Menjemput Sepenggal Cerita Malam
MOTOR Ray menepi di depan sebuah pondokan. Ia bergegas turun dari motor seraya melepas helm lalu digamit sebelah tangannya. Langkahnya dipercepat, menaiki tangga, berjalan lagi, lalu berhenti di depan sebuah pintu kamar yang tertutup. Hati-hati sekali, tangannya mengetuk pintu dengan pelan. Tak menunggu hitungan menit, pintu terkuak. Seraut wajah muram menyambutnya. Senyuman gadis itu pun tawar terkesan dipaksakan.
“Masuk,” ucapnya basa-basi. Ray mengangguk. Melepas kedua sepatunya. Lalu masuk. Duduk di kursi yang berada dekat meja belajar. Sementara gadis itu duduk di kursi yang satunya, agak jauh. Hari belum begitu sore. Masih pukul tiga. Cuaca cerah. Tak ada tanda-tanda akan turun hujan dari langit seperti sore kemarin.
“Telepon selularmu nggak aktif