"kita cari tempat untuk ngomong yukk.."
.
Dan di sinilah mereka berdua saat ini, Julius dan Jenni, di sebuah taman kecil di kota yang lumayan cukup banyak pengunjungnya meskipun hari sudah mulai gelap. Keheningan menyelimuti mereka berdua yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi yang disediakan di taman tersebut. Rasa gugup menyerang kedua insan tersebut hingga mereka merasakan keringat dingin mulai keluar dari tubuh mereka. Beberapa penjual kopi keliling terlihat di sekitar area taman untuk menjajakan barang dagangannya kepada pengunjung.
"Kamu mau kopi?" tawar Julius memecah keheningan yang mereka rasakan saat ini.
"ohh.." jawab Jenni singkat sambil menganggukkan kepala ragu-ragu, namun sejurus kemudian dia menimpali dirinya sendiri, "tapi kalau ada coklat hangat aja yus.." tambahnya kemudian lalu diikuti oleh Julius dengan memanggil salah satu pedagang yang baru saja melewati mereka.
"Kopi satu sama coklat satu pak" perintahnya kepada penjual keliling tersebut yang usianya mungkin sebaya dengan bapaknya di kampung halaman yang kemudian mendapat jawaban anggukan dari bapak tersebut seraya dengan cekatan mengambil 2 sachet minuman untuk kemudian dituang ke dalam gelas kertas berukuran sedang dan diikuti dengan air panas yang dibawanya di dalam termos.
"ini mas pesanannya" kata bapak tersebut sambil menyodorkan dua gelas berisi masing-masing kopi dan coklat panas yang salah satunya langsung diterima oleh Jenni. Julius kemudian berdiri hendak mengambil sesuatu di saku belakang celana yang dia pakai. Namun, saat merogoh saku celana tersebut, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi pucat dan itu tak luput dari perhatian mata Jenni sehingga dia langsung menanyakan apa yang terjadi.
"Kenapa yus?" tanya Jenni yang semakin membuat wajah Julius tampak merah dan kebingungan, namun kemudian dengan malu-malu dia mengatakan kepada Jenni "dompetku sepertinya ketinggalan di tas tadi Jen.." dengan suara sangat pelan dan malu dilengkapi dengan wajah memerah karena menahan rasa malu.
"ohh.. yaudah biar aku saja yang bayar kalau gitu," jawabnya seraya mengeluarkan dompet dari tas kecil yang selalu dia bawa ketika dia keluar kos dan segera membayar minuman yang sudah mereka beli.
Keheningan kembali menyelimuti mereka dengan Julius yang masih merasakan malu dengan memegang kopinya dan Jenni yang sesekali menyeruput coklat panasnya untuk menghilangkan kecanggungan yang ada diantara mereka. "Kenapa suasananya berubah jadi canggung gini sih?" pikir Jenni dalam hati tapi tidak berani mengungkapkannya kepada Julius karena takut membuat suasana semakin canggung.
"Besok kalau ketemu baru aku ganti ya uangmu.." ucap Julius akhirnya memecah keheningan diantara mereka.
"Ehh.. ngapainn?? nggak usah yus.." jawab Jenni spontan ketika mendengar uangnya akan diganti padahal harga kopi yang diminum Julius tidaklah seberapa menurutnya.
"Aku yang gak enak, masa iya cowok dibayarin cewek.." Jawab Julius yang masih merasakan malu jika mengingat kejadian tadi.
"Hahahaha.. Nggak apa-apa yus.. beneran deh.. anggap aja hari ini aku yang bayarin kamu soalnya aku yang ngajak kamu buat ngobrol di luar.." Jawab Jenni sambil tertawa mengingat wajah kebingungan Julius tadi saat merogoh saku celananya dan sadar kalau dompetnya ketinggalan.
"Lagian ini bukan salah kamu juga kok, kan aku ngajaknya dadakan, jadi wajarlah kalau barang-barangmu ada di dalam tas. Paling-paling HP mu juga ikut ketinggalan kan?" Jenni mengingatkan Julius bahwa dia memang tidak membawa handphonenya tersebut, dan Julius pun mengiyakannya dengan senyuman tersungging tipis di wajahnya sambil mengangguk pelan. Namun lebih dari rasa malunya kepada Jenni, dia merasa lebih lega karena Jenni sudah mau tertawa lagi di dekatnya, tidak secanggung tadi waktu mereka berada di atas motor berdua.
"Oh iya, katanya kamu mau ada yang diomongin sama aku.." tagih Julius memberanikan diri dan tiba-tiba saja membuat atmosfer diantara mereka kembali terasa hening dengan degup jantung yang tak karuan rasanya dan bahkan sudah sangat sulit untuk dikontrol. Jangan tanyakan lagi bagaimana Jenni, bahkan dia mulai gugup dan menyeruput minumannya beberapa kali untuk menutupi kegugupan yang dia rasakan. Dan dia mulai merutuki kebodohannya yang tiba-tiba saja meminta Julius untuk bicara empat mata setelah mendengar pria itu memintanya untuk tidak meninggalkan tim mereka. Menarik nafas dalam-dalam, akhirnya Jenni memberanikan diri untuk angkat suara..
"Ehm.. mengenai obrolan kita beberapa hari yang lalu.." Jenni membuka suara dengan sedikit ragu dan suara bergetar, menandakan bahwa dia sebenarnya sedang gugup. Julius mendengarkan dengan seksama menatap lurus ke depan, entah apa yang sedang dia tatap saat ini, ingin sekali dia menolehkan wajah untuk menatap Jenni yang sedang berbicara, tapi dia tidak sanggup.. dia takut jika apa yang akan dibicarakan oleh Jenni adalah hal yang akan mengecewakan hatinya, dia tidak sanggup jika harus melihat wajah Jenni dengan kenyataan seperti itu.. dan detak jantungnya pun semakin keras dan tak teratur.
Sambil menunggu Jenni menyelesaikan kalimatnya, Julius tampak beberapa kali menyeruput kopi yang ada di tangannya. Dia pun tau kalau Jenni sebenarnya juga merasakan gugup dari suara yang bergetar yang dikeluarkan oleh Jenni membuat Julius memahaminya. Oleh karena itu, dia membiarkan Jenni mengambil waktunya untuk mengatakan apapun yang ingin dikatakan olehnya walaupun sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin mendengar kalimat-kalimat lanjutan yang akan dikeluarkan oleh Jenni. Di sisi lain, Jenni pun berusaha sebisa mungkin agar suaranya tidak terdengar terlalu gugup di telinga Julius sehingga dia mencoba menenangkan jantungnya terlebih dahulu sebelum mengatakan apa yang ingin dia ungkapkan. Butuh kekuatan yang cukup banyak bagi Jenni untuk akhirnya berani melanjutkan kalimatnya.
"..aku ingin menceritakan sesuatu hal dulu sama kamu. Ada banyak hal yang kamu tidak tahu mengenai aku yus.. jadi.. jika setelah mendengar ceritaku ini kamu masih tetap ingin meminta jawaban dariku atau tidak atas pertanyaanmu tempo hari, itu terserah kamu.." Jenni kembali melanjutkan kalimatnya dengan jantung yang tak kalah gugupnya. Kegugupannya pun membuat dia meneguk habis coklat di tangannya yang sudah mulai mendingin tersebut. Dia sendiri sebenarnya bingung mau memulainya dari mana, tapi dia harus menceritakan semuanya kepada Julius sebelum semuanya semakin salah faham, sebelum semuanya semakin berantakan, pikir Jenni. "Ayo Jenni!! kamu harus terlihat sebagai wanita yang kuat ketika kamu menceritakannya.. jangan tunjukkan kelemahanmu pada siapapun.." gerutu Jenni dalam hati pada dirinya sendiri yang masih saja merasakan jantungnya tidak bisa dia kontrol. Dengan sedikit meremaskan tangannya pada gelas yang kini isinya sudah habis, Jenni seakan mendapatkan kekuatan untuk mulai menceritakan pengalaman pahitnya tentang masa lalunya.. yaa.. masa lalu yang tidak ingin Jenni ingat sedikitpun.
Apa yaa.. yang kira-kira ingin diceritakan Jenni ke Julius?? Ada yang penasaran gak?? Yuk ikuti terus kisah Jenni dan Julius.. Jangan lupa love dan vote yaa..