***
Dengan membawa sekantung darah rusa, Jiyong menggandeng tangan Taeyeon untuk mengantarnya kembali pulang. Namun, langkah keduanya terhenti saat di sana terlihat dua orang paruh baya yang sedang menunggu Taeyeon di depan rumahnya.
Taeyeon dan Jiyong saling bertatapan.
“Kedua orang tua angkatku,” kata Taeyeon dengan cemas. “Aku harus bagaimana, Jiyong?”
Jiyong membungkukkan sedikit tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Taeyeon,”Tenang. Kau harus tenang. Kau bisa mengatasi ini. Aku akan berada di kamarmu, oke?”
Dengan tatapan cemas, Taeyeon mengangguk.
“Kau pasti bisa, Taeyeon,” kata Jiyong. “Pergi.”
Taeyeon berjalan menuju pekarangan rumahnya yang sudah kedatangan dua orang spesial dalam hidupnya. Ia merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. Ia juga berusaha menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Dari kejauhan, ia disambut senyuman dan rentangan tangan. Taeyeon menyambut pelukan kedua orang tuanya dengan hangat.
“Apa kabarmu, sayang? Ku dengar kau tidak masuk kerja selama dua hari. Ku pikir kau sakit serius,” kata sang ibu pada Taeyeon.
“Aku baik-baik saja, Ma,” jawab Taeyeon sambil melepaskan pelukannya dan membuka kunci rumahnya.
“Sepertinya dia memang butuh waktu untuk menikmati harinya,” kata sang ayah.
Taeyeon tertawa. Namun, tawanya berubah jadi rasa cemas saat ia mengingat di dalam kulkasnya ada kantung darah yang Jiyong berikan tadi.
“Pa, sepertinya aku akan izin untuk mengajukan cuti sementara waktu. Karena, aku merasa lelah dan ingin sedikit bersantai. Boleh?” kata Taeyeon pada sang ayah yang langsung diberi jawaban.
“Tentu. Kantor itu akan jadi milikmu kelak. Jika kau butuh waktu untuk beristirahat, then take your time, sweetheart.”
“Kau sudah kami anggap seperti anak kami sendiri dan satu-satunya, Taeyeon. Kehadiranmu sudah memberi warna bagi hidup kami yang selama ini sepi. Jadi, jangan sungkan jika ada apa-apa, ya?”
“I love you, Ma, Pa.”
Taeyeon terenyuh dengan ucapan kedua orang tuanya. Memang, sejak hari pertama ia diadopsi, ia selalu dihujani dengan kasih sayang dari keduanya. Apapun ia minta dan butuhkan, selalu mereka sediakan. Taeyeon tidak kekurangan kasih sayang meski ini bukan kedua orang tua kandungnya.
Taeyeon sangat beruntung bisa bertemu dengan mereka dan menjadi anak mereka.
“Taeyeon, apa kau sudah berencana akan menikah?” tanya sang ibu secara tiba-tiba.
Dengan kikuk, Taeyeon berusaha menjawab seadanya,”Nanti ya, Ma.”
“Mama ingin sekali punya cucu, Taeyeon,” lanjutnya.
“Iya, nanti ya, Ma.”
“Kau sudah punya pacar, Taeyeon?”
Taeyeon menggeleng,”Belum. Aku tidak punya pacar, Pa.”
“Jangan berbohong,” ledek sang ibu.
“Aku benar-benar tidak memiliki pacar, Ma.”
“Tapi, sepertinya di lantai itu gelang milik laki-laki yang terjatuh ya, Ma,” goda sang ayah.
Taeyeon kaget dan langsung menoleh ke arah yang dilihat sang ayah,”Gelang?”
Benar saja, ada sebuah gelang hitam yang terjatuh di lantai. Taeyeon langsung mengalihkan pandangannya ke arah tangga yang menuju tangannya.
Ah, itu pasti Jiyong. Gumamnya.
“Jika memang sudah ada pacar, kenalkan ke kami ya, sayang,” ucap sang ibu sambil mengelus pucuk kepalanya. “Siapapun pilihanmu, kami akan merestui. Asal kau bahagia.”
Air mata Taeyeon mengembang dengan ucapan demi ucapan yang ia dengarkan. Ia selalu merasa sedih saat ia melihat kedua orang tua angkatnya sedang menunjukkan seberapa besar kasih sayang mereka pada Taeyeon.
“Jangan nangis, sayang,” sang ibu mengusap air mata Taeyeon yang mulai membasahi pipi sang anak.
“Taeyeon pasti akan membahagiakan Mama dan Papa nanti. Taeyeon janji akan memberikan apa yang Mama dan Papa inginkan,” ucap Taeyeon dengan suara yang parau.
Ayah dan ibunya langsung memeluk anak perempuan satu-satunya mereka itu. Dan, tangis Taeyeon pun pecah. Begitu pun kedua orang tuanya. Mereka merasa terharu dengan kasih sayang Taeyeon yang begitu tulus pada mereka. Tak pernah mereka bayangkan bahwa Taeyeon akan menjadi anak semanis ini. Dulu, mereka pikir, mengadopsi Taeyeon akan terasa sama saja rasanya dengan membiarkan orang asing masuk ke dalam hidup mereka.
Nyatanya, lambat laun, kehadiran Taeyeon benar-benar menjadi sebuah kebahagiaan untuk keduanya. Taeyeon tidak pernah berkata tidak pada mereka. Ia selalu berusaha mewujudkan apapun keinginan mereka. Dan, Taeyeon melakukannya dengan senyum manis di wajahnya.
Kini, orang asing itu telah berubah jadi satu-satunya alasan mereka untuk bahagia. Menjadikan Taeyeon seorang anak perempuan yang paling berharga.
Pukul 20.00, kedua orang tuanya pamit untuk pulang. Taeyeon mengantar mereka hingga mobil. Ia menyandarkan tubuhnya ke mobil kedua orang tuanya. Seakan enggan berpisah dengan mereka.
“I love you. You know that, Ma?” kata Taeyeon dengan manis.
“Of curse.”
Taeyeon membukakan pintu untuk sang ibu sambil mengucap selamat tinggal pada sang ayah.
“Bye, Pa. Hati-hati di jalan. Langsung hubungi aku saat di rumah,” pesan Taeyeon pada kedua orang tuanya.
“Bye, Taeyeon. Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Mama dan Papa.”
Taeyeon mengangguk. Tak lama, mobil milik kedua orang tuanya pun mulai menjauh darinya. Taeyeon masih terus memandangi mobil mereka, hingga bayang mobil mereka pun hilang di kegelapan malam.
Dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya, Taeyeon pun masuk ke rumah dengan perasaan bahagia. Ia berjalan menuju ke arah Jiyong yang sedang mengamati gelang yang terjatuh di lantai itu.
“Sepertinya gelangmu terjatuh,” kata Taeyeon.
Tidak ingin membuat perempuan ini khawatir, Jiyong pun berbohong.
“Iya, sepertinya begitu,” jawabnya.
Jiyong sadar, ini bukan miliknya. Dan, ia kembali mencium bau serigala di sekitar rumah Taeyeon, terutama di kamarnya. Jiyong semakin mengkhawatirkan keselamatan Taeyeon. Ia mengantongi gelang itu dan berjalan ke arah Taeyeon yang masih tersenyum kepadanya.
“Keliatannya kau sebahagia itu,” goda Jiyong pada Taeyeon.
Yang digoda malah makin mengembangkan senyumnya. Tersipu malu. Pipi Taeyeon memerah. Jiyong pun ikut tersenyum padanya.
Untuk sesaat, Jiyong memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat apa yang ia khawatirkan. Saat ini, ia hanya ingin terus melihat senyumnya. Sejak pertama bertemu, ini merupakan senyuman termanis Taeyeon yang ia lihat sejauh ini.
Ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hatinya saat ia tahu identitasnya yang sebenarnya. Jika, Jiyong memberitahu kekhawatirannya saat ini, ia takut itu akan malah memperburuk keadaan Taeyeon.
Jadi, cukup. Malam ini, ia hanya ingin melihat senyum dari perempuan itu. Urusan serigala, akan menjadi bagiannya nanti.
-
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Taeyeon memberanikan diri untuk mencicipi darah hewan seperti yang Jiyong anjurkan. Dengan ragu-ragu, ia mencoba untuk mencicipinya perlahan. Dari yang awalnya ragu, setelah ia merasakannya, rasa ragu itu pun menghilang.
Aneh tapi nyata.
Darah segar itu terasa enak di mulutnya. Ia menoleh ke arah Jiyong dengan tatapan bingung.
“That’s your food, now,” kata Jiyong.
“Apa ‘kah itu berarti aku tidak bisa memakan makanan manusia lagi?”
Jiyong terkekeh kecil sambil menyingkirkan gelas yang ada di hadapannya. Ia berdiri tepat di depan Taeyeon yang sedang duduk di meja dapur. Kedua tangannya menyentuh meja tempat Taeyeon duduk, sehingga ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Taeyeon.
“Makanan manusia tidak akan bisa memenuhi rasa laparmu, baby girl,” katanya.
Mendengar kata ‘baby girl’ yang diucapkan Jiyong barusan terdengar manis di telinganya. Pasalnya, ini pertama kali ia mendengar panggilan itu dari seorang laki-laki dan dengan jarak sedekat ini.
Taeyeon tersenyum malu.
Sedangkan Jiyong, masih terus menatapnya dengan jarak sedekat ini. Laki-laki itu menatap Taeyeon tepat di manik matanya. Di detik itu juga, Taeyeon baru menyadari bahwa Jiyong memiliki warna bola mata yang indah.
Taeyeon mengayunkan jari telunjuknya, berusaha menyentuh bagian mata Jiyong. Jiyong spontan langsung menutup matanya. Baru jari telunjuknya ingin menyentuh wajah Jiyong, sang pemilik wajah langsung membuka matanya tepat saat suara lolongan serigala mulai terdengar. Tatapannya berubah jadi tidak menyenangkan. Warna bola matanya yang kecokelatan langsung berubah jadi warna keemasan di salah satu bola matanya. Dan, ia langsung menarik dirinya menjauh dari Taeyeon dan bersiap untuk pergi.
Taeyeon menyadari ada sesuatu yang tidak beres terjadi.
“Jiyong, ada apa?” tanya Taeyeon sambil menahan langkah Jiyong.
Jiyong menatap Taeyeon dengan tatapan sendu dan rasa bersalah. Ia menghela napasnya panjang.
“Maaf ‘kan aku, Taeyeon. Ini semua salahku.”
“Hah?”