Adrian nyaris menjatuhkan mug kopinya sendiri saat pintu rumah terbuka dan Kalma masuk. Sepagi ini, dan dia muncul? Ada dua kemungkinan: dia sedang kesal atau sedang gabut. Apapun itu, tampaknya bukan untuk alasan yang menyenangkan.
Kalma masuk lebih jauh. Bahkan, tanpa perlu banyak effort dia sudah menjangkau sofa terdekat. Seperti biasa—tanpa ekspresi, tanpa menyapa meski dia sudah mencium aroma keberadaan Adrian yang sedari tadi mengawasinya. Dia justru cuek saja duduk manis sambil mengeluarkan ponsel. Dia mengeceknya sebentar, lalu mengabaikannya kembali. Tampak benar-benar tidak bersemangat untuk itu.
Detik berikutnya, yang dilakukannya hanya bengong menatap langit-langit. Tiba-tiba dia kepikiran soal rumah ini—rumah Adrian. Sudah lima tahun dia keluar masuk rumah ini, satu yang bikin dia kagum adalah kehangatannya. Meski isinya.. yah, kayak rumah pada umumnya dan penghuninya cuma Adrian si paling mandiri itu. Tidak banyak barang, rumah ini terlihat cukup sederhana bagi Billionaire kayak Adrian. Tapi sofanya nggak pernah dingin. Kulkasnya nggak pernah kosong. Dan rumahnya selalu rapi dan bersih.
Sementara itu, Adrian berdiri terpaku di dekat mesin kopi. Dia nyaris seperti kamera pengawas yang sejak tadi hanya diam dan mengawasi. Pria itu lagi bertanya-tanya apa kiranya yang dipikirkan wanitanya saat ini. Apakah itu soal Adrian? Atau soal makhluk-makhluk buruannya?
Adrian menarik napas dalam, akhirnya memutuskan buat menyapa, “Merindukan aku, eh?” Tentu, menyapa dengan cara Adrian. Tengil.
Wanita itu mendongak. “Apa?” tanyanya. Kayaknya enggak mendengar jelas kalimat Adrian barusan, atau memang sengaja membalas begitu.
Suara itu biasa saja. Datarnya bukan main. Seolah yang terjadi dua malam lalu itu cuma kecelakaan kecil—kayak typo di chat yang nggak penting. Bisa dilupakan begitu saja, soalnya perkara remeh bnget. Padahal bagi Adrian itu sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa bikin malam-malam nya setelah itu jadi berbeda. Sesuatu yang bikin hidupnya mulai nggak tenang. Bukan dalam arti negatif, tapi sebaliknya—seperti sesuatu yang akhirnya membuat hidup Adrian lebih b*******h lagi. Seolah-olah ‘malam itu’ meninggalkan jejak yang membara dalam diri Adrian.
Adrian terkekeh. Dia berjalan ke arah meja dan pilih bersandar di sana. “Ada cerita apa hari ini? Kamu nggak kenapa-napa, kan?”
Kalma mengangkat alis. “Kenapa? Haruskah aku kenapa-napa?”
“Nggak gitu. Cuma mau memastikan kamu nggak dicakar makhluk buron itu.”
“Aku nggak selemah itu, Adrian. Meski kena senjata sekalipun aku nggak akan mati.”
“Idihh! Sombong banget kamu.” Adrian meledek jenaka. Menatap Kalma dengan geli.
“Itu memang sifat iblis kalau kamu lupa.”
“Ya, ya, ya. Si paling iblis.”
Kalma tidak membalas lagi. Wanita itu sibuk duduk setengah rebahan di sofa sambil mantengin kuku barunya yang baru aja di-nail arts. Kakinya menjuntai ke lantai.
Adrian sempat ragu, tapi kemudian dia kembali bersuara. “Kamu nggak ngomong apa gitu ke aku?” Katanya. “Maksudku, biasanya orang yang…” Dia menjeda dengan dehaman kikuk. “... setelah melakukan ‘itu’—setidaknya, ngomong, atau…”
“Ngomong apa?” Potong Kalma tangkas sambil menegakkan duduknya. “Ngucapin terima kasih? ‘Terima kasih Adrian sudah bikin aku berkeringat kemarin malam. Terima kasih sudah bikin aku menjeritkan namamu sekali’. Begini?” Itu bukan pujian, sudah sangat jelas itu ledekan.
Pipi Adrian langsung bersemu merah. Dia sempat ingin membuka mulut, tapi kemudian menutupnya lagi. Meski agak menyebalkan karena kalimat kalma kedengaran seperti lelucon, tapi tetap saja jantungnya berdebar kencang karena itu. Apalagi jika dia mengingat malam itu, seolah kupu-kupu langsung berterbangan di perutnya.
“Kamu nggak menyesal, kan?”
Kalma menatap Adrian sejenak, dia tidak langsung menjawab. Membiarkan Adrian menciptakan spekulasinya sendiri. Itu membuat bahunya merosot turun. Hatinya mencelos. Sudah jelas dia di sini antusias sendirian, sedangkan Kalma tampak biasa saja.
“Surprisingly, enggak sih,” jawab kalma santai. “Ranjangmu hangat. Kurasa itu poin plus-mu.”
Sontak Adrian nggak jadi galau. Dia justru terbahak dengan jawaban kalma. “Jadi hanya ranjangku yang hangat? Bagaimana denganku?”
Kalma mengedikkan bahu. “Kalau kamu nggak konsisten. Kadang hangat, kadang dingin. Manusia memang selemah itu, ya?”
Tipikal Kalma—selalu jujur.
Adrian justru meniru sikap Kalma yang acuh tak acuh, dia hanya mengangkat bahunya santai. Sejenak meletakkan mug-nya ke meja sebelum beranjak mendekati Kalma.
Beberapa langkah saja dia langsung bisa menjangkau wanita itu. Adrian agak membungkuk, meletakkan kedua tangannya di masing-masing lengan sofa Kalma, mengurung wanita itu di antara lengannya. Dia menunduk, seinchi di hadapan milik Kalma. Adrian berbisik lembut, “Jangan bunuh aku.”
“Kenap–”
Kalimat itu tidak pernah selesai, keburu dibungkam oleh bibir lembut Adrian.
***
Kejadiannya begitu cepat. Adrian hanya bisa bengong kayak orang habis kena hipnotis ketika Kalma melesat pergi begitu saja. Masalahnya adalah mereka sudah setengah jalan. Sedikit lagi saja mereka mencapai k*****s. Tapi karena panggilan tugas, Kalma harus pergi.
“Ruhka sialan!” Adrian mengumpat sepenuh napsu. Dia membenamkan wajahnya dengan kesal di bantal. Sementara itu di balik selimut, tubuhnya masih sepenuhnya naked dan tersiksa. Baju-bajunya berserakan di lantai bersama pakaian dalam Kalma juga.
“Fvck!” lagi-lagi dia mengumpat. Kena tanggung benar-benar nggak mengenakkan.
Berbeda dengan Adrian yang tak berhenti mengumpat karena kekesalannya, Kalma justru sudah asik di lantai dansa. Dikerubungi para pria. Kenapa dia bisa di sini? Tentu saja Ruhka yang mengundangnya.
Bermula dari sebuah jejak yang ditangkap radar ponsel Kalma—dimana ruhka terdeteksi sedang berada di pusat kota norwyn, tepatnya di hotel bintang lima paling besar di kota, The Elowen Grand. Dan di sinilah Kalma berada—SkyVault Bar & Club di lantai 48. Salah satu fasilitas jempolan yang dimiliki hotel tersebut. Bar privat dengan pemandangan kota Norwyn dari ketinggian, dikenal dengan live jazz performance dan mixologist kelas dunia.
Black Velvet di tangan kirinya nyaris tak berguncang, bahkan saat tubuhnya ikut larut dalam irama yang menghentak dari lantai dansa. Cahaya strobo menari di kulitnya, memantulkan semburat ungu ke mata tajam yang tak benar-benar sedang bersenang-senang itu.
Kalma menyusup dalam keramaian dengan mudah—berbaur bersama manusia-manusia beraroma alkohol, keringat, dan parfum mahal yang berdesakan dalam kegembiraan palsu. Musik berdentum seperti jantung kedua, memaksa siapa pun untuk bergerak, atau paling tidak mengangguk pelan.
Dia ikut menari. Sedikit. Secukupnya untuk tidak mencurigakan.
Tapi fokusnya tidak pernah lepas dari satu titik—seseorang di dekat bar yang gelasnya sudah kosong sejak sepuluh menit lalu. Orang itu tidak menari. Tidak bicara. Tidak mabuk. Tapi tidak pergi.
Dan itu mencurigakan.
Ponsel di saku jaket kulitnya tadi bergetar dua kali. Sinyal ruhka terdeteksi—dan sekarang Kalma semakin yakin, dia tidak salah tempat.
Dengan satu tegukan terakhir, minumannya habis. Manis, pahit, dan jejak malt masih tertinggal di lidah.
Kalma mengayunkan pinggulnya sekali lagi, lalu melangkah keluar dari kerumunan. Membuat para pria yang tadi mengerubunginya mendesah kecewa. Kalma berjalan anggun, matanya mengunci mangsanya. Senyum tipis muncul.
Pertunjukan dimulai sekarang.
***
Minuman di tangannya tinggal sisa buih. Kalma menggoyangkan gelas itu pelan, lalu menyesap habis sisa Black Velvet-nya sebelum melangkah meninggalkan lantai dansa.
Langkahnya santai nan anggun, tapi matanya tak pernah beralih, selalu mengunci di satu titik sejak tadi. Meja bar paling ujung, tempat seorang perempuan duduk sendiri dengan gelas kosong. Wajahnya cantik dengan kesan manis. Dia tampak muram, menatap dirinya sendiri di pantulan gelasnya yang kosong. Meski jelas dia jadi objek lirikan para pria di sekitarnya, dia tidak peduli. Bagaimanapun, belahan dress hitamnya kini mempertontonkan paha mulusnya. Itu terlalu sayang untuk dilewatkan siapa saja yang punya mata.
Kalma melirik bartender. “Satu lagi,” katanya, lalu menoleh ke gadis itu. “Dan satu buat dia.”
Yang disebut namanya auto mendongak. Mata mereka bertemu. Kalma hanya mengangkat bahu santai. “Keberatan dapat minum dari orang asing?”
Perempuan itu menggeleng, dia tersenyum tipis. Tampaknya tak keberatan dengan aksi kalma itu. Walau dia tak lantas bilang apapun. Ruhka yang ini benar-benar super kalem, batin kalma.
Kalma menarik kursi di sampingnya, duduk santai seolah mereka sudah kenal lama. “Bar ini nyediain banyak pilihan, tapi kamu malah duduk bengong dengan gelas kosong. Sengaja lagi milih minuman atau milih pikiran?” dia setengah bercanda.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Lagi milih diam. Kurasa itu lebih berguna.”
“Tapi kamu nggak keberatan kan duduk sama orang asing?”
“Kalau orang asingnya pinter pesen minuman, aku bisa kompromi.”
Kalma tertawa pelan, lalu menyesap minumannya. “Deal,” katanya. “Namaku Kallie.”
“Liora,” jawab si ruhka, menyebutkan nama dengan jeda singkat, seolah menimbang perlu tidaknya percaya.
Kalma tidak buru-buru bicara lagi. Ia tahu diam kadang lebih menarik daripada basa-basi. Dan di sela dentuman musik, dua perempuan duduk bersebelahan—saling mengamati, tapi tak satupun dari mereka benar-benar membuka identitas aslinya.
Tapi satu hal pasti. Kalma tahu langkahnya sudah tepat—dia sedang duduk di sebelah buruannya.
“Aku selalu penasaran kenapa tempat ramai begini justru bikin orang merasa paling sepi,” gumam Kalma sambil memainkan sedotan di gelas barunya. Dia memulai kembali percakapan.
Liora tertawa pelan, “Mungkin karena kita tahu nggak ada satu pun yang benar-benar melihat kita.”
“Gitu ya?” Kalma menoleh, matanya menelusuri garis wajah Liora. “Padahal kamu gampang banget dilihat.”
Liora mengangkat alis. “Itu gombalan murahan?”
“Itu fakta. Mau kamu terima atau tidak, terserah. Bahkan para pria di sini pasti juga setuju dengan itu.” Kalma mengedik pada sekumpulan pria yang terang-terangan menatap mereka tanpa berkedip. Ibaratnya Kalma dan Liora ini adalah umpan paling menggiurkan di mata para ikan kelaparan. Tidak heran mereka jadi pusat perhatian.
Liora tertawa lagi, lebih lepas. “Aku suka gaya kamu. Nggak maksa, tapi kena.”
Kalma mengangkat gelasnya, “Cheers for that.”
Mereka saling menyesap gelas masing-masing. Musik berganti, masih sama bisingnya tapi suasana terasa lebih... santai. Kalma melirik Liora yang sekarang duduk bersandar, bahunya agak miring ke arahnya. Gestur itu—dia mulai nyaman dengan keberadaan kalma.
“Jadi... kamu kabur dari siapa?” tanya Kalma random, seolah-olah candaan. Tapi sebenarnya ada maksud tersembunyi di baliknya.
Liora terkekeh. “Dari semua orang yang bilang hidup harus sempurna. Capek nggak sih pura-pura baik-baik aja?”
Kalma mengangguk. “Aku ngerti. Aku juga capek pura-pura banyak hal. Terlalu banyak tuntutan bikin hidup nggak tenang.”
Liora terkekeh. Dia menanggapi dengan guyonan. “Termasuk pura-pura jadi teman ngobrol yang kebetulan baik hati?”
Kalma menatapnya balik dan tersenyum. “Yang ini pengecualian.” Dia nyengir.
Liora terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku seneng bisa ketemu kamu malam ini. Kamu beda.”
“Gitu ya? Aku juga seneng deh. Rasanya kayak... aku lagi duduk bareng temen lama yang nggak sengaja ketemu lagi setelah lama ilang.”
“Padahal baru kenal.”
“Mm-hm. Kadang koneksi nggak butuh waktu panjang,” jawab Kalma sambil menyesap lagi minumannya. “Cuma butuh satu hal—sama-sama butuh ngobrol.”
Dan untuk beberapa menit ke depan, mereka ngobrolin banyak hal. Tentang perempuan kuat yang selalu dianggap berlebihan, tentang mantan-mantan menyebalkan, tentang kopi pagi yang selalu lebih enak diminum pelan-pelan, bahkan tentang kebiasaan aneh masing-masing saat bosan. Tawa mereka mengalir begitu saja di tengah bisingnya musik dan aroma alkohol.
Liora tertawa paling keras saat Kalma mengaku pernah ketiduran di toilet umum karena terlalu lama ngumpet dari mantannya.
Di balik semua itu, di balik sikap Kalma yang tetap tenang. Dia tahu waktunya akan datang. Tapi malam ini, dia hanya butuh satu hal: membuat Liora percaya padanya sepenuhnya.
Dan sejauh ini, rencananya berjalan sempurna.