“Woa! Semangat banget. Mau motong antrean?” Suara pria yang berat dan begitu familiar itu membuyarkan lamunan.
Mata Bella mengerjap cepat saat menyadari ia baru saja menabrak seseorang karena terlalu fokus mengutuk antrean resto saat berjalan tadi. Bahkan tangan pria itu kini menyangga punggungnya.
Bella semakin membelalakkan matanya saat sadar pria di hadapannya adalah Gavin. Presiden Direktur Wadley Abadi yang memiliki gedung tempat kantor Bella menyewa ruang.
Gadis itu yakin ini bukan hari Jumat, bukan waktu biasanya mereka ‘rutin’ berbagi tempat duduk di meja minimarket.
“Ah! Maaf, Pak. Saya tidak lihat. Maaf,” ucap Bella gugup seraya mencoba berdiri dengan lebih benar.
“Tidak apa-apa,” jawab Gavin yang sedikit kecewa tangannya tak lagi menyentuh punggung itu lagi. “Mau makan di sini juga?”
“Enggak jadi, itu antrean panjang banget,” kata Bella dengan senyum yang ia paksakan.
“Atas nama Gavin!” suara lantang staf restoran Sushi Dine menyela tepat saat Bella menutup mulutnya.
Pria itu segera mengangkat tangan, memberi tanda kehadiran kepada staf itu. “Kebetulan banget. Join, yuk! Aku sendirian, kok,” ucap pria itu sambil menepuk bahu Bella.
Tawaran manis yang membuat Bella galau. Ia sungkan menerima karena mereka bukan kawan dekat. Tapi di satu sisi ia sangat ingin makan sushi.
Dari pagi, lidahnya sudah membayangkan gulungan nasi itu sebagai pelepas lelah rapat seharian mewakili kantornya. Perut lapar Bella rupanya mengalahkan rasa sungkan hingga menggerakkan kakinya mengekor langkah Gavin.
Mereka pun duduk di sudut restoran, tepat di dekat akses keluar-masuk dapur. Tempat yang pas untuk menyembunyikan diri dari pandangan orang. Meja kecil itu mereka duduk saling berhadapan dan penuh kecanggungan.
“Bagaimana kalau kita bagi dua saja setiap menu, jadi bisa mencicipi banyak hal?” usul Gavin memecah canggung sembari membalik satu-satunya buku menu.
“Boleh banget!” ucap Bella dengan mata berbinar-binar. “Kebetulan saya mau mencoba beberapa menu,” kata Bella sambil ikut melongok buku menu.
Setelah pesanan mereka dicatat, kini meja itu kembali hening. Gavin sengaja sibuk merapikan alat makan, berharap itu bisa mengusir kecanggungan.
“Terima kasih banyak untuk ajakannya, Pak. Saya jadi bisa makan di sini tanpa mengantre panjang,” ujar Bella memulai obrolan.
“Dengan senang hati,” jawabnya sopan seraya mengulas senyum di wajah.
Makan malam dadakan itu tidak banyak obrolan. Hanya diisi dengan celetukan ringan tentang makanan yang sedang dinikmati.
Hingga tiba pula waktu membayar di kasir, Gavin sigap menyerahkan kartunya ke kasir. Begitu proses pembayaran selesai, pria itu segera menyodorkan handphone ke arah Bella.
“Saya minta nomormu, biar nanti mudah saya kirim foto nota dan nomor rekeningnya,” kata Gavin yang masih mengamati nota di tangannya.
Bella tentu tidak mungkin melarikan diri tanpa membayar. Ia pun segera mengetik nomor telepon dan menyerahkan kembali ponsel tersebut. Tak berselang lama, sebuah pesan masuk berisi foto nota, nomor rekening, dan sebaris nominal.
Kening gadis itu berkerut memandangi angka yang ditulis Gavin, hanya sepertiga dari tagihan. Gadis itu yakin kalau otaknya masih normal kalau cuma untuk pembagian sederhana.
“Sepertinya hitungannya salah, Pak. Saya harusnya bayar lebih dari ini,” protes Bella sambil melirik pria di depannya.
“Ah, tidak-tidak. Kamu bayar itu saja,” sergah Gavin.
“Baiklah,” ucap Bella, lalu menghela napas. Ia tak mau punya utang budi dengan pria ini. Jemarinya bergerak cepat melakukan transfer setengah dari total tagihan tadi.
Ponsel Gavin bergetar. Pria itu menatap layar, membaca pesan bukti transfer dari Bella. Senyumnya terkembang begitu saja. Rupanya, gadis di depannya cukup keras kepala.
“Senang bertransaksi dengan Anda, semoga tidak kapok ya,” kata Gavin. Kali ini matanya menatap Bella lekat-lekat, seolah ingin merekam segala detail ekspresi gadis itu.
“Saya yang berterima kasih, Pak,” balas Bella dengan senyum ramah.
Pria itu bangkit dan mengemasi barang-barangnya. “Lain kali, kalau ada deal promo seperti ini, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Siapa tahu kita bisa bagi dua dan berhemat seperti ini lagi.”
Bella mematung saat mencerna ucapan seorang miliarder yang mengajaknya berburu diskon makanan. Gavin jelas sangat menikmati wajah kebingungan Bella saat ini.
“Oh, boleh, Pak. Kalau nanti ada lagi yang menarik, akan saya kabari,” balas Bella berbasa-basi. Tentu saja, ia sungkan untuk menghubungi Gavin yang nomornya pun sengaja tidak ia simpan.
****
“Jadi, kemarin sukses nyoba promo sushi nggak?”
Suara Dewa memecah konsentrasi Bella keesokan harinya di kantor. Wajah sahabatnya itu tampak sedikit bersalah karena membiarkan Bella pergi berburu diskon sendirian.
“Jadi dong,” jawab Bella singkat tanpa mengalihkan pandangan dari deretan kode di layar monitornya. “Kenapa? Kamu khawatir?”
“Iya. Sorry ya nggak bisa nemenin. Padahal kamu lagi ngidam sushi. Rame banget nggak?” Dewa menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Bella.
“Santai, aku makan banyak kemarin. Antreannya gila, tapi untungnya aku berhasil masuk.”
Setelah mendengar penjelasan Bella, Dewa menyadari suasana hati partner kerjanya sedang baik. Dewa buru-buru mencondongkan tubuh dan menekan tombol lampu ‘mood indicator’ di meja Bella, mengubahnya dari merah ke hijau.
“Hehe, hari ini nggak lagi bad mood kan?” kata Dewa sambil menyeringai jahil. “Bentar aja, bentar. Lagi seru dengerin gosip.”
Bella baru sadar sejak pagi ia menyalakan lampu merah, tanda dilarang mengganggu. Pantas saja kantor begitu sunyi seperti kuburan. Begitu lampu berubah hijau, terdengar suara embusan napas lega rekan-rekan kerja lain. Di tengah penatnya pekerjaan hari Jumat, gibah soal orang-orang di gedung adalah hiburan termurah bagi karyawan Team-J Tech. Bella tidak pernah melarang, selama pekerjaan mereka beres.
“Jadi tadi siapa nama cewek itu, La?” tanya salah satu staf kepada Lana, si gadis pendiam yang entah bagaimana selalu jadi intel paling update seantero gedung.
“Dian,” jawab Lana lantang.
Jadi Bella di atas keyboard terhentu. Ia menoleh cepat ke arah meja Lana. Bukan karena volume suara gadis itu, tapi karena nama tersebut menekan tombol alarm di kepalanya. Terlalu familiar.
Dewa pun tidak kalah terkejut. Ia segera menoleh ke arah Bella. Tatapan mereka penuh makna karena baru beberapa hari lalu nama itu sempat Bella sebut. Kalau tidak salah ingat, Dian adalah orang yang tidak sopan mengomentari penampilan Bella yang mirip gembel karena sedang rutin lembur memperbaiki bug dalam coding.
“Jadi gini, Dila juga dengar cerita yang sama,” lanjut Lana penuh semangat. “Dian itu selebgram dan influencer yang feed-nya glamor banget. Nah, belakangan ini dia jadi rajin posting foto-foto liburan dan di-caption-nya seolah lagi jalan bareng Pak Gavin. Bos yang punya gedung ini! Gila kan.”
“Hmm menarik,” gumam Bella pelan.
Dewa mencondongkan tubuhnya, “Orang yang sama dengan yang pernah negur kamu sembarangan itu, kan?” bisiknya tajam.
Bella mengangguk samar. “Mungkin. Udah, sana balik kerja,” usirnya sambil mendorong pelan bahu Dewa.
“Tapi ya, yang bikin kocak,” potong Dira, menyambung gosip Lana. “Postingan dia nggak sinkron dengan realita! Dia update lagi liburan romantis di luar negeri, padahal jelas-jelas Pak Gavin ada di Indonesia. Kemarin lusa aja Pak Firman baru habis meeting sama beliau di atas!”
“Aneh kan? Informanku aja bilang Pak Gavin nggak ada pergi ke sana tahun ini. Aku rasa cewek ini halu tingkat dewa karena terlalu ngefans sama Pak Gavin,” tawa Lana pecah. “Mana kabarnya, mereka tuh nggak pernah ada interaksi sama sekali. Terus track record si Diana ini juga terkena… yah, bukan perempuan baik-baik lah.”
Bella menajamkan pendengarannya. Pikirannya melayang pada pria jangkung yang memberi fast track antrean di restoran sushi semalam. Di balik sikap ramah dan kasual Gavin, kini muncul satu pertanyaan besar di kepala Bella. Apakah Gavin memiliki hubungan rahasia dengan lingkaran Dian?
Kalau memang benar, itu artinya pria itu punya benang merah dengan Faustus, perusahaan penuh masalah yang selama ini mati-matian Bella hindari. Tingkatan kewaspadaannya kini naik ke level maksimum.