“Meja nomor 16, Al,” ucap Shasa sembari membaca pesan teks di ponselnya.
Mereka sudah tiba di depan sebuah cafe yang menjadi tempat janji temu dengan Prof. Nellam.
“Permisi, Mbak. Meja nomor 16 di mana ya?” tanya Shasa pada salah satu pegawai cafe yang kebetulan lewat.
Karena sejak mengetahui nonor meja mereka dan Shasa memindai ke seisi ruangan, tampak lengang tanpa seorang pun pelanggan.
“Oh meja nomor 16 ada di lantai dua, Mbak. Di sana juga bagian outdoor dari cafe kami. Anda ingin meminta sesuatu? Untuk kejutan ulang tahun munngkin?”
“Oh nggak, Mbak. Bukan. Saya ada janji dengan teman saya di meja nomor 16.”
“Oh begitu, baik Mbak. Selamat datang di cafe kami ya ...”
“Iya,” jawab Shasa dibarengi dengan senyumnya. Alan tidak banyak berbicara lebih tepatnya hanya diam saja.
Lantas keduanya pun menuju ruang lantai dua di cafe yang dapat dicapai melalui lift maupun anak tangga. Dan lift tentu saja menjadi pilihan yang Shasa pilih.
Namun, sebelum mereka mencapai lift Shasa menghentikan langkah mereka.
“Al, sebenarnya kamu mau ngapain sih bertemu dengan Prof. Nellam?” tanyanya. Sebuah tatapan penuh arti gadis itu hunuskan pada manik gelap milik Alan.
“Kau terlihat tidak nyaman, Sha. Kenapa?” Bukannya menjawab, Alan justru bertanya balik pada temannya itu.
Sejenak, Shasa menghela napas kecil. “Aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak melakukan sesuatu hal yang aneh pada Prof. Nellam. Dia teman Ayahku, Al. Dan kau ke sini bersamaku. Jangan sampai kita meninggalkan kesan yang tidak baik, atau aku akan merasa sangat sedih karena Prof. Nellam dan Ayahku, mereka sangat dekat,” jelasnya.
Alan mengangguk beberapa kali. Ia paham kekhawatiran yang Shasa rasakan. Tapi serius bahkan seribu rius Alan tidak akan melakukan hal yang tidak baik sampai membuat nama mereka jelek. Sebab ada nama dosennya beserta putrinya juga yang Alan tanggung.
Astaga, Alan merasa sangat sesuatu sekali. Padahal ini hanya sebagin kecil usahanya untuk membantu Future kembali ke planetnya.
“Shasa, aku dan Prof. Nellam berada di bawah perusahaan yang sama. Kami pernah bertemu beberapa kali di Doujav Corp. Walaupun bukan pertemuan secara pribadi-” Alan juga tidak yakin kalau Prof. Nellam akan mengenalinya.
“Jadi tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang akan membuat namaku sendiri juga tidak bagus, Sha.”
Gadis itu mengangguk beberapa kali. Menimang perkataan Alan yang ada benarnya juga.
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu dan banyak sedikitnya juga memerlukan bantuan Prof. Nellam,” kata Alan lagi.
“Kenapa tidak minta tolong secara pribadi saja, Al? Kalian rekan kerja kan?”
Iya, tapi Prof. Nellam merupakan salah satu dari orang kepercayaan Mr. Jazz dan sangat patuh terhadap CEO mereka itu. Sementara hal yang ingin ia tanyakan ini akan bersangkutan dengan Future. Maka dari itu Alan tidak bisa berbuat sesukanya. Benar kata Andrew, mereka harus bergerak secara hati-hati.
“Prof. Nellam bukanlah seseorang yang mudah diajak bertemu begitu saja, Sha. Apalagi dengan orang sepertiku. Ingat ya, aku hanya ingin memastikan sesuatu saja, tidak lebih.” Peringatan untuk Shasa agar ia tutup mulut dan membuat pertemuan Alan dengan teman ayahnya itu memang seolah-olah hanya kebetulan semata.
Ya, Shasa paham betul. Walau di sini ia merasa sedang dijadikan alat oleh Alan. Tapi, it’s okay, Shasa akan menganggap ini sebagai kesepakatan sebagai seorang sahabat yang saling membantu. Lagi pula ia juga sering merepotkan Alan untuk mengantarnya ke sana ke mari.
Well, Shasa bukan seorang gadis yang manja dan labil. Pola pikirnya bekerja dengan baik.
“Yasudah, ayo ke sana,” ucap Shasa yang Alan angguki. Lantas keduanya pun memasuki lift saat pintu benda tersebut terbuka.
***
“Sensor jarak, SRF04, GP2D12. Future, buka situs untuk merakit modul sensor inframerah,” ucap Andrew yang dengan cepat robot wanita itu laksanakan.
Dreett ...
Melalui lensa matannya yang dapat membaca semua berita baik dalam dan luar negeri, sehingga Future dapat dengan mudah menemukan program yang sesuai dengan yang Andrew perintahkan.
“Sebagaimana dengan fungsi robot yang Alan inginkan, aku akan mengatur sistem gerak motor DC untuk h-bridge.”
“Oke, sensor-sensor akan kuatur dari semi rangkap karena Alan tidak mau semuanya terlalu murah,” sahut Andrew.
Murah yang Andrew maksud adalah terlalu mudah ditebak. Segi fisik atau design juga dengan metode pembuatan mekaniknya sekalipun, Alan tidak ingin robotnya kelak mudah dilacak atau terkena masalah yang urgent. Karena konsep yang Alan inginkan meliputi smart robotic daily, oleh sebab itu pula ia sangat berhati-hati untuk mesinnya.
Selain itu, Alan juga sudah menyelesaikan compilenya. Pembuatan software sendiri Andrew yang bantu handle.
“Searching selesai, data akan segera masuk ke file yang Alan hubungkan ke chipnya.”
“Bagus, mekanik perancangan pokok sudah selesai. Kita hanya perlu menunggu Alan pulang untuk menyetabilkan sistem sensornya. Dia yang mengerti betul teknik mesin AI.” Andrew menyahuti.
“Bagaimana dengan penulisan bahasa programnya, Andrew?”
“Sebentar.”
Andrew tarik notebook ke dalam pangkuannya, fokus pada layar selebar 14 inchi tersebut. Dan sesekali melirik pada Future yang sedang menjelaskan beberapa hal.
Dimulai dari Javascript, Stuctured Query Language atau biasa disingkat dengan SQL, Pyton, dan bahasa-bahasa pemrograman yang lainnya.
Seketika layar notebook Andrew dipenuhi dengan angka-angka dan kode-kode untuk memahami sintaks. Berderet kalimat yang hanya dimengerti oleh Andrew. Dan tidak jarang pula Future ikut memberi tahu jika Andrew mengalami kesulitan atau kendala lainnya.
“Shell Sript, Andrew!”
“Alan yang akan mengatur, aku hanya akan memasukan beberapa downloading pada menu awal,” sahut Andrew.
Selama hampir tiga jam mereka berkutat dengan robot yang hampir memasuki tahap 70 persen tersebut. Dan tidak ada di antara mereka yang mengeluh lelah. Yap, tentu saja karena Future adalah robot yang tidak mungkin memiliki rasa itu tapi, kalau Andrew.
Sepertinya harus ditarik kembali kalimat tidak lelah tersebut. Karena tampang lelaki itu justru menunjukkan yang sebaliknya.
Brak!
Andrew merebahkan diri ke atas karpet bulu. Tanganya yang panjang ia rentangkan lebaar-lebar, beberapa kali juga terlihat menggeliat serta menguap.
"Wush ..." Hembusan napas panjang meluncur dengan lepas. Seolah lelah dan beban yang Andrew rasakan sedikit terangkat.
“Aku lapar, Future,” racaunya dengan mata tertutup.
“Iya kau lapar ya, And. Tapi aku tidak bisa memasak. Aku hanya mengerti bahan-bahan masakannya saja. Bagaimana kalau kau yang memasak dan katakan kau ingin masak apa, aku mempunyai lebih dari sau juta resep masakan dari seluruh negara di belahan bumi ini. Kau ingin resep masakan mana Andrew?”
“Ck, aku malas masak kita tunggu Alan pulang saja. Au akan menitip sesuatu padanya.”
Kemudian Andrew ambil ponselnya guna menghubungi sobatnya itu namun, sampai panggilan ketiga pun tidak aktif. Yang membuat Andrew menggeram kesal.
“Ke mana sih dia, tumben ponselnya sampai tidak bisa dihubungi seperti ini. Dia pergi ntah ke mana sementara aku dan Future justru berpusing ria memikirkan robotnya di rumah. Kurang asem!” emosi Andrew.
***