Sudah sejak lima belas menit yang lalu Emily berdiri di depan sebuah lapak seorang pedagang yang sedang menjajakan barang dagangannya. Dahinya berkerut sedangkan tangannya terus menimang-nimang kedua buku yang berada dalam genggamannya. Tidak menyadari tatapan kesal yang diarahkan kepadanya dari lima menit yang lalu.
“ini?” gumamnya sambil memperhatikan buku berwarna coklat yang berada di tangan kanannya. “Sepertinya ini bagus, tapi yang ini juga terlihat sangat menarik,” ucapnya masih tetap fokus pada buku-buku itu. “Jika saja aku bisa meminjam dua-duanya.”
“Hey, Nona!” seru lelaki kekar sang pemilik lapak dagangan. “Ini sudah cukup lama dan sepertinya kau menghalangi pelangganku yang lain. Cepat putuskan kau akan meminjam yang mana. Ah, mungkin akan lebih baik jika kau membelinya saja sekalian agar bisa membeli dua-duanya sekaligus.”
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Matanya tidak beralih sebentar pun dari buku-buku yang sedang ia pegang. “Tidak, Tuan Robins. Kau sangat tahu jika aku tidak punya uang untuk membelinya. Jika aku memiliki uang untuk membeli buku-buku ini maka sudah sejak lama aku membelinya, bukan hanya meminjamnya seperti ini.”
Ini bukan pertama kalinya seorang pedangang keliling seperti Robins harus berhadapan dengan gadis ini saat pergi ke sebuah kota kecil yang terletak di atas pegunungan tandus yang disebut Nilldeva ini. Gadis yang selalu menyambut kedatangannya dan selalu setia menagih buku yang bisa ia pinjam selama dirinya berada di sini. Emily adalah gadis cerdas yang menurutnya akan lebih baik untuk tinggal di kota besar dibandingkan di sebuah pegunungan tandus yang sangat sulit untuk mengakses pendidikan seperti ini.
Selain itu, ada hal yang lebih menjengkelkan baginya. Saat buku yang ia pinjam harus mengalami kecelakaan sedangkan ia tidak bisa membayar biaya perbaikannya sama sekali. Itu pernah terjadi dan gadis ini membayarnya dengan bekerja di lapaknya untuk beberapa waktu. Karena daya tariknya dan juga kecantikannya, ia bisa mengganti rugi bahkan mendapatkan untung yang lebih besar daripada biasanya. Sayangnya, Robins merasa jika Emily sama sekali tidak menyedari kelebihannya sendiri.
“Kalau begitu cepat putuskan! Jangan lupa langsung kembalikan besok. Karena aku akan berangkat lusa, aku tidak bisa menunggu lagi,” katanya memperingatkan.
“Baiklah! Kau tidak perlu memperingatkanku lagi. Aku sudah mengingatnya dengan sangat baik. Eh, Tuan Robins, bisakah kau merekomendasikan buku mana yang seharusnya aku pinjam?”
Emily menyodorkan kedua buku yang dipegangnya ke arah Tuan Robins dan memasang ekspresi polos. Jika yang melihatnya adalah lelaki lajang yang belum menikah pasti akan langsung jatuh hati melihat kecantikannya. Kebetulan sekali jika Robins juga belum menikah, tetapi rasanya seperti kejahatan berpikir seperti itu mengenai gadis cantik yang masih polos ini. Matanya yang berwarna coklat terang terasa langsung mengikat ke dalam jantungnya. Untuk sesaat Robins terpana.
“Hey, Tuan Robins! Aku bertanya padamu,” panggil Emily berhasil mengembalikan kesadaran Robins dari lamunannya. “Menurutmu mana yang sebaiknya aku baca. Karena kau akan kembali lusa maka aku tidak bisa membaca dua-duanya. Kalau rusak aku juga tidak punya uang dan waktu untuk menggantinya. Setidaknya bantu aku untuk memilih.”
“Hah, baiklah!” Robins melihat kedua buku yang dipegang oleh Emily. “Kau suka mempelajari langit, bukan?”
Emily mengangguk.
“Kalau begitu pinjam yang kanan saja. Sepertinya itu akan memberitahumu lebih banyak untuk memahami langit.”
“Ini?” Emily menarik tangannya dan membaca judulnya yang tertera di sampul buku tersebut. “Panah yang Memotong Malam, Panah Sang Dewi Rembulan.” Ia terdiam sebentar. “Kalau begitu aku akan pinjam ini. Aku akan mengembalikannya besok sore.”
“Jangan sampai lupa!”
“Baik!” Emily menjawabnya dengan seruan. Ia meletekkan buku itu ke atas sebuah kantung gandum dalam gerobak yang dibawanya.
“Kau membawa banyak belanjaan, ya? Apa kau tidak berat harus mendorong semua itu?”
“Benar. Aku harus membantu paman dan bibiku. Masalah berat atau tidak, sudah pasti sangat berat. Namun, semuanya bukan masalah. Aku harus membalas kebaikan meraka selama ini padaku.” Emily kembali menatap Robins. “Tuan Robins, bagaimana keadaan di kota? Apakah kota menyenangkan?”
Pertanyaan ini sudah sangat lama Emily pendam. Bagi Emily, kota adalah tempat yang selalu ingin ia kunjungi. Dia selalu melihat banyak pedagang pengembara yang datang silih berganti dan mereka selalu membawa banyak barang-barang bagus dan juga barang-barang unik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Hal itu membuatnya membayangkan betapa luar biasanya kota-kota besar yang ada di luar sana. Ada begitu banyak hal-hal yang bisa dia lihat dan dia pelajari serta lebih dari itu akan ada lebih banyak buku yang bisa ia baca.
Di antara semua berita baik yang dikatakan oleh orang-orang mengenai kota-kota besar seperti ibu kota kerajaan, Vey, dan kota perdagangan, Lacfield, banyak juga cerita-cerita yang tidak menyenangkan untuk dibahas. Bagaimana penipuan dan juga kejahatan bisa terjadi. Bahkan meskipun petugas keamanan dikerahkan dengan begitu ketat, kejatahan tidak bisa hilang begitu saja. Banyak orang yang berasal dari desa ditipu dan juga menjadi korban pencurian. Kabar miring itu membuatnya enggan untuk bertanya lebih lanjut lagi.
“Bagi seorang pedagang maka kota itu menyenangkan. Di sana kami bisa mendapatkan lebih banyak pelanggan dan banyak barang-barang yang bisa kami beli dan jual kembali dengan harga yang tinggi. Selain itu, kota-kota besar seperti Lacfield adalah sumber informasi. Kami bisa bertemu dengan pedagang dari semua daerah di Igreland dan saling bertukar informasi mengenai komoditi apa yang sedang menarik perhatian pembeli dan barang apa yang berharga jual tinggi.”
“Jika begitu kenapa kau masih berkeliling? Bukanlah lebih baik kau tetap tinggal di sana?”
Robins menghela napasnya. “Hey, Nona! Kami menjadi pengembara bukan karena hanya ingin mendapatkan keuntungan saja. Melihat berbagai pemandangan dan juga pengalaman baru yang tidak pernah kau dapatkan sebelumnya merupakan hal yang tidak akan tergantikan oleh apapun. Terlebih masih banyak tempat yang aksesnya masih sangat terbatas untuk mendapatkan makanan dan bahan-bahan pokok lainnya. Jika bukan karena pedangang keliling yang mau mengantarkan barang-barang ke tempat mereka maka kehidupan mereka akan sangat sulit. Karena itu, ini bukan hanya soal mendapatkan untung saja. Ada kepuasan yang tidak bisa kau jelaskan saat melakukan semua itu. Apa kau mengerti?”
Mata Emily tidak lepas sebentar pun dari wajah Robins saat ia menjelaskan. Sebagian dari dirinya ikut tergugah. Tangannya terkepal menahan rasa penasaran dan juga antusias dalam dirinya. “Pasti sangat menyenangkan saat bisa melihat banyak hal di luar rumah kita sendiri,” renungnya. “Mungkin lain kali aku akan memintamu untuk membawaku.”
Tuan Robins tertawa mendengar perkataan Emily. “Aku juga berharap bisa membawamu ke kota. Gadis pintar akan lebih baik tinggal di lingkungan yang memiliki fasilitas yang lebih baik. Namun, kau harus memikirkan hal lainnya juga. Caramu bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang terkadang kejam. Yang penting lakukanlah yang terbaik.”
“Kalau begitu aku pulang dulu! Terima kasih, Tuan Robins. Akan aku kembalikan bukunya besok.” Emily berbalik menuju bagian belakang gerobak dorongnya. “Sampai jumpa lagi, Tuan Robins.”
“Ya! Hati-hati dengan barang bawaanmu!”
“Tidak apa-apa! Aku sudah terbiasa.”
Emily menumpukan kekuatan pada kakinya dan mendorong gerobak yang menampung gandum, gula, telur, dan beberapa bahan-bahan untuk membuat roti lainnya itu pelan. Seperti biasa, dorongan pertama adalah yag terberat, tetapi setelah itu gerobaknya akan berjalan dengan lebih ringan. Sama seperti permulaan dari setiap hal.
Enam tahun yang lalu, saat pertama kali Emily mendorong gerobak itu dengan penuh usaha karena tidak kuat dengan beban yang harus ia bawa, Paman Wymer akan membantunya mendorong dari sebelah sisi lainnya. Pekerjaan mereka pun akan berakhir dengan lebih mudah. Tentu saja sebagian besar yang mengerjakannya adalah paman.
Setelah ia beranjak dewasa, Paman Wymer melepaskannya dan mempercayakan barang-barang belanjaan itu kepada Emily. Tidak sedikit orang yang meragukan kekuatannya dan tak sedikit pula yang mencibir. Paman Wymer bahkan pernah berusaha membujuk Emily untuk tidak melakukan pekerjaan berat ini lagi karena mendapat kritikan dari para tetangga.
Namun, Emily dengan bangga berkata dia akan melakukannya. Tidak peduli apa yang orang katakan, hidup ini adalah pilihannya. Orang lain tidak berhak untuk mencibir atau pun menjatuhkannya. Hal ini pun berhasil meyakinkan Paman Wymer jika Emily baik-baik saja dan kembali memberikan kepercayaan kepada Emily untuk terus berbelanja kebutuhan toko mereka.
Bisa berguna untuk paman dan bibinya merupakan suatu kehormatan. Tidak peduli jika dirinya seorang wanita dan direndahkan, itu tidak akan menurunkan semangan yang Emily miliki. Biarkan semuanya berbicara. Semua orang bisa berbicara, tetapi hanya sedikit yang mampu untuk bertindak. Setidaknya Emily ingin membuktikan jika tindakannya adalah benar.
Jarak lapaknya Tuan Robins dengan toko kue sekaligus kediamannya berjarak sekitar lima ratus meter. Bukan jarak yang jauh jika seorang seorang lelaki yang membawanya, tetapi bagi seorang perempuan berusia enam belas tahun hal itu merupakan usaha yang besar untuk bisa mengantarkan barang-barang sampai ke rumah dengan selamat. Emily baru sampai sekitar dua puluh menit kemudian.
“Ah, akhirnya sampai juga.” Emily menghentikan gerobaknya di samping toko dan menurunkan pegangannya pelan-pelan. Merenggangkan badannya dan melemaskan otot-ototnya. “Sekarang waktunya beristirahat,” erangnya. “Dan membaca buku.”
“Kami tidak bisa memberikan waktu lebih lama lagi. Satu minggu sudah lebih dari cukup untuk kalian mengumpulkan uang. Tidak ada keramahan yang bisa kami berikan lebih dari ini.”
Sayup-sayup, Emily mendengar suara seorang pria dari arah pintu keluar toko kuenya. Emily langsung terdiam dan memperhatikan percakapan mereka.
“Baiklah. Kami akan berusaha mendapatkannya dalam waktu satu minggu. Terima kasih atas kemurahan hati, Tuan.” Suara yang terdengar lirih dan bergetar itu adalah suara dari paman kesayangannya.
“Kalo begitu kami akan pergi sekarang. Tolong jangan membuang-buang waktu kami seperti ini lagi. Pastikan kalian membayarnya minggu depan!” katanya memeringatkan dengan tegas.
“Baik.”