Guru Spiritual
“RAY!” suara dari luar kamar. Ray yang tengah duduk di atas karpet menghadap laptop, beranjak. Lalu dibukanya pintu kamar. Ray tersenyum pada Kang Jaka. Lalu memersilakan masuk. Kang Jaka duduk bersila depan Ray.
“Sudah sarapan?” tanya Kang Jaka.
“Sudah, Kang. Makan roti tawar sehelai dan segelas s**u putih. Persediaan di kamar masih ada, jadi Ray nggak harus keluar cari sarapan lain, hehehe.”
“Oh, syukurlah. Kamu kuliah jam berapa hari ini?” Tanya Kang Jaka mengetahui Ray jam delapan masih berada di dalam kamar dan tak tampak hendak bersiap-siap pergi. Ray masih mengenakan kaus oblong dan bawahan celana selutut.
“Jam sepuluh, Kang. Oh ya, Kang… semalam Ray sudah bicara sama Maulana dan yang lainnya. Kebetulan mereka nggak keluar pondokan, jadi Ray sekalian bicara sama