Kamar pengantin di kediaman Pak Hartono malam itu tampak lebih seperti galeri seni daripada kamar tidur. Wangi mawar putih menyeruak, berpadu dengan aroma lilin aromaterapi mahal. Clarissa duduk di tepi ranjang king size dengan gaun tidur sutra yang tertutup long robe, wajahnya masih penuh riasan namun matanya menyiratkan kegelisahan yang luar biasa.
"Ingat ya, Ilham," Clarissa membuka suara saat Ilham masuk setelah selesai salat sunnah di pojok kamar. "Pernikahan ini cuma status. Jangan harap kamu bisa... ya, kamu tahu maksudku."
Ilham yang masih mengenakan sarung dan baju koko putihnya, tersenyum tipis. Ia tidak tampak terintimidasi oleh kemewahan kamar itu, meski jujur saja, baginya kamar ini lebih luas daripada seluruh asrama santrinya. Ia melangkah perlahan, namun berhenti tepat tiga meter di depan Clarissa, menjaga jarak yang sangat sopan.
"Mbak Clarissa," panggilnya lembut. "Saya sadar saya datang ke kehidupan Mbak sebagai orang asing yang tiba-tiba diberi hak besar. Tapi agama saya mengajarkan bahwa wanita bukan objek yang bisa dipaksa."
Clarissa menaikkan alisnya, mencoba tetap terlihat galak. "Oh ya? Bukannya kalian para ustadz biasanya bicara soal kewajiban istri melayani suami?"
Ilham menggeleng pelan. Ia teringat sebuah hadist yang menjadi landasan akhlak para ulama dalam memperlakukan perempuan:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya), dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi)
"Bagi saya," lanjut Ilham dengan nada yang menenangkan, "menjadi 'sebaik-baiknya suami' berarti menghargai kesiapan hati istrinya. Saya berjanji, saya tidak akan menyentuh Mbak Clarissa—bahkan ujung kuku Mbak sekalipun—sampai Mbak sendiri yang membuka hati dan rida untuk itu. Malam ini, dan malam-malam seterusnya, Mbak aman di samping saya."
Clarissa terdiam. Kata "aman" itu terasa sangat asing namun menyejukkan. Selama ini, laki-laki yang mendekatinya hanya menginginkan uangnya, jabatannya, atau kecantikannya. Tidak pernah ada yang menawarkan rasa aman dengan cara memberikan kendali penuh padanya.
"Terus kamu tidur di mana?" tanya Clarissa, suaranya sedikit melunak.
"Sofa itu terlihat sangat empuk," tunjuk Ilham pada sofa beludru di pojok ruangan. "Lebih empuk daripada kasur tipis saya di pesantren."
Clarissa memperhatikan Ilham yang dengan cekatan mengambil bantal dan selimut cadangan. Ada rasa geli sekaligus kagum. Pemuda ini benar-benar serius dengan ucapannya.
"Eh, tunggu," panggil Clarissa saat Ilham hendak merebahkan diri. "Jangan panggil 'Mbak'. Kedengarannya aku seperti asisten rumah tangga atau kakak perempuanmu. Panggil namaku saja."
"Baik, Clarissa," jawab Ilham patuh, namun dengan sedikit canggung yang justru terlihat manis di mata Clarissa.
Malam itu, di bawah temaram lampu kristal, sebuah perjanjian tak tertulis lahir. Clarissa yang biasanya tidur dengan penuh kewaspadaan karena tekanan pekerjaan, entah mengapa merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Di sudut sana, ada sosok ustadz muda yang menjaganya tanpa meminta apa-apa.