"Maukah kamu bertemu denganku sebentar saja, Ema?" pinta Edo, lewat panggilan telepon.
"Oke, sayang, Dimana?" tanya Ema.
"Di Dekat persimpangan jalan, di taman cemara besar yang ada kursinya itu, kamu tahu, 'kan?" jawab Edo.
"Siap bosss," jawab Ema sambil mengambil tas nya dan bergegas pergi.
Lima belas menit kemudian.
Ema menunggu Edo yang belum juga nampak di sana. Kembali dilihat ponselnya sambil dibolak-balik, tapi juga tak ada pesan masuk dari Edo, tak biasanya dia telat begini. Perasaan Ema pun semakin kacau, ada rasa yang sedikit mengganjal di pikirannya. Entah kemana Edo saat ini, biasanya Edo lebih memilih menunggu daripada ditunggu. Karena sudah lebih dari satu jam Ema menunggu, akhirnya dikeluarkan lagi ponsel yang berada di dalam tasnya. Ema mencoba menghubungi Edo berkali-kali, namun tiada jawaban. Pesan singkat yang dikirim Ema juga tidak dibalas oleh Edo yang membuat Ema semakin gelisah.
Braaangggggggggg….!
Sebuah kecelakaan besar terjadi di persimpangan jalan itu dengan dahsyatnya. Sebuah truk yang bermuatan pasir dengan kerasnya menabrak pohon cemara yang berada tepat di ujung jalan.
Kaca kaca kemudi truk pecah berhamburan serta terdengar suara ledakan dari truk itu yang diduga bannya meletus terkena beberapa paku yang entah dari mana asalnya.
Edo yang masih mengantar Ibunya periksa kerumah sakit, lupa membawa ponselnya, karena tadi pagi tiba-tiba Ibunya sedikit pusing dan meminta Edo mengantarkannya ke rumah sakit untuk periksa.
Usai memeriksakan Ibunya, Edo segera berangkat ke tempat yang dijanjikan tadi kepada Ema. Perasaannya tak enak, ada rasa takut di dalam hatinya, entah kenapa hari ini keduanya merasakan perasaan yang sama. Beberapa menit kemudian sampai lah Edo di taman persimpangan jalan itu, ia celingak-celinguk mencari Ema di sekitar taman, namun tidak terlihat Ema berada di sana. Banyak orang berkerumun di taman itu, namun Edo tak merasakan keanehan apa pun. Ia tetap berjalan mencari di mana kekasihnya itu berada.
Sirine ambulan bersahutan sangat nyaring serta memilukan, seorang jenazah meninggal mengenaskan telah masuk dan dibawa ke dalam ambulan, wanita yang tengah gelisah beberapa jam yang lalu telah tewas seketika ditabrak truk tepat di bawah pohon cemara simpang jalan.
Edo masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, ia berjalan menuju tempat duduk yang gunakan Ema sebagai tempat perjanjian mereka tadi. Ada tas selempang milik Ema yang masih tertinggal di antara rerumputan. Tas dengan penuh darah itu diambil oleh Edo dengan tangan yang terus bergetar.
Dibukanya isi di dalam tas itu, benar ternyata itu adalah tas milik Ema. Semua barang yang ada di dalamnya adalah milik Ema, berikut kartu nama dan kartu kerjanya. Seketika Edo tersungkur lemas, ia kesakitan dan masih belum percaya kekasihnya itu telah pergi untuk selamanya dengan keadaan yang mengenaskan.
Teriakan Edo membahana memanggil-manggil nama kekasihnya yang telah lebih dulu di bawa ambulan pergi, hingga membuat banyak orang bersimpati kepadanya. Seketika Edo pingsan dan di bawalah dia ke rumah sakit untuk dirawat. Rasa trauma yang begitu dalam, membuat dirinya hilang kesadaran begitu lama, hampir dua puluh jam Edo masih belum sadarkan diri. Dengan setia Jessica menunggunya dan terus menyemangati dirinya.
Tiga hari berlalu begitu cepat, Edo akhirnya siuman dan kembali histeris. Membuat dirinya kembali harus diberi penenang yang membuatnya kembali tertidur. Melihat putranya begitu terpuruk membuat Jessica menjadi menyesal dengan apa yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Maaf, Ema, Ema, Ema, maaf, maaf kan aku, Emaaa," Edo terus bergumam di dalam tidurnya.
Sejak kematian Ema, Edo semakin gila, stres dan tertekan, lebih dari tiga puluh hari Edo terus menangisi kepergian kekasih hatinya itu. Air matanya terus mengalir, keterpurukannya terus berlangsung sampai hari pernikahannya dengan Lina tiba. Empat puluh hari setelah kepergian Ema, Edo menambatkan hatinya untuk Lina dan menjadikan Lina istrinya.
Terlihat kejam?
Terlihat aneh?
Iya ,memang aneh dan kejam ,namun ini lah kenyataannya.
Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan, dan tak terasa pernikahanya telah berjalan 1 bulan. Terasa bahagia bagi Lina, namun tidak dengan Edo, ia merasa sakit, sedih dan terpuruk, serta dihantui rasa bersalah. Pergilah Edo ke makam Ema, disana dirinya bersimpuh kaku, hatinya hancur, tangisnya pecah pilu tanpa kata.
"Ema sayang, aku ingin jujur kepadamu, maaf, jika semuanya telat, tapi aku mau jujur, jujur aku sangat mencintaimu. Jujur aku menyayangimu tanpa syarat, aku sungguh menyayangimu, aku mau jujur kalau kedatangan Lina merubah segalanya. Maafkan aku dan Ibuku, aku menerima cinta dan pernikahan Lina karenanya. Ibu yang mengandungku, melahirkanku, membesarkanku dan mendidikku, beliau tidak menyukaimu. Entah apa yang dibenci darimu yang cantik, sopan dan pintar ini."
Kembali air mata Edo luruh membasahi pipinya. Badannya lemah tersungkur, sambil terus mengusap lembut batu nisan milik Ema. Pelan-pelan Edo berdiri dari pusaran Ema, tiba-tiba langit mendadak mendung, hujan mulai turun dengan lebatnya, leher Edo pun tiba-tiba terasa tercekik, kakinya terasa lemas, tapi Edo tetap melangkah menuju mobilnya.
Tiba-tiba saja kaca mobil Edo mengalir darah segar, yang entah dari mana asalnya. Edo semakin ketakutan, dengan segera Edo masuk mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, di dalam mobilnya tanpa sengaja dia mendengar bisikan-bisikan lembut.
"terimakasih, ahhh."
"Hahh, siapa? Siapa? Ya Tuhan kenapa, aku?" gumam Edo.
Tanpa di sadari mobil nya kembali berbelok ke makam lagi dengan sendirinya.
"Ya tuhan, ada apa ini?" Edo segera membelokkan kembali mobilnya menuju jalan raya, mobil berusaha dilajukan menuju rumah dengan cepatnya. Ada perasaan aneh di hati Edo, namun ia tetap berfokus mengendarai mobilnya agar bisa segera sampai di rumah. Beberapa menit kemudian akhirnya Edo sampai di gerbang rumahnya, diparkirkan mobil kedalam garasi. Kemudian Edo memasuki rumahnya dengan terburu-buru, nampak Lina sedang duduk di sofa ruang tamu dengan santainya, sembari menonton TV.
"Hujan-hujan gini dari mana saja, mas?"
tanya Lina pada suaminya yang baru saja sampai itu.
Namun Edo berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya.
Edo langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya karena seharian ini ia berkutat dengan kesedihannya di makam Ema. Saat Edo selesai mandi, tanpa dia sadari handuk yang ia gunakan berubah menjadi banyak bercak darah yang berbau amis, melihat itu Edo segara melemparnya ke lantai dan pergi berlalu menemui Lina yang masih asyik menonton TV.
"Minum kopi nya mas, udah aku buatin tadi," ucap Lina sambil memberikan kopi kepada Edo.
"Loh, wajah kamu pucat begitu, kenapa, mas? Kamu sakit?" tanya Lina.
Tanpa menjawab lagi, Edo kembali termenung dan duduk di sofa bersama Lina.
"Lin, apa beberapa hari ini ada kejadian yang aneh di rumah kita?" tanyanya pada Lina.
"tidak, kenapa, mas?"
Edo hanya menggeleng lemah.
Usai minum kopi, Lina pun kembali ke kamarnya, dilihatnya kamar nampak berantakan, serta handuk pun berserakan di lantai begitu saja.
"ih, mas Edo ini tidak rajin banget, sih,"
gumam lina sambil membereskan kamarnya.
Teror di ujung senja
By Adilia
??????????????
⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬
Part 3 masuk disini ya,,
Teror bab3
Malam semakin larut, setelah semuanya rapi dan sudah bersih. Lina kembali ke tempat tidurnya, namun Edo tak kunjung mengikutinya, ia masih melamun di teras duduk santai menghisap rokok sambil memikirkan kegilaannya beberapa hari ini.
Ia merasakan dirinya banyak berhalusinasi setelah kematian Ema itu. Banyak kejadian-kejadian aneh dan ganjil dialaminya selama beberapa hari ini. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, membuat kulitnya bergidik dingin.
"pembunuh."
"pembunuh."
Sontak Edo kaget mendengar bisikan aneh itu, dengan segera Edo masuk kedalam rumah menemui Lina.
"Lin, kamu belum tidur?" tanya Edo pada Lina yang terlihat sedang duduk membaca novel.
Edo mengira wanita yang ada di hadapannya itu adalah Lina istrinya, namun saat wanita itu membalikan badannya, seketika Edo melonjak kaget, dirinya tak percaya kalau itu adalah Ema, dengan wajah yang penuh luka dan darah yang terus keluar dari mulut serta matanya. Dia berdiri dan mendekati Edo, nampak kebencian di wajah Ema dengan sosok yang sangat mengerikan.
Seketika bau anyir menyeruak di seluruh ruangan rumah yang membuat Edo ketakutan sekaligus ingin muntah.
"pembunuh...pembunuh..." suara terus keluar dari sosok Ema itu.
Sambil terus mendekati Edo, sosok Ema itu menjadi semakin mengerikan saat semua kuku panjangnya keluar dan siap menerkam Edo. Seketika Edo mundur dan lari menjauhi Ema. Darah terus mengalir dari tubuh Ema ke seluruh lantai hingga menyentuh kaki Edo.
"bukaan, maaf sayang, maaf kan aku, bukan aku, sungguh bukan, aku!!" teriak Edo kepada sosok Ema itu.
Edo berusaha menjelaskan dengan keadaan takut dan cemas. rasa takutnya semakin membuatnya gila, ia terus berusaha menjauhi sosok mengerikan itu dengan mencari perlindungan kepada Lina. Tiba-tiba Lina datang dan bertanya.
"kenapa sih, mas malam-malam teriak tidak jelas?"
"Belakangan ini kamu aneh deh, mas!" gertak Lina penasaran.
"tidak, Lin," sahutnya dengan gugup dijawab.
Edo masih dengan halusinasinya, ia menunjuk lantai dengan rasa ketakutannya dan dia pun menarik baju Lina agar lebih dekat dan bisa menyaksikan apa yang di lihat nya saat ini.
" Lin, kamu lihat 'kan? Lantai kita penuh dengan darah," dengan badan yang masih berkeringat dan bergetar, Edo menunjuk lantai yang dilihatnya banyak darah tadi.
Lina masih penasaran dengan apa yang dikatakan suaminya itu, dengan seksama Lina akhirnya maju dan mengamati lantai yang ditunjuk Edo barusan. Namun tak ada sedikitpun noda di lantai itu, apalagi darah yang mengalir seperti yang diungkapkan oleh Edo suaminya.
"Sudah deh mas, kamu ini capek, selalu begadang, mendingan kamu tidur," sahut Lina kesal.
Lina pun beranjak pergi meninggal kan Edo yang masih berdiri mematung di tempat kejadian.
"Ayo, mas tidur!" teriak Lina dari dalam kamarnya.
Sontak membuat Edo tersadar dan pergi masuk kedalam kamarnya. Malam yang panjang akhirnya berakhir juga, Edo yang sudah bangun lebih awal meminta mbok Nem pembantunya untuk segera menyiapkan sarapan. Ia akan berangkat kerja lebih awal, entah kenapa ia ingin berangkat kerja pagi-pagi sekali. Lina yang masih kantuk di kamarnya pun mencari-cari suaminya yang sudah tak ada disampingnya sepagi ini, beranjak lah dia keluar kamar mencari sosok Edo yang menjadi candu di hidupnya beberapa bulan ini.
Nampak suaminya sedang sarapan dan bersiap berangkat kerja.
"Mas, mau berangkat kerja?" tanya Lina heran.
"Iya," jawabnya singkat.
"Sepagi ini, mas?" Lina semakin penasaran.
"Iya, ada rapat dan proyek jam tujuh pagi, Lin," sahut Edo menjelaskan kepada Lina.
Tanpa berkata lagi Lina pergi kekamar mandi dan segera membersihkan diri nya, ia sudah tak memahami perilaku suaminya yang aneh beberapa hari ini. Edo yang sudah selesai sarapan segera berangkat tanpa berpamitan kepada istrinya yang masih berada di kamar mandi. Mobil Edo pun melaju dengan cepatnya menuju kantor di mana tempat ia bekerja, tiba-tiba dia berhenti di sebuah persimpangan, dimana Ema terakhir kali menunggunya di sana.
"maafin,aku, Ma, l" gumamnya dan Edo kembali melajukan mobilnya lagi.
Senja mulai datang, hari semakin petang, Edo bersiap dari kantor untuk kembali pulang kerumahnya meninggalkan pekerjaannya yang seharian membuatnya sibuk. Sementara di rumah Lina telah bersiap-siap menunggu kepulangan suaminya dari kerja, dia mulai berdandan dan merias diri, berharap suaminya menyukainya saat pulang kerja nanti.
Dengan tenang ia menyisir rambutnya yang panjang, hitam dan lurus itu di depan kaca rias, sekaligus dinikmatinya wajah cantiknya sebagai modal utama menjerat hati Edo. Namun Lina terkejut, saat sekilas dia melihat sosok wanita bermuka penuh darah di kaca riasnya. sontak membuatnya aneh dan menoleh kebelakang, namun di belakang sana tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba Lina mencium bau anyir yang sangat menusuk hidungnya hingga membuatnya ingin muntah dan berlari ke kamar mandi.
Ia memuntahkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandi, wajahnya tampak memerah sakit karena kejadian ini. Selesai muntah, di cucilah mukanya agar terlihat segar kembali, namun di dalam wastafel dia melihat sesuatu yang aneh, mirip dua bola mata manusia yang masih segar bercampur darah.
"hah, apa ini? Apa ini? Apa...menjijikkan!"
Seketika Lina lari keluar kamar mandi dan melihat kekanan kekiri tiada siapa-siapa, ia kembali menengok kamarnya, dan tidak ada apa-apa di sana. ia mulai memasuki kamar mandi dan tidak ada apa-apa juga di sana.
"ya Tuhan, apa itu tadi? Mungkihkah aku berhalusinasi," gumamnya.
Tidak berapa lama kemudian, Edo sampai di depan rumahnya, dengan tergesa-gesa Lina menyambut suaminya itu.
"Mas, rumah kita aneh," ucap Lina secara tiba-tiba kepada suaminya.
"Aneh bagaimana, Lin? Aku belum masuk rumah, kamu sudah berkata aneh. Membuat capekku bertambah!" gertak Edo semakin kesal.
"Sumpah mas, ada sosok aneh yang mengganggu kita disini, mas tolong hubungi paman, Rames. Yang tinggal di bandung sekarang juga," pinta Lina memelas dan takut.
Edo duduk di sofa sembari mengingat ingat sosok yang diceritakan istrinya barusan. Benarkah sosok teror selama ini adalah Ema, atau sosok lain. Segeralah Edo menghubungi paman Rames seperti yang diminta Lina.
Keesokan harinya paman Rames pun sampai di rumah Edo dan Lina.
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam!" Lina menjawab dan membukakan pintu.
"Oh, Paman!...ayo masuk Paman, pagi sekali Paman sampai."
"Iya, setelah suamimu telepon semalam, Paman langsung berangkat," jawab Rames kepada Lina.
Tanpa basa-basi lagi, Lina menceritakan apa yang ia dan suaminya alami beberapa hari ini, serta kejadian semalam yang membuat bulu kuduknya merinding hebat.
Paman yang mendengar cerita Lina pun langsung bersila dan meditasi, ia memejamkan mata dan nampak menarik napas dalam-dalam.
"Lin, ada sosok yang meneror di rumah ini, ia selalu akan membayangi dirimu dan suamimu, apakah kamu atau suami, kamu punya kesalahan yang fatal pada seseorang?" tanya Rames.
"Lina rasa tidak paman."
"kalau begitu kita tanya suamimu nanti kalau sudah pulang kerja, karena sosok ini terasa dekat."
Teror di ujung senja
By Adilia