Aku sedang mempelajari hal-hal baru mengenai dunia baru tempatku berada saat ini. Saat ini aku sedang memainkan sebuah benda yang diberikan Julian padaku, ia menyebutnya sebagai ponsel. Aku menyadari bahwa saat ini aku berada ditahun 2021, 1000 tahun dari zamanku dulu. Aku tidak tau mengapa aku memimpikan masa depan ini didetik-detik kematianku, jadi seperti inilah masa 1000 tahun dari masaku. hmm.. Menarik.
"Algreya Tanasha! Apa maksudmu dengan pengumuman itu?" seseorang memasuki kamar Sakitku dengan teriakan yang sangat luar biasa keras. Aku baru saja mengumumkan batalnya pertunangan kami lewat pengacaraku, aku baru tahu dari sepasang suami istri yang mengaku sebagai orangtuaku bahwa aku adalah anak tunggal kaya raya mereka dimana semua orang mengenalku. Butuh waktu lama bagiku untuk membujuk mereka agar mau membatalkan pertunanganku dengan Reksha.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu." Jawabku acuh, aku kembali memfokuskan pikiranku pada laporan yang barusaja kuterima dari asistenku. Setelah kupelajari, urusan perusahaan tidak jauh berbeda dari urusan kerajaan, jadi aku bisa dengan mudah beradaptasi dengan pekerjaanku yang baru ini.
"Kenapa kau mengumumkan perpisahan tanpa sepengetahuanku?" katanya tampak frustasi.
"Aku bisa melakukan apapun tanpa persetujuanmu. Jika sudah selesai bicara, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku sibuk." balasku tanpa menatapnya sama sekali.
"Pertunangan itu melibatkan 2 orang, jadi kau tidak boleh mengambil keputusan sepihak!" Dia masih marah, aku tersenyum sinis.
"Jadi kau masih mau jadi tunanganku?" Tanyaku datar, kali ini aku menatap matanya dengan garang.
"Maksudku bukan seperti itu," katanya linglung, tetapi kelinglungannya itu menjadi jawaban bagiku.
"Kau mengucapkannya sendiri, jadi mulai hari ini kita sudah tidak punya hubungan apa-apa. Silahkan tinggalkan saya sendiri. Terimakasih sudah berkunjung." Usirku halus, aku menurunkan kasur dan berpura-pura tidur. Memutuskan pertunangan adalah langkah pertama dalam acara balas dendamku. Aku tau, sebenarnya dia bukan apa-apa tanpaku.
"Maksudku, sebentar lagi kita akan menikah. Jadi kau tidak boleh memutuskanku seperti ini. Biar aku ingatkan, jadwal pernikahan kita tinggal sebulan lagi." Ucapnya tegas, dia sepertinya yakin aku akan luluh dengan ucapannya itu. Aku memutar kedua bola mataku malas.
"Aku akan tetap menikah bulan depan." Balasku, sebenarnya jawaban ini belum kupikirkan sebelumnya.
"Untuk apa kau mengumumkan perpisahan jika pada akhirnya kita tetap menikah? Sudah kuduga, kau tidak akan semudah itu lepas dariku. Kau terlalu mencintaiku selama ini." Ucapnya percaya diri, aku bergedik jijik atas kenarsisannya tersebut.
"Aku akan tetap menikah tapi bukan denganmu." ucapku datar, dia terdiam, aku menyunggingkan sebuah senyum kemenangan. Dia selalu berfikir bahwa aku sangat mencintainya, sehingga ia dengan mudah memanfaatkanku. Tapi dimimpi ini, aku sama sekali tidak mencintainya!
"Kau tidak akan melakukannya." Ucapnya pelan,
"Aku pasti akan melakukannya." balasku, aku bisa mendengar suara pintu dibanting, Reksha sepertinya kesal dengan ucapanku.
* * *
"Kau membatalkan pertunanganmu?" Julian meneriakiku tak percaya,
"Bukankah itu yang kau inginkan?" Sindirku.
"Ya, aku hanya bercanda." Balasnya
"Jadi kau tidak mau menikah denganku?" Julian terbelalak mendengar ucapanku
"Jangan bercanda!"
"Yasudah kalau kau tidak mau."
"Kau menikahiku untuk melarikan diri dari tunanganmu itu kan?" Tebak Julian asal.
"Tidak salah lagi."
"Mohon maaf, aku tidak mau kau manfaatkan. Cari saja pria lain." Tolaknya tegas, aku juga ingin demikian, tapi didunia ini, tidak ada satupun pria yang kukenal selain Reksha, Julian, dan ayahku.
"Banyak pria yang ingin menikahimu, pilih saja satu diantara mereka." Usul Julian lagi
"Bukankah kau satu diantaranya?" tanyaku,
"Aku mau menikahimu, sungguh! Tapi aku tidak mau menikah karena dendammu. Aku ingin kau nikahi dengan cinta." jelas Julian lagi, aku tersenyum lembut kepadanya.
"Kenapa kau tak berusaha membuatku jatuh cinta padamu?" tantangku, Julian membelalakkan matanya lagi.
"Tantangan yang berat." Aku mendengkus kesal dengan jawaban itu.
"Jadi kau mau atau tidak?"
"Jelas aku mau, ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa, tau." Akhirnya aku tersenyum mendengar jawaban
"Yasudah, coba lakukan." tantangku padanya. Setelah ini akan banyak masalah yang kuhadapi karena tantangan ini, tapi aku memutuskan untuk tidak peduli karena aku siap menghadapi masalah untuk saat ini.