Jika di rumah Alan terdapat jam dinding raksasa yang akan berbunyi setiap jam pukul 12 tengah malam mungkin, sekarang juga akan berbuyi nyaring memenuhi ruangan minimalis tersebut. Namun, ketiadaan benda tersebut tergantikan dengan pekikan kecil yang keluar dari mulut Andrew.
Empat kepala yang terdiri dari dua wanita dan dua lelaki, dan satu di antaranya bukanlah manusia. Melainkan manusia setengah robot.
“Kau yakin dengan apa yang kau jelaskan barusan itu, Clava?” Alan menuntut kepastian dengan tatapan yang sedingin es di Himalaya.
“Kak Alan, apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda? Aku bahkan belum pernah seserius ini sebelumnya.”
Iya, Alan tahu itu. Selama merak berkenalan baru-baru ini pun sosok Clava hampir tidak pernah bercanda. Menyunggingkan senyum saja langka. Sekali, saat Alan menjemputnya sore itu menggunakan mobil Shasa.
“Jadi, Megan adalah makhuk yang sama dengan Future?” Kali ini Andrew setelah sejak t*i hening dan berusaha meditasi dengan pikirannya sendiri. Lelaki itu yang terlihat paling tertekan dari yang lain.
“Kak Benzie bahkan sudah mengetahui siapa Megan sebenarnya. Itu menandakan kalau banyak yang sudah Paman simpan selama ini dari media, Kak.”
Future yang sejak awal kedatangan Clava hanya diam, tak buka suara sedikit pun atau melakukan kegiatan apa pun. Kini, robot wanita itu berdiri menatap ketiganya di sana bergantian.
“Ada apa, Future?” tanya Alan.
“Aku mendeteksi adanya sinyal baru yang mencoba menembus sistemku Alan. Di dekat sini juga terdapat beberapa sinyal rekayasa.”
“Sinyal rekayasa?” bingung Andrew.
“Sepertinya ini ulah Kak Bezie dan Paman, Kak. Sejauh yang kudengar dari percakapan mereka sore tadi, Kak Benzie berperan banyak dalam situasi ini,” jelas Clava sembari mengambil salah satu kertas dari dalam tasnya.
“Ini, ini adalah berkas-berkas data yang selama ini Paman simpan mengenai the future dan segala macamnya. Ada juga flashdisk yang selama ini Paman jadikan tempat untuk menyalin beberapa data agar tidak hilang. Kak Andrew, Kakak bisa memeriksanya?”
“Kemarikan,” kata Andrew sembari meminta flashdisk yang Clava maksud.
Tanpa menunggu lama lagi Clava berikan benda kecil yang penting tersebut kepada Andrew. Dan dengan cepat pula Andrew terima.
Ia ambil laptop dari meja dan segera memasang flashdisk tersebut dan berseluncur dengan pengetahuannya.
“Sepertinya akan memakan beberapa waktu yang cukup lama. Atau bisa saja karena data yang tertera di sini bukanlah sebenarnya data yang harus mereka usulkan. Ini mencakup beberapa proyek besar yang lainnya.”
“Kak, tapi apa mungkin kita bisa meretas data dengan sistem mereka yang sekuat ini?” Karena Clava mendengar langsung sekuat apa sistem yang melekat ada diri the future yang keamananya sangat besar. Belum lagi beberapa hal lainnya yang sudah melekat pada satelit luar angkasa, ini benar-benar sudah next level.
“Melihat dari peluangnya memang agak susah tapi, kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak berusaha sekuat mungkin. Ini juga bukan masalah yang mudah, suatu saat pasti akan terjawab. Walaupun ya ... mungkin akan memakan waktu yang cukup lama.”
Di sebelahnya, Alan mengangguk semangat.
“Benar, kita tidak boleh menyerah dan harus tetap berusaha semaksimal kita.”
“Oh ya, kau bilang tadi Benzie mengetahui tentang masalah ini?” tanya Alan lagi.
“Iya, Kak.”
“Sejauh mana?”
“Kalau Kak Benzie saja sudah mengetahui siapa Megan sebenarnya, itu berarti Kak Benzie sudah mengetahui jauh lebih banyak dari apa yang kita ketahui sekarang, Kak.” Perkataan Future ada benarnya juga.
Oh bukan, tapi memang benar sepenuhnya. Pikiran Alan yang cemas pun semakin berlari-lari ntah ke mana.
“Bensin ceceguk satu itu, kenapa harus berhubungan dengannya coba,” kesal Andrew.
“Kompetisi merangkai robot ini kau sudah dilawan dengannya dan sekarang mengenai Future pun kalian juga terlibat. Astaga Alan sepertinya hidupmu cukup sulit ya.”
“Ck, diamlah dan cari terus data yang kau kerjakan itu.” Vokal Alan sarkas.
“Oh ya, Kak. Aku bisa mencari beberapa referensi di media publikasi rahasia mengenai the future. Paman menyembunyikan Megan yang sebuah the future menjadi bangsa manusia biasa tanpa diketahui siapa pun sejauh ini. Dan dia berhasil, kalau begitu Paman juga pasti menyimpan berkas data yang valid tersebut.”
“Aku bisa membantu mencari tahu tempat penyimpanan melaui sensorku,” celetuk Future tiba-tiba.
Yang membuat tiga pasang mata di sana mengernyit kecil.
“Bagaimana caranya?” Alan bertanya.
“Bawa aku ke tempat tersebut sehingga dengan mudah sensorku akan menemukan benda tersebut. Aku dilengkapi oleh micro chip yang bekerja untuk intelegence darurat jadi, dengan menatap benda tersebut secara otomatis datanya akan mengakses langsung ke sistem inputku.”
“Wow, bagus.” Alan dapat sedikit menghela napas lega. Masalah mengenai bagaimana mereka membawa Future ke Doujav Corp akan ia pikirkan nanti. Yang penting planing sudah tersedia dan rencana aman.
“Ketemu!” Itu suara Andrew yang besorak, sementara matanya fokus pada layar laptop di hadapannya.
“Duxvess, Prieoulito, dan Aeireaine. Tiga buah planet masa depan yang diprediksi akan hadir nantinya,” sambungnya.
“Aeireaine! Iya, itu adalah nama planet mereka tinggal.” Gantian Clava yang bersorak semangat.
Pamannya mengatakan kata itu juga tadi sore. Ingatannya masih bagus dan Clava tidak seceroboh itu untuk tidak menulisnya di tempat lain, siapa tahu dia akan lupa.
“Ini, Kakak bisa baca paragraf pertama dari berkas ini.” Yang Clava sodorkan pada Andrew dan Alan.
Ketika kedua lelaki itu baca, mereka mendelikkan matanya sama-sama.
“Sepertinya memang benar kalau planet mereka ini, Al,” komentar Andrew.
Namun sepanjang kalimat yang tertera di sana, Alan salah fokus pada salah satu kalimat yang menjelaskan.
“The future yang sampai ke bumi manusia bukan tanpa alasan yang jelas. Mereka bisa kembali ke planet asal mereka setelah menyelesaikan urusan penting mereka di dunia manusia.” Alan membaca kalimat yang tertera di sana.
“Ketika mesin dimensi waktu bergerak cepat dan menimbulkan kerusakan yang berimbas pada planet dari masa depan. Hal inilah yang menyebabkan makhluk luar angkasa dapat turun ke bumi manusia. Selain itu pula, mereka seolah diutus untuk menyelesaikan persoalan yang sering kali meresahkan penduduk bumi.”
“Jadi, bisa jadi kehadiran Future di sini bukanlah kebetulan semata? Yang kutangkap maksudnya seperti itu,” sela Andrew.
Di sebelahnya Clava mengangguk. “Bisa jadi Kak. Tapi itu juga merupakan opini yang paling mendukung.
“Para the future tidak berkeliaran tanpa maksud tertentu, itu meamg benar. Tapi biasanya berlaku hanya jika kami berada di tempat kami yang asli. The future yang turun ke bumi, berdasarkan olah uji laboratorium di planetku masa itu, kami murni turun karena pergerakkan dimensi waktu yang membawa kami ke sini.” Future menjelaskan panjang dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Tapi di berkas ini ...”
“Aku akan memeriksa apakah berkas ini asli berdasarkan peraturan yang berlaku di planet Future apa bukan. Tapi sebelumnya, untuk mengatasi masalah lain yang bisa muncul kapan saja karena aktivitas sinyal Future yang langsung terbaca dengan sebangsanya, aku akan meminimalisir atau mengunci datanya agar berada dalam tipe privat.” Andrew berucap yakin.
“Untuk menerobos sinyalnya saja sulit, Kak. Bagaimana caranya Kakak bisa merubah sinyal Future menjadi limit?” Giliran Clava yang menanggapi perkataan Andrew.
Hening, mendadak keadaan sekitar mereka menjadi mencekam. Future yang tidak menunjukkan reaksi apa pun. Bola matanya yang biasanya langsung sigap mengeluarkan seberkas cahaya karena menangkap sinyal obrolan orang-orang terdekatnya, malam ini justru terlihat biasa saja.
Andrew masih sibuk dengan laptopnya dan menarikan jemarinnya di atas keyboard tersebut. Clava juga tidak banyak bertingkah ataupun mengucapkan sepatah kata.
Dalam situasi seperti ini, yang paling utama adalah ketenangan pikiran agar otak kanan dan kiri seimbang sehingga dapat kembali bekerja dengan betul. Olah pikir yang terkonsep pun semakin membaik karena minimalnya problema yang teratasi.
Pada pukul dua belas malam tepat sekarang ini, disaat orang-orang tengah menikmati tidur pulas mereka. Namun berbeda halnya dengan Alan, Andrew, Clava, dan juga Future. Oke, mungkin tidak untuk Future karena dia adalah sebuah robot yang tidak memerlukan waktu tidur. Tapi, bagaimana dengan tiga manusia yang lainnya di sana.
“Ck, pikiranku sedang buntu sekali malam ini astaga!” Alan mengerang kesal.
Disaat progress untuk robot buatannya sudah menemukan titik terang dan nyaris sempurna sebentar lagi, selalu saja ada persoalan lain yang membuatnya resah.
“Sudah larut malam sekarang, Clava sebaiknya kau pulang saja dulu. Kita akan bicarakan ini lagi besok.” Suara Alan kembali terdengar lebih tenang.
Ketika ia melirik jam di atas nakas dan waktunya memang sudah sangat mepet. Walau mata juga sudah merasa ngantuk namun, tak menghalangi keinginannya untuk melakukan pekerjaannya yang lain. Dan Alan optimis akan itu.
“Iya, sudah tengah malam begini, Va. Kau pulang saja dulu.” Andrew juga angkat suara.
Tidak bisa menolak juga karena Clava pun turut merasakan lelah. Seharian ini ia harus kuliah dan menyelesaikan tugas-tugasnya yang banyak. Lanjut dengan urusannya bersama para petinggi penting di Doujav Corp, dan sekarangg terjebak di situasi genting bersama para pegawai Doujav Corp ini.
Persoalan makhluk luar angakasa ternyata juga bisa se-meresahkan ini ya. Padahal awalnya Clava tidak berniat ikut campur sebanyak ini tapi, toh pun dari awal dia sudah mengatakan iya pada permintaan Alan dan Andrew.
“Kau bawa mobil?” tanya Andrew.
“Tidak, Kak. Tadi buru-buru jadi aku memutuskan naik ojek onlinne saja,” jawabnya lesu.
Tentu saja lesu, otaknya diperas habis seharian. Tenaga juga, ke sana kemari dengan terburu-buru dan dalam waktu singkat.
“Kalau begitu kau kuantar saja, kebetulan hari ini aku bawa motor.” Clava mengangguk sekenanya.
Ya, ini sudah larut dan tidak seharusnya ia berkeliaran pada jam-jam seperti ini karena gendernya adalah perempuan. Dan ia juga termasuk dalam golongan bangsa manusia bukan hantu. Kakinya pun menapak di tanah, tidak melayang-layang di udara. Jadi, sudah seharusnya bukan kalau dia adalah seseorang yang patut dilindungi?
Iyalah. Semua pasti menjawab demikian. Bukan hanya pada wanita tapi juga pada seluruh makhluk hidup yang berjalan di jalan yang benar dan melakukan kebaikan itu harus dilindungi.
“Yasudah ya Kak Alan aku pamit dulu. Future, aku pulang ya,” pamitnya sembari menunggu Andrew menyusun kembali barang-barang bawaannya kembali ke dalam ranselnya.
“Iya, kalian hati-hati.” Kalimat Alan sebagai penutup sebelum keduanya lengser dari sana.
***
Pagi beranjak dengan cepat, malam yang dingin dan singkat nyatanya sangat panjang bagi beberapa penghuni bumi. Beraneka ragam pekerjaan yang tersaji di dunia ini, para pekerja part time yang beraktifitas pada jam-jam berikut, ataupun para pekerja full time yang jam kerjanya mungkin kebagian 24 jam.
Begitu repot dan agak menyebalkan sebenarnya. Tapi mereka bisa menerimanya dengan lapang d**a dan iklhas.
Berbeda degan Alan yang pagi ini terlihat misuh-misuh tidak jelas. Sejak satu jam lalu datang ke kampus wajahnya original kerupuk kulit. Kusut dan ditekuk terus.
“Hoi, Al!”
Teriakan tersebut berasal dari seseorang yang saat ini sedang berlari menuju ke arahnya. Tanpa harus menoleh pun Alan tahu siapa dia. Suaranya sangat ia kenali.
“Alan-Alan-Alan, tunggu woy!”
“Apaan sih, And. Jangan tarik-tarik lengan bajuku. Kau ini suka-sukamu saja!” omel Alan dan Andrew pun segera melepaskan cengkraman tangannya pada baju Alan.
“Iya-iya maaf, kukira kau tidak mendengarku makanya kutahan. Kau ini kenapa sih masih pagi sudah kusam saja itu muka.”
Tidak menjawab, bagi Alan yang moodnya sedang drop sekali menanggapi perkataan Andrew sama saja dengan dirinya makan jeruk lemon, kecut. Bukannya membuat mood membaik malah semakin menurun.
Ditambah lagi, malam tadi ia tidak bisa tidur sama sekali. Ketika jam menunjukkan angka ke empat barulah ia bisa memejamkan mata. Namun, tidak lama setelahnya suara ayam jantan berkokok saling bersahutan membuatnya kembali terjaga.
Sekarang, hasil dari itu semua adalah lingkaran matanya yang menghitam seperti hantu.
“Al, kau habis nyoba make up atau bagaimana ini?”
Praktis Alan memalingkan tatapannya ke arah sahabatnnya itu. “Make up? Aku?”
“Hooh lah, yang kuajak bicara dari tadi kan dirimu. Memang ada orang lain lagi di sini selain kau?”
“Jawabnya bisa gak harus pakai gas aja gak? Lagi pula kenapa pertanyaanmu aneh begitu sih? Kau pikir aku berubah jadi Alana kalau malam, gitu?”
Andrew menyipitkan matanya, “Uh ... Alana, cucok,” katanya sembari mengibaskan jemarinya dengan lentik.
“Astaga.” Alan menggeleng-gelengkan kepalanya, pasrah sudah Alan tuh melihat kelakuan Andrew yang random sekali.
“Kau tidak becermin dulu apa mau ke kampus ha?”
“Apa? Memangnya kenapa?”
Sebelah jari telunjuk Andrew menunjuk tepat ke arah bawah mata Alan yang menghitam.
“Melihat keadaan matamu seperti itu, aku curiga kau belajar memakai bus on ya, Al?” tanya Andrew.
Sebentar, otak Alan meloading sejenak. Bus on? Apa pula itu?
“Kau bilang apa tadi, bus on?”
“Itu loh, Al yang biasa perempuan-perempuan pakai untuk make up. Kalau kata teman satu kelasku supaya terlihat fresh pakai itu. Tapi kok kau malah terlihat mengerikan seperti ini sih, Al?”
Oh my gosh!
Tahan Alan untuk tidak menggetok tempurung kepala Andrew dengan spatula ibu kantin. Bisa-bisanya dia berpikiran sepeti itu ya ampun Andrew.
“Blush on, Kadal bukan bus on. Itu juga warnanya merah bukan hitam lagian mereka dipakai di pipi bukan di bawah mata. Ya ampun kadal pikiranmu ternyata pendek sekali ya. Sangat sesat.” Alan membantah tegas.
Namun sebaliknya, Andrew justru terlihat histeris.
“Nah-nah itu, kau sampai sehapal itu rupanya ya, Al astaga. Mulai dari nama, warna, cara pemakaiannya pun kau tahu juga. Luar biasa Kak Alan yang cerdas ini, ternyata dalam dirinya yang kadang seperti es batu kadang seperti ular ini juga terdapat jiwa ngondek yang hakiki ya, Bund?”
“Aduh duh! Kau ini gemar sekali ya menyakiti teman sendiri.” Andrew berlagak kesakitan.
Plak!
“Bodo amat!”
“Hahaha ...” Tawa Andrew pun menyembur saat itu juga.
“Kenapa sih bapaknya kadal? Kau kenapa ha. Ayo cerita," ucap Andrew di sela tawanya.
***