"Lo gak apa, kan?" Suara bariton yang terdengar sexy menyadarkanku.
Karena ketakutan, aku memilih menutup mata ketika mendengar suara mengaduh dan gebugan di sekitarku.
Perlahan aku menyingkirkan telapak tangan dari wajah, dan ternyata preman jambret tadi sudah kabur terbirit-b***t. Entah bagaimana, yang jelas aku selamat.
"Eh? I-iya. Ma-makasih ...." sahutku tergagap.
Aku butuh udara, rasa terkejut membuatku agak linglung.
"Jalanan di sini emang rawan. Lo mau ke mana?" tanya orang itu sok akrab.
"Gue mau pulang. Nunggu taksi, tapi tumben nggak ada lewat."
"Ya udah. Gue anter, rumah lo di mana?" Aku langsung mengambil sikap waspada.
"Eh? Nggak usah. Deket sini, kok. Gue jalan pelan aja, entar juga ada taksi lewat."
Bukan maksud menolak tawaran orang, lebih baik jual mahal demi kewaspadaan.
"Yakin? Kelihatannya lo nggak pernah jalan lewat sini."
Emang, batinku.
Biasanya aku selalu membawa mobil atau nebeng dengan sahabatku. Tapi untuk kali ini mereka punya kesibukan masing-masing, dan kebetulan aku tak membawa mobil. Jadilah aku berniat naik taksi. Tapi apa dikata, malah hampir dijambret.
"Gue Dave. Lo?" Dia menjulurkan tangannya, dan aku menatapnya risih. "Gak usah takut, gue cuma pengen bersikap ramah aja." Dia terkekeh seolah meremehkan.
"Keyra," sahutku dan membalas jabat tangannya kilat. "Eh, ada taksi. Thanks ya udah nolong," ucapku cepat, lalu bergegas menghentikan taksi yang lewat.
Dia hanya melambaikan tangan dan tersenyum ke arahku. Kalau diteliti, pria itu tampan juga.
***
Ngomong dengan Jenny itu bikin budek. Tapi, ngomong dengan Nessa itu bisa bikin panas hati jiwa raga.
Saking lemotnya, arah pembicaraan yang sudah berjalan panjang lebar, tapi berakhir sia-sia. Kok bisa sih Rey sabar? Memang cinta itu buta.
"Key, lo dijambret cowok ganteng?" tanya Nessa masih lemot mencerna.
"Nes, gue hampir dijambret sama preman brewok, ditolong sama cowok ganteng. Gitu!"
Aku hanya bisa mengelus d**a. Sabar ....
"Oh gitu," dia manggut-manggut. "Aku nggak suka cowok ganteng tapi brewokan. Sama aja keliatan serem."
Aku hanya bisa tepuk jidat.
"Brewokan itu sexy loh, Nes ...." Jenny nyeletuk mengompori kelemotan Nessa.
Pembicaraan ini semakin tak jelas.
"Kak Ken nggak brewokan, Jen." Godaan Nessa membuatku terkikik.
Nessa, walaupun lemot mengalahkan ngesotnya keong, tapi dia sangat polos. Saking polosnya, hal yang harus dirahasiakan bisa terbongkar dengan sendirinya.
"Eh? Ya-yang bilang Kak Ken siapa?" Jenny gugup kalau membahas tentang kakakku.
Jenny itu fans beratnya Kak Ken. Bisa dikatakan kalau Jenny punya hati kepada kakakku. Hanya saja Kak Ken lebih tenggelam dan menggalaukan wanita tak jelas itu.
"Jen, lo masih ngarepin kakak gue?" Kali ini aku serius.
"Gue nggak tahu," Jenny mendadak lesu. "Beneran dia putus sama medusa, Key?"
Jenny selalu menyebut mantan Kak Ken dengan sebutan medusa. Dan aku setuju.
"Iya ... cuma si medusa masih ngejar-ngejar. Dia mau nyogok gue biar bantu mereka balikan, pas ultah waktu lalu mau ngasi gue tas Gucci."
"Yang boneng lo, Key? Terus lo terima?" Jelas aku menggeleng.
"Males banget! Gue juga mampu beli sendiri. Lagian ... ngasihnya nggak niat," Jenny serius banget. "Masa tas Gucci keluaran tahun lalu yang dia mau kasih."
Spontan Jenny tertawa keras diikuti Nessa yang tak kalah hebohnya sampai guling-gulingan.
Selain lemot, Nessa itu setia kawan banget. Dia akan tertawa dan bisa paling kencang di antara kami saat semua tertawa. Tapi juga bisa nangis paling pedih ketika kami ada yang sedih. Pokoknya Nessa itu unik.
"Bodoh ya si medusa," Aku dan Jenny langsung terdiam. "Masa ngasinya guci. Kan repot bawa ke mana-mana. Kalo pecah gimana, yah? Ha ha ha ...." Nessa semakin tertawa ngakak.
Aku dan Jenny menganga syok. Jadi dia tertawa bukan karena keluaran tas Gucci tahun lalu, tapi mikir guci keramik? Oh Tuhan! Selamatkan Nessa dari kelemotan yang tiada tara ini.
Kami bertiga mengabiskan waktu di ruang tengah apartemenku. Walaupun obrolan kami agak memusingkan karena kelemotan Nessa, tapi kami menikmatinya.
"Key, Aunty Della tahu lo di Jakarta?" Jenny membuatku mendadak murung.
"Sepertinya tahu. Kak Ken nggak mungkin bisa bohong sama Mom. Tapi gue yakin, Mom nggak akan bilang sama Dad. Mom nggak setuju gue dijodohin, makanya Mom bantuin gue kabur ke Inggris dulu."
Aku jadi merindukan Mom.
"Kok Uncle James nggak nyari lo ke Inggris, yah? Kan waktu itu si Joe ada di sana."
Kadang-kadang Nessa pikirannya agak lurus, tapi di waktu-waktu tertentu saja.
"Kak Ken juga nentang perjodohan gue, dan minta sama Dad buat ngasih gue waktu selama di Inggris. Gue dalam pengawasan dan perlindungannya. Dad setuju Tapi sekarang di sini, karena kalian."
"Bukannya lo ke sini karena pacar lo?" ketus Jenny yang enggan menyebut nama Joe.
"Awalnya ... tapi kalau gue ke sini dengan alasan dia, udah pasti gue dibalikin ke LA sama Kak Ken. Gue sampai mohon-mohon, bilang kalau gue pengen mandiri dan biar deket sama lo semua. Ya udah ... Kak Ken setuju walau dengan syarat. Tapi lo seenak jidat manfaatin gue jadi model lo!" Ku toyor jidat Jenny.
Pekerjaanku menjadi bertambah karena si setan modis satu ini.
"Lo cinta nggak sih sama si Joe?" Aku menatap Nessa dengan wajah seriusnya yang langka terjadi.
"Gue sayang sama dia. Yah ... biarpun sekarang jarang ketemu, tapi kita nggak pernah brantem. Gue tahu dia lagi sibuk, gue juga sibuk."
Alasan klasik untuk menutupi kebimbangan mengenai hubungan kami. Namun, sejujurnya dalam hatiku kini hanya ada rasa ... hampa.
"Lo yang ngejalanin, kita cuma bisa komentarin."
Aku hanya tersenyum paham maksud dari sindiran Jenny.
"Sejak kapan lo jadi komentator? Bola apa motogp, Jen? Kok gue nggak pernah lihat lo masuk tivi?"
Mulai lagi deh lemotnya si Nessa.
"Sejak burung garuda terbang pake jet!!" geram Jenny membalas Nessa yang sekarang malah tertawa.
"Wuih!! Kalah Syahrini loh ... Garuda aja punya jet. Ha ha ha ..." Dia terbahak-bahak dan heboh sendiri.
Astaga!
***
Bangun pagi dan melihat keadaan kamar seperti di serang perompak sudah biasa bagiku setiap kali Jenny dan Nessa menginap.
Apartemenku memang memiliki dua kamar tidur, tapi yang satunya adalah kamar Kak Ken. Tentu saja, karena dia sering mengunjungiku ke Jakarta.
Setelah membasuh wajah, aku pun keluar kamar dan seperti biasa berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Walau tak seprofesional Rey sebagai chef, tapi aku cukup pintar mengolah bahan makanan.
Waktu kecil kami selalu diajari memasak oleh Mom. Kami yang aku maksud bukanlah aku dan Kak Ken, tapi aku dan kembaranku, Keyla.
Mom pernah mengajari kami membuat kue kering untuk persiapan hari raya natal. Keyla menakar telur, dan aku menimbang tepung. Itu sangat menyenangkan.
Aku ingat bagaimana kesalnya Keyla hingga terbatuk-batuk saat tepung yang aku takar berterbangan. Itu bukan salahku, tapi kipas angin yang entah siapa yang menyalakannya.
Saat adonan sudah mengental, kami begitu antusias. Sesekali kami saling memoles usil adonan yang basah ke wajah. Mom sampai pusing melihat tingkah kami.
Keyla tipe pendiam, kalem, dan penurut. Sangat berbanding terbalik denganku yang cerewet, sedikit bandel, dan tak bisa diam.
Namun, ketika kue pertama kami matang, aku melihat binar mata dan senyumnya kala itu, pun pekikan cerianya yang melengking. Aku seperti bercermin.
Walaupun aku dan Keyla kadang suka berselisih, tapi kami memiliki ikatan batin yang kuat. Jika dia sakit, aku juga akan sakit. Keyla adalah kakak perempuanku satu-satunya dan kami lahir dari rahim dan plasenta yang sama.
"Woi!!" Aku hampir memukul kepala Nessa dengan spatula karena kaget. "Lamunin apa, sih?"
Nessa duduk santai di kursi pantry sambil menenggang segelas air.
"Kangen Keyla," jawabku agak sendu.
"Gue juga ..." suaranya sendu. "Pengen jenguk dia, tapi jauh ...." keluhnya.
Nessa tampak sedih dan aku tahu dia lebih sedih daripada aku. Sewaktu kami kecil, Nessa memang lebih dekat dengan Keyla, karena hanya Keyla yang bisa dengan mudah mengartikan kelemotannya.
"Suatu hari kita jenguk dia sama-sama, yah?" Hiburku dan dia mengangguk pelan.
"Jenguk siapa?" Jenny datang dengan muka bantalnya dan menguap lebar.
Walaupun kesehariannya sangat fashionable dan anggun, tapi kalau bangun tidur... iyuuhh!!
"Keyla, Jen. Keyra kangen katanya. Gue juga." Nessa mengadu.
"Iya, gue juga kangen," ujar Jenny yang langsung duduk di samping Nessa. "Tapi lihat Keyra juga berasa lihat Keyla, kan? Jangan sedih, Ness." Jenny menepuk pundak sahabat kami.
Jelas, kami adalah kembar identik. Yang membedakan hanya dua hal, Keyla punya tanda lahir di pundak kirinya sedangkan aku tidak. Dan satu lagi, tingginya hanya beda 2cm lebih tinggi dari aku.
Selebihnya sama.
~ o0o ~