Restoran fine dining itu memancarkan kemewahan yang tenang. Luna Dhiandra mengira malam ini hanyalah makan malam biasa. Namun, suasana di meja itu terasa terlalu formal.
"Aku senang kita bisa berkumpul malam ini," buka Nathan, suaranya sedikit serak namun berusaha terdengar tegas. "Terutama karena ada hal penting yang ingin disampaikan."
Perasaan Luna mendadak tidak enak. "Hal penting apa, Pa?"
Nathan menatap Adrian sebentar, lalu beralih pada Luna. "Papa dan Adrian sepakat menyatukan keluarga kita. Papa mau kamu menikah dengan Yohan, Luna. Bulan depan kalian bisa bertunangan dulu."
Luna membeku. Ia menatap ayahnya dengan mata membelalak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di seberangnya.
Yohan Mahendra. Pria itu tampak sangat tenang, seolah baru saja mendengar pengumuman prakiraan cuaca. Sebagai seorang dokter bedah, kontrol emosinya memang luar biasa. Ia menyeruput air putihnya dengan gerakan elegan, mengabaikan badai yang mulai berkecamuk di wajah Luna.
"Papa bercanda, kan?" suara Luna sedikit bergetar. "Ini tahun berapa, Pa? Bukan zaman jodoh-jodohan lagi!"
"Papa tidak bercanda, Luna. Tidak ada alasan untuk menolak," sahut Nathan dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.
Luna meletakkan garpunya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentang yang cukup nyaring. "Alasannya banyak! Pertama, aku sudah punya Alvian. Papa tahu itu. Kedua, Kak Yohan itu sudah seperti kakakku sendiri! Mana mungkin aku menikah dengan orang yang dulu sering menceboki aku waktu kecil?"
Mendengar kalimat terakhir itu, Yohan tersedak kecil. Ia meletakkan gelasnya dan menatap Luna dengan tatapan yang sulit diartikan. Tajam, namun ada kilat jenaka yang sangat tipis di sudut matanya.
"Aku tidak pernah mencebokimu, Luna. Aku hanya menyemprot kakimu dengan selang karena kamu kotor sekali setelah terperosok ke lubang galian," koreksi Yohan datar.
"Tuh, kan! Dia bahkan masih ingat betapa merepotkannya aku!" seru Luna, berpaling pada ayahnya dan Adrian untuk mencari dukungan.
"Lagipula Pa, Om Adrian dan Tante Maria itu sudah Luna anggap seperti orang tua Luna sendiri! Mana mungkin aku menikahi Kak Yohan?" seru Luna, mencoba mencari logika untuk membatalkan kegilaan ini.
Adrian Mahendra justru tersenyum hangat, menanggapi protes Luna dengan nada kebapakan yang tenang. "Bukankah itu bagus, Luna? Kamu tidak perlu lagi beradaptasi dengan mertuamu. Kamu sudah tahu siapa kami."
"Dan kamu juga tidak akan mengalami drama berseteru dengan ibu mertua yang galak, karena kami sangat menyayangimu," Maria menimpali sambil menggenggam tangan Luna di atas meja.
Luna merasa dikepung. Ini bukan lagi sekadar makan malam; ini adalah sebuah persekongkolan rapi di mana ia adalah satu-satunya orang yang tidak memegang naskah.
"Papa tahu aku punya Alvian! Hubungan kami serius, Pa!" Luna menatap Nathan dengan tatapan menuntut.
Nathan mendengus remeh. "Laki-laki yang bahkan tidak punya keberanian datang ke rumah untuk melamarmu secara resmi? Luna, Papa melakukan ini demi masa depanmu. Dan demi perusahaan."
Luna tertawa getir. "Perusahaan? Jadi, alasan sebenarnya adalah bisnis?"
"Jaga bicaramu, Luna!" Nathan memperingatkan dengan nada rendah. Tangannya yang berada di atas meja tampak sedikit gemetar, sebuah detail yang hanya diperhatikan oleh mata tajam Yohan.
Luna berpaling pada Yohan, satu-satunya orang yang ia harap bisa menjadi sekutunya. "Kak Yohan, bicara sesuatu! Kakak juga keberatan, kan?"
Yohan meletakkan gelasnya. Ia menatap Luna lekat, sorot matanya sulit diartikan. "Jika semua orang tua sudah sepakat, apakah aku punya alasan untuk membantah?"
Luna terkesiap. Harapan terakhirnya pupus. "Kak Yohan…?"
"Luna, duduk!" perintah Kirana, Ibu Luna saat Luna berdiri dengan kasar.
"Aku nggak mau! Aku bukan aset perusahaan yang bisa dipindah tangankan begitu saja!" Luna menyambar tas tangannya, air mata amarah mulai menggenang. Tanpa pamit, ia berlari keluar, mengabaikan panggilan ibunya.
Luna berdiri di area terbuka di luar restoran, menghirup udara malam yang dingin untuk meredakan sesak di dadanya. Ia segera merogoh ponsel, berniat menelepon Alvian, namun sebuah bayangan tinggi mendekat. Aroma maskulin yang familiar menyeruak di belakangnya.
"Masuk, Luna. Udara malam tidak baik untukmu," suara bariton Yohan terdengar tepat di belakangnya.
Luna berbalik, menatap Yohan dengan mata sembap. "Kenapa Kakak nggak bantu aku? Kakak biasanya selalu ada di pihakku! Kenapa sekarang Kakak ikutan jahat?"
Yohan menghela napas panjang, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia melangkah lebih dekat, membuat Luna harus mendongak. "Pertimbangkan perjodohan ini, Luna. Sebelum kamu menyesal."
"Apa maksud Kakak? Kakak mengancamku?" tuding Luna pedas.
"Aku tidak mengancam. Aku sedang memberimu peringatan," Yohan merendahkan suaranya, matanya menatap tajam ke arah restoran. "Perhatikan tangan Om Nathan. Kamu mungkin terlalu marah untuk menyadarinya, tapi aku dokter. Aku tahu kapan seseorang sedang menahan sakit yang luar biasa."
Luna tertegun. "Maksud Kakak... Papa sakit?"
"Masuklah," ujar Yohan tanpa menjawab langsung pertanyaan Luna. "Dan berhentilah berharap pada Alvian. Laki-laki itu tidak akan bisa melindungimu dari badai yang akan menghantam keluarga Dhiandra dalam waktu dekat."
"Apa yang Kakak tahu soal keluargaku?" desak Luna.
"Lebih banyak dari yang kamu bayangkan," jawab Yohan dingin namun protektif. "Aku menyetujui ini karena aku satu-satunya orang yang bisa memastikan kamu tidak ikut hancur saat perusahaan Papamu jatuh."
Luna terdiam, lidahnya mendadak kelu. Kepercayaan dirinya runtuh seketika. Yohan yang berdiri di depannya bukan lagi "Kakak" yang sering ia ajak bercanda, melainkan seorang pria dewasa yang sedang memegang kendali atas nasibnya.
"Kak Yohan jahat..." bisik Luna lagi, kali ini tanpa kemarahan, hanya ada keputusasaan.
"Mungkin," sahut Yohan pendek. "Tapi aku jahat karena aku ingin kamu tetap aman."
"Aku benci Kakak!" Luna berteriak lagi.
Luna hendak berlari pergi menuju area parkir, namun tangan kekar Yohan bergerak lebih cepat. Jemari pria itu melingkar di lengan Luna, menahannya dengan kokoh.
"Lepasin, Kak!"
"Dengar," bisik Yohan. Suaranya kini melunak, kembali menjadi Yohan yang Luna kenal. "Masuklah. Tenangkan dirimu. Kita akan bicara lagi nanti, hanya berdua."
Luna mencoba menyentak tangannya, namun gagal. "Nggak ada yang perlu dibicarain lagi! Jangan harap aku bakal jadi istri yang baik! Aku akan bikin Kakak menyesal!”
Luna hendak melangkah pergi, namun Yohan kembali menariknya pelan.
“Ayo kita kembali. Luna… Aku janji, aku akan cari solusi untuk masalah ini. Percayalah padaku sekali lagi.”
Luna menatap Yohan dengan tatapan yang tidak jelas, campuran antara benci, bingung, dan secercah harapan. Ia menghempaskan tangan Yohan dengan kasar, lalu berlalu kembali masuk ke restoran tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Yohan tetap berdiri di sana, menatap jemarinya yang tadi menyentuh lengan Luna. Masih terasa kehangatan di sana. Yohan tahu Luna sangat marah. Ia tahu di dalam kepala Luna hanya ada nama laki-laki bernama Alvian. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk.
“Dok, target sudah masuk jebakan. Dia sedang sibuk dan tidak akan mengganggu malam ini.”
Rahang Yohan mengeras. Ia mencengkeram ponselnya kuat-kuat. Ia tidak peduli menjadi antagonis dalam hidup Luna, asalkan gadis itu tetap berada dalam jangkauan perlindungannya. Sandiwara besar telah dimulai, dan Yohan akan memastikannya Luna tetap utuh di sampingnya.