***
Setiap hari, tidak ada malam yang tidak ia habiskan sambil merintih kesakitan. Jiyong melihat tangannya yang sudah penuh dengan luka bekas gigitan James. Ia dikurung hanya untuk menghidupi sang raja vampire yang kejam ini.
“Tenang saja. Tidak akan ku biarkan kau mati sebelum vampire kecilmu mendatangiku,” kata James sambil memberikan Jiyong sepiring makanan.
Jiyong memandanginya dengan tatapan dingin. Ia bahkan tidak merespon apapun. Ia diam. Namun, diamnya cukup menyeramkan. Jika saja kekuatannya tidak terbelenggu kurungan besi ini, sudah pasti ia akan membunuh James saat itu juga.
“Kau tidak akan bisa menyentuhnya, selagi dia berada dalam perlindungan serigala,” kata Jiyong pada akhirnya setelah memutuskan diam beberapa menit.
James tertawa,”Buat apa aku repot-repot mendatanginya? Dia akan datang sendiri tanpa aku perlu menjemputnya.”
James menundukkan wajahnya, dan mendekatkannya ke arah Jiyong.
“Dia akan datang untukmu,” bisiknya sambil menyeringai.
Jiyong hanya berdecih tepat di depan muka James.
“Makan makananmu dan hidup sampai hari itu tiba,” tutupnya sambil terus berlalu meninggalkan Jiyong dengan rasa sakitnya.
-
Taeyeon menghabiskan hari-harinya untuk terus berlatih. Kali ini, Lupin memutuskan untuk turun tangan langsung melatih Taeyeon mengembangkan kekuatannya. Bagaimana pun juga, Lupin telah berpengalaman melatih Jiyong yang telah lebih dulu untuk mengontrol kekuatan vampirenya.
“Fokus, Taeyeon!” teriak Lupin pada Taeyeon yang masih berusaha menggunakan kekuatan vampirenya untuk memindahkan barang tanpa menyentuh. Seperti yang Jiyong lakukan padanya waktu itu.
Melihat sikap frustasi Taeyeon, Lupin pun menghampirinya dan berbisik,”Munculkan sisi lain dari dirimu, Taeyeon. Munculkan ‘ia’ yang ada dalam dirimu. Untuk Jiyong.”
Tak lama setelah itu, Taeyeon kembali berusaha sekuat tenaga. Dengan didampingi Choi dan Sam dalam pelatihannya, Taeyeon sudah banyak mengembangkan kemampuannya. Hanya saja, ia masih perlu banyak belajar lagi. Dan, itu bukan sesuatu hal yang mudah.
Setelah bersusah payah, akhirnya Taeyeon bisa mengeluarkan kekuatannya. Ketika salah satu matanya berubah menjadi warna merah, ia mengarahkan tangannya pada sebuah batu besar dan berusaha memindahkan batu itu.
Semua mata terpana saat melihat Taeyeon berhasil setelah kesekian kali percobaannya. Kedua mata Sam mendelik. Sedangkan Choi, membiarkan mulutnya terbuka lebar karena takjub dengan apa yang ia lihat barusan. Lupin pun tersenyum bangga.
Saat Taeyeon telah berhasil memindahkan batu tersebut, ia menoleh ke arah Choi, Sam, dan Lupin dengan matanya yang masih memerah. Ia menyeringai. Seolah bangga telah menunjukkan keberhasilannya.
“You did it, Taeyeon!” teriak Sam dengan senang.
Sepersekian detik kemudian, mata Taeyeon yang berwarna merah kembali berubah menjadi normal. Dan, itu cukup mengejutkan Choi dan Sam juga. Mereka menggelengkan kepala melihat perubahan diri Taeyeon dalam waktu sesingkat itu.
“Now, next lesson!” teriak Lupin pada Taeyeon yang langsung disambut antusias.
Di saat yang sama, dari kejauhan, Taeyeon sedang diawasi oleh seorang pemilik mata merah dan bertaring. Dari balik pepohonan, ia mengamati setiap gerak-gerik Taeyeon dan melaporkannya pada James.
Saat orang itu melapor, James sedang berada di ruangan yang sama dengan Jiyong. Laki-laki itu menundukkan wajahnya dan berdiri di hadapan James.
“Dia sedang melatih kekuatannya hari ini,” katanya.
James yang mulai tertarik pun langsung menyunggingkan senyumnya.
“Kau dengar itu, Jiyong? Dia sedang melatih kekuatannya untuk mendatangimu,” katanya pada Jiyong.
“Setiap hari, ia semakin mahir dalam melatih kekuatannya,” kata sang pelapor lagi.
“Dia berlatih sendiri?”
“Dia berlatih bersama Lupin dan kedua serigala lainnya.”
James berdecih,”Kalian melindunginya seolah vampire itu bagian dari kalian.”
James berjalan ke arah Jiyong yang diam-diam mendengarkan perbincangan James dengan anak buahnya.
“Ku pikir harga seorang Zeca tidak lebih berharga daripada vampire itu,” kata James yang langsung memancing emosi Jiyong.
“Jangan pernah berani berbicara tentang ibuku seperti itu,” katanya sambil menatap mata James dengan berani.
“Dulu, ibumu adalah vampire yang paling cantik di masanya. Semua vampire rela berebut dan bertaruh nyawa untuknya. Sayangnya, ia malah lebih memilih ayahmu, yang seorang serigala itu. Sampai ia menghilang dan muncul kembali untuk pertama kalinya di hadapanku,” kata James yang mulai bercerita. “Kau tahu apa alasanku membunuhnya?”
Jiyong diam.
“Karena, pandangan matanya. Ia menatapku seolah aku adalah makhluk paling k**i yang ada di bumi. Padahal, ia juga bagian dari kami. Terlebih, setelah mengingat penghianatan yang ia lakukan, aku jadi tak tahan dan membunuhnya,” lanjut James.
Jiyong mengeratkan tangannya pada kurang besi itu sambil memandang James dengan pandangan jijik.
Mereka berdua saling beradu pandang. Bedanya, James terlihat menyeringai pada Jiyong yang sangat berapi-api melihatnya. James sangat tidak sabar untuk melihat Jiyong menangis dan memohon di kakinya demi Taeyeon.
“I swear, aku akan membalas semua kejahatanmu setelah aku keluar dari kurungan ini,” tegas Jiyong.
“Kau lebih baik mengkhawatirkan dirimu terlebih dahulu sekarang. Karena, kau bisa saja mati lebih dulu, sebelum kau membalas dendamu,” kata James yang terus meninggalkan Jiyong.
-
Di lain tempat, Taeyeon sedang menyeringai bahagia bersama Lupin, Choi, dan Sam setelah ia memberitahu mereka bahwa mata-mata vampire itu telah pergi.
Plot twist.
Selama ini, Taeyeon tahu bahwa ia dimata-matai. Oleh karena itu, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di luar desa dan lebih memilih berlatih di hutan agar para vampire itu bisa memata-matainya dengan leluasa.
“Dia pergi,” kata Taeyeon dengan bangga.
“Wah, Taeyeon, kemajuanmu semakin pesat di setiap harinya.”
Taeyeon mengedipkan salah satu matanya pada Sam sebagai balasan atas pujian yang dilontarkannya.
“Dengan begini, ku yakin kita pasti bisa menyelamatkan Jiyong,” lanjut Choi.
Tak lupa, Lupin pun ikut memuji Taeyeon,”Kita semakin dekat dengan hari pembalasan, Taeyeon.”
Taeyeon mengangguk dengan penuh gairah,”Ketika hari itu datang, akan ku pastikan mereka membayar semua yang telah mereka lakukan.”
“Waaah, aku menyukai semangatmu, Taeyeon,” ledek Choi.
“Kau pasti merindukannya ‘kan, Taeyeon?” tanya Sam.
“Everyday, i spend my night to think of him.”
-
Selepas berlatih, Taeyeon mendatangi Lupin yang tengah memandangi desanya dari balkon rumahnya. Samar-samar, Lupin mendengar langkah kaki Taeyeon yang mengarah padanya.
Ia menoleh dan mempersilakan Taeyeon untuk duduk di sampingnya.
“Ada apa, Taeyeon? Sepertinya ada hal yang ingin kau bicarakan,” kata Lupin.
“Kapan kita akan menyelamatkan Jiyong?” tanya Taeyeon dengan ragu-ragu.
Lupin menoleh ke arah Taeyeon sejenak, sebelum ia menarik napasnya panjang.
“Besok malam, bulan purnama akan sempurna,” katanya menggantungkan ucapannya. “Kita bergerak besok.”
Taeyeon menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Apa kau siap, Taeyeon?”
Taeyeon mengangguk.
“Apa kau siap mempertaruhkan nyawamu? Kau bisa saja kehilangan nyawamu.”
Taeyeon mengedarkan pandangannya ke arah desa yang dipenuhi orang-orang yang sedang beraktivitas.
“Aku akan mempertaruhkan semua demi kalian dan Jiyong. Aku akan membalas mereka.”
Lupin tersenyum puas mendengar ucapan Taeyeon.
“Aku mau, kau sendiri yang akan memimpin pertarungan ini,” kata Lupin.
Taeyeon menoleh dengan kaget.
“T-tapi, -“
“Aku percayakan padamu. Dan, bawa Jiyong kembali padaku, Taeyeon.”