“Namaku Layla. Hanya itu, kurasa. Tak ada nama belakang.” Ada 17 anak dan aku bisa melihat mata mereka semua yang tertuju padaku. Atau mungkin, pada rambut putihku. Hanya sang guru yang tidak terlalu tertarik. Pria tua bertubuh pendek itu terus menguap sejak masuk ke kelas.
Aku memilih untuk duduk di posisi yang tidak mencolok, dimana mereka akan kesulitan untuk memperhatikan. Sayangnya, itu tidak berhasil untuk gadis di sampingku. Dia terus menatapku dengan mata berbinar-binar.
Aku berusaha mengabaikannya dan terus menatap ke depan. Menyimak penjelasan sejarah dari sang guru agar mereka mengira aku sedang fokus. Walaupun sebetulnya fokusku adalah untuk hal lain. Aku masih ingat wajah anak itu dan sayangnya dia tidak di kelas yang sama denganku.
Sekolah memang memberi seragam berupa kemeja putih dan bawahan hitam. Tapi kebanyakan anak melapisinya lagi dengan jaket. Karena itu kupikir akan sulit menemukannya. Terlebih dari tampangnya yang seperti seorang penyendiri.
“Baiklah apa rambutku benar-benar mengganggu?” kataku akhirnya.
Gadis itu terkekeh pelan. “Tidak, kau sangat cantik, sungguh.” Dia mengulurkan tangan sembunyi-sembunyi. “Namaku Nina.”
“Oh, Nina.” Aku menjabatnya. “Kau sudah tahu namaku, kan”
Lagi-lagi dia terkekeh. Meski kami berbicara diam-diam, aku ragu guru di depan akan terganggu bahkan meski kami bicara dengan keras. Suasana kelas sendiri tak begitu kondusif. Sebagian seperti kami, mengobrol dengan teman di sampingnya. Sebagian lagi bahkan sudah menjelajah di dunia mimpi.
“Apa rambutmu benar-benar asli?” Tanyanya.
“Tentu saja.”
“Wow, aku tahu ada orang yang rambutnya pirang sejak lahir. Ini pertama kalinya aku lihat yang warna putih. Apa kau tinggal di daerah bersalju?”
“Hanya karena warna salju itu putih tidak semua orang yang tinggal di sana rambutnya putih.”
Dia tertawa lagi. Walaupun hanya duduk, aku bisa menebak dia lebih tinggi dariku. Ada beberapa bercak merah di wajahnya. Rambut aslinya jelas berwarna hitam, tapi ada beberapa helai yang dicat berwarna biru.
“Hati-hatilah,” bisiknya. “anak laki-laki pasti mulai mengincarmu sekarang.”
Tadinya kupikir Nina mengetahui apa yang terjadi semalam dan mencoba memperingatiku. Namun firasatku mengatakan ini tentang sesuatu yang lain.
Sisa kelas berjalan membosankan, bahkan walau mata pelajaran sudah berganti tiga kali. Saat waktu istirahat, Nina mengajakku ke kantin yang berada di lantai tiga. Aku memutuskan untuk menutupi rambutku dengan tudung jaket.
Kami melewati jalan yang berbeda dari lorong semalam. Aku mencoba melirik setiap anak yang melewati kami, tapi tak satupun petunjuk yang muncul. Nina bilang, untuk mendapatkan makanan di kantin, sekolah ini menggunakan sistem poin. Lewat nilai ketika ujian, ataupun tugas-tugas kecil. Semakin baik nilainya semakin banyak poin yang mereka punya. Tapi, beberapa anak menyembunyikan uang untuk mendapatkan barang lebih banyak ketika poin yang mereka miliki sedikit.
Karena tak mempunyai poin, Nina yang mentraktirku. Satu porsi makan siang dan jus. Kami duduk di meja yang masih kosong. Aku sedikit bernapas lega karena pandangan orang-orang sudah agak berkurang.
Di depanku, Nina makan dengan lahap. Di luar dugaan dia adalah orang yang tenang saat sedang makan. Saat mengamati wajahnya aku bisa melihat beberapa bekas tindikan di kuping dan memar samar di bawah mata kirinya.
“Kenapa kau berakhir disini?” tanyaku.
“Yah, sebenarnya aku juga baru beberapa hari disini,” Dia tersenyum jahil, “Kau ingin tahu? Coba tebak.”
“Aku pikir ada dua kemungkinan. Tapi dari bagaimana kau terus memandangi celana belakangku sejak tadi, kupikir aku tahu. Maaf saja, tapi aku tak punya dompet.”
Jawaban itu membuatnya tersedak. Alih-alih tersinggung, Nina kembali tertawa. “Semudah itu, ya. Kau benar. Asal kau tahu aku ini cukup ahli dalam mecuri. Terakhir kali, aku hanya tidak beruntung.”
Aku tak meneruskan topik itu. Dari ekspresi terakhirnya saja sudah jelas. Itu kenangan yang menyakitkan.
“Kau sendiri kenapa?”
Pertanyaan seperti itu sudah kuperkirakan. Aku menoleh untuk memastikan tak ada yang memperhatikan lalu menyuruh Nina untuk mendekat. Aku menarik lengan jaket dan seketika Nina mengerutkan kening. Dia menatapku kasihan. “Sejak kapan?”
“Entahlah, aku tak ingat.”
“Tak apa, semua orang punya dosa, kan. Terima kasih sudah berbagi, ya.”
Jika posisi kami sama aku akan mengapresiasi perkataannya. Sayangnya nasib kami benar-benar berbeda. Setiap orang memang punya dosanya masing-masing. Tapi tidak seperti kami, mereka punya kesempatan untuk menebusnya.
Aku menutup kembali lengan jaketku. Menyembunyikan banyak bekas sayatan di sana. Beberapa bekas sayatan bahkan masih baru. Tapi itu bukan seperti yang Nina pikirkan. Ada hal-hal tertentu yang membuatku terpaksa melakukannya.
Kami melanjutkan makan hingga habis. Saat itulah aku melihat wajah-wajah yang tak asing. Tiga anak perundung semalam. Ketika berjalan di kantin, orang-orang menghindari mereka. Bahkan Nina berusaha menghindari kontak mata. Sebaliknya, aku terus menatap mereka. Saat tatapan kami tak sengaja bertemu, mereka lah yang berusaha menghindar.
“Kelompok Jira, kau harus hati-hati dengan mereka.” bisik Nina.
“Hmm, kenapa?”
“Mereka yang paling bermasalah di sini. Katanya mereka pernah membunuh orang.”
Dilihat dari wajahnya itu tidak mengherankan. Mereka tampak tua dan menyeramkan. Dengan beberapa bekas luka dan tubuh kekar. Tapi mereka bukan lagi masalah buatku.
“Beberapa minggu ini mereka bersikeras tentang hantu bayangan. Banyak yang tidak percaya, tapi rumor itu menjadi hangat belakangan ini.”
Perhatianku tergelitik. Ini info yang kunantikan.
“Layla dengar,” Nina berbicara pelan. “ada dua hal yang harus kau hindari di sini. Pertama kelompok Jira. Dan kedua anak yang bernama San.”
Aku sontak menegang. “San?”
“Penampilannya tidak aneh. Dia cuma anak suram dengan rambut hitam berantakan dan selalu memakai sweter hitam. Hanya saja, rumor tentang hantu bayangan itu muncul setelah kedatangannya. Banyak yang bilang San lah yang membawa hantu itu.”
Aku tak ingin menganggapnya kebetulan belaka. Tapi kurasa semua hal ini sudah saling berkaitan. Setelah suapan terakhir berlabuh di lambung, akupun tersenyum. “Nina, aku ingin mendengar lebih banya tentang, San.”
***
Nina tak memberikan informasi yang spesifik. Hanya beberapa hal tentang San yang kelasnya satu tingkat di atas kami dan bagaimana sikapnya yang terkesan misterius selama ini. Selebihnya, Nina tak banyak membantu.
Aku butuh informasi itu sesegera mungkin. Dalam dua minggu aku harus pergi, dan jika dalam seminggu ini aku bahkan belum berbicara dengannya, aku khawatir dia tidak akan siap.
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk merubah rencana. Saat jam istirahat, setelah mengambil porsi makan siang bersama Nina, aku mencoba bergabung bersama kelompok Jira dalam satu meja. Hal itu membuat seisi kantin seakan berhenti berdetak. Mereka menatapku kaget, bahkan Nina dan tiga anak jelek di depanku.
“Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi.” Sapaku dengan nada riang. “Mereka kenalanku saat di luar, Nina. Ayo duduk disini saja.”
Nina ragu-ragu. “Eh, kurasa aku akan ke kamar mandi dulu.”
Walaupun aku yakin Nina tak akan kembali. Bahkan setelah ini mungkin dia akan menjaga jarak denganku. Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak lagi berusaha menutup diri. Dengan cara ini, kupikir akan lebih cepat.
Di depanku, ketiga anak lelaki itu tampak kikuk. Wajah mereka tampak keras dengan rambut tipis dan bekas luka jahit di bibir. Aku tidak akan terkejut jika mereka benar-benar pernah membunuh orang. “Pasti kau yang namanya Jira.” Tunjukku ke anak dengan tubuh paling besar dan rambut kecokelatan yang hampir botak. Aku ingat dialah yang menekan kepala San ke lantai. Dua anak yang lain berusaha menghindari kontak mata.
“Apa maumu?” tanya Jira.
“Berkenalan.”
Meski tidak seagresif kali terakhir, Jira masih terus memelototiku. “Setelah yang kau lakukan pada kami malam itu kami tak bisa bangun sampai pagi dan harus berakhir di ruang kepala sekolah.”
“Ah, maaf. Mari kita lupakan yang sudah-sudah.” Jawabku berusaha mengelak. “Namaku Layla.”
Lama memelototiku, Jira menghembuskan napas panjang. “Aku Jira, ini Ben dan Ren.”
Aku mencoba tersenyum sekalipun rasa takut masih terlihat di mata mereka. “Kudengar kalian melihat tingkah aneh San dan hantu bayangan. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang itu.”
Topik itu membuat mereka tersentak. Salahku mungkin karena tidak lagi berbasa-basi.
“Katakan dulu apa maksudmu kami tahu terlalu banyak.”
“Ah, itu tidak penting. Sekalipun kalian tahu pun tidak ada yang berubah.”
“Kalau begitu kami juga tidak perlu mengatakannya.”
Kuakui aku sangat ingin memukuli mereka sekali lagi agar masalah ini cepat selesai. Tapi itu pasti akan menimbulkan masalah baru. Aku menoleh ke sekeliling, tatapan orang-orang masih tertuju padaku meski sembunyi-sembunyi karena keberadaan kelompok Jira. “Yah, aku akan bilang begini saja. Hantu bayangan yang kalian lihat itu benar-benar nyata. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa kalian atasi.”
Untuk pertama kali aku melihat Jira menyeringai. Giginya tidak lengkap dan itu menambah kesan seramnya. “Maksudmu kami tidak salah lihat. Dan anak b******k itu benar-benar memanggilnya kesini.”
“Entahlah. Kalau tentang San, aku harus memastikannya dulu.”
Pandangan tiga orang itu padaku pun berubah. Mereka tidak lagi memelotot dan menatapku kagum. “Apa kau kemari untuk mengatasi masalah ini?” tanya Ben.
“Ya.”
“Apa kau semacam agen khusus yang sering ada di film?” tanya Ren.
“Mungkin. Aku tak tahu kau bicara apa.”
Bahkan sorot mata Jira kini tampak berbinar-binar. “Apa kami dapat uang kalau membantumu?”
“Apa aku harus memukuli kalian lagi supaya berhenti menanyakan hal aneh?”
Beberapa menit kemudian aku mendengarkan Jira bercerita. Mengabaikan pertanyaan aneh Ben dan Ren yang masih percaya bahwa aku adalah agen rahasia.
“Kejadiannya beberapa hari yang lalu, setelah anak itu datang kemari.” Kata Jira. “Dia memang datang bersama rombongan lain di bus. Anehnya, tak ada yang menyadari keberadaanya sebelum sampai di sini. Desas-desus mengatakan bahwa anak itu mengeluarkan hawa yang aneh. Seakan dia itu adalah sesuatu yang asing. Aku yakin kau akan bisa merasakannnya dengan jelas.”
Memang, tapi aku tak menyangka bahkan orang biasa bisa merasakannya. Aku tidak berpikir akan jadi separah ini.
Jira melanjutkan. “Ben dan Ren yang pertama melihat hantu bayangan. Mereka bilang mahluk itu muncul dari dinding dan menghilang begitu saja. Kupikir itu penampakan yang wajar di sini. Tapi aku salah. Aku pernah melihatnya sendiri saat berpas-pasan dengan anak itu. saat dia berjalan, bayangannya beriak seperti air.”
“Jira sudah bersikeras tentang masalah ini pada yang lain.” Timpal Ben. “Sayangnya mereka hanya percaya karena takut pada kami.”
“Apa ada bukti lain yang lebih jelas?” tanyaku.
“Dia menghilang saat kami kejar. kemarin malam juga begitu, kan? Apa bukti itu masih kurang?”
Aku terdiam sejenak, berpikir. Dari semua informasi yang Jira paparkan semuanya sudah jelas. Bahkan aku melihat dan merasakannya sendiri. “Itu sudah cukup. Terima kasih.”
“Apa kami perlu menangkapnya untukmu?” tanya Ren menawarkan bantuan.
Aku menggeleng dan berdiri. “Tidak. Kalian berhentilah mengejarnya. Lagipula anak itu juga tak tahu apapun.”
“Maksudmu, dia hanya diikuti atau apapun semacam itu?”
“Barangkali. Mulai sekarang jangan keluar lagi kalau pintu kamar sudah terkunci.” Aku berjalan meninggalkan kelompok Jira. Di belakangku, mereka melanjutkan obrolon tentang betapa angkernya sekolah ini sekarang.
Seandainya memang semudah itu, aku tak perlu repot-repot melukai lenganku.
Empat hari sudah aku menghabiskan waktu di sini. Informasi yang kudapat tidak sepenuhnya berguna.
Aku tahu dimana kelasnya. Tapi saat ke sana, mereka bilang anak itu sudah tidak terlihat sejak lima hari yang lalu. Bahkan di kamarnya aku tak menemukan apapun. Hanya jejak seprai dan debu yang berantakan. Tak seorangpun yang mengenal dan peduli padanya. Hal itu membuatku tidak bisa mengorek informasi lebih banyak lagi.
Aku juga mencoba cara lain. Meminta izin ke kamar mandi saat jam pelajaran di mulai dan berkeliling lingkungan sekolah. Sayangnya hasilnya tetap nihil. Kupikir dia sudah menghilang dan meninggalkan tempat ini. Tapi suatu penemuan membuatku kembali berharap.
Suatu ketika, di salah satu lorong yang kulewati. Muncul sebuah lingkaran hitam aneh di dinding. Ukurannya hanya sebesar piring makan dan pinggirannya mengeluarkan asap. Dan seperti yang dikatakan Jira, bagian tengahnya tampak beriak.
Tempat itu berada di lantai tiga gedung sekolah dan cukup sepi. Aku mengeluarkan belati dari balik jaket dan menusuk lingkaran misterius itu. perlahan, meski asapnya terus keluar, bagian hitamnya mulai menciut dan hilang. Itu hanya tindakan sementara karena aku tak yakin bisa menghadapinya diwaktu ini.
Hantu bayangan itu akan muncul lagi di suatu tempat. Barangkali menunggu momen yang tepat.
Melanjutkan pencarian, aku menemukan tempat lain yang sangat sepi. Sebuah tangga dengan pintu tunggal di ujungnya. Saat kubuka pintu itu membawaku ke atap sekolah. Deru angin langsung menerbangkan rambutku. Pemandangannya cukup indah. Aku bisa melihat hamparan ladang jagung dan padang rumput luas. Serta tiang-tiang pembangkit listrik jauh di utara.
Sudah pukul tiga sore kala itu dan menurutku, aku akan menunggu di sini.[]