Carla melirik pada logo kamar mandi wanita di sana lalu masuk dan menutup pintu salah satu bilik di sana yang sangat sepi.
“Huek!”
Carla lagi-lagi memuntahkan cairan yang tak ingin dikonsumsi oleh lambungnya itu malah membuat ia mengeluarkan kembali.
Minuman macam apa yang telah kau minum, Carla?! Ia mengeluarkan cairan itu dari tenggorokannya dan mengambil tisu dari tasnya untuk melap mulut setelah melepas kacamata yang diberikan oleh Jennifer ke dalam tas.
“Huek!”
Setelah merasa bahwa muntah itu sudah keluar semua, Carla melap bibirnya lagi.
Tak beberapa lama setelah ia menyeka bibirnya ingin meraih gagang, pintu kamar mandi utama terdengar membuka dan terkunci bergantian setelahnya. Carla seketika merinding dan menggigit bibirnya takut, apa para wanita itu tahu bahwa ia di sini dan ingin menghabisinya? Ia dapat mendengar dengan jelas bahwa pintu keluar dari toilet ini terkunci. Tamatlah dia. Apalagi Carla tak pernah mau jika Arvid menyuruhnya untuk belajar bela diri.
Sontak suara desahan wanita terdengar dari luar sana membuat Carla tersentak kaget, mana makin lama suara-suara yang membuat ia merinding sendiri itu makin kencang dan makin nyaring.
Carla menekukkan alisnya kaku, ia memang pernah mendengar suara itu saat di gudang kampus dahulu ataupun suara itu di tempatnya melewati ruangan-ruangan di klub ini tadi, tetap saja jika menjadi orang ketiga di antara orang yang sedang bersenang-senang di satu ruangan. Ia tak tahu harus melakukan apa.
Apa dia tak punya uang untuk menyewa hotel? Mengapa harus di tempat seperti ini? Sebenarnya Carla tak peduli, tapi bagaimana pun juga ia berada di sana yang membuat ia mau tak mau harus mengalami dan merasa menjadi orang ketiga dari kenikmatan orang lain.
Makin lama suara wanita itu makin mengganggu dan terus berkumandang di kamar mandi wanita itu membuat Carla tak tahan dan berusaha menutup kedua telinganya.
Ia bahkan tak berani bergerak dari tempatnya takut jika kepergok. Carla terdiam di detik-detik selanjutnya dengan berusaha menutup telinganya yang tak ada guna, karena suara itu menggema di toilet yang kosong ini.
Carla akhirnya memberanikan diri menegak liurnya sendiri saat tadi tak sadar menahannya, ia berusaha sekencang mungkin tak menimbulkan suara saat membuka kunci pintu dan mencoba mengintip siapa ulah dari pelaku yang mengganggu ketenangannya itu.
Carla sekitar satu senti bisa membuka pintunya dan mengintip lewat celah, ia tertegun dan tak berani bahkan untuk bernapas kembali. Melihat dari belakang pemuda yang kemeja hitamnya dikeluarkan dari celana, dan melihat punggung tangannya bergambar mawar yang tengah menyentuh leher seorang wanita berambut kuning, yang sedari tadi mendesah membuat semua dari ke tidak nyamanan ini dimulai.
Carla tak sadar agak bergetar, ia menggigit bibirnya sendiri sangat kuat takut jika keberadaannya diketahui oleh orang yang tentu amat familier di mata orang-orang, termasuk matanya.
Setelah terdiam begitu lama di posisi yang sama, Carla memberanikan diri membuka pintu lebih lebar guna mengeluarkan tubuhnya dari bilik yang sedari tadi menutupnya.
Drett ....
Tapi naas, semakin ia hati-hati agar membukanya pintu itu, malah menimbulkan deritan dari engsel pintu kamar bilik itu membuat pemuda yang tadi mencium bibir wanita itu segera menjauhkan wajahnya dari sang wanita yang terduduk di wastafel, begitu pula tangannya yang tadi sudah menurunkan tali baju wanita itu sebelah kini terdiam di tempatnya.
Wanita itu melirik pada Carla yang bukan main ketakutan sampai tak sadar menggigit bibirnya terlalu keras.
Mata biru wanita itu refleks melihat ke arah Carla lalu memperbaiki bajunya yang sudah melorot setengah menatap pada pengganggu yang bukan main ketakutan.
Ahyner—pemuda yang menjadi subjek di sana segera menjauhkan dirinya dari wanita itu.
Carla berada berlawan arah dengan pemuda itu karena ia berada di depan sang wanita yang sedang ingin dijamah itu sehingga ia masih belum bisa menatap matanya yang pasti amat tajam bak elang.
Ahyner seperti mengode wanita itu untuk pergi menggunakan matanya yang pastinya langsung dituruti, wanita itu membetulkan bajunya dan segera keluar dengan tergesa menatap pada Carla sampai tubuhnya tak terlihat lagi.
Gadis itu tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, ia merasa tak bisa bergerak karena bulu kuduknya sedari tadi meremang, kakinya terpaku, kedua tangannya menggenggam tali tas selempang miliknya tak tahu ingin meremas apa lagi untuk menyalurkan rasa gelisahnya. Sekarang ia mengerti apa itu kelebihan tak kasat mata yang bilangnya dimiliki oleh keluarga Burner, mereka bisa membuat lawan mereka merasakan apa hawa yang tengah mereka keluarkan dan bisa membuat orang-orang terpaku juga terdiam membisu karena hawa dinginnya.
Ahyner berbalik dari tempatnya menyenderkan pinggang di sisi wastafel menatap Carla dengan mata datarnya yang amat terkesan dingin. Dengan cepat tangannya ia simpan di saku.
Tiga kancing atas kemejanya terbuka, ia tak memakai dasi guna menghalau sebagian tubuhnya terekspos, kemeja pergelangan tangannya tergelung sampai bawah siku. Mata abu-abu itu terfokus pada Carla seorang yang makin susah rasanya untuk menelan liurnya sendiri.
Carla tak bisa untuk tak menoleh pada dirinya, liontin salib terbalik itu membuat ia mengingat kembali rumor yang mengatakan bahwa pemuda itu tak percaya pada Tuhan. Sebuah tato mawar terbakar terpampang di salah satu sisi lehernya yang jenjang tak luput dari pengamatan gadis itu.
Ia amat tampan, tak ada jambang ataupun rambut halus yang tumbuh dari wajahnya terlihat makin menambah karismatik miliknya, dari atas sampai bawah entah mengapa serasa ia sangat sempurna, sukar ditemukan kekurangan.
“Well... Carla.” Ia berucap dingin dan pelan yang mampu membuat gadis itu tak tahu harus apa. Carla hanya makin menggenggam tasnya saja di ambang biliknya tadi tidak bisa rasanya untuk melangkah menjauh.
Ahyner perlahan melangkah ke arahnya dengan pelan, ia berdiri tepat di depan gadis itu menggerakkan bola matanya dari atas sampai bawah meneliti tubuh Carla dengan dingin dan agak terlihat mengintimidasi.
Gadis itu mendongak untuk bisa melihat Ahyner yang pastinya lebih semampai dari dirinya yang hanya 170 senti lebih.
“You're my girl?” ucap Ahyner singkat sangat mampu membuat jantung Carla maraton sangat cepat.
Ahyner kini menatap serius pada gadis itu dengan masih meninggalkan hawa yang amat dingin juga mencekam. Carla sebisa mungkin menggerakkan lehernya untuk menggeleng pelan.
Hening rasanya berdetik-detik tapi sangat terasa seperti setahun bagi Carla karena pemuda itu tidak melepas tatapan dari dia sedetik pun, bahkan untuk berkedip saja.
“So, why i feel if you’re my girl?” Ahyner makin melangkah maju yang tadinya jarak mereka tak lebih dari sejengkal kini kaki gadis itu seketika bisa untuk mundur.
Carla menarik diri dengan tak melepas tatapannya pada Ahyner yang seperti menghipnotis dirinya agar tak bisa untuk menolak keinginan dari pemuda itu.
Saat rasanya kloset sudah mentok di belakang gadis itu, Ahyner berhenti dari tempatnya lalu menyenderkan bahu di sisi bilik kamar kecil itu, menghalau agar Carla tak bisa keluar dari bilik yang tak besar itu.
“I-i... i don’t know, Sir.” Carla menggelengkan kepalanya berusaha agar menepis hawa mematikan yang pemuda ini buat.
Ahyner memerhatikan mata gadis itu intens sampai rasanya Carla hampir kehabisan stok napas, karena rasanya ia tak sadar tak berespirasi sedari tadi.
Gadis itu mencoba tenang walau sulit dengan perlahan menghirup oksigen untuk disalurkan dari hidungnya. Entahlah serasa waktu berputar dua kali lebih lambat saat pemuda itu berada di depannya.
Ahyner lagi-lagi melirik ujung kepala sampai ujung sepatu Carla seperti benar-benar ingin memastikan sesuatu.
Pemuda itu menatap lekat pula pada mata biru Carla yang tak ada melepasnya dari ia. “Bagaimana kau membuktikan bahwa dirimu bukan gadisku, sedangkan aku untuk pertama kalinya merasa bahwa seseorang seperti dirimu adalah gadis milikku yang selama ini menghilang?” Kalimatnya seperti agak menekan, pemuda itu terlalu memerhatikan Carla, untuk pertama kalinya sangat intens dalam memerhatikan seseorang.
Carla lagi-lagi tersentak untuk ke sekian kalinya, karena ia tahu dari berita bahwa Ahyner—alias saudara termuda dari Burner yang jarang sekali untuk bicara ini tak pernah mengatakan apa pun tentang gadis yang selama ini tak diketahui oleh publik, kini ia bicara dengannya satu fakta bahwa gadisnya itu benar-benar hilang, bukan ia bunuh atau semacamnya. Berarti pemuda ini tak mencari sensasi atau semacamnya seperti yang pernah otaknya pikirkan dahulu.
Carla menggelengkan kepalanya bingung harus menjawab apa. “Aku... aku tak tahu.” Carla menggerakkan bola matanya ke samping mencari celah untuk keluar, tapi nyatanya tubuh pemuda itu hampir menutupi lebih dari setengah jalur bilik kecil itu agar ia tak bisa kabur atau keluar. “Karena aku tak pernah bertemu denganmu sebelumnya, aku tak... aku tak pernah melihat dirimu secara langsung sebelum hari ini. Maka... aku bukanlah Carla yang kau... cari.”
Ahyner seperti tak terpengaruh sedikit pun, sebenarnya ia sudah benar-benar meyakinkan dirinya sebelum keluar dari ruangannya tadi bahwa gadis ini bukanlah Carla yang selama ini menghilang. Tapi entah kenapa saat melihatnya lagi, seketika keyakinannya itu seperti runtuh sebagian membuat ia ingin memastikan lebih dalam.
Lagi-lagi hening membuat jarak yang panjang bagi mereka berdua tanpa ada suara apa pun selain deru napas dari keduanya, yang satu amat tenang dan satu lagi terdengar seperti tersendat-sendat.
“Itu sama sekali tak membuat keyakinan diriku menghilang bahwa kau adalah gadis milikku.” Ahyner mengeluarkan satu tangannya yang ada di saku lalu langsung memukul dinding bilik tepat di sisi leher Carla membuat gadis itu mendempetkan punggung dan belakang kepalanya di dinding. “Bagaimana kau meyakinkan diriku jikalau perkataanmu itu adalah fakta?”
Carla stak, entah tubuh ataupun pikirannya dibuat kosong seketika tak tahu ingin menjawab apa. Sensasi apa yang dibawa pemuda ini sehingga ia sama sekali tak bisa dibuat berkutik seperti ini?!
Carla menggigit bibirnya lalu sedikit menekukkan alis menunjukkan bahwa ia tengah bingung. “Karena... aku tak pernah berbohong.” Carla terlihat berpikir keras dalam otaknya. “Karena... aku tak pernah tak melihat mata lawan bicaraku saat bicara kejujuran, dan aku tak pernah tak menatap mata mereka,” ucap Carla jujur, ia tipe orang yang tak mengenal dirinya sendiri sehingga agak susah untuk mendeskripsikan dirinya secara pribadi.
Ahyner menaikkan sebelah sudut bibirnya sangat tipis menatap datar mata gadis itu. “So, why don’t you look my eyes now?”
Skak! Carla menaikkan kedua alisnya amat terkejut, karena memang saat berbicara dua dialog terakhir ia memerhatikan tindik pemuda itu yang seperti ada cairan merah yang hampir mengering yang dapat ia lihat dari jarak sedekat itu membuat ia salah fokus.
“H-hah? T-tidak! Maksudku... maksudku aku juga... kadang melakukannya jika sedang... bingung atau gugup? Entahlah aku tak tahu, karena aku tak biasa memahami diriku sendiri dan mungkin begitu pula orang lain, jika aku menanyakan hal yang sama padamu. Apa yang kau ketahui tentang dirimu sendiri? Maksudku apa kau akan tahu bagaimana kau sebenarnya? Bagaimana dirimu dan—”
Ahyner makin menaikkan sebelah sudut bibirnya menatap lurus pada gadis yang terlihat sangat bingung sendiri. Pemuda itu menyejajarkan wajahnya pada wajah Carla otomatis membuat napas mereka bertukar saking dekatnya.
“Yang aku ketahui tentang diriku sendiri adalah, bahwa aku sedang bicara dengan seseorang yang pernah bersamaku selama 10 tahun dan menghilang pula selama ia pernah berada di sisiku.” Perkataan Ahyner sangat datar, begitu pula dengan tatapannya, tapi penuh dengan makna dari balik kalimat itu membuat Carla makin buntu otaknya.
Gadis itu tak bisa berkata lagi, ia tak tahu harus apa dan harus bagaimana, kenapa pemuda ini membuat hawa yang sangat memengaruhi dirinya sampai ke tulang?
Perlahan tapi pasti, bibir dingin pemuda itu mendekat ke arah bibirnya yang seperti dibuat oleh lawannya itu agar tak bisa untuk menolak. Ahyner hanya menyentuhkan bibirnya saja tanpa melakukan pertukaran saliva selama beberapa detik, pemuda itu akhirnya membuka bibir Carla untuk mengabsen isinya saat merasa bahwa bibir itu memang pas dengan bibirnya.
Carla yang seketika bisa untuk menggerakkan tangannya saat tadi sempat terpaku kini mendorong bahu lebar pemuda itu yang ada di depannya dengan hampir menangis.
Carla segera menarik dirinya dari Ahyner. Gadis itu mencengkeram kedua kerahnya dengan kedua tangan, satu air mata lolos dari ujung matanya terlihat amat takut.
“A-apa yang kau lakukan? Jangan sentuh aku. Aku bukan... aku bukan Carla-mu. Jangan menyentuhku.” Carla mulai merasa lebih dari satu bulir air matanya mencoba keluar, entahlah, ia sangat takut pada pemuda ini. “Aku... aku tak tahu tentang Carla-mu ataupun gadismu, aku adalah Carla yang lain. Kau salah orang. Jangan sentuh aku, aku bukan milikmu.” Carla tak terkontrol menderaskan tangisannya takut. “Jangan apa-apa, kan aku, aku bukan Carla-mu!”
Carla berlari meninggalkan Ahyner yang terlihat datar dengan punggung yang tersender di dinding, pemuda itu melirik ke arah pintu hilangnya gadis itu dari pandangannya lalu menoleh ke arah lain seraya memasukkan tangan kanan di saku.
Ekspresinya terlihat datar dan dingin saja, mimik yang selalu ia tunjukkan sedari kecil tak pernah berubah.
Ahyner terlihat berpikir beberapa detik seperti telah menyelesaikan satu persoalan di otaknya. Ia tetap terlihat santai dan seperti biasa dengan tetap membiarkan punggungnya menyender pada dinding bilik sampai Aarnes dan Danzel membuka pintu yang tadi menelan Carla kini terpampang oleh mereka berdua.
Aarnes terlihat berpikir, begitu pula dengan Danzel. Karena mereka melihat sendiri gadis yang tadi ia bilang sebagai Carla itu keluar dari tempat ini dengan mata yang sembab dengan mengancing kembali kemeja atasnya.
Mereka berdua masuk dengan dua bodyguard berjaga di depan kamar mandi wanita itu melihat Ahyner yang masih saja tetap santai dengan kedatangan mereka. Beberapa detik ia baru memisahkan diri dari dinding dan seketika Danzel langsung menyerahkan jas pemuda itu pada pemiliknya.
Ahyner keluar dari sana dengan dikawal oleh dua orang kepercayaannya itu juga beberapa bodyguard yang berjaga di belakang mereka.
Pemuda itu terlihat seperti biasa saja, ia menegakkan kepalanya dengan sedikit menaikkan dagu tanda angkuh yang selalu ia lakukan. Setengah badannya terekspos karena tiga kancing kemejanya terbuka tanpa dasi menampilkan sedikit tubuhnya juga leher jenjang yang menggoda bergambarkan mawar di satu sisinya membuat otak para hawa liar di sana menjadi melayang-layang.
Mereka membukakan jalannya sampai ia keluar dari klub itu tanpa sepatah kata pun dan mimik istimewa yang bisa orang lain tangkap.
Pemuda yang jarang bisa diajak komunikasi, sangat tertutup, dan misterius soal kehidupan pribadinya dan membiarkan media dan orang-orang berpikir asal di otak mereka tanpa membenarkan ataupun menyalahkan. Ia benar-benar tak peduli dengan itu semua.
Sosok yang menggantikan ketenaran kakaknya sendiri bisa mengunci fokus media dengan aksi dari kelompok yang ia pimpin. Memiliki berbagai otoriter di berbagai kawasan dunia yang pernah ia pijak.
Ia adalah Ahyner Mirachel Gabriel Burner, The Burning Roses, alias Si Mawar Terbakar. Misterius seperti black hole, tampan seperti batara, dingin seperti Nebula, panas seperti Supernova, dan berbahaya seperti bara.