seperti aku perlu membawa pengacara.'
'Kamu bisa bilang tidak.'
'Kamu bisa bilang begitu karena besok bukan kamu yang ditelepon sejak pagi.'
Bima menarik cangkir mendekat. Uapnya naik di antara wajah mereka. Dara ingin duduk, tetapi memilih mengelap meja sebelahnya. Pada usia tiga puluh satu, ia membayar listrik, mengurus pemasok, dan bisa memutuskan apakah kue yang gosong layak dijual. Pesan ibunya masih sanggup membuatnya memeriksa kesalahan apa yang mungkin telah ia lakukan.
'Siapa yang akan dikenalkan?' Bima bertanya.
'Kalau aku tahu, mungkin undangannya tidak terlalu menakutkan.'
'Mungkin pemasok tepung.'
'Ibu tidak pernah meminta aku berdandan untuk tepung.'
Bima tertawa kali ini. Dara ikut tersenyum, lalu menyesal karena begitu mudah menganggap suara itu sebagai hadiah. Ia duduk di kursi seberang. Di permukaan meja ada bekas lingkaran yang tidak hilang meski sudah diamplas. Bima pernah menawarkan untuk mengurusnya; mereka malah menghabiskan sore berdebat tentang warna pernis dan tidak menyelesaikan apa pun.
Beberapa bulan sebelumnya, setelah hubungan Bima dengan seorang rekan dokter berakhir buruk, mereka mulai datang lebih dekat daripada dua teman biasa. Makan malam yang kemalaman, tangan di tengkuk saat Dara demam, pagi yang diawali pesan singkat. Bima menyampaikan kesepakatan mereka pada suatu sore, dengan suara pelan dan wajah yang sungguh-sungguh: mereka boleh saling mencari, tanpa harus menjanjikan hubungan. Bila salah satu menemukan orang yang ingin dipilihnya, mereka akan berhenti.
Dara mengangguk waktu itu. Ia sudah mencintai Bima jauh sebelum sore tersebut, tetapi berhasil mengatakan bahwa aturan itu masuk akal.
Sekarang Bima menatapnya dari balik cangkir jahe. 'Kamu tidak harus cerita kalau sedang tidak ingin.'
Kalimat itu menyenangkan sekaligus menyulitkan. Ada banyak hal yang ingin Dara ceritakan, hanya bukan dengan risiko membuat Bima berdiri dan mengingatkan kesepakatan mereka. Ia merapikan serbet yang sudah rapi.
'Aku datang saja besok. Lebih cepat selesai daripada berdebat lewat telepon.'
'Kalau sesudahnya ingin menelepon, telepon.'
'Kalau kamu sedang jaga?'
'Aku balas ketika bisa.'
Bima menahan menguap dengan punggung tangan. Kelopak matanya berat. Di luar, air mengalir memenuhi pinggir jalan; bunyi kendaraan sesekali tertutup hujan. Dara melirik kunci mobil di sebelah tasnya.
'Tidur di kamar atas saja. Handuk mandi ada di lemari. Bajumu yang dulu tertinggal juga masih ada.'
Bima menegakkan badan. 'Kamu yakin?'
'Ini tawaran tempat tidur, bukan lamaran.'
'Sayang sekali. Aku sudah menyiapkan pidato.'
'Simpan untuk membujukku menghapus tiga puluh tujuh kopi.'
Kamar atas biasanya dipakai Dara beristirahat saat jeda panjang. Apartemennya sendiri hanya beberapa ruas jalan dari kedai, tetapi ia sering meninggalkan baju ganti di sana. Bima menghabiskan jahenya, lalu membawakan dua cangkir ke wastafel. Dara mematikan pemanas dan memeriksa pengunci jendela. Mereka menaiki tangga dengan lampu depan masih menyala di bawah.
Di ambang kamar, Bima menyentuh jemarinya. Sentuhan singkat itu membuat Dara berhenti.
'Kamu baik-baik saja?'
'Iya. Tidur saja, Dokter.'
Bima mengangguk. Pintu menutup pelan, meninggalkan Dara bersama handuk basah yang tersampir di lengannya. Ia turun lagi, menjawab pesan ibunya dengan satu kata, lalu mengambil tas untuk pulang. Sebelum mematikan lampu, ia menengadah ke arah tangga, hampir memanggil Bima untuk hal yang bahkan belum berani ia susun menjadi pertanyaan.
Sebagai gantinya, Dara menulis pesan lain: Kunci cadangan di samping teko. Taruh kembali sebelum berangkat. Bima membalas dengan gambar jempol. Dara memeriksa pintu dari luar, membuka payung, lalu berjalan menuju apartemennya sambil menjaga ujung celana tetap kering. Di lantai atas, cahaya kamar baru padam setelah ia melewati jendela.