-
Di sinilah mereka sekarang, di balik pepohonan dan menyembunyikan diri. Dengan pasukan kurang lebih berjumlah hampir 80 orang, mereka berencana akan menyergap rumah James yang berada di tengah hutan.
“Kami menunggu perintahmu,” kata serigala yang berada di dekatnya.
Taeyeon sedang melihat sekitar dengan matanya yang sudah berubah jadi warna merah. Ia melihat baik-baik rumah James yang nampak sunyi dan tanpa penjagaan. Ia bahkan tidak mendengar adanya aktivitas di dalam rumah tersebut.
Bulan purnama sudah di atas kepala. Dan, mereka mulai mendesak Taeyeon untuk segera bergerak.
“Ada yang aneh,” kata Taeyeon dengan lirih. “Apa mungkin rencana ini bocor?”
“Taeyeon, kapan kita akan bergerak? Bulan sudah sempurna,” kata Choi.
Saat Taeyeon masih sibuk mengamati, ia tidak sadar bahwa separuh pasukan serigala sudah tewas di tangan para vampire yang ada di belakangnya.
Ia langsung membalikkan badan saat mendengar langkah vampire yang berada di dekatnya. Dan, betapa terkejutnya ia bahwa James sudah bersiap di sana. Bersama dengan para pasukannya.
“Kau datang,” kata James sambil menyeringai.
“K-kau...”
“s**t!” Choi memutuskan menyerang James yang ada di depannya.
Taeyeon berteriak,”Choi, jangan!”
Brak.
Choi langsung jatuh terkapar sesaat setelah James menyerangnya. Racun vampire langsung memenuhi tubuh laki-laki itu.
Taeyeon langsung berlari ke arah Choi yang tak berdaya.
“Kau harus menang, Taeyeon. Demi kita,” kata Choi dengan terbata.
“Aku akan memenangkannya, Choi. Kau harus bertahan.”
Mendengar percakapan mereka, James pun tertawa kencang. Diikuti dengan tawa para pengikutnya.
“Sesuai kesepakatan dan janjimu, bebaskan Jiyong,” kata Lupin yang langsung menodong Taeyeon dengan pisau di lehernya.
Taeyeon terkejut. Begitu pun Sam.
“A-ayah?”
“Ketua.”
“Aku sudah memenuhi maumu dengan membawa dia. Sekarang, penuhi janjimu,” kata Lupin tegas.
James pun langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa Jiyong kehadapan Lupin. Betapa terkejutnya Taeyeon melihat Jiyong yang sudah tidak berdaya. Kedua bola mata Lupin mendelik geram saat melihat lengan Jiyong yang penuh dengan luka.
“Kau menyakitinya?” teriak Lupin yang langsung menarik Taeyeon ke dekapannya sambil mengarahkan pisau itu ke leher.
“Kembalikan anakku,” perintah Lupin.
“Serahkan dia,” ucap James.
“Ketua,” Sam menahan tangan Lupin.
“Ayah?” Jiyong kaget melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya saat ini. “Ayah, jangan lakukan ini.”
“Kau adalah segalanya bagiku, Jiyong. Dan, akan ku lakukan apapun untuk menyelamatkanmu,” kata Lupin.
“Tapi, tidak dengan mengorbankan Taeyeon dengan cara seperti ini, Ayah!” teriak Jiyong.
Jiyong memberontak. Tapi, Taeyeon tidak. Ia diam. Sambil terus mencerna apa yang salah dari semua ini.
Lupin membawa Taeyeon ke hadapan James. Sepanjang ia berjalan, Taeyeon hanya mampu memandangi Lupin dengan tatapan tak percaya. Ia tak percaya bahwa ia telah dikhianati oleh seseorang yang ia anggap keluarga. Ia tak percaya selama ini telah dibohongi.
“Ayah, kau membohongiku selama ini?” tanya Taeyeon lirih.
“Ayah, jangan!” teriak Jiyong.
Lupin memilih untuk diam dan tak menjawab. Taeyeon menghentikan langkahnya, sebelum dirinya benar-benar diserahkan pada James.
“Kau dan Jiyong tidak akan bisa bersatu, Taeyeon.”
“Kenapa, Ayah? Kenapa?”
Terlalu lama, James pun menggertak Lupin dengan menyakiti Jiyong. Jiyong mengerang kesakitan.
“BERHENTI MENYAKITINYA ATAU KU SAKITI JUGA ANAKMU!”
Sontak, semua orang terdiam. Mereka kaget mendengar perkataan Lupin barusan. Termasuk Taeyeon.
“Anak?”
Lupin berdecih,”Kau pikir aku tidak tahu siapa dia? Dia adalah darah dagingmu yang kau tinggalkan di panti asuhan beberapa tahun lalu.”
“Tidak mungkin,” bantah James. “Jangan bermain-main denganku dan serahkan saja perempuan itu!”
Lupin tertawa,”Kau mau tahu bagaimana awal dari semua cerita ini dimulai?”
James diam. Seolah ia ingin mendengarkan. Tangannya mengepal. Ia merasa amarah dalam dirinya terus membara dan membakar dirinya. Kedua matanya mulai memerah.
“Aku mengetahuinya setelah aku melihatmu membuangnya di panti asuhan itu. Dan, secara diam-diam, aku menyelidikinya. Kau lupa? Bahwa kami, serigala pun hidup di antara manusia. Dan, di tempat itu pulalah salah satunya. Aku menjaganya, agar suatu saat bisa ku jadikan alat untuk membalas semua perbuatanmu pada Zeca. Kau tahu? Di malam ia berusia 25 tahun, aku juga yang menyuruh para serigala untuk menyakitinya. Karena, selama ini, dia berada di bawah pengawasanku. Hanya aku yang tahu kebenaran cerita ini. Bahkan, kau pun tidak menyangka bahwa anakmu kini menjadi tawananku, bukan? Aku sengaja menerimanya, agar hari ini pun tiba. Pembalasan dendamku padamu,” jelas Lupin.
Taeyeon mematung. Jiyong tidak percaya. Dan, James pun juga ikut tidak percaya dengan kebenaran yang baru saja ia dengar.
“Pembunuhan kedua orang tuanya juga salah satu bagian dari rencanaku. Agar ia jadi sebatang kara, dan datang padaku. Ternyata, semua rencana berjalan dengan sebagai mana mestinya. Tidak ada yang tahu rencana ini selain diriku sendiri,” ucap Lupin dengan bangga.
Air mata Taeyeon menetes. Ia tak dapat lagi membendung rasa sedihnya. Tepat saat Lupin menggores lehernya dengan pisau kecil itu, ia bahkan tidak menjerit. Ia menahan rasa sakitnya dan terus menatap Lupin dengan tatapan tak percaya.
“Jadi, selama ini Ayah tahu yang sebenarnya?”
Lupin mengangguk,”Sejak awal, kau adalah bagian dari rencanaku. Kau pikir, aku menyuruhmu berpatroli di tempat pertama kali kau bertemu Taeyeon itu adalah hal yang kebetulan? Tidak.”
“Ayah...”
“Kini kau tahu, bahwa kau tidak bisa bersamanya. Ia adalah anak dari pembunuh ibumu, Jiyong.”
Taeyeon mengalihkan pandangannya ke arah Jiyong yang juga menatapnya. Di sanalah rasa sakit keduanya bersemayam. Di sanalah kepedihan di antara mereka bersarang. Dan, di sanalah kekuatan cinta mereka diuji.
Setelah mendengar itu semua, James tertawa.
“Cerita yang cukup menghibur dan nyaris membuatku percaya. Sekarang, berikan dia,” kata James yang menolak untuk percaya dengan apa yang dikatakan Lupin.
“Bebaskan dia terlebih dahulu,” ucap Lupin.
James memberi isyarat pada anak buahnya untuk membebaskan Jiyong. Begitu pun Lupin, ia membawa Taeyeon semakin dekat ke arah James.
Taeyeon dan Jiyong berpapasan. Tapi, di antara keduanya tidak ada yang saling memanggil nama. Seolah kepedihan itu pun kian menjadi jurang pemisah di antara keduanya. Mereka terus berjalan hingga berlalu dan saling memunggungi.
Saat Taeyeon hampir sampai, ia menatap wajah James lamat-lamat. Dan, secara tiba-tiba, kenangan menyakitkan itu pun datang lagi. Anehnya, ia bisa mengingat wajah James saat pertama kali Taeyeon terlahir di dunia. Ia mengingat jelas bagaimana James menolak kehadirannya dan membuangnya begitu saja.
Tak butuh waktu lama, Taeyeon memberontak. Ia memberontak dari cengkraman Lupin dan pergi ke pohon di dekatnya. Di atas pohon, ia memandang semua orang dengan tatapan benci. Salah satu matanya memerah. Taringnya bermunculan. Dan, kuku tajamnya mulai terlihat.
Seketika itu juga, kumpulan awan hitam datang. Bulan pun berubah menjadi berwarna merah darah.
Dan, pada saat yang sama pulalah James menyadari adanya keanehan. Seorang vampire biasa tidak bisa mendatangkan awan hitam dan bulan merah. Hanya dia. Hanya dia yang bisa mendatangkan dua hal itu. Hanya dia dan darah keturunannya yang bisa melakukan itu.
Tapi, Taeyeon?
Hal ini membuat James goyah. Ia menatap Taeyeon dengan rasa takjub dan tak percaya.
“Anakku...” ucap James lirih. “Dia benar-benar anakku yang hilang.”
Jiyong yang tahu persis keadaan ini langsung naik ke atas pohon tempat Taeyeon berada. Sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya, ia berusaha menenangkan Taeyeon yang sudah diselimuti amarah.
“Taeyeon, tenang. Jika kau tidak bisa mengontrol dirimu, kau bisa membunuh semua orang termasuk para serigala,” pinta Jiyong.
Taeyeon menoleh ke arah Jiyong dengan marah,”Ayahmu pantas mati. Karena, dia bagian dari kematian kedua orang tuaku, Jiyong.”
“Taeyeon, tunggu! Kita bisa bicarakan ini.”
Taeyeon menyeringai.
“Aku tidak pernah tahu apapun tentang hal ini, Taeyeon. Ku mohon. Tenangkan dirimu terlebih dahulu.”
Taeyeon tidak peduli seberapa keras Jiyong memintanya untuk tenang. Ia mengayunkan tangannya ke arah Lupin.
“Dia akan jadi yang pertama mati,” kata Taeyeon.
Taeyeon membuat sebuah pisau yang ada di tangan terlepas dan melayang tepat ke arah dadanya.
“Taeyeon, ku mohon,” pinta Jiyong dengan sungguh-sungguh.
Taeyeon memilih untuk diam dan memutuskan untuk membuat pisau itu tertancap di d**a Lupin. Sedetik sebelum pisau itu bergerak, Jiyong langsung mengarahkan tangannya untuk menahan pisau itu agar tetap di udara. Kini, pisau itu hanya berjarak sekian cm dari tubuh Lupin. Jiyong dan Taeyeon saling beradu kekuatan. Meski berdiri berdampingan, namun sangat terlihat jelas hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja.
Taeyeon menoleh ke arah Jiyong kedua matanya sudah berubah warna. Tatapan Taeyeon penuh dengan benci. Begitu pun Jiyong.
“Cukup, Taeyeon! Kau bisa membahayakan kita semua.”
Pisau itu pun terjatuh ke tanah. Dan, perempuan dengan rasa sakit dan bencinya itu pun tertawa kecil.
“Siapa yang peduli jika aku membunuh kalian semua? Kalian yang lebih dulu mengacaukan hidupku. Dan, kalian pantas mendapatkan itu.”
“Taeyeon!”
“Berhenti memanggil namaku. Aku benci namaku dipanggil oleh orang yang membunuh kedua orang tuaku.”
Dengan kekuatan penuh, Taeyeon mengarahkan pisau itu ke arah Jiyong. Saat ini, pisau itu melayang tepat di hadapan Jiyong yang berada tidak jauh dari ia berdiri. Jiyong menahannya dengan kekuatannya. Hingga akhirnya Jiyong membuat Taeyeon terjatuh dari posisinya karena kekuatan Jiyong.
Taeyeon terjatuh di tanah. Dan, Jiyong yang sudah hampir kehilangan kesadarannya karena racun vampire yang menyebar dalam tubuhnya.
“Cukup, Taeyeon! Aku tidak ingin melukaimu,” katanya dengan suara parau yang hampir tidak bisa lagi ia bendung rasa sakit di tubuhnya.
“But, you did it,” kata Taeyeon sinis.
Jiyong semakin lemah. Saat Taeyeon mengerahkan lagi kekuatannya, Jiyong tak lagi dapat menahannya. Ia membiarkan dirinya terlempar dan terjatuh.
“Jiyong!” teriak Sam dan Lupin secara bersamaan yang langsung menghampiri Jiyong yang sudah terkapar.
Dan, tak lama setelah itu, sebuah anak panah berisi racun pun menghujam Jiyong tepat di jantungnya. Jiyong mengeluarkan banyak mengeluarkan darah.
Taeyeon menoleh ke arah belakang dirinya, ini merupakan ulah James dan anak buahnya.
Tanpa berpikir lama, Taeyeon langsung berlari ke arah Jiyong. Ia juga membuat Sam dan Lupin terlempar jauh dari tubuh Jiyong agar ia bisa mendekat.
“Jiyong?” panggil Taeyeon dengan panik dan sambil menekan luka di tubuh Jiyong.
“Taeyeon,” kata Jiyong dengan suara parau. “Aku baik-baik saja.”
“No. You are not,” Taeyeon menggeleng. “Kau bisa sembuh. Kau punya separuh darah vampire di dalam dirimu, Jiyong.”
Jiyong mencoba menarik panjang napasnya meski sudah semakin sulit. Ia mengayunkan tangannya yang penuh darah untuk menyentuh wajah Taeyeon.
“Aku menyayangimu, Taeyeon. Kau tahu itu, ‘kan?”
Taeyeon menitikkan air mata.
“Aku tahu, Jiyong.”
“Maafkan segala kesalahan Ayahku, Taeyeon.”
Taeyeon menggeleng. Ia semakin khawatir saat kedua bola mata Jiyong tidak lagi berwarna keemasan dan merah. Bola mata laki-laki itu kini menjadi kecokelatan seperti biasanya. Apa ‘kah ia sudah kehilangan kekuatannya?
“Kau bisa menyembuhkan lukamu sendiri, Jiyong. Kau adalah serigala setengah vampire,” tegas Taeyeon.
Jiyong menggeleng,”Bahkan kekuatan pun memiliki batasannya sendiri, Taeyeon.” Suara Jiyong semakin putus-putus dan mulai tidak terdengar jelas.
“Apa aku harus memberimu darah vampire, Jiyong?”
Jiyong menggeleng,”Hiduplah dengan bahagia dengan atau tanpaku, Taeyeon. Janji?”
Taeyeon menggeleng,”I didn’t mean to hurt you.”
“Aku tahu, Taeyeon.”
Jiyong mengusap air mata di pipi Taeyeon yang masih menatapnya. Tak lama kemudian, mata Jiyong pun kian meredup. Dan, mata kecokelatan itu pun tak lagi menatapnya.
Taeyeon berteriak memanggil namanya dengan sekuat tenaga,”JIYONG!”
“Jiyong,” panggil Lupin dengan pasrah sambil merangkak mendekat ke arah Jiyong yang tidak lagi membuka matanya.
Taeyeon berdiri dan membalikkan badannya ke arah James. Ia berjalan dan menghampiri James dengan tatapan bencinya. Setelah jarak di antara keduanya hanya berjarak sepersekian cm, James memegang tangannya. Dan, James pun menyeringai.
“Matamu benar-benar mirip dengan ibumu.”
Taeyeon memberontak. Ia melepaskan cengkaram tangan James dari tangannya.
“Jangan panggil aku anakmu. Karena, aku tidak sudi menjadi putrimu,” ucap Taeyeon ketus.
“Terserah apa katamu. Tapi, darahku mengalir di nadimu,” balas James.
Taeyeon berdecih. Dengan keberanian yang tersisa, ia mengayunkan tangannya dan membuat semua orang yang ada di tempat itu mematung dan tidak bisa bergerak.
James panik. Ia berusaha untuk memberontak. Namun, usahanya sia-sia. Ia bahkan tidak menyangka kalau kekuatan Taeyeon bisa sebesar ini.
Setelah membuat semua orang tidak bsia bergerak, Taeyeon berjalan ke arah Jiyong dan mengangkat tubuh laki-laki yang sudah tidak bernyawa itu.
Dia loncat ke atas pohon dan memandang orang-orang itu dari atas sana.
“Enjoy your party, everyone,” kata Taeyeon sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan menggunakan kekuatan dari dalam tubuhnya untuk membuat lingkaran api di sekitar mereka semua.
Semua orang pun panik. Tidak terkecuali James dan Lupin.
Mereka memohon pengampunan dari Taeyeon. Sayangnya, itu semua terlambat. Taeyeon yang ia lihat kini, bukanlah Taeyeon yang beberapa menit lalu mereka lihat. Taeyeon tak dapat lagi membendung rasa benci dan marahnya pada semua orang. Terlebih saat ia melihat kematian orang yang ia cintai tepat di depan matanya.
Kini, ia memutuskan untuk membunuh semua orang. Kecuali Sam. Ia melempar laki-laki itu jauh ke dalam hutan sana. Dan, membiarkan sisanya terbakar api yang ia buat. Setelah menyaksikan itu semua, ia pun pergi meninggalkan mereka bersama dengan tubuh Jiyong yang ia bawa.
Dan, mereka terbakar menjadi abu tanpa pertolongan dan rasa kasihan.
Begitulah benci membalaskan dendamnya. Terlalu banyak kenyataan yang tidak ingin Taeyeon dengar. Terlalu banyak kenyataan yang harus ia terima. Dan, ia menolak untuk menerima semua kenyataan yang ada di depannya.
Taeyeon pergi bersama rasa bersalahnya.
Taeyeon pergi bersama rasa amarahnya.
Taeyeon pergi bersama dengan rasa bencinya.
Di sana, di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau manusia biasa, Taeyeon menyendiri setelah menguburkan Jiyong. Ia bahkan merelakan kehidupan manusianya dan memilih untuk menjadi vampire saat ini.
Kematian para serigala dan vampire itu menyebar ke seluruh penjuru.
Dan, Taeyeon, menjadi vampire yang paling ditakuti saat ini.