Jakarta, 05 Desember
seperti biasa menjadi seorang Mahasiswa memang tidak lepas dari tugas, begitu lah yang di alami Dwi yang saat ini menjadi mahasiswa akhir di fakultas Hukum. Dwi mengambil jurusan hukum karena ia bercita-cita menjadi seorang jaksa. beruntung nya Dwi yang hidup dari kelurga sederhana bisa mendapatkan Beasiswa di universitas bergensi di Jakarta. namun kehidupan nya tidak semulus yang ia bayangkan. sejak ayahnya meninggal akibat serangan jantung setahun yang lalu, Dwi harus menanggung perjanjian Hutang ayahnya untuk menikah dengan Joko si lintah darat tua itu setelah ia menyelesaikan kuliahnya yang tinggal 6 bulan lagi.
"nduk kamu ngak kuliah nduk? udah jam 9 ini nduk, ayo bangun". panggil Aminah dari luar kamar Dwi yang sejak tadi tidak ada suara dari dalam kamar tersebut.
tok..tok...tok
sejak tadi Aminah mengetok pintu kamar Dwi namun tidak ada jawaban dari dalam kamar itu. dan akhirnya Aminah mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut dan Aminah tidak menemukan Dwi di kamar yang sudah rapi tersebut.
"loh, kemana anak ini? apa dia ngak pulang tadi malam? "
tanya Aminah pada dirinya sendiri.
Aminah pun mengambil handphone nya dari kamar nya yang lagi di cas. dan segera ia mencoba menelphone putri semata wayang nya tersebut.
Drrrtttt
"hallo... assalamualaikum buk?" jawab Dwi.
"walaikumsalam nduk, kamu dimana nduk. kok pagi-pagi ibu gak liat kamu kelur rumah" tanya Aminah
"tadi Dwi abis subuh langsung berangkat buk, karena takut akan macet, Dwi ada bimbingan skripsi jam 8 pagi soalnya buk" terang Dwi
"owalah nduk, ibuk pikir kamu gak pulang tadi malam, ibuk khawatir nduk." ucap Aminah yang sudah leg mendengar kabar anak perempuan.
"ya udah nduk, kamu lanjutin belajarnya ya nduk, ibu mau bangunkan adekmu dulu, jangan kemalaman pulang nya ya nduk" terang Aminah.
"iya buk, assalamualaikum"
"walaikumsalam"
***
Di lain tempat, pemuda tampan yang duduk pada ruang rapat di kantornya tersebut mengakhiri rapat yang di pimpin nya saat itu.
"oke, kita sudahi metting kita hari ini, dan saya mau untuk laporan kalian saya tunggu jam 13.30 ini setelah jam makan siang" ucap Didi sambil beranjak menuju keluar ruangan, di ikuti mika sebagai sekretaris nya Didi sekaigus sahabatnya sejak SMA.
" Pak, Jam 11 ini bapak ada agenda metting dengan PT. Buana adikarya pak, saya sudah siapin semua bahan meeting nya pak. apa kita berangkat sekarang pak?" tanya mika sambil berjalan di belakang Didi
"oke, boleh kita langsung jalan aja" ucap Didi.
"Baik pak" jawab Mika
Didi dan mika turun dengan menggunakan lift khusus untuk CEO dan Direktur di perusahaan itu.
di dalam lift mereka pun berubah seperti layaknya sahabat.
"huahhh...akhirnya gue bernafas juga" gumam mika, seraya mengatur nafas nya agar tidak ketahuan oleh orang di kantor karena ia adalah sahabat si bos
"kenapa Lo? kayak abis di kejar Setan" tanya Didi dengan nada mengejek
"iya setannya tuh elo.." protes mika
"lah,kenapa gue, kalau gue jadi setan yang ada tu orang2 gak ada yang takut kalau setannya setampan gue" ucap Didi dengan Percaya diri memuji diri sendiri
" Lo sih , gaya profesional Lo di kantor kadang buat gue gak tahan menahan napas kalau lagi dekat anak-anak yang lain" terang mika
"ya salah Lo sendiri , kan Lo sendiri yang mau kalau kita harus profesional di kantor, jangan ada yang tau kalau kita udh kenal lama. kan itu semua Lo yang mau ka" ucap Didi
" iya gue gak mau orang-orang nganggap gue bisa jadi sekretaris Lo karena gue punya Delingan disini" terang mika
tak terasa lift mereka akhirny berenti di lantai 1. Didi dan mika segera menuju loby menuju mobil yang sudah ready untuk membawa mereka ke PT.Buana adikarya.
Sampai di pelataran parkir PT.Buana Adikarya mika dan Didi segera masuk menuju ruang metting yang telah di siapkan. seperti sebelumnya setiap mereka melakukan kerja sama di satu proyek selalu beruntung dan menghasilkan keuntungan lebih tinggi dari perusahaan lain nya.
***
Di Suatu tempat Dwi melihat Mading yang saat ini sedang menampilkan pengumuman program magang kerja di beberapa Perusahaan untuk di tempatkan di bagian Legal. Dwi berpikir, karena mata kuliah yang diambilnya sudah tidak ada lagi saat ini, maka gak ada salahnya mencoba. karena Dwi juga bimbingan skripsi di hari Sabtu saja. di karenakan iya mendapatkan dosen pembimbing yang bekerja sebagai dosen terbang juga. jadi hanya kebagian hari Sabtu aja bisa bertemu dosennya tersebut.
" wah, ini perusahaan besar semua, gak ada salahnya di coba aja dulu, lumayan juga ada uang saku nya" gumam Dwi dalam hati.
Dwi pun mengambil handphone nya dari saku celana jeans nya, dan memphoto pengumuman magang kerja di Mading itu. lalu ia beranjak menuju perpustakaan untuk melihat profil perusahaan itu satu persatu.
" waw... ini mah perusahaan maju semua. seandainya gue keterima buat magang disini pasti gue gak perlu lagi tu nikah sama orang tua busuk itu" ungkapnya dalam hati
ayah Dwi meninggal kan hutang kepada kelurga nya senilai 30 juta. bagi Dwi uang 30 juta bagaimana mencarinya dalam waktu 6 bulan ini.
"apa gue cek aja ya ke perusahaan nya satu persatu. sekalian gue cari-cari kerjaan juga" ucap Dwi dengan pelan, karena lagi di perpustakaan gak boleh ngomong kencang-kencang.
Dwi pun melangkah kan kaki menuju terminal busway yang gak jauh dari kampus nya menuju perusahaan yang pertama. yaitu PT. Buana adikarya.
***
Didi dan mika yang sejak tadi metting dengan CEO PT. buana adikarya itu akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja sama dengan proyek nya saat ini. seperti biasa CEO PT. buana tersebut sangat tertarik dengan pemaparan proyek yang di sampaikan Didi.
"baiklah pak, saya harus kembali ke kantor, nanti file-file yang di perlukan akan di kirim oleh sekretaris saya" ucap Didi sambil menjulurkan tangan nya untuk berjabat tangan.
"wah saya sangat berterima kasih sekali pak Didi mau mampir lagi ke kantor saya" ucap Roland yang menjadi CEO PT.Buana adikarya.
"sama-sama pak, kalau begitu saya pamit dulu ya pak" ucap Didi sambil beranjak dari tempat duduknya menuju keluar ruangan.
***
di loby PT. Buana Adikarya. Dwi kini sedang mencoba bertanya kepada reseptionist perusaah tersebut mengenai magang kerja yang di buka di perusahaan tersebut.
"mba, kalau saya boleh tau apa aja persyaratan nya mba, kebetulan saya adalah mahasiswa akhir mba" ucap dwi
"mba bisa ajukan CV dan surat lamaran nya kesini mba, nanti mba tinggal tunggu saja kabar dari kami selanjutnya" ucap reseptionist itu.
pintu lift terbuka. Didi dan mika keluar dari lift menuju loby. sambil menunggu supir nya. Didi lupa, kalau handphone nya tertinggal di ruang kerja Roland.
"aduh...hp gue tinggal di ruangan pak Roland, Lo tunggu disini gue ambil keGas dulu. ucap Didi sambil berbalik berlari ke dalam.
tanpa melihat orang di belakang nya tanpa sengaja Didi menabrak wanita berpaian kemeja lengan panjang dengan celana jeans itu. ya siapa lagi kalau bukan Dwi. handphone Dwi pun terjatu dan terinjak oleh Didi sehingga hancur berserakan di lantai tersebut.
tanpa mengatakan apapun Dwi kaget melihat handphone satu-satunya tersebut hancur karena kecerobohan orang yang berlari menabraknya.
rasa amarah pun muncul di hati Dwi saat memandang Didi dengan tatapan penuh amarah.
"maaf..maaf saya gak sengaja. nanti saya ganti handphone kamu ya. tapi sebentar saya ke atas dulu" ucap Didi yang berusaha untuk segera mengambil handphonenya nya itu.
"hei.. kamu mau kabur kemana? setelah menghancurkan handphone saya kamu mau kabur tanpa bertanggung jawab" ucap Dwi dengan suara lantang nya. semua mata tertuju padanya saat ini.
"apa? kamu bilang saya mau kabur?" ucap kesal Didi
"kalau gak kabur kenapa kamu mau coba melarikan diri. itu sama aja kamu mau kabur namanya" ucap dwi
dari luar mika melihat Didi yang ribut sama seorang wanita. lalu mika mendatangi mereka.
"ada apa ini?" tanya mika
"Untung Lo datang, tolong Lo urus dulu ya. gue mau ke ruang pak Roland dulu" ucap Didi sambil berlari.
"oi... jangan kabut Lo" panggil Dwi tanpa di hiraukan oleh Didi
"mba...mba...maaf bisa bicara dengan saya aja ya mba. saya akan ganti rugi atas handphone mba, mba nya yang tenang ya." ungkap mika yang berusaha menenangkan Dwi saat itu.
"perkenalkan saya mika. saya sekretaris pak Didi yang tadi udh nabrak mba" mika memperkenalkan diri nya.
lalu mika mengambil ponsel miliknya dan membuka mbanking saat itu juga.
"mba, silahkan ketik nomor rekening bank mba disini" ucap mika sambil memberikan handphone nya kepada Dwi.
tanpa ragu Dwi mengambil handphone mika dan mengetik nomor rekening bank nya dan memberikan handphy itu kembali.
"baiklah mba. ini sudah saya transfer sebagai ganti rugi nya ya mba" ucap mika sambil memperlihatkan laporan transfer berhasil.
"5 juta?" ucap Dwi yang kaget.
"tapi harga Handphone saya gak sampai 2jt mba, kanapa banyak sekali mba" tanya Dwi.
"ngak apa mba, sebagai permintaan maaf kami juga mba.kepada mba" ucap mika.
"sekali lagi saya mohon maaf ya mba atas kelalaian bos saya" ucap mika
"i....iya mba" ucap Dwi ragu.
Dwi pun pergi meninggalkan Kantor PT. buana adikarya itu. stelah mengambil simcard nya dari handphone nya yg telah rusak. Dwi pun segera membeli handphone baru untuk nya. karena ia gak mau kalau ibu nya mengubungi nya lalu khawatir dengan nya karena tidak bisa di hubungi.