Hm, hidung yang mancung itu apa tidak mengganggu ya kalau sedang latihan tembak? Wajah manisnya itu apa tidak dikerubungi semut kalau sedang di hutan?
Hei, percaya atau tidak, ada makhluk kacang ijo yang seperti itu. Err mungkin banyak, tetapi aku hanya menyukainya.
Letda Dwi Arjuna. Abang Juna, Mas Juna, Kang Juna, Yayang Juna. Begitu biasa aku memanggilnya. Punya gebetan virtual itu seru, tidak ada yang mengusik.
Virtual di sini, bukan berarti tak berwujud di dunia nyata. Hanya saja, tak berwujud dalam duniaku. Pikir saja, aku adalah satu dari sekian ratus ribu fans dan followers Dwi Arjuna. Dan mengharapkannya menjadi nyata di duniaku itu seperti ... tidak mungkin deh pokoknya.
Aku selalu berfikir seperti ini saat memandangi fotonya yang kujadikan wallpaper ponsel. Tubuh gagah berbalut baju loreng. Apalagi kalau lihat fotonya yang mengenakan peci. Hm, suami idaman.
"Ris, kamu kayak orang stres kalau lagi lihatin fotonya Juna" suara petir menggelegar di samping telingaku.
Aku menoleh, membantah ucapannya yang seperti mendoakanku menjadi stres betulan. "Astaghfirullah, Isti! Aku nggak segitunya, ya"
Isti mencibir santai seperti biasanya. Tak percaya dengan ucapanku. "Mending cepet hijrah, move on dari si Juna"
Itu sangat menampar. Aku hanya bisa menampilkan deretan gigi rapiku. "Nggak inget? Kan aku baru move on dari yang kemarin, sekarang jadi suka sama Juna"
"Anam maksudnya?" Isti menyebutkan nama yang amat sangat tak suka kudengar saat ini. Tak suka, bahasa halus dari benci.
"Ya siapa lagi"
"Jadi? Kamu ngefans sama Juna buat pelampiasan rasa lo ke si Anam?" Matanya terbelalak saat mengucapkan kata terakhir.
Duh, Isti ini. Langsung saja suuzhan. Aku mendelikkan mata dan menghela nafas. "Ya enggaklah, Isti. Dari dulu juga aku udah ngefans sama Mas Juna, cuman setelah jauh sama si Anam, aku baru bebas mengekspresikan semuanya dimana pun kapan pun. Karena nggak ada perasaan yang perlu dijaga lagi"
"Em, begitu, ya. Pantesan, label nama di pulpen kamu udah diganti" Isti mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ya, aku memang suka menamai pulpenku menggunakan label. Menuliskan namaku dan nama seseorang lainnya.
Awalnya, kutulis disana.
Iristi Putri
@anamnam
Merujuk kepada seseorang yang dulu memang spesial bagiku.
Namun sekarang, segalanya sudah berubah. Termasuk label nama di pulpenku.
Iristi Putri
@dwijuna_
Iya, itu adalah username i********: Mas Juna. Letda kesayanganku yang kini tengah bertugas di Yonif 320. Eh, walaupun dia bertugas di daerah pelosok, sosoknya terkenal satu Indonesia. Ya meskipun tidak seterkenal artis papan atas, setidaknya dikalangan penggemar militer, dia merupakan sosok yang sudah tidak asing lagi namanya.
***
Awan berarak mengiringi langkahku. Ingin rasanya segera tiba di rumah, rebahan di kasur, sebelum kembali berkutat dengan buku pelajaran.
Inilah nasib siswi kelas XII SMK yang tak lama lagi akan menghadapi berbagai ujian sekolah sebelum ujian hidup.
Sesampainya di rumah, aku mendapati seonggok kacang ijo terdampar di atas sofa. "Mumu!!!" Teriakku sambil mendekati seseorang yang tengah terbaring di sana.
Matanya perlahan terbuka, terlihat berst dan merah sekali. Wah, pasti dia habis tidur seharian di sini. Kentara sekali wajah lelah sepulang tugasnya di Bogor.
"Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau pulang?" Protesku setelah meletakkan ransel.
"Biar apa bilang-bilang?" tanya Mumu dengan suara kodok khas tentara bangun tidur.
"Biar akunya persiapanlah. Persiapan sebarin kelereng di belakang pintu" jawabku sambil membuka tali sepatu.
"Waaah bagus sekali rencana penyambutannya. Aku terpesona" ujar Mumu sembari beranjak bangkit ke posisi duduk.
"Oh iya dong, Iristi Putri gitu lho. Udah ah, aku mau mandi dulu" ucapku setelah meletakkan ponsel di atas meja.
Baru selangkah kakiku berjalan, suara Mumu sudah memotong perjalananku. "Wallpapernya kok... Kamu ngefans sama si Juna?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Iya, emang kenapa?"
"Nggak. Kenapa bukan foto si Anam aja yang dijadiin wallpaper?" senyum mengejeknya berkembang. Disertai ekor mata yang sok itu.
"Dih, najong! Gak usah bahas gebetan orang, ah!"
Mendengar kalimat terakhir, keningnya berkerut dengan mulut terbuka. "Gebetan orang? Oh, jadi kamu ditinggalin sama si Anam?"
Aku mengendikkan bahu.
"Hahaha" rahangnya terbuka lebar menertawakan penderitaanku. "Lagian, udah tahu dilarang pacaran, masih aja deket-deketan. Sok-sokan hubungan tanpa status. Akhirnya ditinggalin kan? Mau protes nggak ada hak, mau diem juga nyesek. Sabar ya Ndoro Putri"
Tuh kan, aku kena skakmat. Ah, Najmu Firdaus kalau ngomong suka benar. Aku jadi kikuk dibuatnya. Mau protes, memang aku yang salah, mau diem, aku terkesan salah juga. Argh, sudahlah. Peduli apa dengan omongan Mumu, aku mau mandi.
Setelah salat isya, aku segera mengeluarkan buku pelajaran beserta pulpen andalan. Pulpen penyemangat.
Iseng, kuletakkan pulpen berlabel namaku dan Mas Juna di atas kertas materi matematika. Kupotret dan kujadikan insta-story. Iseng lagi, aku mention akun i********: asli milik Mas Juna.
Sent!
Oke, lepaskan ponsel dan lanjutkan belajar.
Satu jam berlalu, otakku sudah terasa penuh oleh rumus-rumus matematika yang sangat memusingkan. Dari logaritma sampai persamaan garis, errgh. Sudahlah, mataku jadi ngantuk.
Sebelum tidur, aku mengecek ponsel sebentar. Rupanya ada notifikasi. Sebuah pesan melalui fitur Direct Message(DM) di i********:.
@dwijuna_
Semangat belajarnya
"Allah, Allah, Allahu Akbar!" Reflek saja aku takbir, kaget, terkejut melihat ini. Aku tidak teriak kok. Tapi aku langsung berdiri dan loncat-loncat di atas kasur.
"Yaa Allah, Mas Junaaa"
Oke. Jangan terlalu banyak aksi senang. Disertai degupan jantung yang kencang, aku mengetik balasan dengan tangan gemetar.
@iristi.putri
Siap. Makasih kak. Semangat juga tugasnya.
Sent!
Yaaa Allah, ini seperti mimpi. Aku tak percaya, seorang idola, seorang figur terkenal dengan banyak penggemar, menyemangatiku belajar lewat DM. Fuhh. Nafasku sampai memburu.
Entahlah, aku tidak percaya. Aku hanya iseng mention akunnya, tidak berfikir akan dilihat apalagi di-DM. Sungguh, Mas Juna baik sekali. Kenapa dia tidak sombong seperti figur terkenal lainnya.
Tak lama kemudian, muncul sebuah balasan.
@dwijuna_
Aaaaargh. Sudah sudah cukup. Tidak perlu dibalas lagi, ya. Toh cuma emotikon. Kalau kubalas, 99 persen dia tidak akan membalasnya lagi. Jadi, aku lebih memilih untuk tidak membalas daripada tidak dibalas. Ehehe, dasar perempuan, gengsinya tinggi. Padahal kepada idola, tetap saja mementingkan harga diri.
Yaa Allah, jantung hamba masih belum bisa dikompromi. Degupannya belum menenang. Tidak tahu harus bagaimana.
Tenang saja, meskipun begitu, aku masih sadar diri. Mas Juna seperti itu kepada fans-nya mungkin karena dia sedang iseng. Ya tidak mungkinlah aku sampai menjadi sering chattingan dengan idola.
Aku hanya sebatas bahagia, tidak berharap.