Manik keduanya saling beradu, seolah merasa kagum pada satu sama lain. Alea tersipu dan membuang muka, menghindari tatapan mata Zarka yang menyesatkan.
"Kamu kenapa?" Tanya Monik heran.
"Arah jam 9." Monik melihat ke Zarka dan langsung menelan salivanya pelan.
"Tampan sekali." Gumamnya kembali melihat ke arah Alea.
"Dia bukan dari Indonesia sepertinya." Kata Alea seraya curi pandang.
"Tentu saja! Lihatlah postur tubuhnya begitu sempurna pasti pisangnya juga besar." Ucap Monik terkekeh.
"Mikir pisang terus."
"Tentu saja. Aku melakukannya setiap malam."
Senangnya menjadi Monik! Aku bahkan tidak pernah puas bercinta dengan suamiku. Umpat Alea dalam hati.
"Kau curi pandang dengannya?" Monik menyadari itu sehingga Alea semakin tersipu malu.
"Ku rasa begitu. Jika aku singgel, aku mau dengan dia." Canda Alea tersenyum.
"Aku juga mau. Tapi sepertinya dia tertarik padamu?"
"Hmm percuma. Aku tidak akan bisa bersamanya dan lagi dia tidak akan berani datang ke sini untuk berkenalan." Kata Alea ingin melupakan angan-angannya sebab statusnya sebagai istri orang.
Seorang pelayan datang dan meletakan sepiring cake dan minuman.
"Saya sudah memesan Kak." Kata Monik kaget.
"Ini dari lelaki yang duduk di meja nomer 14 Nona. Silahkan." Alea melihat ke arah Zarka yang melambai sedikit ke arahnya.
Dia...
"Astaga dia mengirim ini untukmu." Kata Monik heboh.
"Belum tentu untukku."
"Baca ini sialan!!!" Monik memberikan sepucuk kertas yang bertuliskan.
♥️Beautiful yellow♥️
Alea melihat bajunya yang memang berwarna kuning hingga membuat jantungnya berpacu hebat. Dia tidak berani lagi menoleh ke arah Zarka sebab merasa begitu malu.
"Sudah terima saja."
"Terima apa?" Kata Alea gugup.
"Si bule Haha. Sangat tampan." Monik menyenggol bahu Alea sedikit.
"Biarkan saja. Dia pasti hanya iseng." Jawab Alea menolak perasaannya yang berkecamuk.
"Meski iseng, paling tidak ucapkan terimakasih." Goda Monik seolah mendukung.
"Aku tidak bisa bahasa Inggris."
"Tinggal bilang Thank you handsome." Tutur Monik terkekeh.
"Ah tidak. Biarkan saja. Kita pulang. Waktunya Leo pulang." Alea menyeruput sisa minumannya dan beranjak pergi melewati pintu samping untuk menghindari Zarka yang duduk dekat pintu keluar.
.
.
Zarka masih menatap ke arah Alea yang sudah mengambil motornya di parkiran. Hatinya begitu terusik oleh sosok Alea sehingga membuat pandangannya terfokus pada Alea hingga menghilang dari pengelihatannya.
"Dia menolakmu teman." Tutur Abi sahabat dari Zarka yang berbicara dengan bahasa Bangladesh.
"Gadis yang manis." Jawab Zarka pelan.
"Tidak biasanya kamu tertarik pada seseorang."
"Dalam sekali tatap aku sudah tertarik padanya."
"Itu sudah terlihat. Tapi setelah ini kau tidak akan bisa menemuinya lagi."
"Dengan izin Allah pasti kita akan bertemu lagi." Zarka tersenyum dan mulai menyantap masakan di hadapannya.
.
.
.
.
.
Leo memasang wajah masam saat melihat motor Alea baru saja terparkir di halaman. Leo memang pulang cepat dan sangat kesal saat melihat rumah kosong dan Alea pergi entah di mana. Hingga sore itu, Alea baru saja pulang tanpa rasa bersalah.
"Habis darimana kamu?" Tanya Leo.
"Jalan sama Monik." Jawab Alea masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Leo.
"Kenapa kamu tidak bisa diam di rumah?"
"Aku bosan! Jadi aku keluar untuk sekedar mengusir kesepian." Jawab Alea kesal.
"Sejak tadi siang aku bahkan belum makan."
"Belilah jika merasa lapar." Alea melanjutkan berjalan menuju ke arah kamar.
Dia semakin tidak menghargaiku..
Alea meletakan tas pada tempatnya dan mendesah lembut mengingat akhir-akhir ini seringnya dia berdebat dengan Leo. Selalu ada selisih paham meski itu hal kecil sekalipun. Ucapan Leo yang terkadang terasa getir, begitu membuat Alea merasa bosan sebab harus mendengarkan hal itu setiap hari.
Dasar seenaknya sendiri! Di pikirnya tidak bosan berada di rumah sendirian tanpa anak? Aku bahkan yakin jika dia begitu genit dengan teman wanitanya!Umpatnya melepaskan sweater yang di pakainya.
Leo menatapnya dari ambang pintu, memperhatikan istrinya yang sangat banyak berubah.
"Aku sangat lapar." Tuturnya pelan.
"Beli saja. Aku lelah." Jawab Alea duduk di depan meja rias untuk menghapus makeup.
"Kamu masih marah padaku?" Leo mendekat dan berdiri di belakang Alea.
"Tidak. Katamu dia hanya anak ingusan."
"Hm memang benar." Jawab Leo berfikir Alea sudah memaklumi itu.
"Jika ingusan! Kenapa kau puji dia setiap waktu di hadapanku! Aku memang tidak seberapa cantik! Jika kamu menyesal, carilah istri yang seperti Nia itu!!"
Nia adalah tetangga baru yang rumahnya terletak di sebelah kanan rumahnya. Nia memang begitu cantik meski masih duduk di kelas 10 sekolah menengah atas. Leo yang memang gampang merasa gemas, terus menerus memuji Nia berkali-kali hingga Alea marah kemarin sore.
"Dia hanya anak-anak."
"Ya teruslah berprotes dan lakukan apa yang menurutmu benar." Alea menyambar handuk dan berjalan masuk ke kamar mandi meninggalkan Leo dengan sesal yang selalu di ulangi lagi dan lagi.
Haiiiiii....
Ini karya pertamaku..
Silahkan mampir
Mungkin saja senang?
Terimakasih
Salam satu rumpun?♥️