Bimbang
SIANG masih terang benderang, tatkala Cika tengah berbicara dengan pamannya. Ruslan, adik ayahnya, berusia dua puluh enam tahun. Wajahnya yang putih bersih, bercambang, tapi gurat mukanya agak garang, menatap keponakannnya yang terus menegaskan jika butuh biaya untuk membayar kuliah semester tiga juga mengontrak kamar kos. Cika ingin agar pamannya itu mengantarnya bersua Sutawijaya, sang ayah kandung yang juga tak didengar kabarnya. Padahal, sudah hampir satu tahun, Cika tak bersua ayahnya. Begitu pun dengan ayahnya yang tak juga menemui Cika meski tahu dimana Cika tinggal.
“Kalau waktu senggang, Mamang nanti cari tahu kabar ayahmu, Cik,” ucap Ruslan lembut. Meski, ia terkadang garang pada orang-orang, tapi berhadapan dengan keponakannya yang cantik dan terpelajar itu, Ruslan sel