Malam itu seharusnya masih menjadi bagian dari penantian panjangnya yang akan segera berakhir. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Sedikit lagi dan impiannya selama ini akan terwujud. Ia bahkan kembali membayangkan dengan penuh suka cita bagaimana penampilannya nanti saat berada dalam balutan gaun putih bertabur kristal yang indah, berjalan anggun dengan sepasang sepatu yang dipesan khusus untuk menghiasi sepasang kakinya, sambil membawa sebuah buket bunga daisy yang dipadukan dengan bunga baby breath. Ia bahkan dapat membayangkan dengan jelas bagaimana nanti dirinya akan terus tersenyum bahagia, menikmati momen seharinya menjadi ratu. Menjadi pusat perhatian sekaligus menerima hadiah-hadiah dan ucapan selamat dari para tamu yang datang.
Saking tak sabarnya menunggu waktu berlalu ia sampai kembali mengecek semua daftar persiapan acara disaat seharusnya ia terlelap dalam tidur. Seolah pernikahannya diadakan besok dan bukannya seminggu lagi. Terlalu bersemangat karena pernikahan yang diimpikannya akan segera terwujud. Pernikahan dengan konsep yang diatur sesuai keinginannya dan dengan pasangan yang telah dicintainya sejak lama.
Ah, mengingat calon suaminya itu langsung membuat moodnya buruk. Menghela napas pelan, ia meletakkan daftar yang baru saja dibacanya secara asal dan memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba ia merasa sangat lelah. Lelah dengan dirinya sendiri yang terlalu bersemangat menanti disaat ia tau pasangannya justru tak peduli. Hanya dirinya yang tak sabar menghitung hari sementara lelaki yang akan menjadi pasangannya justru berharap hari yang dinantikan itu tak pernah datang.
Yah, ia tau kalau seharusnya ia tak berharap banyak dari pria itu. Bukankah sejak dulu ia tau bila pria itu telah menyerahkan seluruh hatinya pada wanita lain hingga tak bersisa. Walau pada akhirnya si wanita pergi begitu saja, menghilang tanpa jejak dan tanpa alasan yang pasti. Namun bukannya menyerah dan melupakan, pria itu dengan bodohnya justru menanti. Berharap sang pemilik hati yang menghilang akhirnya kembali dengan hati yang masih sama. Utuh dan tetap sama walau telah menghilang sekian lama.
Pria itu, seperti orang bodoh yang terus menanti dan berharap tanpa sidikit pun membiarkannya masuk dan mendekat, mencoba untuk menggeser posisi si wanita pemilik hati yang telah bertahta walau hanya sedikit. Walau sekeras apapun dirinya mencoba dan bahkan memaksa, pria itu tetap tak tergoyahkan. Lalu, dengan konyolnya, ia melakukan hal yang sama seperti pria itu. Menanti. Berharap dengan bergulirnya waktu pria itu akan menyadari kehadirannya lalu mengizinkannya untuk masuk menggantikan posisi wanita itu.
Ia pikir usahanya perlahan mulai berhasil. Ia bahkan yakin semesta pun mendukungnya karena entah bagaimana ceritanya ternyata keluarga mereka saling mengenal. Lalu seolah belum cukup mengejutkan, kedua keluarga memutuskan untuk menjodohkan mereka. Seakan mereka memang ditakdirkan bersama dan yang perlu dilakukannya hanya menunggu.
Ia senang, tentu saja. Ia bahkan yakin dengan perjodohan ini pria itu akhirnya akan berubah. Ia semakin yakin saat pria itu bukannya menolak namun justru menerima perjodohan mereka dengan gampangnya. Semesta benar-benar mendukungnya. Akhirnya penantiannya selama ini akan berbuah manis. Akhirnya ia akan memiliki pria itu seutuhnya dan hanya untuk dirinya seorang.
Namun, hatinya yang telah melambung tinggi akhirnya jatuh dan hancur berkeping-keping. Pria itu tetap sama, tak berubah sedikitpun. Pandangan pria itu masih tertuju ke satu titik tanpa pernah sudi melirik ke arahnya walau hanya sekilas. Keberadaannya tak pernah ditanggapi walau hanya sekali. Bahkan perjodohan mereka seolah hanya judul di atas lembaran kosong yang tak akan terisi. Sama sekali tak memiliki arti.
Lamunannya terpecah begitu mendengar ponselnya berbunyi dengan keras. Melantunkan nada khusus yang ia sengaja atur hanya untuk satu nama di ponselnya. Nama milik pria itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih ponsel yang diletakkan di atas nakas. Langsung menjawab panggilan yang masuk tanpa sempat memikirkan alasan kenapa pria yang tak pernah menghubunginya lebih dulu itu justru menelponnya lewat tengah malam seperti ini.
"Halo?"
"Eri." suara merdu yang memanggil namanya dan terdengar terkejut itu tanpa sadar membuatnya tersenyum. "Kau belum tidur?"
Seperti orang bodoh, senyum di wajahnya semakin melebar hanya karena pertanyaan konyol yang anehnya terdengar sedikit perhatian. "Belum. Aku tidak bisa tidur. Pernikahan kita tinggal seminggu lagi dan aku sudah tidak sabar. Kamu tau, aku bahkan sampai mengecek ulang daftar persiapannya hanya karena tak ingin ada yang terlewat. Aku ingin semunya berjalan dengan sempurna."
"Hm."
Masih sama. Pria itu masih tetap merespon dingin ucapannya. Walau ia selalu menceritakan hal yang menurutnya menyenangkan dengan seceria mungkin, pria itu tetap akan merespon dengan dingin. Bahkan lebih sering tak peduli dan bersikap seolah ia tak pernah mengatakan apapun.
Ia kembali menghela napas pelan. Rasa lelahnya bertambah dua kali lipat hanya karena mendengar respon dingin pria itu. "Ada apa, Azka? Tumben kamu menghubungiku lebih dulu."
"Eri." Pria itu kembali memanggilnya lalu terdiam. Ia bahkan bisa mendengar helaan napas pria itu yang terdengar berat seolah membawa beban yang begitu berat. "Maaf. Maafkan aku."
Ia langsung bangkit dari posisi tidurnya. Mendengar pria itu tiba-tiba meminta maaf dengan penuh penyesalan langsung membuatnya panik. Ada yang salah dengan pria itu dan ia tidak tau apa. Lebih tepatnya tidak ingin tau jika alasan dibalik keanehan lelaki itu justru akan berakhir menyakitinya.
"Maafkan aku karena ternyata aku tak bisa menikah denganmu, Eri."
Kepingan hati yang telah susah payah dikumpulkannya kali ini hancur tak bersisa. Meninggalkan lubang besar yang menyakitkan. Sangat menyakitkan hingga rasanya ia sulit bernapas. "Kau sudah menemukannya." Ia terlalu sibuk dengan rasa sakitnya hingga melontarkan pernyataan yang terpikir olehnya begitu saja. Tanpa menyadari caranya menyebut pria itu telah berubah.
"Maaf."
Ah, benar ternyata. Memangnya apa lagi alasan pria itu ingin membatalkan pernikahan mereka jika bukan karena dia telah menemukan wanita pemilik hatinya yang telah menghilang tanpa kabar. Sudah dapat dipastikan dia akan pergi mengejar wanita itu dan mendapatkannya kembali dengan segala cara, tanpa peduli dengan akibat yang akan ditimbulkannya.
Sakit sekali. Seharusnya ia tak pernah berharap pada waktu dan takdir yang seolah mendukungnya. Seharusnya dari awal ia tak pernah menjatuhkan hatinya pada pria itu. "Jadi, kau akan mengejarnya dan meninggalkanku disaat pernikahan kita tinggal menghitung hari?"
Tidak ada jawaban, yang didengarnya hanyalah tarikan napas pria itu. Tak masalah, lagipula ia juga tak ingin mendengar jawaban apapun jika hanya berujung semakin menyakitinya.
Ia menarik napas panjang. Berusaha meredakan rasa sakit yang dideritanya walau hanya sedikit. Kedua matanya memanas namun dengan sekuat tenaga ditahannya. Ia tak ingin menangisi pria itu lagi. Percuma. "Then, let's put an end to this. Aku sudah lelah. Lagipula kau tetap akan meninggalkanku walaupun aku memohon padamu untuk jangan pergi."
"Maaf." Lagi, hanya kata maaf yang didengarnya dari pria itu.
"Azka." Ia memanggil pria itu dengan sendu. Seolah seluruh perasaan menyedihkan yang dirasakan ia tuangkan dalam sepenggal nama itu. "Aku mencintaimu, sungguh. Aku yakin kau juga menyadarinya walaupun memutuskan untuk tak peduli. Aku sangat mencintaimu sampai rasanya menyakitkan. Salahku yang tanpa pikir panjag telah menjatuhkan hatiku padamu disaat kau sama sekali tak menginginkannya. Maaf karenaku kau harus terjebak dalam perjodohan ini. Maaf karena perasaanku pasti telah membuatmu terbebani selama ini."
"Eri, aku...."
Ia langsung memotong perkataan pria itu yang tak ingin didengarnya sama sekali. "Ayo kita akhiri semuanya seperti yang kau inginkan." Biarkan kali ini ia mengeluarkan seluruh perasaan menyakitkan yang telah dipendamnya sejak lama dengan merelakan pria itu untuk pergi.
"Aku akan melepaskanmu, Azka." Ia mengatakannya dengan suara yang tercekik. Berusaha keras menahan isakannya agar tak terdengar. "Sekarang kau bisa bebas mengejar wanita itu, aku tak akan menahanmu lagi. Lalu soal pernikahan kita, biar aku yang memikirkan cara untuk membatalkannya. Kau tak perlu memikirkan apapun lagi sekarang. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya mendapatkan wanita itu lagi dan hidup bahagia."
"Eri, maafkan aku."
"Sudahlah, Azka. Aku mulai lelah mendengar maafmu. Sudah ku bilang ini bukan salahmu. Aku saja yang terlalu bodoh karena masih tetap berharap. Jadi ayo kita akhiri kebodohan ini sekarang. Aku akan melupakanmu dan seluruh perasaanku padamu. Aku akan menghapus semuanya hingga tak ada lagi yang tersisa."
"Eri..."
"Selamat tinggal, Azka. Semoga kali ini kau benar-benar bahagia."
Ia memutus percapakan mereka dan langsung mematikan ponselnya. Sekali lagi, ia telah melakukan tindakan yang benar-benar bodoh. Melupakan pria itu dan seluruh perasaannya? Astaga, siapa yang sebenarnya dirinya coba bohongi. Bahkan semesta pun tau ia tak dapat melakukannya. Ia tak akan pernah bisa melupakan pria itu. Tidak akan pernah bisa kecuali bila ia mati atau hilang ingatan. Dengan begitu mungkin semuanya akan jadi lebih mudah.
Ah, seolah mendapat ilham, ia langsung turun dari kasurnya. Lalu dengan terburu-buru berjalan keluar dari kamar tanpa membawa apapun kecuali piama yang melekat di tubuhnya. Ia terpikirkan sesuatu dan hal itu berhasil menerbitkan senyum di wajahnya walau senyum itu terlihat kosong seolah tanpa jiwa.
Kali ini ia akan kembali melakukan hal yang benar-benar bodoh. Untuk terakhir kalinya. Dengan begitu, ia dapat melupakan pria itu dan seluruh perasaan cintanya sekaligus membatalkan pernikahan mereka yang tinggal hitungan hari. Hanya dengan cara ini ia dapat melakukan semua itu sekaligus dan tanpa ragu ia akan benar-benar melakukannya. Ini akan benar-benar menjadi tindakan terbodohnya yang terakhir dan untuk selamanya.
***