“Di mana dia? Ke mana aku harus mencarinya?”
Darren Jones menyapu pandangannya ke lingkungan sekitar dengan napas tersengal. Suasana instalasi gawat darurat rumah sakit malam itu cukup ramai. Banyak paramedis yang hilir mudik menangani pasien-pasien dengan kondisi yang memerlukan penanganan medis sesegera mungkin. Darren nyaris kehilangan akal ketika ranjang pasien yang tertutupi selimut melintas di hadapannya.
Bagaimana kalau itu Alice? pikirnya. Tidak! Tenanglah dan berpikirlah positif. Darren mencoba meyakinkan dirinya.
Setelah menarik napas dalam dan merasa sedikit lebih tenang, Darren segera berjalan ke meja perawat. Pria itu kini menyadari bahwa panik tidak akan membawanya menemukan Alice. Setidaknya, dia harus bertanya pada seseorang, di mana istrinya berada saat ini.
“Permisi, Suster. Di mana istriku?” Darren bertanya dengan suara bergetar.
“Maaf …?” Suster yang tengah membaca rekam medis pasien itu mengalihkan pandangannya pada Darren dengan kening berkerut.
“Oh, maaf. Maksudku … di mana pasien bernama Alice Oxley? Kau tahu? Aku baru saja mendapatkan telepon bahwa istriku mengalami kecelakaan dan dia dibawa ke rumah sakit ini.” Darren mencoba menjelaskan siapa yang dicarinya.
“Oh! Apakah Anda Tuan Darren Jones?” Raut wajah kebingungan perawat itu sirna, dan sekarang tampak ada kelegaan yang terpancar dari wajahnya.
“Ya, ya, itu aku. Aku suaminya. Suami Alice Oxley.” Darren tak kalah bersemangat.
“Syukurlah Anda sudah datang. Aku yang menelepon Anda beberapa saat yang lalu. Istri Anda saat ini sedang berada di ruang tindakan. Sayangnya, dia belum bisa ditemui, tapi biar kutunjukkan di mana ruangannya.”
Darren hanya mengangguk. Mendengar kata ‘tindakan’ saja membuat lututnya lemas. Pikiran-pikiran buruk kembali memenuhi kepalanya. Bagaimana jika hal buruk terjadi pada Alice? Bagaimana jika wanita yang dicintainya itu tidak selamat?
“Tuan Darren, kau baik-baik saja?” Suara perawat itu memecah lamunan sesaatnya.
“Oh, ya … aku … ya, aku baik-baik saja,” jawabnya tergagap.
“Aku mengerti Anda pasti sangat khawatir, tapi berusahalah untuk tetap tenang. Istri Anda saat ini sedang ditangani oleh Dokter Alfred. Dia dokter terbaik yang kami miliki.”
“Oh, benarkah? Itu bagus sekali.” Darren mencoba tersenyum. Namun, tentu saja senyum itu terlihat sangat dipaksakan dan terkesan canggung.
“Baiklah, sekarang mari saya tunjukkan ruang tindakannya.”
Darren mengikuti perawat itu dengan jantung yang berdebar cepat. Meskipun perawat itu sudah berusaha menenangkan sekaligus menghiburnya dengan mengatakan bahwa dokter yang menangani istrinya adalah dokter terbaik. Namun, tetap saja dia mengkhawatirkan kondisi Alice. Darren benar-benar tidak siap jika dirinya harus kehilangan Alice dengan cara seperti ini.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah ruangan dengan tulisan “Ruang Tindakan” berukuran cukup besar di atas pintunya. Pintu itu memiliki kaca berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu besar. Tapi, dari kaca tersebut, mereka bisa mengintip sedikit bagian dalam ruangannya.
“Kau harus menunggu di sini, Tuan. Sepertinya istrimu belum selesai ditangani.”
Darren mengangguk dan mencoba mengintip ke dalam untuk mendapat gambaran bagaimana kondisi istrinya sekarang. Namun, pria itu hanya bisa melihat punggung seorang dokter laki-laki berperawakan tinggi kurus yang tampak sibuk memeriksa ini dan itu. Bersamanya, terlihat dua orang perawat dan seorang dokter wanita.
“Baiklah, aku harus kembali ke meja perawat sekarang. Kau bisa duduk menunggu di sana.” Perawat itu menunjuk sebuah kursi tunggu panjang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Ya, aku mengerti. Terima kasih.” Darren menjawab dengan suara lemah.
***
Darren terlompat ketika mendengar pintu ruang tindakan itu tiba-tiba terbuka. Dirinya mematung beberapa saat hingga kemudian dari dalam ruangan itu keluarlah seorang dokter laki-laki yang terlihat sangat lelah. Di belakangnya, tampak pula dua orang perawat dan seorang dokter wanita yang mendorong ranjang pasien dengan seseorang berbaring di sana.
“Alice!” Tanpa sadar Darren berteriak memanggil nama istrinya, membuat kedua dokter dan perawat itu kompak menoleh ke arahnya.
“Kau keluarga pasien ini?” Dokter lelaki berkacamata itu bertanya pada Darren.
“Ya, aku suaminya. Dokter, bagaimana kondisi istriku? Dia … baik-baik saja, kan?” Darren tidak yakin ketika mengatakan kata-kata terakhirnya itu. Apa lagi, saat ini dia bisa melihat dengan jelas perban yang terpasang pada kepala istrinya dan Alice tampak tidak sadarkan diri.
Dokter lelaki itu tidak langsung menjawab. Dia memberi isyarat pada kedua perawat dan rekan dokternya terlebih dahulu agar segera melanjutkan tugas mereka. Kedua perawat itu mengangguk, kemudian membawa ranjang Alice pergi. Darren ingin mengikuti ke mana mereka akan membawa istrinya, tapi tangan dokter lelaki di sampingnya dengan cepat menahannya.
“Tuan, kita perlu bicara di ruanganku. Sekarang!” Daripada ajakan, itu lebih terdengar seperti kalimat perintah.
“Tidak, aku harus menemui istriku lebih dulu.” Darren berusaha melepaskan cengkraman sang dokter.
“Menurutmu, kau bisa segera melihatnya? Mereka … oh, maksudku para perawat dan Dokter Emily perlu mempersiapkan peralatan medis di kamar rawat istrimu sekarang. Kalau kau ke sana, kau juga tidak bisa langsung menemuinya. Apa kau mengerti?”
Darren terdiam dan tampak berpikir. Apa yang dikatakan dokter itu sepertinya ada benarnya. Jika dia memaksakan diri menemui Alice sekarang, bukan tidak mungkin kehadirannya justru mengganggu pekerjaan para perawat itu.
“Nah, aku benar, kan? Jadi untuk saat ini, ayo ikut denganku!” perintahnya.
Kali ini Darren tidak menolak. Dia dengan patuh mengikuti dokter itu meskipun dengan perasaan sedikit kesal karena cara bicara dokter lelaki itu terasa sangat menyebalkan baginya.
***
Dokter itu menyilakan Darren untuk duduk di hadapannya, lalu dia sendiri menyandarkan punggungnya di kursi besar di balik meja dokternya. Pria itu melepaskan kacamata, mengurut kening dan tak lupa mengerjap-ngerjapkan mata lelahnya. Darren memerhatikan setiap gerak-gerik dokter itu dengan gelisah.
“Tenanglah.” Seolah mengetahui kegelisahan Darren, dokter itu mencoba menenangkan pria yang sudah duduk di hadapannya dengan mata terpejam.
“Bagaimana aku bisa tenang, jika aku tidak tahu bagaimana kondisi istriku saat ini?” Darren meninggikan volume suaranya. Ingin menunjukkan bahwa dirinya sangat kesal sekarang.
“Oh, baiklah, Tuan …? Oh, benar, sudahkah kita berkenalan? Aku Dokter Alfred Hargensen. Orang-orang memanggilku Dokter Alfred.” Menyadari lawan bicaranya mulai tidak sabar, Dokter Alfred mulai sedikit bersikap serius.
“Aku Darren Jones.” Darren menjawab singkat.
“Oh, baiklah, Tuan Jones. Sebenarnya aku mengajakmu ke sini karena ingin membicarakan kondisi istrimu itu, Nona Alice Oxley. Atau, haruskah kupanggil dia dengan Nyonya Jones?”
“Terserah kau saja, Dokter. Itu bukan masalah besar untukku.” Darren mengangkat bahunya, mengisyaratkan bahwa dia tidak peduli bagaimana cara dokter itu memanggil istrinya sekarang. “Jadi, bisakah kau langsung saja ke intinya? Bagaimana kondisi istriku?”
“Oh, baiklah, baiklah. Kau sepertinya bukan orang yang sabar ya, Tuan Jones,” sindir Dokter Alfred.
“Aku rasa kau juga akan sama tidak sabarnya sepertiku, jika istrimu dalam kondisi yang sama seperti istriku saat ini.” Darren tak mau kalah.
Dokter Alfred tampak tidak senang dengan kata-kata Darren. Jujur saja, Darren ingin melompat kegirangan melihat raut wajah kesal dokter itu. Namun, ini bukan saatnya dia merasa gembira.
“Dengar, Tuan Jones, aku punya dua hal yang ingin kusampaikan padamu. Aku tidak mencoba mendramatisir keadaan ini, tapi memang aku memiliki kabar baik dan buruk untukmu sekarang.”
Mata Darren membulat. Sebenarnya, dia tidak peduli dengan kabar baiknya. Dia yakin kabar baik itu akan diterimanya dengan senang hati. Darren justru lebih mengkhawatirkan kabar buruknya.
Apa ini soal kondisi Alice? Apa keadaannya seburuk itu? batinnya.
“Biar aku katakan kabar baiknya terlebih dahulu. Apa kau sudah melihat bagaimana kondisi mobil istrimu itu?”
“Ya, aku melewati tempat kejadian saat berada dalam perjalanan menuju ke rumah sakit ini dan kondisi mobilnya … yah, sangat buruk.” Darren kembali terbayang mobil sedan merah Alice yang rusak parah di bagian depannya.
“Kau tahu, kabar baiknya adalah istrimu sangat beruntung. Kecelakaan itu sangat mengerikan, dia bisa saja kehilangan nyawanya. Namun, secara ajaib, istrimu itu berhasil selamat.”
Darren menjatuhkan bahunya, dia benar-benar merasa lega mendengarnya. “Oh, terima kasih sudah menyelamatkan nyawanya.”
Dokter Alfred menggeleng pelan. “Tidak, masih terlalu cepat untuk berterima kasih. Apa kau lupa? Aku bilang aku juga punya kabar buruk untukmu.”
Darren kembali menegakkan tubuhnya. Benar, dia lupa. Tapi, kabar buruk apa yang dimaksud dokter itu? Bukankah Alice sudah dinyatakan selamat? Darren kembali dibuat penasaran.
“Apa itu?” tanya Darren.
“Hmm, itu … sebenarnya ….” Dokter Alfred menggantung kalimatnya dan tampak berpikir-pikir untuk merangkai kata-kata yang tepat. Tentu saja sikapnya membuat Darren kembali merasa kesal.
“Cepat katakan! Apa kau berniat membuatku mati penasaran?” Darren yang merasa frustasi tanpa sadar memukul meja di hadapannya dengan keras.
***
[bersambung]