Valey’s POV
Aku bangun dari tidurku. Karena aku sekarang berada di kamar, itu berarti Peter yang membawaku ke sini. Aku melihat jam dinding. 6 pagi. Ini cukup pagi mengingat semalam aku menangis di pelukan Peter hingga entah jam berapa. Oke lupakan, dan jangan berpikir macam-macam. Peter adalah sahabat terbaikku sejak kecil. Dia bahkan tidak pergi setelah sikapku yang berubah dan justru memakluminya.
Aku langsung turun dari ranjang queen size ku dan langsung menuju kamar mandi. Setelah 30 menit rutinitas pagiku selesai. Aku keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet. Aku memilih kaos putih dengan kemeja kotak-kotak berwarna hijau tua dan sebuah jeans. Setelah berpakaian aku langsung menuju ruang makan.
Sepi. Hal pertama yang kulihat. Ya maklum lah karena ini masih pukul setengah tujuh pagi. Karena bosan akhirnya aku pergi ke dapur. Dapat ku lihat para omega yang sibuk mempersiapkan sarapan. Tiba-tiba ketua omega melihatku dan terkejut.
“Astaga. Alpha” sapa ketua omega tersebut sambil membungkuk. Seketika kegiatan di dapur terhenti dan melihat ke arahku. Segera semua omega membungkukkan badan mereka.
“Kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Aku hanya ingin mengambil segelas air”
“Kenapa Alpha tidak menyuruh seseorang saja untuk mengambilkannya”
“Aku hanya ingin. Sekarang silahkan lanjutkan pekerjaan kalian”
“Baik Alpha” ketua omega tersebut memberi isyarat dan seluruh omega kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Aku kembali ke tempat dudukku di meja makan. Masih sepi. Aku mulai bosan, akhirnya ku putuskan untuk pergi ke ruangan ku.
***
Ku lihat tumpukan kertas yang sangat menyebalkan. Menyebalkan memang karena tugas ‘Alpha’ ini tidak cocok untuk seorang ‘Luna’. Ya mau bagaimana lagi karena akulah ‘Alpha’ tersebut dan bukan ‘Luna’ karena memang aku belum menemukan mate ku.
Ku lihat kertas-kertas tersebut sampai aku menangkap sebuah kertas yang terlihat seperti undangan. Tunggu dulu, undangan? Kenapa aku tidak tau?
Kulihat tulisan di undangan tersebut. Red Eclipse Moon Pack. Undangan pengangkatan Alpha baru. Red Eclipse Moon Pack memang akhir-akhir ini tidak terlihat karena sedang ada masalah pada pack tersebut. Bahkan pertemuan para Alpha yang terakhir pun tidak hadir.
Aku pun langsung memindlink Peter, Betaku. Aku akan meminta penjelasan kepadanya. Tak berapa lama pintu ruangan diketuk. Setelah ku persilahkan masuk, terlihat lah sesosok Peter yang terlihat dengan wajah ala-ala bangun tidur dan pakaian yang dibuat serapi mungkin dengan terburu-buru, meski tetap tidak rapi menurutku.
“Undangan apa ini Peter? Kenapa aku tidak tau?” tanyaku to the point.
Peter nampak melihat undangan tersebut dan terkejut melihatnya.
“Emm, u-undangan ini diberikan ketika Alpha pergi setelah interogasi rouge kemarin. Ma-maafkan saya Alpha, saya melupakan hal penting seperti ini.” Terlihat wajah Peter yang menunduk dan menyesal.
Aku melihat Peter datar. Akhirnya aku pun mengembuskan nafas. Mau bagaimana lagi. Ini juga salahku. Karena kemarin aku marah dan pergi, pasti Peter khawatir dengan ku. Ditambah lagi Peter bertemu denganku malam hari dengan aku yang bersedih.
“Baiklah aku memaafkanmu. Sekarang kau kembali dan mandi. Akan ku tunggu di ruang makan.” Peter langsung bangkit tak percaya.
“Baiklah Alpha” segera Peter pergi meninggalkan ruangan.
***
Setelah melihat jam aku akhirnya turun lagi ke ruang makan. Sarapan akhirnya dimulai. Meja makan sepi tanpa ada yang berbicara. Hanya suara dentingan sendok dengan piring. Ruang makan ini cukup sepi. Hanya beberapa orang. Mau bagaimana lagi, aku memang sebatang kara di sini. Setelah selesai sarapan, semua pamit untuk bekerja ke bagian masing-masing. Tersisa aku dan Peter di ruang makan.
Hening. Tidak ada yang memulai percakapan. Ini terlihat sangat canggung. Apa Peter masih mengkhawatirkan yang tadi?
“Va-Val?” suara Peter mulai memecah hening.
“Hmm”
“Kau.. tidak marah, kan? Maafkan aku, Val”
Aku menatap Peter. Dapat ku lihat dia masih merasa bersalah. Ya ampun, itu hanya masalah kecil. Apakah aku selalu semenakutkan itu. Um, tunggu dulu. Itu mungkin saja. Aku selalu bersikap dingin pada yang lain. Tapi sepertinya aku tak selalu begitu pada Peter.
“Maafkan aku Val” melihat wajah Peter menyedihkan muncul sebuah ide di benakku
“Oke aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.” ku lihat Peter menaikkan kepalanya melihatku.
“Kau dan aku. Melakukan latihan tanding”
Peter menegang seketika. Ya aku tau, tidak ada yang mau latihan tanding denganku. Bukan karena aku Alpha jadi mereka segan untuk latihan, namun karena setiap yang menjadi lawan tanding ku pasti mereka semua masuk rumah sakit.
“Ta-ta-ta-tapi tapi..”
“Tidak ada tapi tapian. Ku tunggu kau di camp pelatihan pukul 10 nanti.”
Aku langsung meninggalkan Peter yang membatu di meja makan. Meskipun aku tetap memperlihatkan wajah dinginku, namun entah mengapa hari ini aku sedikit gembira. Tak terasa senyuman kecil tersungging di wajahku.
***
Peter’s POV
Aku berkeringat dingin. Aku akan bertanding dengan Valey? Tidak. Itu tidak mungkin. Tidak aka nada seorang pun di pack ini yang bisa menang melawan Valey. Ia orang yang sangat hebat. Ou, kenapa Valey harus mengatakan itu?
‘Semoga kau beruntung.’
‘Hey. Kau harus membantuku. Jika aku terluka parah kau juga akan terkena dampaknya juga!’
‘Aku akan berdoa semoga aku tidak kenapa-kenapa.’
Serigala ini. Kenapa sikapnya seperti itu?! Apa karena aku akan bertanding dengan Valey ia jadi menghindar seperti itu? Awas saja kau, Roy.
‘Kau sebaiknya mempersiapkan diri. Pakai pelindung atau apa.’
Ah, itu benar. Aku akan mencari pelindung yang bagus. Sekarang jam berapa? Tunggu. Bagaimana mungkin sekarang hampir jam 10? Apa karena aku terlalu khawatir. Aku harus cepat. Aku harus segera mencari baju pelindung.
Aku berlari ke dalam camp pelatihan. Aku langsung saja pergi ke gudang, tempat kau memilih senjata dan armor. Armor. Itu dia. Aku akan mengenakan armor saja. Armor, armor, armor.
Aku akan memakai armor ini saja. Ah tidak, ini saja. Umm, ini juga. Lebih banyak lebih baik. Apa senjata yang mungkin Valey pilih nanti ya? Hm? Pedang yang bagus. Mungkin saja ia ingin memilih latihan tanding dengan pedang. Baiklah, aku akan menggunakan pedang ini. Semoga persiapanku ini sudah cukup. Oh, aku khawatir sekali.
Author’s POV
“Jadi, bagaimana kabar rencanamu?” tanya seorang pria paruh baya yang terlihat mengerikan.
“Tentu saja berjalan cukup baik” jawab seorang pria tinggi dengan mata hitam menawannya.
“Namun ku dengar rencana penyerangan dengan rouge gagal.”
“Memang, tapi tidak apa. Paling tidak aku tau bagaimana kekuatannya sekarang.”
“Kau memang bisa diandalkan. Kau memang sangat mirip ibumu ketika menyusun rencana. Penuh dengan taktik.”
“Jangan sebut ibu lagi. Ibu sudah tiada. Tak ku sangka ayah, kau bisa bertahan sebagai unmate sampai sekarang.”
“Rasa dendam ku lebih besar dari rasa sakit kehilangan mate. Aku tak akan tenang sampai semua keturunannya menderita.”
“Bagaimana dengan dia?”
“Ah, aku sudah menyuruh 5 werewolf terbaik untuk mengejarnya. Kita tunggu saja laporan dari mereka.”
Pria pruh baya itu tersenyum jahat. Ia terlihat sudah memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Selain itu, ia juga memiliki kekhawatiran akan sebuah ramalan. Ia harus bertindak secepat mungkin.