Hujan telah mereda menjadi gerimis tipis saat Ruby berdiri di depan apartemen yang ditunjukkan Alaric. Petugas concierge mengangguk sopan padanya seolah-olah dia sudah diberitahu tentang kedatangannya yang membimbingnya menuju lift privat yang membawanya ke lantai dua puluh.
“Silakan Nona Ruby, tuan Alaric sudah menunggu.” Kata si petugas concierge.
Apartemen itu bukan hanya mewah melainkan sebuah deklarasi kekuasaan seolah menunjukkan siapa seorang Alaric Mahesa.
Ruby berdiri di tengah ruang tamu yang luas, kopernya yang kecil terlihat begitu tidak cocok di samping sofa kulit Italia yang dia tahu harganya di luar nalarnya.
Dia sungguh lelah, lahir dan batinnya. Setelah mandi air panas yang begitu lama sehingga ujung jarinya berkerut, dia mengganti gaun basahnya dengan kaus besar yang tersedia di atas kasur. Melihat ukurannya mungkin milik Alaric. Kaos itu jatuh melewati panggulnya, menyisakan bahu kirinya terekspos, kontras dengan kulitnya yang sawo matang.
Setelah nyaman Ruby merasa tubuhnya menyerah dan pikirannya kembali liar berkelana, pada Alan, membuat air mata kembali meluruh tanpa isakan.
Ruby menuju cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak menyedihkan. Wajah pucat, tubuh ringkih dengan kaos yang terlalu besar. Bahkan terlalu terbuka, menampakkan lekuk lehernya yang masih basah oleh tetesan air dari rambutnya. Rambut hitam panjangnya, yang Alan dulu suka belai saat dia sandarkan kepala di d**a bidangnya, tergerai liar, masih basah.
Ruby mengangkat tangan, jari-jarinya menyentuh kaca yang jadi buram karena air matanya.
Siapa dia sekarang? Siapa wanita dengan wajah pucat menyedihkan di cermin itu? Dia bukan lagi Ruby yang percaya pada cinta sejati. Bukan lagi Ruby yang setia menunggu lamaran Alan dengan senyum naif.
Ruby menelusuri ceruk lehernya, sebuah tempat yang disukai Alan untuk dikecup dan diberi penanda kepemilikan hingga sesekali membuatnya hilang akal dan mendesah penuh nikmat.
Mengingat itu, mebuat amarahnya kembali muncul, lebih panas dari air mandi tadi. Dia ingin menghapus jejak yang ditinggalkan Alan di tubuhnya. Ingin menguliti setiap memori yang pernah bersentuhan dengan pria b******k itu.
Tangan kanannya meraih ujung kaos, mengangkatnya perlahan, seperti ritual pelepasan sial. Ruby menarik kaus itu melewati kepalanya. Kain hitam itu jatuh ke lantai tanpa suara, membuat Ruby hanya dalam balutan underwear renda hitam.
Sejuknya AC menyentuh perutnya yang telanjang, tubuhnya benar-benar hanya dilindungi underwear saja..
"Kukira kau sudah tidur."
Tiba-tiba terdengar suara bariton yang membuat Ruby membeku. Jantungnya berdetak menggila mengenai tulang rusuknya. Setiap otot di tubuhnya menegang, instingnya bertarung antara keinginan untuk berbalik melihat ke pemilik suara dan keinginan untuk berlari. Ketika Ruby akhirnya memilih untuk memutar tubuhnya dengan gerakan yang begitu lambat, dia melihatnya.
Alaric berdiri di ambang pintu.
Jasnya sudah entah di mana hanya menyisakan kemeja hitam yang dibuka dua kancing teratas, memerlihatkan pangkal leher yang kokoh, sementara lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-uratnya yang menjadikannya semakin seksi. Dia membawa nampan kayu berisi cokelat panas dan sepotong roti, namun matanya sama sekali tidak melihat ke nampan itu.
Mata gelap Alaric terkunci pada tubuh Ruby. Fokus menatap bahu yang telanjang, lekuk pinggang dan b****g bulat yang terekspos, hingga kaki jenjang yang gemetaran halus. Alaric tidak memalingkan wajah karena menganggap ini sebuah rejeki yang tidak boleh dia tolak. Dia tidak mau berpura-pura sopan, toh ini rumahnya. Matanya menggelap penuh hasrat.
Ruby seharusnya waspada. Dia seharusnya meraih kaos di lantai untuk menutupi tubuhnya. Sialnya, tatapan Alaric seperti rantai tak kasat mata yang mengikatnya di tempat. Ada sesuatu pada cara pria itu menatapnya, melihat Ruby seolah-olah dia adalah satu-satunya objek yang memiliki warna di dunia yang hitam putih ini.
Alaric melihatnya berdiri setengah telanjang, hanya dengan underwear hitam berenda yang entah bagaimana terasa lebih intim dan seksi daripada dia benar-benar telanjang. Waktu berhenti atau mungkin bergerak begitu lambat. Jakun Alaric turun naik melihat pemandangan indah yang tersaji di depannya.
Alaric semakin mendekati Ruby, kemudian letakkan nampan di meja nakas. Setelah itu, dia berdiri tepat di depan Ruby hanya terpisah satu meter saja yang terasa seluas samudera.
Baik Alaric dan Ruby diam terpaku, tidak bergerak. Sepertinya ada sesuatu pada mereka yang tidak bisa diabaikan, sesuatu yang telah tumbuh sejak pertemuan pertama mereka di tengah hujan.
"Maaf," suara Alaric terdengar serak oleh gairah, “tadi aku mengetuk. Tapi sepertinya hujan di luar terlalu bising hingga kamu tidak mendengar.”
Tangan Alaric terulur untuk menyentuh rambut hitam Ruby. Dia membawa anak rambut itu ke belakang telinga dengan sangat lembut dan mata yang semakin berkabut karena terbakar gairah.
Ruby seharusnya merasa malu atau segera berlari ke kamar mandi atau melakukan sesuatu, apa saja, untuk menutupi dirinya. Tapi itu tidak dia lakukan seolah terhipnotis oleh mata gelap Alaric.
"Kamu membawa cokelat," kata Ruby dengan susah payah setelah berhasil mengumpulkan keberanian.
Alaric menatap nampan di nakas, seolah-olah baru menyadarinya, “aku ingat di kafe kamu hanya menyesap sedikt cokelat. Aku pikir mungkin kamu butuh sesuatu yang hangat atau sesuatu yang mampu memberimu kehangatan." Kata Alaric, menyeringai kecil yang membuat Ruby sempat bergidik ketakutan.
Alaric semakin mendekat dan perlahan, seolah-olah setiap langkahnya adalah pilihan yang dia buat dengan sadar akan konsekuensi. Alaric sangat dekat hingga Ruby bisa mencium aroma parfumnya yang woody yang memabukkan dan membuat Ruby hilang akal.
Dua langkah lagi.
Satu langkah dan sekarang tidak berjarak hingga Ruby bisa merasakan hangat tubuh Alaric, bisa melihat setiap detail wajah tampannya yang begitu sempurna sehingga terasa tidak nyata. Bulu mata yang hitam dan panjang, yang tidak seharusnya dimiliki pria, pori-pori kulitnya yang begitu halus sehingga Ruby sampai ulurkan tangan untuk menyentuh pipi Alaric hanya untuk memastikan ini bukan mimpi.
"Kamu dingin," kata Alaric, bukan sebagai pertanyaan saat jari Ruby menyentuh pipinya.
Ruby menyadari bahwa ia gemetaran bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang berkumpul di perutnya dan menyebar ke seluruh tubuhnya seperti racun yang manis. Bahkan ada satu bagian tubuhnya yang berkedut, membuat Ruby mengumpati Alaric dalam hati karena mampu membangkitkan syahwatnya hanya dengan tatapannya saja.
"Aku baik-baik saja," bohong Ruby dan seketika menarik tangannya dari pipi Alaric.
Alaric tersenyum kecil. Senyum yang berbeda dari sebelumnya karena terasa hangat, lebih jujur walau terasa lebih berbahaya.
"Tidak," bisiknya, yang hanya bisa didengar oleh Ruby. "Kamu tidak baik-baik saja. Kamu hancur, kamu marah, kamu..." Alaric menjeda. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi RUby, memberikan gadis itu setiap kesempatan untuk mundur, untuk menolak, untuk berkata tidak.
Ibu jarinya menyentuh pipi Ruby, ujungnya yang hangat menelusuri jejak air mata yang tercetak dan sentuhan itu, demi Tuhan, batin Ruby, sentuhan itu Alaric membuat Ruby seperti tersetrum listrik.
"...kamu begitu hidup, Ruby kecil," Alaric menyelesaikan kalimatnya.
Kali ini matanya yang gelap melihat intens ke bibir penuh Ruby yang pucat, membuat Ruby secara naluriah menjilatnya walau setelah itu dia terkejut karena itu begitu tidak disengaja. Semua karena tatapan mata gelap Alaric!
"Kamu tidak seharusnya di sini," bisik Ruby, tapi suaranya tidak menunjukkan kekuatan untuk menjadi sebuah peringatan, sebuah pengusiran halus.
"Kamu benar," Alaric setujui itu. Jemarinya kini menyusuri garis rahang Ruby dengan lembut dan lambat sehingga terasa seperti penyiksaan yang indah.
"Aku seharusnya ada ddi griya tawangku dan sedang memelajari dokumen. Aku seharusnya..." Alaric berhenti, sedikit menunduk hingga keningnya hampir menyentuh kening Ruby, membuat Ruby bisa merasakan hangat napas Alaric menerpa wajahnya, "...tidak di sini, menatapmu dan menginginkan sesuatu yang seharusnya tidak kuinginkan."
"Kamu bilang aku adalah peluang," Ruby mengingatkannya, suaranya hampir hilang karena dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan.
"Benar, kamu adalah peluang," Alaric mengakui.
Tangan Alaric sekarang ada di pinggang Ruby yang polos, menariknya mendekatinya hingga kain kemeja Alaric yang kasar bergesekan dengan kulit perut Ruby yang polos. Ruby pejamkan mata merasakan sensasi itu. Tangannya tanpa sadar meremas lengan kemeja Alaric untuk mencari pegangan.
Pipinya merona hebat, panas menjalar dari d**a hingga ke ujung telinga. Ada dorongan gila dari otaknya, entah otak bagian mana, untuk menyerahkan segalanya, untuk membiarkan pria ini menghapus rasa sakitnya dengan rasa yang lain.
Alaric mengerang, sebuah suara tertahan yang menunjukkan betapa dia berjuang melawan instingnya sendiri untuk tidak merubuhkan Ruby ke atas ranjang berseprai sutra di belakang mereka dan menindihnya, melakukan hal seperti yang ada di video Maya.
Hidungnya menggesek lembut hidung Ruby, bibir mereka hanya berjarak sehelai rambut.
.
"Tapi aku mulai berpikir..." kata Alaric, menjilat bibirnya saat matanya fokus pada bibir Ruby, "...mungkin aku juga peluangmu. Mungkin kita berdua bisa menjadi sesuatu yang lebih daripada alat bagi satu sama lain. Mungkin..."