Rindu Kamelia, seorang gadis kecil yang sekarang sedang berlari kecil di atas rerumputan hijau di dekat rumah nya. Dia berlari menuju ayunan kesayangannya. Sampai di ayunan itu dia langsung terduduk dan mulai mengayunkan ayunannya. Awalanya dia mengayunkan dengan pelan, namun lambat laun dia mulai mempercepat ayunannya. Hingga seorang anak laki laki meraih ayunan itu dan menghentikan nya dengan perlahan. Rindu menoleh kearah belakangnya. Senyuman terbit di bibirnya yang kecil. Anak laki laki itu berlutut di hadapan Rindu.
"Sudah berapa kali aku peringatkan, jangan mengayunkan ayunannya dengan cepat. Apa kamu tidak bisa mengerti itu?" tanya anak yang usianya beda lima tahun di atas Rindu.
Bukannya marah dengan peringatan tegas yang di berikan anak laki laki itu. Rindu justru mencium pipi sebelah kanan anak laki laki itu. Setelah mencium pipi anak laki laki itu, Rindu semakin melebarkan senyum di bibirnya.
"Kenapa kamu menciumku?" tanya Reyhan dengan bingung campur terkejut. Bukannya menjawab pertanyaan Reyhan, Rindu justru kemabali mencium pipi sebalah kiri Reyhan.
"Rindu!"
Mendengarkan teriakan itu Rindu terkejut dan dengan cepat dia menarik dirinya dengan duduk dengan tegap. Kakak perempuan nya datang dengan menggunakan gaun putih yang terlihat cantik melekat di tubuhnya. Rambut panjang nya di biarkan gelantungan tanpa ada ikatan.
"Rindu, Reyhan, kenapa kalian berada di sini? ayo masuk ke dalam. Acara nya sudah mau di mulai" ucap Larasati. Laras meraih tangan Rindu dan di tariklah tangan Rindu agar ia segera pergi bersamanya untuk masuk ke dalam rumah. Reyhan sendiri masih bengong karena kedua pipi nya baru saja di cium oleh seorang gadis kecil berusia tujuh tahun tahun.
"Reyhan!" teriak Laras membuyarkan lamunan Reyhan. Setelah Reyhan tersadar, ia pun segera berdiri dan menghampiri Laras dan Rindu.
Suasana rumah cukup ramai hari ini. Sebab hari ini adalah hari ulang tahun Dewi, ibu dari Rindu dan Laras. Dalam ulang tahun nya yang ke tiga puluh tahun ini Dewi mengundang beberapa kerabat, tetangga, dan teman teman nya untuk hadir di acara ulang tahunnya. Seluruh tamu undangan yang hadir bertepuk tangan dengan meriah setelah Dewi meniup lilinnya. Banyak ucapan selamat atas bertambahnya umur Dewi. Di hari ini ada banyak doa yang juga di dapatkan oleh Dewi.
"Kenalin ini aku namanya Laras" ucap Dewi memperkenalkan Laras kepada kedua temannya.
"Wah, dia cantik sekali..." celetuk salah satu temannya.
"Iya benar, dia cantik sekali. Dia mirip banget sama kamu Dewi" sahut teman lainnya.
Dewi tersenyum, "Tentu dia mirip denganku, dia kan anakku" Dewi merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Ayu milik Laras. Laras menyenggol tangan Dewi.
"Kenapa Laras?" tanya Dewi begitu lembut. Laras menunjuk Rindu yang sedang asyik memakan kue coklat hingga wajahnya belepotan karena coklat itu. Bahkan coklatnya jatuh jatuh ke baju yang di pakai Rindu. Namun meskipun begitu Rindu tidak perduli, dengan sangat asyik Rindu memakan kue coklat itu.
"Eh, itu anak siapa kenapa belepotan gitu" celetuk teman Dewi saat melihat Rindu. Dewi yang mendengar nya lantas tersenyum tipis.
"Bunda aku ke Rindu dulu ya" izin Laras yang ingin menghampiri Rindu yang sedang sendirian. Dewi mengangguk pelan, mengiyakan permintaan Putri kesayangan nya itu. Laras segera menghampiri Rindu setelah mendapatkan izin dari Dewi. Laras menyigap tisu kering yang tersedia. Dengan lembut Laras mengusap coklat di area sekitar bibir Rindu. Laras melakukan nya dengan penuh kelembutan dan ketelatenan. Laras tidak mau jika tindakan nya itu akan mengganggu aktivitas Rindu yang sedang makan kue coklat.
"Kakak mau makan ini nggak? enak loh kak" tawar Rindu menyodorkan kue coklat yang ia makan.
Laras menggeleng pelan, "Enggak, kakak udah kenyang. Kamu aja yang makan" tolak Laras halus agar tidak menyakiti perasaan adiknya. Rindu menganggukkan kepalanya dua kali, dia kembali asyik dengan kue coklat di tangannya.
"Rindu, Laras" mendengar suara panggilan itu. Dengan serempak Rindu dan Laras menoleh. Danang datang dengan senyum khasnya, lembut dan berwibawa.
"Ayah!" seru mereka bersama.
"Anak anak Ayah sedang asyik makan rupanya hm" ucap Danang membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi badan Laras. Danang menoel hidung Laras dan Rindu secara bergantian.
Rindu menggelengkan kepalanya tegas, "Yang asyik makan cuma Rindu, Ayah. Kak Laras tidak makan, dia tidak mau makan" aku Rindu dengan wajah polosnya.
Danang mengangguk anggukkan wajahnya, "Hm... Rindu sekarang makannya banyak ya, porsi makannya udah lebih banyak dari Kak Laras. Rindu semakin gendut sekarang" Danang terkekeh pelan melihat ukuran badan Rindu yang semakin menggemuk. Pipi Rindu bergoyang kesana kemari karena mengunyah kue coklat.
"Iya, Ayah benar. Rindu sekarang gemukan" sahut Laras menyetujui ucapannya Ayahnya. Mereka tertawa bersama melihat ukuran tubuh Rindu yang gemuk. Dengan gaun yang sedang di pakai Rindu, ia terlihat sangat lucu. Apalag pipinya yang seperti bakpao itu, siapa saja yang melihat-nya pasti ingin mencubit pipinya.
Dewi menghampiri Danang dan kedua anaknya. Dewi mengatakan kepada mereka jika mereka harus melakukan foto keluarga. Namun saat melihat Rindu dengan baju yang kotor karena kue coklat. Lantas Dewi meminta pembantunya untuk mengganti baju Rindu dengan baju yang bersih. Karena tidak mungkin jika Rindu akan berfoto dengan baju yang sudah kotor, bisa bisa Dewi malu di depan teman temannya karena itu.
"Udah yuk kita foto bersama" ucap Dewi kala fotografer yang akan memfoto mereka sudah ada di depan mata.
"Tapi Rindu belum datang Bunda" jawab Laras tidak setuju.
Dewi tersenyum tipis lalu berkata, "Kita foto duluan aja, kalau nungguin Rindu kelamaan. Kasihan tuh mas fotografer nya nungguin" ucap Dewi memeberi pengertian kepada Laras.
"Yasudah tidak apa apa Laras, kita foto bersama saja dulu" sahut Danang yang menyetujui perkataan istrinya. Laras pun luluh, dan dia mau berfoto tanpa Rindu. Sudah ada banyak foto yang di ambil. Mereka berpose dengan berbeda-beda. Ada kalanya mereka tersenyum bersama. Juga Danang dan Dewi yang sama sama mencium pipi Laras, dan masih banyak lagi. Hingga sampai sesi foto berakhir Rindu tidak kunjung datang. Laras menanti adiknya dengan tidak sabar.
Lambat laun para tamu mulai pergi meninggalkan acara ulang tahun Dewi. Dewi dan Danang sibuk mengobrol dengan para tamu yang berpamitan pergi. Dan di saat semua tamu benar-benar pergi, barulah Rindu datang dengan pakaian yang sudah bersih. Mata Rindu yang besar melihat kesana kemari yang sudah sepi.
"Loh, kemana semua orang?" tanya Rindu begitu polos.
Laras menghampiri Rindu, "Semua orang sudah pulang Rindu"
"Hah? pulang? terus aku gimana?" tanya Rindu sambil menatap pakaian bersih yang ia pakai, "Yah.... Rindu nggak bisa foto dong" Rindu mendesau sedih.
"Eh, Rindu kok baru datang Nak? Ayah sampai lupa tadi sama Rindu karena terlalu banyak tamu" celetuk Danang yang menghampiri Rindu.
"Ayah, ayo kita ambil foto lagi. Soalnya foto yang tadi tidak ada Rindu" ajak Laras.
"Tapi fotografer nya sudah pergi Laras" jawab Danang. Karena baru saja fotografer itu berpamitan kepadanya jika ia akan pergi.
Rindu memasang wajah sedih karena tidak bisa ikut berfoto dengan Bunda, Ayah, dan Kakak nya.
"Bagaimana kalau kita foto pakai handphone saja? kita foto selfie" ucap Danang membuat Rindu yang tadinya sedih kini membiarkan kedua matanya. Rindu mengangguk dengan semangat.
"Iya Ayah" jawab Rindu semangat.
"Bunda" panggil Laras kepada Dewi, Laras melambaikan tangannya agar Dewi mau menghampirinya.
"Ada apa sayang?" tanya Dewi yang sudah di dekat Laras.
"Bunda, ayo kita foto bersama lagi" ajak Laras, yang mendapatkan gelengan pelan dari Dewi.
"Maaf sayang, Bunda sangat letih karena acara ini. Kita masih bisa berfoto di lain hari bukan? jadi maaf ya, Bunda tidak bisa ikut. Kalian saja berfoto" ucap Dewi, lalu dia pergi menuju kamarnya.
Melihat kepergian Dewi membuat Rindu sedih. Ia ingin berfoto dengan keluarga nya, namun Dewi menolaknya.
"Biarin aja deh Bunda nggak ikut. Kita masih bisa foto bersama Rindu, masih ada kakak dan Ayah kan" Laras memegang pundak adiknya agar ia tidak sedih. Danang sendiri hanya bisa tersenyum kecut melihat sikap istrinya.
"Sudahlah jangan sedih, ayo kita berfoto" Danang segera mengangkat handphone ke udara agar mereka segera berfoto.