"Jenni.. jangan lupa draft yang saya berikan kemarin di print.." suara seorang wanita dari dalam ruangan di belakang tempat duduk Jenni menggema membuyarkan pikirannya yang sejak tadi entah kemana, seperti nyawa yang terpisah dengan tubuhnya, Jenni pagi itu tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya yang sudah menunggu untuk dikerjakan. Tidak seperti biasanya Jenni melamun di ruangan yang biasanya selalu terdengar sibuk dengan suara keyboard komputer atau suara printer tersebut, entah apa yang membebani pikirannya aehingga dia sempat melupakan tugas-tugasnya yang sudah ditunggu oleh atasan dia bekerja. Pikirannya terbang entah kemana, hingga suara wanita paruh baya tersebut mengagetkannya dan langsung dijawab oleh Jenni dengan suara sedikit terhentak, "ya Bu, saya print kan dulu file-file nya, nanti baru saya ajukan ke bagian administrasi" Jawabnya sambil kemudian memegang mouse yang berada di meja depannya untuk mulai mencari draft file yang dimaksud.
Jenni saat ini menginjak semester 7 dimana dia sekarang sedang mengerjakan skripsi dengan tujuan agar dia bisa lulus 3,5 tahun. Beratnya beban mengerjakan tugas akhir, ditambah dengan pekerjaan yang harus dia selesaikan, belum lagi kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang dia ikuti seringkali membuat Jenni lupa mengenai keresahan hati yang dia rasakan. Namun tidak dengan hari ini, yang artinya perasaan hatinya saat ini lebih mendominasi di pikiran gadis yang berambut pendek sebahu tersebut daripada kesibukannya sehari-hari. Sejujurnya Jenni tidak ingin memikirkannya terlalu dalam, tapi bagian otak dan perasaannya tidak bisa membohongi dirinya sebagaimana dia sering melakukan kebohongan terhadap dirinya sendiri agar hatinya bisa sedikit terhibur.
Sepulang dari tempat dia bekerja yang juga merupakan tempat dia mencari ilmu, Jenni merebahkan tubuhnya di ranjang kos tempat dia tinggal yang tak jauh dari kampus bahkan bisa dikatakan berhadapan dengan pintu gerbang bagian samping kampus. Merupakan sebuah keberuntungan tersendiri bagi Jenni memiliki kos yang dekat dengan kampus sehingga bisa membuat gadis berkulit bersih ini lebih fleksibel bolak-balik kampus untuk mengurus berbagai macam kegiatannya. Namun, kos yang begitu dekat ini pun tak jarang di tempati oleh penghuninya karena dia lebih sering menghabiskan waktu di kampus. Kamar kos hanya sebagai tempat untuk dia menumpang tidur dan mandi.
Di dalam ruangan yang berukuran sekitar 3x4 itu Jenni mulai merasakan sesak di dadanya, menimbang semua kemungkinan yang akan terjadi dengan perasaannya tersebut. Hal yang sangat berat bagi seorang Jenni bahkan lebih berat daripada mengerjakan artikel yang sering dia kirimkan ke beberapa penerbit jurnal. Adapun tersangka dari keresahan yang dialami Jenni kali ini adalah temannya melakukan proyek penelitian di sebuah desa dekat kampus mereka yang tak lain adalah kekasih hati Jenni. Oh.. ralat!! Jenni belum mengiyakan untuk menerima pernyataan cinta yang diungkapkan oleh Julius, jadi mereka belum resmi menjadi sepasang kekasih sehingga kata "kekasih hati" sepertinya belum pas untuk digunakan saat ini.
Benar! Julius adalah penyebab utama dari kegalauan Jenni hari ini. Setelah mengungkapkan perasaannya kepada Jenni semalam di depan kos saat mengantar gadis itu pulang dari mengerjakan laporan penelitian mereka, Julius mengatakan jika Jenni menolak cintanya maka malam itu adalah pertemuan terakhir mereka karena Julius mengatakan tidak sanggup lagi jika harus bertemu Jenni dengan menyandang status sebagai seseorang yang pernah dia ditolak.
"Makasih ya yus udah anterin aku pulang" kata Jenni sambil membuka helmnya saat turun dari motor yang mereka kendarai, namun tiba-tiba Julius menangkap pergelangan tangan Jenni sebelum Jenni sempat melangkah pergi untuk masuk ke dalam kosnya.
"Jen, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.." Julius terlihat serius. Jenni sontak langsung memutar wajahnya untuk menatap sebuah wajah yang kini terlihat tanpa senyum tersebut.
"Mau ngomong apa? kok kayaknya serius banget? ada masalah ya sama tim kita?" jawab Jenni masih dengan rasa penasaran menatap wajab Julius.
"Ini bukan masalah tim, tapi ini mengenai kita.." Julius terlihat sedikit gugup ketika mengatakan kata "kita" sebelum dia melanjutkan kalimatnya. Jenni jangan ditanya lagi, dia terlihat makin bingung dengan gerak-gerik Julius yang tidak seperti biasanya yang suka bercanda dan membuat orang lain tertawa, kini di wajah pria itu bahkan tidak terlihat sedikitpun ada canda di dalamnya.
"...mengenai aku lebih spesifiknya.." Julius melanjutkan sambil menghirup nafas dalam-dalam kemudian dia mengatakan, "..aku cinta sama kamu Jen. Aku harap kamu jangan potong dulu kalimatku sebelum aku selesai menjelaskan.." Dia nampak kembali menghirup udara untuk mengisi rongga dadanya yang saat ini dipenuhi oleh kegugupan.
"..dari awal aku tau kamu di semester 1, aku sudah suka sama kamu. Aku sering kirim salam ke kamu lewat Ari, teman sekelasmu. Mungkin kamu tidak ingat atau mungkin juga Ari tidak menyampaikan salamku.." Julius melanjutkan penjelasannya ke Jenni sambil masih memegang pergelangan tangannya, ".. aku pernah minta nomor kamu saat itu, dan aku coba hubungi kamu tapi tidak pernah ada balasan hingga akhirnya aku menyerah dan mencoba melupakan kamu. Tapi, tiba-tiba aku dipertemukan lagi sama kamu bahkan dengan jarak yang lebih dekat dengan menjadi satu tim dalam proyek penelitian ini. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak memperlihatkan ketertarikanku sama kamu, tapi semakin aku tahan rasanya semakin menyakitkan.." dan kini Julius sambil memejamkan matanya, kembali menghirup udara sebanyak yang dia bisa.
"..aku tau kamu mungkin menganggapku pengecut karena tidak memperjuangkanmu dari awal aku tertarik padamu saat itu, dan itulah kenapa aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku ke kamu sekarang ini karena aku tidak mau menjadi pengecut untuk yang kedua kali dan aku tidak mau menyesal lebih dalam lagi.." dia mulai meregangkan genggamannya di pergelangan tangan Jenni yang tambak membatu mendengarkan semua ucapan Julius. Antara syok dan tidak percaya bahwa selama ini ada orang yang memendam perasaan kepadanya.
"..Jenn.. kamu dengerin aku ngomong kan barusan?" tanya Julius sambil sedikit mengguncangkan tangan yang ada di genggamannya. Jenni yang tampak membeku sedari tadi langsung sadar bahwa Julius sudah selesai menjelaskan apa yang ingin dia ungkapkan.
"..a...a..ku.. bentar!" jawab Jenni yang tergagap hatus menjawab apa, namun dia seketika sadar akan suatu hal. "Kamu gak lagi nge-prank aku kan yus? ihhh.. apa-apaan sih, kalau bercanda jangan keterlaluan donk.." gurau Jenni sambil memaksa memasang muka ramah untuk memastikan apa yang barusan dia dengar hanyalah candaan dari temannya tersebut.
"Jenn.. apakah aku ngomong barusan terlihat bercanda menurut kamu?" Julius kembali menanggapi dengan muka yang serius membuat senyum di muka Jenni seketika menjadi terasa berat.
"Kamu tatap mata aku, apa aku menurut kamu sedang bercanda?" Jenni ragu-ragu menolehkan wajahnya untuk mencari sebercik kebohongan di mata Julius, namun dia tak berhasil menemukannya.
"Aku serius Jen, aku cinta sama kamu. Dan aku tahu ini pasti membuat kamu syok kan? aku tidak menuntut kamu untuk menjawabnya sekarang, tapi ada satu hal yang harus kamu tahu, jika kamu memang tidak bisa menerima cintaku, lebih baik kamu segera kasih tau aku, karena dengan begitu aku bisa segera menjauh dari kamu dan tidak mengganggu kamu lagi." Jenni masih terdiam membatu di tempat yang sama sambil masih mencerna apa yang sedang dia dengar.
"Dan jika penolakan adalah jawaban kamu, mungkin malam ini adalah terakhir kalinya aku bakal nemuin kamu. Selanjutnya, jika kita berpapasan karena tidak sengaja, kamu tidak usah menyapa aku dan pura-pura saja tidak tahu atau tidak kenal aku, karena dengan begitu aku perlahan-lahan bisa melupakan kamu."
Kalimat demi kalimat yang diucapkan Julius seperti terngiang-ngiang di telinga Jenni. Banyak hal yang harus dia pertimbangkan sebelum memulai sebuah hubungan baru. Karena Jenni masih belum siap untuk membuka hatinya lagi! luka akibat dikhianati oleh orang yang dia anggap spesial masih menjadi trauma tersendiri bagi Jenni untuk memulai sebuah hubungan baru, mengingat kesibukan Jenni yang masih padat. Dia tidak ingin diselungkuhi untuk kedua kali dengan alasan yang sama yaitu karena dia tidak memiliki waktu untuk hubungan mereka. Di sisi lain, Jenni yang menyadari bahwa mereka masih butuh kerjasama untuk menyelesaikan laporan penelitian mereka, Jenni merasa bahwa Julius memojokkannya dengan pilihan yang sulit ini.
Lalu apakah Jenni akan memutuskan untuk menerima pernyataan cinta Julius atau dia akan menolaknya dengan alasan dia masih belum siap menjalin sebuah hubungan baru? ikuti terus kisah Jenni dan Julius ya.. jangan lupa love and vote yaaa...