"Saat hati tak ingin memilih, ketika masa lalu berbalut elegi dan masa depan berbaur delusi." — Bianca Lazuardi.
***
Isak tangis seorang wanita terdengar cukup keras hingga menarik perhatian dari beberapa pengunjung yang tengah menikmati hentakan suara musik dari para DJ yang memimpin pesta di Bar paling hits di kota ini.
"Duh Fey, udah dong. Mau sampai kapan kamu nangis?" Vina menyodorkan lembaran tisu terakhir yang ditariknya dari dalam kotak.
Fey mengabaikan teguran sahabatnya, ia masih menangis bahkan kembali mengambil tisu untuk menyeka air mata serta ingusnya. Fey mengembalikan tisu bekas pakai itu kembali pada Vina membuat sahabatnya itu bergidik jijik sedangkan Geby yang duduk disampingnya tertawa geli.
"Udah abis aja tuh tisu." Kode Geby melalui kedipan mata.
Vina mengabaikan reaksi Geby. Meski keduanya kerap melihat tingkah Fey kala patah hati, namun Vina tetap kasihan melihat sahabatnya datang dengan wajah pucat dan hidung merah.
"Fey, si Carrots pacar ke-32 'kan? Harusnya kamu sudah cukup sering patah hati. Jadi nggak perlu berlebihan gini dong," usik Geby. Dia mulai jengah setelah dua jam di Bar hanya duduk diam sambil mendengar keluhan dan tangisan Fey.
"Namanya Carrel bukan Carrots," protes Fey di sela isak tangisnya.
"Geb," desis Vina mengingatkan Geby untuk tenang. Wanita itu selalu bicara lepas tanpa memperhatikan keadaan orang lain lebih tepatnya dia tidak bisa membaca situasi di sekitarnya.
Geby mengendurkan bahunya, tanda tidak perduli. "Aku mau turun, kali aja di bawah dapat cowok ganteng plus tajir melintir."
"Huaaaa." Melihat sikap cuek Geby membuat tangisan Fey semakin keras.
Sebenarnya, alasan utama Fey mendramatisir keadaan bukan karena dia terpukul dan sedih setelah memergoki Carrel selingkuh dengan sekretarisnya. Alasan itu terlalu sepele bagi Fey yang telah puluhan kali patah hati.
Alasan utamanya terlihat sangat sedih kala mengingat kalimat Mama yang belakangan ini menuntut Fey untuk membawa calon suami atau minimal pacar ke hadapan kedua orangtuanya.
Sampai tadi pagi Fey masih memupuk harapan setinggi langit hingga harapan itu pun musnah saat berkunjung ke kantor Carrel untuk makan siang bersama. Fey harus menerima kenyataan kalau selama ini dia telah di dua-tigakan oleh playboy cap racun tikus itu.
"Fey, mau ke mana?" Tanya Vina.
Fey melambai asal. Kepalanya pusing, efek terlalu banyak menangis ditambah dua botol bir yang membuat seluruh dunia berputar seakan bergerak menjauhinya. Fey harus segera mencapai toilet terdekat sebelum isi perutnya berontak keluar dan membuat seisi Bar melihatnya sebagai mahkluk freak.
***
"Kenapa Lex?" Tanya Bima. Mengalihkan perhatian Alex yang sedari tadi fokus pada satu titik.
Alex tidak bergeming, dia tetap fokus pada satu titik sambil menarik seulas senyum misterius.
"Mau ke mana?" Tahan Bima cepat.
Keduanya baru saja menginjakkan kaki di Bar ini. Bima tidak ingin Alex tiba-tiba menghilang dengan berbagai alasan hanya untuk pulang ke rumah. Entah apa yang selalu di lakukan duda muda itu di rumah.
"Toilet, kenapa? Kamu mau ikut?" Goda Alex. Dia tahu Bima hanya tidak mau Alex pulang dan menggagalkan acara hang out mereka malam ini.
"Asal ngak kabur aja," sindir Bima, mengingatkan sepupunya itu.
"Tenang, cuma mau ke toilet terus nyari angin."
Alex berlalu pergi meninggalkan meja yang ditempatinya bersama Bima. Langkah Alex berhenti di lorong masuk yang memisahkan toilet wanita dan laki-laki.
"Dimana dia?" Batin Alex. Matanya tidak lepas dari pintu masuk toilet. Mencari sosok yang telah lama menarik perhatiannya, muncul dari balik pintu.
***
"Sialan wortel!" Gumam Fey marah. "Kenapa kamu nggak nunggu besok atau lusa aja sih buat selingkuh! Kalau begini semua rencana ku bisa gagal." Gerutu Fey setengah sadar.
Dia memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi. Sepertinya Fey harus segera pulang dan menegak dua dosis Aspirin untuk menghilangkan sakit di kepalanya sekaligus melenyapkan nama Carrel dari otaknya.
Fey berbalik, berjalan tertatih sembari bersandar di dinding untuk menopang tubuhnya yang mulai sempoyongan. "Sialan! Harusnya aku tidak pernah menegak alkohol terkutuk itu," umpatnya dalam hati.
Setiap kali patah hati, Fey selalu saja melupakan batas toleransi tubuhnya terhadap alkohol.
"Kamu baik-baik saja?"
Fey mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik suara yang menyapanya. Efek alkohol semakin menjadi, bahkan kini Fey bisa melihat wajah cinta pertamanya, tengah mengulurkan tangan untuk menopang tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak.
"Sani, kamu kemana aja?" Racau Fey. Dia melilitkan tangannya ke leher orang didepannya.
"Sani, kumohon jangan tinggalin aku lagi. Aku cinta sama kamu," rintih Fey. "Aku janji Sani, aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan cinta kita," lirihnya pilu.
Masa lalu merasuk ke dalam alam bawah sadarnya. Membangkitkan memori tergelap dalam hidupnya.
"Sani?" Gumam suara yang membawa Fey dalam dekapan hangatnya. "Akan ku buat kamu melupakan nama itu untuk selamanya," desisnya yakin.
***
Vina berjalan cepat ke tengah ballroom dimana Geby sibuk meliukkan tubuhnya di kawal tiga pria tampan. Vina menyibak kerumunan untuk mencapai posisi yang cukup dekat untuk menjangkau temannya.
"Geb, kita pulang yuk," bisik Vina. Dia setengah memaksa, menarik Geby untuk mengikuti langkahnya. "Permisi, permisi," jeritnya menghalau para pria yang berusaha membuat Geby tetap bersama mereka.
"Sorry guys, waktunya Cinderella pulang. Emak udah ngomel nih," racau Geby yang dalam keadaan setengah tipsy.
Vina tidak menggubris rentetan protes dari teman-teman Geby. Dia segera keluar dari kerumunan dan membawa Geby bersamanya.
"Mau kemana sih? Buru-buru banget. Sakit nih!" Protes Geby karena Vina mencengkram kuat tangan dan menariknya.
"Fey hilang!" Seru Vina panik.
Geby menghela nafas malas. "Vina, kamu itu bukan emaknya Fey. Lagian, udah biasa Fey tiba-tiba menghilang."
"Tapi aku khawatir, Geb. Kali ini kondisi Fey agak aneh," Vina menggigit kuku jempolnya. Kebiasaan buruk saat pikirannya sedang kacau.
"Kamu jangan overthinking deh, palingan dia nemu cowok ganteng trus ONS."
"Aku menghubungi ponselnya dari tadi tapi nggak ada jawaban, Geb."
Geby mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Ya iyalah, ponselnya mati. Pasti lowbat lagi." Lapor Geby setelah dua kali mencoba menghubungi Fey dengan ponselnya. "Kamu tenang aja, Fey pasti punya alasan sendiri. Besok pagi kalau Fey belum ngasih kabar, kita bakal lapor polisi," ujarnya santai.
Vina mendelik kesal tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Geby benar, Fey pasti punya alasan tiba-tiba menghilang tanpa pemberitahuan. Dia pasti sedang berada di suatu tempat sambil menangis, mengingat kembali masa lalu.
"Vin, itu bukannya mantan kamu?" Tiba-tiba Geby menunjuk pria yang berdiri di ujung lorong sambil bicara melalui ponselnya.
Sial! Ngapain dia disini?! Vina mendelik panik begitu melihat sosok yang menarik perhatian Geby.
"Ayo cepat Geb, kita harus pergi dari sini," Vina segera menyeret Geby keluar dari Bar.
"Loh, kenapa?"
Vina mengabaikan protes Geby dan bergegas menyeretnya pergi. Belum saatnya bagi Vina kembali bertemu sang mantan, dia belum yakin hatinya mampu bertahan untuk tidak melemparkan tubuhnya kembali ke dekapan hangat itu.
*****