"Wah kebetulan sekali kalian sudah datang. Kita kedatangan tamu spesial kali ini," kata Ibu ketika melihat kami mulai memasuki halaman rumah. Kami sampai di rumah ketika matahari sedang terik-teriknya di atas kepala.
Ayahku tersenyum menyapa tamu kami. "Selamat datang Tuan Jerome, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabar anda ?"
"Seperti yang kau lihat aku sangat sehat Leander sehingga masih bisa melakukan perjalanan sejauh ini," balas Tuan Jerome.
"Mungkin anda bisa masuk terlebih dahulu Tuan. Rasanya kurang sopan beramah-tamah tanpa mempersilahkan anda masuk. Anda mungkin juga lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Maaf badanku kotor, begitupula dengan anak-anak sehingga kami harus membersihkan badan terlebih dahulu. Anggap saja rumah sendiri Tuan."
Setelah Tuan Jerome menganggukkan kepalanya, Tuan Jerome pun masuk ke rumah. Ayahku pun berlalu membawa gerobak sayur dengan aku dan kak Alexo yang masih berada di atas gerobak.
"Apakah orang itu benar teman lama Ayah ? Dilihat dari pakaiannya sangatlah bagus dan terbuat dari bahan berkualitas," tanya Kak Alexo dengan terheran-heran. Ayah hanya melirik dan melanjutkan memasukkan kuda di kandang. "Kau pikir Ayah hanya berteman dengan kalangan rakyat jelata saja ? Lebih baik kalian segera membersihkan diri agar Tuan Jerome tidak menunggu terlalu lama." Akhirnya aku dan Kak Alexo pun bergegas masuk rumah melalui pintu belakang.
...
Aku melihat Ibu sedang menjamu tamu kami dengan beberapa cemilan dan teh hangat di atas meja. Sebenarnya aku malas mengikuti obrolan para orang tua, akan tetapi tadi Ayah sudah berpesan agar aku juga menemui Tuan Jerome. Di ruang tamu mereka sudah berkumpul, begitu juga dengan Kak Alexo. Ayah yang pertama kali menyadari kedatanganku. "Kemarilah Acasha, kau belum menyapa Tuan Jerome dengan benar."
Aku pun mendudukkan diri di salah satu kursi kosong di sebelah Kak Alexo, kemudian melemparkan senyuman dengan sedikit menganggukkan kepala ke arah Tuan Jerome. Aku mulai memikirkan perkataan Kakak perihal pakaian Tuan Jerome. Kalau dilihat memang kualitas pakaiannya bagus, mungkin saja Tuan Jerome adalah seorang bangsawan atau bahkan anggota kerajaan. Tapi rasanya tidak mungkin juga anggota kerajaan bepergian tanpa pengawalan.
Ayahku mulai mengenalkan siapa tamunya."Tuan Jerome ini adalah teman Ayah yang datang dari Benua Dísi. Beliau kesini karena ada urusan dan mungkin akan tinggal disini untuk beberapa waktu. Benarkan Tuan ?"
"Iya jika tidak merepotkan atau keberatan, aku akan menumpang untuk tinggal disini sementara waktu"
Ibuku langsung menyahuti, "Tentu saja Tuan. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk anda. Anda juga bisa tinggal disini selama yang anda mau. Bukankah begitu suamiku ?"
"Iya benar sekali Tuan, anak-anak ku juga pasti dengan senang hati menyambut anda", ucap Ayahku dengan tersenyum lebar.
Tuan Jerome memandangiku dan Kak Alexo sambil menerawang jauh. Tak lupa dengan senyum hangatnya yang selalu terpasang di wajahnya seperti mengenang sesuatu yang indah. "Sudah lama sekali aku tidak melihat Alexo dan Acasha. Terakhir kali ketika Acasha masih bayi dan Alexo juga baru berusia 3 tahun. Lihatlah mereka sudah sebesar ini sekarang"
"Jadi Tuan Jerome ini memanglah teman Ayah ? Wah aku kira tadi Ayah hanya berbohong", tanya Kak Alexo begitu antusias.
"Bukan sekedar teman, bahkan kami dulu pernah bekerja di tempat yang sama sebelum suatu hal mengharuskan Ayahmu pergi. Kalian bisa memanggilku Paman, tidak perlu seformal itu."
Aku melihat Kak Alexo semakin bersemangat mendengar jawaban Tuan Jerome."Ayah dulu bagaimana Paman ? Apakah disana Ayah juga seorang petani ?"
"Ckck kau terlalu meremehkan Ayahmu Alexo. Ayah mu dulu adalah orang yang hebat bahkan sangat disegani disana. Apakah Ayahmu tidak pernah bercerita tentangnya ?"
"Sudahlah Tuan, tidak perlu terlalu melebih-lebihkan. Aku tidak punya waktu untuk menceritakan perihal masa lalu. Aku juga tidak mau sampai kelepasan menceritakan hal yang belum waktunya mereka dengar."
Aku hanya menyimak pembicaraan itu tanpa berniat bergabung. Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan tetapi dari tadi tidak ada kesempatan untuk ikut bergabung. Tuan Jerome juga akan tinggal disini, sehingga masih banyak waktu untuk berbincang dengannya. Jika dilihat Tuan Jerome memang terlihat seumuran Ayah, tetapi ternyata usianya 10 tahun lebih tua dari Ayah. Dengan fisiknya yang begitu sehat, aku tidak menyangka akan sejauh itu perbedaan usia keduanya. Perbincangan diantara mereka terhenti ketika Ibu menyuruh kami untuk makan siang, mengingat memang sudah masuk waktunya makan siang.
...
Aku duduk termenung di teras rumah memandangi matahari yang mulai kembali ke peraduannya. Langit cerah tanpa mendung mempercantik suasana senja sore ini. Sebenarnya aku sangat menyukai senja, akan tetapi kali ini aku tidak menikmatinya karena teralihkan oleh banyak hal yang tengah berkecamuk di kepalaku. Memikirkan perbincangan keluargaku dengan Tuan Jerome. Seperti alasan keluargaku pindah ke tempat yang begitu jauh dari tempat asalnya.
Apakah dulu Ayah pernah melakukan suatu kejahatan atau menyinggung keluarga kerajaan sehingga harus diasingkan ke tempat yang begitu jauh ? Kenapa juga Ayah selama ini tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya. Apalagi kata Tuan Jerome, Ayah adalah seorang yang hebat. Bukankah semua Ayah ingin terlihat hebat di mata anak-anaknya, sehingga mereka akan menceritakan pengalamannya dengan bangga ?
***