Ruang tamu kediaman Alan, pukul 18.00 WIB.
Beberapa piring kotor tergeletak di sebuah meja dekat sofa, bungkus-bungkus makanan yang berceceran dekat pantry dan washtafel. Menyisakan sampah yang hampir memenuhi keranjang sampah kecil di dekat pintu utama.
“Kupukir kau benar-benar bukan manusia, Al. Ternyata masih memiliki hati nurani.” Suara Andrew terdengar di tengah suasana tenang yang tercipta. Mulut masih penuh tersumpal dengan makanan.
“Aku bukan dirimu yang memang dasar manusia setengah dakjal,” ucap Andrew dengan nada mengejek.
Clava terkikik kecil, berbeda dengan Future yang hanya diam tanpa ekspresi apa pun. Tidak melakukan tindakan berarti yang lain juga, hanya mengerjap kaku beberapa kali.
“Kak Alan, Kak Andrew jadi sebenarnnya ini kita mau ngapain ya?” tanya Clava.
Sejak tadi pikirannya merujuk pada hal-hal yang beraneka ragam. Dan keanekaragaman itu lebih dominan pada yang negatif thingking. Apalagi Alan membawanya ke sini terkesan sangat memaksa dan seperti penculikkan. Ya ampun.
Tapi, dalam diri Clava pribadi ia percaya kalau Alan bukanlah orang yang jahat. Ia mau menuruti permintaan Alan untuk ikut dengan lelaki itu karena ia yakin Alan orang baik. Toh Kak Alan juga teman baiknya Kak Andrew.
“Ekhem!” Alan berdeham sejenak. Untuk menetralkan suaranya yang mungkin saja akan terdengar gugup saat ia menjelaskan nantinya.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya di mobil, Cla. Aku ingin meminta bantuanmu mengenai rancangan Future. Karena sampai hari ini pun penelitian kami mengenai gadis ini belum juga menemukan titik terangnya.”
Sebab, setiap malam ketika Alan hendak tidur Future selalu saja mengatakan mengenai planetnya.
“Alan, aku ingin kembali ke planetku. Aku ingin pulang Alan, bantu aku kembali ke planetku ya Alan.” Rengekan yang setiap malam menjadi bahan pikiran untuknya.
Beban pikirannya bertambah lagi, permintaan yang sama namun dengan jawaban yang sama pula saat Alan bertanya di mana keberadaan planet yang dihuni Future.
“Tidak tahu.” Adalah jawaban yang sama tersebut.
“Andrew akan memberitahukanmu,” ucap Alan pada temannya yang masih teronggok dekat sofa sembari memegangi perutnya yang kekenyangan.
Dengan sigap Andrew mengangguk. Sementara Alan beranjak menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu di sana.
Selagi Alan pergi, Clava mendekati Andrew dan menatap pria itu dengan jenis tatapan yang penuh pertanyaan.
“Kak?”
Iya, Andrew paham. Oleh sebab itu ia menunjuk Future melalui dagunya.
“Ini berkaitan dengannya.”
Dreett ...
“Future, buka akses sensormu!” perintah Andrew yang langsung robot wanita itu laksanakan.
Pada bagian lehernya yang berkubik terbuka, menampilkan beberapa ruang kosong dengan dua buah ruang lainnya yang sudah terisi oleh chip.
“Ini ... akses untuk meletakkan chip?” Terlihat binar keterkejutan pada sepasang obsidian Clava dengan jelas.
“Iya, Clava. Future ini bukan hanya robot belaka tapi dia datang dari masa depan yang sampai sekarang kita tidak tahu ada di mana letak planetnya tersebut. Kita pernah membicarakan hal ini sebelumnya kan?”
Yang Clava angguki dengan cepat. Tapi dia tidak menyangka kalau ini sungguhan. Kubik-kubik yang terdapat pada leher Future setelah Andrew berkata untuk membuka akses sensornya. Menunjukkan bahwasannya Future betulan sebuah robot yang memiliki kemampuan luar biasa.
“Kita bisa mencari tahu di mana planetnya, Kak. Kita akan mendapatkan informasi melalui sistem XY dari prosedur rangkaiannya.”
“Tidak semudah itu, Clava. Aku bahkan sudah menggunakan akses rahasiaku dengan salah satu perusahaan robotics enginer terbesar di salah satu negara di Eropa. Tetap saja, sinyal Future tidak muncul semudah itu.” Andrew menegaskan.
“Bukan sembarang sistem yang dapat membacanya, tidak semudah itu juga meretas aksesnya. Ini seperti rangkaian yang pernah kukerjakan waktu itu,” gumam Clava.
Otaknya langsung membuka menu replay untuk mengingat-ingat pada objek apa dan kapan hal tersebut ia lakukan. Sejenak, dipandanginya Future dengan cermat. Menyeluruh sampai ia tarik keluar salah satu chip di kubik tersebut.
“Tidak ada logo atau apa pun itu di sini, Kak,” katanya.
Adrew mengangguk.
“Maka dari itu kita sulit meretasnya, untuk menemukan sistem sensornya kita harus memiliki beberapa grade untuk komponen dasar.”
“Tidak ada identitas sama sekali, lalu bagaimana bisa kita menemukan datanya.”
Keduanya diam, masih menelusuri objek pandang mereka pada keseluruhan anggota tubuh Future. Sama-sama tengah berpikir untuk menemukan jalan keluar.
Dan pada saat itu, Alan datang. Ia keluar dari dalam kamarnya membawa sebuah buku yang tebalnya tiga kali lipat dari kamus bahasa inggris.
Bruk!
Ketika benda tersebut tergeletak di atas meja, Futurelah yang paling pertama merespon.
“Buku ini menyimpan informasi mengenai robotics enginer dan semua hal sejenisnya di dalam. Beberapa penjelasan hanya disampaikan penulis menggunakan bahasa pemrograman dengan tingkat kesulitan cukup tinggi,” jelas Future.
“Coba aku lihat, Al,” ucap Andrew. Yang dengan segera buku tebal tersebut langsung berpindah tangan pada Andrew.
Hening, sampai tiga menit setelahnya karena semua manusia di sana tengah sibuk pada keterdiaman masing-masing.
Andrew terlalu fokus membaca buku yang hanya dia yang bisa membacanya, Ala juga tampak mengutak-atik rangkaian robotnya di bantalan sofa. Sedangkan Clava, gadis itu lebih memilih duduk tanpa melakukan kegiatan apa pun. Tapi, justru otak cerdasnya itu sedang berpikir.
“Kak Alan, Kak Andrew. Bukankah kalian bilang Future muncul bersamaan dengan jatuhnya meteor di langit sore, waktu itu?” Clava ajukan pertanyaan setelah sekian lama bungkam.
Dua s*****n Andrew dan Alan sama-sama mengangguk sebagai jawaban.
“Di mana pertama kali Kak Alan sama Kak Andrew liat Future?”
“Di tepi jembatan danau dekat kota,” jawab Alan cepat. Sementara Andrew bungkam sebab bukan dirinya yang menemukan Future pertama kali.
“Jika Future memang robot dari luar angkasa dan jatuh dari ketinggian sejauh itu maka, lintas komet yang kita lihat di langit sore waktu itu adalah bekas lintasan Future turun ke bumi. Warna violet pekat tersebut muncul akibat gesekan pada atmosfer dan tekanan benda asing yang membawa Future,” jelas Clava.
Penjelasan yang masih abu-abu. Sebelumnya Alan dan Andrew pun sempat berpikiran seperti itu. Tapi, tetap saja skala Future terlalu tinggi buat mereka.
Alan dan Andrew tidak banyak berekspresi, keduanya kompak diam dan mendengarkan dengan seksama. Sesekali berkomentar jika diperlukan. Walau sejak tadi tidak ada yang buka suara sedikit pun di antara mereka.
“Dan ini bukan hanya dengan asal-usul Future tapi, di hari sebelumnya sinyal Future berhasil menangkap sinyal yang serupa dengannya. Dugaan kami, itu adalah teh future yang lain.” Suara Alan terdengar.
“Oh ya?!” Mata kecil Clava sampai berbinar.
“Pasti ada pertinggalan jejaknya di sistem Future, Kak,” sambungnya cepat.
Ya, seharusnnya demikian bukan. Tapi, sayang sekali, “Tidak ada yang tertinggal kecuali beberapa informasi yang terunggah dari sinyal tersebut,” ucap Alan.
“Sebentar!” Andrew ikut bertindak. Diambilnya notebooknya yang tergeletak di atas meja dan mulai mengutak-atiknya.
“Salinan data terbaru sebagai informasi dari sinyal itu sudah kulacak. Dan terdapat beberapa kejanggalan di sini.” Andrew sodorkan notebooknya pada Alan dan Clava. Yang langsung saja dibaca oleh kedua orang tersebut.
“Oh?” Clava mengernyit heran beberapa sekon.
“Ada apa, Va?” tanya Alan pada Clava yang masih menjungkitkan salah satu alisnya dan memasang raut wajah terkejut.
“Kode ini seperti tidak asing menurutku, Kak.”
Dalam sekejap perkataan Clava itu sukses membuat Alan dan Andrew saling tatap-tatapan dengan ambigu.
“Maksudmu, Clava?!” Dan tersirat nada lain di suara Alan.
***