“Aah… Alaric, a-aku…”
Ruby mendesah dengan mata terpejam pasrah, menikmati sentuhan Alaric pada kulit tubuhnya yang terasa membakarnya. Dia benar-benar hilang akal karena kelihaian Alaric yang membuatnya melayang. Kakinya yang seharusnya menopang bobot tubuhnya, seolah tidak bertulang.
Tangannya yang seharusnya mendorong, seharusnya menolak, seharusnya melawan, malah ikut berkhianat dengan menyentuh d**a Alaric, merasakan otot-otot yang keras di balik kaus tanpa lengannya. Gilanya lagi, mungkin saja ada setan yang lewat situ pada saat itu, dengan gerakan yang begitu tidak disengaja sehingga Ruby sendiri terkejut, dia malah mendorong kaus itu ke atas.
Sedetik, Alaric sempat kaget menatapnya. Nampak di matanya yang semakn gelap karena kabut gairah, Ruby melihat pertanyaan yang tidak terucap, ijin yang diminta tanpa diksi apa pun dan pastinya, konfirmasi yang dicari tanpa suara.
Tentu saja untuk Ruby, Ruby kecil yang telah dihianati, yang telah menjual dirinya pada Alaric, dia mengangguk. Hanya sekali saja tapi cukup bagi Alaric untuk melanjutkan keinginan syahwatnya.
Alaric tersenyum. Sebuah senyum yang berbahaya, penuh dengan kemenangan dan hasrat dan sesuatu yang lebih menuntut.
Tangannya yang satu masih menopang paha Ruby, tapi tangannya yang lain melepaskan segitiga pengaman itu sebagai satu-satunya helai kain tersisa yang melindungi harga diri Riby.
Underwear itu lepas sudah. Seringai muncul di bibir Alaric saat melihat tubuh Ruby yang sudah polos tanpa sehelai benang pun. Tangan Alaric membelai tubuh Ruby dengan lembut tapi penuh hasrat.
Tidak hanya itu, dia juga meremas b****g penuh Ruby dengan kekuatan yang terkontrol, sembari bibirnya memberi penanda di d**a montok Ruby, di bagian tubuh wanita yang diinginkan setiap pria. Tentu saja Ruby, yang masih perawan, merasakan sesuatu di dalam dirinya meleleh, melupakan segalanya kecuali sekarang. Hanya ingat pada sentuhan Alaric yang membuat ada bagian tubuhnya berkedut minta dipuaskan.
Bibir Alaric menelusuri garis leher Ruby, turun ke lekuk bahunya, naik lagi ke telinganya untuk berbisik dengan suara serak dan mata berkabut gairah yang tidak terkontrol, tapi mampu membuat Ruby merasa seperti dijatuhkan dari ketinggian, "kau akan jadi milikku, Ruby. Bukan karena kontrak tapi karena kau akan memohon padaku untuk membuatmu milikku."
Ruby ingin membantah itu. Ingin mendorong tubuh kekar Alaric, berlari dan mengunci dirinya di kamar mandi. Tapi tubuhnya, yang berkhianat karena tidak mau menuruti perintah otak, bergerak dengan keinginannya sendiri. Tubuhnya yang juga haus akan hasrat, tanpa malu malah menggeliat mendekat, mencari lebih banyak sentuhan, lebih banyak kehangatan, lebih banyak segalanya dari Alaric.
Alaric membopong Ruby dan dia letakkan penuh kelembutan ke ranjang mewah di kamar itu. Dia semakin rakus dan lahap menciumi tubuh polos RUby yang hanya mampu mendesah nikmat dan menjambak rambut Alaric.
Gigitan Alaric di d**a montok Ruby membuatnya menjerit kecil. Sungguh baru kali ini dia merasakan sensasi baru seperti ini. Logikanya menguap entah ke mana, semakin hilang saat Alaric bertanya, “mau lakukan seperti di video Maya?” tanyanya dengan suara serak.
Gilanya, Ruby mengangguk walau hanya sekali tapi itu sebuah ijin bagi Alaric untuk lanjutkan apa yang dia inginkan, yang mereka inginkan.
Kecupan bibir Alaric semakin buas, dari ceruk leher Ruby semakin turun, memberi tanda kepemilikan pada kulit Ruby yang nampak sangat seksi di bawah temaram lampu. Semakin ke bawah dan Alaric sempat menjeda saat dia mencapai area di antara dua paha Ruby untuk mengagumi bagian tubuh Ruby itu.
Jakunnya turun naik, bahkan dia menjilat bibirnya sebelum memberi pujian, “kamu benar-benar indah, Ruby.” Katanya, kemudian menunduk untuk memberi kecupan dan penanda di area paling pribadi milik Ruby.
Tapi, tepat saat jarak wajah Alaric hanya tinggal beberapa milimeter dari area pribadi Ruby, tiba-tiba muncul satu sosok di benak Ruby yang menghancurkan syahwatnya seketika itu juga.
Sosok itu bukan Alaric, melainkan Alan, mantan tunangannya. Di benak Ruby, terlihat Alan yang berbaring di tempat tidur miliknya, dengan Lumia yang berbaring di bawah tubuh Alan, dengan suara-suara desahan yang masih terdengar di telinganya.
Alan yang sama yang berucap bahwa dia mencintainya. Alan yang menjanjikan cinta dan kebahagiaan selamanya. Juga Alan yang sama, yang meninggalkannya seolah-olah kebersamaan mereka selama ini tidak berarti apa-apa.
Dalam hatinya, Ruby membeku. Hasrat yang tadi meleleh kini kembali mengeras menjadi es. Dan sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, sebelum penyesalan itu datang, tubuhnya bereaksi. Dia mendorong Alaric dengan kekuatan yang bahkan dia tidak tahu dia miliki.
Dorongan itu memang tidak kuat. Apalagi dibandingkan dengan Alaric yang terlalu besar dan kuat, tapi cukup untuk membuatnya berhenti. Cukup untuk membuatnya menatap Ruby dengan mata yang melebar, dengan napas yang terengah, dengan ekspresi yang begitu terkejut karena mendapatkan penolakan padahal juniornya juga sudah berdiri tegak dengan sikap sempurna.
"Stop," kata Ruby, dengan gemetaran. Tidak hanya Alaric yang harus bersusah payah menahan syahwat yang sudah di ubun-ubun, tapi Ruby juga harus membuang jauh-jauh keinginannya untuk b******a dengan Alaric malam ini.
"Stop, Alaric. A-aku tidak bisa." Katanya, tergagap.
Alaric diam sejenak, coba mencerna. Tubuhnya yang berotot terlihat begitu sempurna di bawah temaram lampu kamar. Celana tidurnya yang tergantung rendah di pinggang memerlihatkan garis-garis yang tidak seharusnya Ruby lihat.
Hasrat yang masih terlihat jelas di celananya juga terlihat oleh Ruby. Dia menatap Ruby dengan mata yang gelap yang kini berkilau dengan sesuatu yang tidak bisa dibaca. Apakah dia marah? Atau kecewa atau sesuatu yang lebih rumit?
"Kau menarik diri," katanya, setelah mampu kuasai diri dan mencerna keinginan Ruby.
Ruby mengangguk lemah. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih gemetar, “aku tidak bisa," ulangnya.
Suaranya lebih tidak terdengar, lebih manusiawi, “dengar, ini bukan karena aku tidak mau. Karena aku sungguh mau, tapi karena, karena aku belum siap. Karena..."
Ruby berhenti, menatap langit-langit, untuk hindari menatap wajah Alaric yang masih ada di atas tubuhnya dengan tidak bergerak dan sabar menunggu Ruby, "karena ini yang pertama kalinya untukku. Aku masih perawan dan aku ingin berikan kesucianku hanya pada suamiku.” Cicit Ruby dengan wajah merona.
Kata-kata itu terdengar sebagai sebuah pengakuan yang paling melegakan untuk Ruby. Sebagai rahasia yang dia simpan selama ini bahkan dari Alan. Ruby selalu bermimpi dia akan menyerahkan diri di malam pertamanya, sebuah pernikahan resmi. Dia selalu menunggu hari itu.
Kamar itu tiba-tiba hening sehingga Ruby bisa mendengar detak jam, bisa mendengar napasnya sendiri yang masih terengah, bisa mendengar deru jantung Alan yang masih coba mengatur napasnya.
Setelah beberapa saat ketika akhirnya dia berani menatap Alaric, apa yang dia lihat membuat jantungnya berhenti. Tidak ada kemarahan atau kekecewaan pada wajah tampan itu. Tapi Ruby bergidik karena melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Kilatan di mata yang gelap, senyum tipis yang nampak di bibir Alaric yang bengkak oleh ciuman mereka, terutama ekspresi wajah yang berubah seolah baru saja menemukan harta karun yang sangat berharga.
"Perawan," Alaric mengulang kata itu, dan suaranya mengalun seperti melodi yang salah tapi indah.
Senyumnya tetap tercetak di bibirnya, "kau menyimpanny selama ini untuk Alan. Sedangkan Alan..." Alaric berhenti, tawa rendah yang terdengar menggema di ruang tidur itu, "si bodoh itu tidak pernah tahu betapa berharganya apa yang dia miliki. Betapa berharganya apa yang dia buang begitu saja.”
Ruby merasa wajahnya memanas, membuatnya membungkus dirinya lebih erat dalam selimut, “ini bukan lelucon, Alaric!”
"Bukan," Alaric menyetujui itu.
Akhirnya Alaric bergerak dengan perlahan, dia berbaring di sebelah Ruby dan ikut meringkuk di satu selimut yang sama hingga Ruby bisa merasakan panas tubuhnya yang masih terbakar, bisa mencium aroma hasrat yang masih menempel di kulitnya.
"Ini memang bukan lelucon, Ruby. Ini..." dia menoleh ke arah Ruby dan menarik wajah Ruby untuk melihat ke arahnya. MEmaksanya untuk menatap matanya yang gelap, "...ini adalah hadiah. Hadiah yang tidak aku duga. Hadiah yang akan membuat segalanya lebih menarik."
"Lebih menarik?" ulang Ruby, suaranya tersendat.
Alaric tersenyum, mengangguk dan berkata dengan suara serak yang seksi, “bayangkan saja," bisiknya, jari-jarinya masih menahan dagu Ruby, memaksanya untuk tetap menatapnya, "Alan mengira dia mengenalmu. Mengira dia memiliki segalanya, nyatanya dia tidak pernah memilikimu. Tidak benar-benar. Dan sekarang..." Alaric menjada, matanya yang gelap menyipit dengan kilatan hasrat yang membuat bulu kuduk Ruby meremang, "...sekarang aku yang akan memilikimu. Aku akan jadi yang pertama sekaligus terakhir, dan itu selamanya." Bisiknya, menarik dagu Ruby untuk dia lumat bibirnya.
Ruby menelan ludah mendengar itu, “t-tapi itu tidak adil. Di kontrak disebut…"
"Kontrak kita mengatakan aku harus menunggu izinmu," Alaric memotong, suaranya lembut tapi tidak terbantahkan, “aku akan menunggu. Tapi Ruby..."
Alaric berganti posisi, dia kembali berada di atas tubuh Ruby. Dicondongkannya tubuhnya hingga keningnya menyentuh kening Ruby dan napasnya yang hangat menerpa wajah gadis polos itu, "...tunggu saja. Kau akan memohon padaku. Kau akan merengek. Kau akan..." dia berhenti, menjilat bibir bawahnya penuh kesengajaan.
"Kau akan menyerahkan dirimu dengan sukarela, bahkan memintaku untuk tidak berhenti memuaskanmu. Dan ketika itu terjadi, ketika kau akhirnya meminta dengan suara yang serak penuh gairah dan tubuh yang gemetar, aku akan tahu bahwa aku bukan hanya memiliki tubuhmu tapi aku juga memiliki dirimu. Seutuhnya!"
Alaric melepaskan dagu Ruby, menarik tubuhnya menjauh dan turun dari ranjang. Dia berjalan ke arah pintu dan sebelum menghilang dari kamar Ruby, dia menoleh sekali lagi untuk melihat Ruby yang berbaring bingung di tengah ranjang hanya ditutupi selimut.
"Selamat tidur, Ruby kecil," katanya, sembari berkedip. Nama panggilan sayang itu terdengar seperti mantra, sebagai sebuah penanda kepemilikan, seperti janji yang tidak bisa dibatalkan.
"Mimpikan aku. Atau mimpikan cara-cara untuk menghindariku. Tapi ingat, " senyum yang misterius bermain di bibirnya yang bengkak, "besok, rencana kita dimulai. Dan aku tidak sabar untuk melihat wajah Alan ketika dia tahu bahwa tunangannya yang setia, yang dia buang begitu saja, kini menjadi istrinya bosnya."
Pintu tertutup meninggalkan Ruby dengan hati yang berdebar dengan ritme yang salah. Dia menatap langit-langit dan untuk pertama kalinya sejak dia menandatangani kontrak itu, akhirnya Ruby menyadari apa yang telah dia lakukan.
Dia tidak hanya menjual dirinya pada iblis yang tampan, tapi juga telah jatuh cinta pada cara iblis itu menatapnya, seolah-olah dia sangat berharga, sangat diinginkan.
Ketika akhirnya dia mampu pejamkan mata walau belum tidur dengan aroma Alaric yang masih menempel di kulitnya, Ruby tahu bahwa peperangan telah dimulai. Bukan hanya peperangan melawan Alan, Lumia dan Indri.
Tapi perang melawan dirinya sendiri. Melawan hasrat yang tumbuh begitu cepat sehingga dia tidak bisa mengendalikannya.
Melawan pria yang telah membelinya dan kini ingin memiliki jiwanya.
Sementara itu di kamarnya yang gelap, Alaric berdiri di depan jendela kamar tidurnya. Dia menatap bayangannya sendiri di kaca, menatap tangan yang masih bergetar sedikit oleh keinginan yang harus dia tekan tapi terbit senyum di bibirnya.
Alaric sampai menyentuh bibirnya, terkekeh kecil saat membayangkan betapa polos dan ringkihnya Ruby. Senyum dari pria yang telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar balas dendam.
Pria yang telah menemukan Ruby dan tidak akan pernah melepaskannya begitu saja.