"Baik, terima kasih atas perhatiannya. Kelas kita berakhir sampai di sini hari ini. Selamat siang."
"Siang, Pak!" sahut para mahasiswa dan mahasiswi yang memenuhi kelas.
Usai dosen keluar dari kelas, mahasiswa pun terlihat berhamburan menuju tempat masing-masing.
Ada yang pulang, ada yang mampir ke kafetaria sebelum pulang, ada pula yang sekedar bergosip di kelas. Dan biasanya dipelopori oleh para cewek-cewek.
Ruang kelas teknik komputer-2, itu berarti ruang kelasnya Alan.
Ya, pemuda dengan kacamata silvernya itu sedang menyusun buju-bukunya. Ia masukkan ke dalam tas untuk ia sandang. Tapi ...
"Alan, tugas PPT kemarin sudah kau handle kan?" Seorang perempuan berambut panjang dengan blouse putih motif bunganya menghampiri Alan.
"Oh itu, sudah kok, Sha. Agak terlambat sedikit tapi untungnya Pak Jojo tidak mempermasalahkan itu."
"Huh ... syukur deh."
"Hum." Alan mengangguk sekenanya.
"Kau langsung mau pulang, Al?"
"Tidak, ada beberapa proyek kerjaku yang harus kuurus sekarang. Ada apa, Sha?"
Shasa, teman satu kampus sekaligus satu kelas Alan yang paling cantik seangkatan. Ngomong-ngomong Shasa merupakan putri dari salah satu dosen di sini. Namanya Pak Gunawan, dan beliau adalah dosen yang saat ini menjadikan alan sebagai asistennya.
Iya, Alan juga merupakan asisten dosen. Berkat kecerdasan dan kerapiannya yang selalu dinilai baik di mata para dosen. Itulah mengapa Alan dipilih secara khusus.
Selain itu, meski jarang bicara dan jarqng bertegur sapa dengan mahasiswa atau mahasiswi yang lain. Pamor Alan di kampus itu cukup baik. Tidak pernah terdengar kabar miring tentangnya.
Dan oleh karena itu pula Alan dekat dengan Shasa. Selain keduanya teman sekelas dan Alan merupakan asisten ayahnya, mereka suka nyambung kalau sedang berdiskusi.
"Oh gitu ya, padahal aku ingin minta temani ke toko buku di Senayan. Tapi sepertinya kamu sibuk sekali," ucap Shasa.
"Aku?"
"Kalau kau bisa, Al. Tapi kan kau tidak bisa."
"Tumben tidak dengan Pak Dion?"
"Pak Dion izin cuti sebulan, pulang kampung. Putri sulungnya sakit keras."
Pak Dion, supir pribadi Shasa yang biasa mengantarnya kemana-mana.
Alan terdiam sejenak. Ingin menolak tapi tidak enak. Ia segan karena Shasa ini adalah putri dari dosennya.
Dan juga setahunya, Shasa tidak bisa menyetir mobil karena belum mendapatkan SIM secara resmi.
"Rencananya ingin pergi naik apa?"
"Naik ojek online aja paling, Al."
Bukan taksi online karena Shasa tidak suka bau mobil orang lain selain miliknya. Ya, repot memang.
Berteman selama hampir dua tahun, kebiasaan-kebiasaan kecil dan kegiatan wanita itu sehari-hari, Alan cukup bisa memahaminya.
Well, jangankan naik taksi online yang abangnya saja tidak jelas siapa. Apalagi keadaan mobilnya dengan harum yang sesuai dengannya atau tidak. Naik mobil Alan saja Shasa tidak pernah.
Belum lagi kasta kuda besi miliknya dengan milik Shasa jauh berbeda. Kalau bukan Toyota HR-V, BMW i8 Coupe, mereka adalah tunggangan yang biasa mengantar Shasa ke kampus. Apalah daya dengan mobil Alan yang ia dapat secara second. Alias bekas pakai.
Ya mau bagaimana lagi, uangnya belum cukup untuk membeli yang baru.
Dan satu lagi, yang jarang-jarang Shasa bawa ke kampus. Tapi, sekalinya datang membuat jiwa kemiskinan Alan bergetar bahkan merosot, meleyot sampai tak berpuing di jalanan berdebu.
Ialah salah satu mobil termahal yang ada di dunia. Yakni, Rolls Royce yang sangat mengagumkan. Tampilannya saja membuat Alan minder sebagai salah satu pemilik kuda besi. Body, kualitas, dan kenyamanan yang nimor satu.
Ck ck ck, benar-benar putri konglomerat kelas atas.
Jangan ditanya mengenai harga. Alan tidak akan sanggup mengucapkannya. Tapi, Alan bisa berandai-andai jika ia memiliki uang sebanyak itu mungkin bisa ia gunakan sebagai biaya hidupnya sampai 10 tahun ke depan. Atau mungkin 20 tahun ke depan?
Dahlah, tidak perlu dijabarkan lebih rinci lagi.
Begini saja, Alan sudah sangat amat bersyukur. Benar-benar bersyukur.
"Alan!"
"Eh, iya?" Lelaki itu tersentak kaget
Akibat kebanyakkan melamun dan mencemaskan diri sendiri. Ia sampai lupa sedang bersama dengan putri konglomerat ini.
Ngomong-ngomong sampai di mana tadi pembicaraan mereka ya? Ya ampun begini saja Alan lupa.
"Yee ... malah ngelamun. Yaudah ya, Al aku ke depan kampus aja deh dulu. Sekalian mau cari abang ojolnya."
Nah iya, sampai ke ojek online kan?
Baru ingat dia.
"Yaudah, hati-hati ya," ucap Alan.
"Iya, Al. Bye ..."
Keduanya dadah-dadah seperti sepasang kekasih yang hendak berpisah. Uh ... lebay.
Usai kepergian Shasa, ponsel Alan di dalam saku celananya berbunyi. Cepat-cepat ia rogoh benda pipih tersebut.
Layar di ponsel menunjukkan nama Andrew sebagai pelaku panggilan.
Tuh kan, keduanya sudah baikan tahu. Sudah akrab lagi, buktinya sekarang sudah main telepon-teleponan.
Tak menunggu waktu lama, Alan segera mengangkatnya.
"Halo, And. Ada apa?"
"Al, sepertinya aku membutuhkan buku panduan untuk sistem retas robotik. Kau bisa tolong carikan tidak?"
"Buku panduan? Kau kan sudah handal, kenapa harus baca bukunya lagi?"
Di seberang sana Andrew berdecak malas.
"Kau tahu kan sistem yang harus kuretas itu sekelas milik Future. Buatan profesor masa depan dari 1000 tahun kemudian, Alan!"
Hum, iya juga ya.
"Carikan beberapa buku yang menurutmu next level. Baru setelah itu kita bisa melakukan peretasannya."
"Kenapa tidak cari sendiri sih? Kau kan yang lebih tahu."
"Ck, Alan s****n! Aku masih ada kelas habis ini. Kau sudah selesaikan?"
"Tau dari mana kau?"
"Nebak, Al. Sudahlah, sudah ya carikan dulu. Aku lapar mau makan sebentar di kantin."
Klik!
Panggilan berakhir. Andrew yang memutus sambungan terlebih dahulu.
Sementara Alab menghela napas malas setelahnya.
"Memang dasar kadal! Tadi malam asal tonjok suka-sukanya saja," gerutu Alan kemudian menyelesaikan kegiatannya menyusun buku-buku dan peralatannya yang lain.
"Kalau begitu, aku terima saja ajakan Shasa ke toko buku. Aku juga akan ke sana kan? Kita bisa pergi bersama."
Ya, gagasan yang bagus.
Kemudian ia kembali mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Dan mendial up kontak Shasa.
Dalam sekali nada panggilan, oanggilan masuk dijawab.
"Halo, Al. Ada apa?"
"Sha, kau di mana? Sudah jauh?"
"Belum, Al. Masih di koridor lantai 1. Kenapa?"
"Sebentar, Sha. Aku ke sana sekarang."
"Oh oke, Al."
Klik!
***
Gudang bekas kain, distrik A Jakarta Selatan. Pukul 03.00 WIB.
Mari menghitung mundur waktu selagi masih pagi buta.
Sesuai yang diperintahkan Mr. Jazz melalui telepon seluler malamnya, temu janji mereka pun terlaksana sekarang.
Benzie adalah orang pertama yang datang. Keadaan masig gelap gulita, baik di luar maupun di dalam. Ya, karena masih sangat terlalu pagi untuk manusia berkeliaran di jam-jam berikut.
"Huh! Dingin sekali." Pemuda itu bergidik ngeri nyaris sampai merinding.
Udara pagi memang ampuh membuat menggigil hingga ke tulang.
"Untung aku punya kunci cadangannya," kata Benzi lagi.
Kemudian ia pun membuka gembok pintu. Dengan cepat melesat masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita tersebut.
Klik!
Tap!
Tap!
Tap!
Begitu saklar lampu ditekan, semua lampu yang terpasang pun menyala. Menerangi kegelapan ruangan yang cukup luas tersebut.
Sepetak gudang bekas kain yang disulap menjadi ruang kerja rahasia Benzie. Atas perintah Mr. Jazz langsung.
Letak yang terpencil, jauh dari keramaian, dan sistem keamanannya pun sangatlah bagus. Ditambah sistem keamanan yang Mr. Jazz susun sendiri. Semakin memperaman yang sudah aman.
Selama hampir tiga menit Benzie menunggu, akhirnya Mr. Jazz muncul dengan mantel hitamnya.
"Kau sudah sampai rupanya, Ben."
"Sir, Anda baik-baik saja?"
Pria dewasa itu mengangguk singkat. Kemudian melepaskan mantelnya dan mengantungnya ke gantungan pakaian dekat jendela.
Benzie pun beranjak menyalakan penghangat ruangan.
Keduanya duduk di sofa, dengan Mr. Jazz yang menyerahkan sebuah map berisi berkas-berkas kepada Benzie.
"Apa ini, Sir?"
"Semua hal yang menjadi alasanku mengajakmu bertemu di sini sekarang ada di dalamnya. Mau hanya perlu membacanya dan melakukan semya yang tertera di sana." Penjelasan yang ambigu menurut Benzie.
"Tapi, Sir. Kenapa tidak Anda katakan langsung saja? Kita di sini sekarang. Hanya ada kita berdua juga."
Namun, pria itu menggeleng.
"Banyak hal lain yang harus kukerjakan, Benzie. Aku juga tidak bisa terlalu lama di sini."
"Tapi, Sir-"
"Kau adalah pegawaiku yang paling cerdas dan paling unggul dari yang lainnya Benzie. Jadi kuharap kau bisa dengan mudah mengerti hanya dengan membacanya."
Tapi, tidakkah ini terlalu memuaingkan. Secerdas apa pun dirinya, toh Benzie masihlah manusia biasa yang butuh istirahat kan.
Ia merasa Mr. Jazz terlalu banyak bermain teka-teki.
"Maaf ya, Benzie. Ini mungkin agak mengesalkan bagimu. Tapi juga yang terbaik untuk kita semua."
Tak lama setelah itu, ponsel Mr. Jazz berbunyi. Panggilan masuk yang pria itu abaikan.
Sampai pada panggilan ke tiga pun tetap tak diangkatnya.
"Sampai bertemu besok siang di kampus. Kuharap kau melakasanakannya dengan rapi."
Adalah kalimat terakhir Mr. Jazz sebelum angkat kaki dari sana.
Brak!
Dan kini, di tengah keheningan bercampur dingin yang mulai menyerang kembali dirinya, Benzie emosi bukan main.
Apa-apaan ini?
"Si tua itu, sebenarnya apa yang dia rencanakan!" gumam Benzie sembari mengepalkan kedua tangannya dengan erat
***