Tito Ardyanto, laki-laki yang hanya dengan kedatangannya saja sudah mampu membuat beberapa orang mundur, tidak perlu mereka ketahui seperti apa Tito itu, cukup melihat tindik di kedua daun telinganya, maka semua orang tahu betapa berandalnya laki-laki tampan itu, dan melupakan fakta bahwa dia merupakan siswa pintar di sekolah terbaik di Jakarta.
Tidak ada pekerjaan bermutu yang dilakukan Tito, selain bolos dan mengenal apa itu ‘dunia malam’ selama dirinya sekolah.
Itu semua adalah bentuk kemarahan atas meninggal ibunda yang sangat ia sayangi, yang kemudian disusul dengan meninggalnya kakak perempuannya. Menyisakan seorang Ayah yang maniak kerja, dan hanya meninggalkannya dengan kartu kredit serta uang yang melimpah di ATM nya.
Tito selalu berharap, bisa membeli kebahagiaannya melalui uang yang selalu ayahnya kirimkan padanya.
Tito mungkin masih memiliki tata krama dalam perihal permintaan ‘terima kasih’, tapi sebenarnya dia tidak sebaik itu. Dia jarang mengucapkan kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’, apalagi ‘tolong’. Dia bahkan lupa kapan terakhir dia mengucapkan kata itu, mungkin beberapa tahun yang lalu saat kakaknya masih hidup.
Tapi, sepertinya memang Tito harus dipertemukan oleh Januar, dan memang saatnya Tito harus belajar mengucapkan tiga kata ajaib itu kembali, karena setelah Tito mengucapkan ‘terima kasih’, Januar menerima pertemanan yang Tito tawarkan padanya, hingga mereka duduk di bangku kuliah.
Karena Januar, Tito mengerti bagaimana cara menjaga teman dan melindunginya, karena menurutnya, Januar adalah sebuah kaca yang harus dijaga, terlepas bahwa dia adalah seorang laki-laki.
Bahkan ketika di masih SMA, Tito rela datang ke kediaman Januar pada tengah malam, diam-diam masuk melalui jendela kamar laki-laki itu, apabila Januar menelpon dan menangis setelah dihukum oleh ayahnya. Hanya untuk memastikan bahwa Januar sudah makan, dan Januar tidak melakukan tindakan konyol selanjutnya, lalu akan meninggalkan Januar ketika laki-laki itu sudah tidur pulas, dan dirasa aman untuk ditinggalkan. Melupakan fakta bahwa Tito harus menempuh 45 menit agar sampai ke rumah Januar.
Tito adalah seorang mahasiswa biasa yang sekarang menempuh di semester 5. Setelah pertemuannya dengan Januar, Tito merasa menjadi lebih dipandang baik oleh orang, tidak ada lagi yang memandangnya takut seperti SMA dulu, bahkan sampai saat ini, Tito bisa dengan mudahnya menggaet seorang teman baru, entah itu senior maupun junior.
Salah satunya adalah dia bisa berkenalan dengan Juan, si junior 2 tahun di bawahnya, serta dekat dengan Jessi, junior 1 tahun di bawahnya yang sudah 2 semester ikut ke dalam kelasnya. Tito mengenal 2 orang itu karena kesukaan yang sama, sama-sama menyukai dunia malam.
Walaupun sama, mereka tetap memiliki aktifitas yang berbeda, Juan yang hanya sebatas menari dan berdansa di lantai dansa, sedangkan Jessi hanya meminum wisky kesukaannya, berbeda dengannya yang menyukai alkohol, merokok, bahkan sering menyentuh para wanita di club itu.
Ketika di bangku SMA, Tito pernah mengenal apa itu n*****a, dan sudah menjadi pengkonsumsi selama 2 tahun, sebelum dirinya bertemu dengan Januar, si lelaki terlurus. Januar selalu menemaninya yang akan rehabilitasi dan memberikan dukungan apapun untuk Tito.
Tito bahkan bingung, apa motivasinya mengikuti saran Januar untuk berhenti dari n*****a. Juna juga mengetahui bahwa Tito pernah mencintai sebuah n*****a, karena Tito pernah menceritakannya dikala mabuk bersama.
Tito tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus, selain ia dapatkan dari teman-temannya, terkhusus Januar. Setiap dekat dengan teman-temannya, Tito merasakan sebuah kehangatan dan aura kasih sayang bisa mengenai dirinya. Tito menemukan rumah yang lebih baik dari kemegahan rumahnya sendiri.
Tito pernah menyicipi kenyamanan dari alkohol, n*****a dan rokok, tapi itu semua selalu kalah setiap Januar datang dengan mengantarkan sebuah roti dan sekaleng s**u cokelat setiap dia pulang sekolah ketika di SMA dulu hingga kini.
Bahkan, ketika Juna datang dan langsung merangkul lehernya dari belakang, sikap yang membuatnya bisa lupa akan sekotak rokok di dalam tasnya. Semudah itu memberikan kasih sayang dan kenyamanan kepada Tito yang tak pernah merasakan manisnya kasih sayang.
Tito tidak pernah menolak pemberian dari teman-temannya, termasuk Jessi, meskipun pemberian Jessi terlihat cukup girly, tapi dia merasakan Jessi begitu peduli dengannya. Hal inilah yang menjadi alasan mereka begitu menyukai sosok Tito. Menghargai apapun yang diberikan tanpa mengeluh.
Setelah bertemu dengan Jessi, Tito bertemu dengan gadis bernama Stella. Gadis yang terlihat biasa saja, tapi Tito tahu bahwa itu merupakan gadis yang sering menemani Jessi berjalan-jalan keluar negeri. Stella adalah gadis yang manis dan nampak dewasa di mata Tito, lebih dewasa dari seorang Januar. Bahkan Tito sempat terpikir untuk menjodohkan Stella dengan Januar.
Dari pertemuan dengan berbagai macam orang, Tito berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dia jarang sekali merasakan kesepian seperti yang biasanya ia rasakan di rumah. Dia rela tidak pulang ke rumah 1 minggu, daripada tidak bertemu dengan teman-temannya 12 jam. Bahkan ketika bertemu mereka, dia bisa melupakan bahwa malam itu jadwalnya untuk berkunjung ke club X.
“Kalian adalah orang-orang yang menghapus rasa kesepianku. Aku tidak bisa apabila tidak melihat kalian semua saat di kampus, aku harus melihat kalian dalam keadaan baik-baik saja atau aku akan menelpon berkali-kali sampai salah satu di antara kalian, yang tidak aku lihat, mengatakan ada dimana. Kalian sangat berarti dalam hidupku, dalam masa mudaku dan segalanya yang ada pada setiap detikku. Kalian segalanya, kalian adalah kesayanganku. Aku tidak akan menghapus memori apapun tentang kalian. Aku sangat menyayangi kalian” Tito - 2015