“Pagi.”
Baru juga membuka pintu, Serena langsung dihadapkan dengan Ronald yang kebetulan melintas di depan pintu kamarnya. Sepertinya pria itu baru keluar dari kamar mandi dekat dapur. Tak enak hati rasanya bila Serena pura-pura tidak melihat kehadiran pria itu didepan matanya.
Namun bukannya senyum hangat yang Serena dapatkan, justru tatapan kosong serta raut wajah dingin yang Ronald tunjukkan pada istri sahnya itu. “Pagi.” Hanya balasan singkat tanpa ada niatan tulus didalamnya yang Ronald berikan.
Hati Serena mencelos mendengar jawaban singkat yang Ronald berikan. Tanpa menoleh lagi, Ronald berjalan menuju dapur. Mencari empat helai roti tawar sebelum ia olesi dengan selai coklat kacang kesukaannya.
Sedangkan Serena yang juga hendak menuju dapur untuk membuat semangkok sereal pun akhirnya urung. Ia memutuskan berjalan menuju ruang tamu sembari menunggu gilirannya menguasai dapur.
Kalau kalian bertanya-tanya mengapa Serena tidak menyiapkan sarapan untuk suaminya itu? Tentu jawabannya tak lain karena Ronald pasti tidak mau memakannya. Itu sudah terjadi berulang kali, jika dihitung-hitung, sudah empat kali terjadi dan hasilnya sama semua. Ronald tidak mau memakan masakannya, apapun itu. Parahnya lagi bahkan pria itu tidak menyentuhnya sama sekali. Jadi, daripada membuang-buang makanan, Serena memutuskan berhenti membuatkan sesuatu untuk pria itu.
Beruntung jam masuk kerja Serena pada pukul 8 nanti, masih tersisa satu jam, jadi Serena masih memiliki waktu untuk bersantai. Toh tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Jadi menonton televisi adalah satu-satunya kegiatan yang dapat ia lakukan, selain untuk menghindari Ronald juga tentunya.
“Mungkin aku tidak akan pulang malam ini.” Itu suara Ronald memecah keheningan dalam ruangan. Rupanya pria itu belum juga masuk kembali ke kamarnya. Dilihat dari kemeja serta celana bahan yang sudah melekat ditubuh, pria itu sudah bersiap untuk berangkat kerja.
“Okay. Mau aku buatkan sesuatu?” tanya Serena dari arah sofa ruang tamu.
Wanita itu bahkan menengokkan kepalanya kebelakang untuk melihat sang lawan bicara. Sayangnya, Ronald tidak balik menatap kearah Serena juga. Pria itu tengah fokus menatap layar ponsel miliknya dengan mulut menggelembung lucu berisi makanan.
Lucu, dimata Serena, apapun yang dilakukan pria itu sangat menggemaskan. Meski Ronald bukan tipe pria tampan dengan hidung mancung serta rahang yang tajam. Bahkan bisa dikatakan, Ronald memiliki visual seperti pria konyol yang humoris. Walau itu memang benar adanya.
“Tidak perlu. Kunci pintunya dari dalam. Aku akan menghubungimu jika aku bisa pulang.”
Serena menipiskan bibirnya. Ronald itu bukan tipe pegawai yang hobi lembur. Namun beberapa hari belakangan ini pria itu selalu lembur dan pulang pagi. Entah pekerjaannya bertambah banyak atau memang sengaja mencari lemburan.
“Oke.”
Dan berakhirlah obrolan ringan mereka yang sangat singkat. Begitu saja Serena sudah senang. Setidaknya pria itu masih ingat padanya.
Sepeninggalan Ronald, Serena bergegas menuju dapur untuk memulai sarapan paginya. Berhubung hanya untuk dirinya seorang, Serena hanya mengonsumsi makanan ringan ketimbang repot memasak sesuatu.
***
“Pagi~” Kedatangan Serena disambut oleh rekan kerjanya yang bernama Leticia. Wanita berambut pirang yang lebih tinggi 1 cm darinya itu selalu menyambutnya dengan senyuman cerah.
Sedikit banyak Serena bersyukur memiliki rekan kerja yang seramah dan sebaik Letty********** akrab Serena untuk wanita cantik itu.
Serena duduk dikursi kerjanya, mengintip sejenak bilik Leticia yang tepat berada dibelakangnya. Mereka sudah berteman baik sejak memulai kerja di perusahaan itu pada waktu yang bersamaan, sekitar satu tahun yang lalu.
“Kudengar hari ini akan ada tamu spesial datang.” Leticia dan hobi bergibahnya. Bukan sesuatu yang aneh mengawali pagi mereka dengan bergibah ria.
“Oh ya?” Dan seperti biasa, Serena akan memberikan tanggapan sekenanya saja.
“Kau pernah melihat tayangan gosip tidak?” Leticia mencondongkan tubuhnya kearah Serena sambil berbicara pelan.
Serena yang tengah sibuk mempersiapkan pekerjaannya hanya menanggapi tanpa menoleh kebelakang, “Gosip tentang apa?” Serena tidak terlalu sering menonton televisi. Jadi ia sedikit ketinggalan berita-berita ter-up-to-date.
“Itu lho, tentang pebisnis muda yang sedang ramai diperbincangkan.”
“Aku tidak tau. Aku melewatkan jadwal beritaku sejak dua hari terakhir,” aku Serena.
Dengan semangat menggebu-gebu, Leticia bersiap memberitahukan rekan kerjanya itu semua yang ia ketahui. “Orang ini menjadi bahan perbincangan karena keberhasilan yang diraihnya pada usia yang terbilang muda. Bahkan baru terkuak juga, ternyata orang ini merupakan investor terbesar di perusahaan otomotif asal Italia yang terkenal itu. Dia juga dikabarkan banyak menanam saham di berbagai perusahaan besar lainnya. Salah satu media mengatakan bahwa dia sedang membangun perusahaannya sendiri. Wah~ hebat sekali orang itu.”
Serena mendengarkan dengan seksama. Sebenarnya, hal itu tak terlalu mengejutkan. Sudah biasa dikalangan pebisnis melakukan hal itu. Lalu apa yang membuat sosok itu menjadi bahan perbincangan banyak orang?
“Kalau kau melihat wajahnya, kau juga pasti akan terkagum-kagum padanya! Dia itu luar biasa tampan, asal kau tau!”
Hah..ternyata itu sebabnya.
Pantas saja Leticia sampai seheboh itu. Kalau tidak tampan, mana mungkin seorang Leticia Lynch itu sampai tertarik.
“Kau harus melihatnya, Serena! Kubertaruh kau juga pasti akan naksir kepadanya!”
Serena tersenyum tipis. Bisa-bisanya Leticia berkata seperti itu. Apa ia lupa bahwa rekan kerjanya ini sudah menikah? “Aku sudah punya suami. Untuk apa tertarik pada orang lain?”
Apalagi orang itu jauh dari jangkauan kita dan sama sekali tidak kita kenal. Itu hanya akan sia-sia saja.
“Ya, tidak ada larangannya kan? Sekedar untuk cuci mata kan bisa.” Leticia mengidikkan bahunya, tanda acuh.
“Lalu apa hubungannya dengan tamu spesial perusahaan kita, Letty?”
“Ya, itu yang mau kuberitahukan kepadamu. Pria itu lah yang katanya akan menjadi tamu spesial ke perusahaan kita. Gosip menyebar begitu cepat, semua menjadi heboh mendengar gosipnya.”
Satu alis Serena terangkat keatas. Ia bingung mengapa pebisnis terkenal seperti orang itu mau-maunya datang ke perusahaan mereka. Well, perusahaan tempatnya bekerja ini bisa dikatakan tidak begitu besar dan juga standart-standart saja. Apa orang itu berencana membeli perusahaan mereka? “Apa yang akan dilakukannya di tempat ini? Investor baru?” Ia berbalik bertanya pada Leticia.
Yang tentunya dijawab gidikan bahu oleh Leticia. “Mana aku tau. Itu bukan urusan kita.” Ya, tepat sekali. Memang itu bukan urusan mereka.
Namun jika kedatangan tamu itu dapat membantu perusahaan mereka, itu akan sangat berguna dan menjadi kabar baik bagi para pegawai yang bekerja dibawah perusahaan.
“Awww~ Aku sangat ingin melihat Mr.Lorenzo dari dekat!!” pekikan tertahan Leticia seketika membuat tubuh Serena membeku sesaat.
“Pasti dia kelihatan semakin tampan di kehidupan nyata!” Sekarang fokus Serena tidak tertuju pada celotehan centil Leticia tentang pria idaman barunya itu. Namun nama yang terlontar dari mulut Leticia lah yang menarik perhatian Serena.
‘Nama itu terdengar tidak asing..’ Begitu yang ada dalam pikiran Serena sesaat setelah mendengar nama Lorenzo terlontar dari mulut Leticia.
“Siapa...” cicitnya lirih.
“Siapa apanya?”
“Siapa nama panjang orang itu..Letty?”