Puskesmas Pembantu Kenalan, Magelang. Pukul 00.15 WIB.
Langit-langit ruangan itu berwarna putih kusam. Ada retakan kecil di sudut kanan atas berbentuk seperti sungai di peta, bercabang tiga lalu berhenti begitu saja sebelum mencapai tepi. Catnya mengelupas di pinggirnya. Sebuah lampu neon, yang satu dari dua tabungnya sudah mati, menyisakan cahaya remang yang membuat ruangan terasa seperti sore hari yang melankolis.
Perempuan itu menatap langit-langit selama dua menit penuh. Hanya itu satu-satunya hal yang tidak menyakitkan untuk dilakukan.
Kepalanya terasa seperti dipukul-pukul martil dengan irama yang konstan. Setiap kali ia mencoba menggerakkan leher, ada sesuatu yang keras dan asing melingkarinya. Itu adalah neck collar. Di punggung tangannya, jarum infus tertancap dingin. Bau ruangan campuran antiseptik, kain lembap, dan aroma tanah basah yang menyusup dari celah jendela. Terasa asing, namun entah kenapa terasa akrab di sudut memorinya yang paling gelap.
Ia tidak tahu di mana ia berada.
Ia tidak tahu jam berapa sekarang.
Ia tidak tahu—
Siapa aku.
Pikiran itu datang bukan sebagai kepanikan, melainkan seperti seseorang yang membuka laci yang seharusnya penuh, lalu mendapati laci itu kosong melompong. Kekosongan yang tenang, namun justru ketenangannya itulah yang mengerikan.
Ia mencoba meraih sesuatu di kegelapan. Ada bayangan yang bergerak terlalu cepat: sebuah gedung tinggi, aroma kulit mahal, angka-angka digital yang berpijar. Namun begitu ia mencoba menyentuhnya, bayangan itu larut seperti tinta di atas air.
Nama. Siapa namanya?
Nihil.
Ia menarik napas panjang. Jangan panik.
Keputusan itu diambil dengan sangat dingin. Ada sesuatu dalam dirinya yang terbiasa mengambil keputusan di bawah tekanan, meski ia tak tahu dari mana asal insting itu. Ia mulai membedah realita dari apa yang bisa ia lihat.
Kuku tangannya terawat. Ada cat kuku hitam yang masih sempurna, tapi bukan tangan orang yang terbiasa bekerja fisik. Di pergelangan kiri ada garis putih tipis di kulit yang sedikit lebih gelap, seperti bekas jam tangan yang dipakai setiap hari. Bajunya kini berupa kain katun polos kebesaran yang jelas bukan miliknya. Namun di kursi sudut ruangan, terlipat sebuah blazer hitam yang robek di lengan kiri.
Blazer mahal. Ia tahu itu, meski ia tak tahu bagaimana ia bisa tahu.
"Oh."
Suara itu bukan miliknya. Di ambang pintu, seorang perempuan paruh baya dengan seragam perawat muncul. Matanya membelalak.
"Astaga, Nona sudah sadar! Pak Dok—Pak Dok!" Perawat itu setengah berteriak ke arah lorong sebelum teringat ini tengah malam. "Sebentar ya, Nona, saya panggilkan dokternya."
"Tunggu."
Suaranya sendiri terdengar asing—serak dan berat, namun ada otoritas yang keluar secara refleks. Perawat itu terpaku.
"Saya... di mana ini?"
"Puskesmas, Nona. Di daerah Borobudur, Magelang. Nona dibawa warga tadi malam setelah kecelakaan di jalur Menoreh," jawab perawat itu sambil mendekat untuk memeriksa infus. "Nona sudah pingsan hampir satu jam."
Magelang. Kata itu tidak memicu memori apapun.
"Nama saya—" Ia berhenti. Laci kosong itu kembali menganga. "Saya tidak ingat nama saya."
Devano mendengar itu dari balik pintu.
Ia sudah berdiri di sana selama tiga menit—tangan di saku, bahu bersandar pada dinding kayu yang dingin. Ia mendengarkan suara yang terakhir kali ia dengar sepuluh tahun lalu; suara yang dulu pernah menjanjikan harapan, kini terdengar asing dan hampa.
Saya tidak ingat nama saya.
Devano memejamkan mata sejenak, lalu mengetuk pintu dan melangkah masuk.
Perempuan di ranjang itu langsung menatapnya. Tatapan itu masih sama. Tajam, langsung, seolah sedang menghitung nilai seseorang dalam tiga detik pertama. Namun malam ini, tatapan itu seperti kompas yang kehilangan arah utaranya.
"Dokter?" suaranya datar, lebih kepada konfirmasi daripada bertanya.
"Ya." Devano menarik kursi ke sisi ranjang. "Saya Devano. Dokter yang menangani Anda."
Tidak ada reaksi. Nama itu tidak memancing kilat pengakuan sedikitpun.
"Bu Parti," Devano menoleh pada perawatnya, "bisa tolong siapkan air minum? Terima kasih."
Begitu Bu Parti keluar, Devano kembali menatap pasiennya. Dari dekat, luka di pelipis perempuan itu sudah dijahit rapi—lima jahitan yang ia buat dengan tangan yang berusaha keras untuk tidak gemetar.
"Bisa cerita apa yang Anda ingat?" tanya Devano. "Apa pun."
Perempuan itu mengernyit sedikit, lalu meringis karena sakit. "Langit-langit. Saya menghabiskan beberapa menit memetakan retakannya. Seperti delta sungai kecil."
Devano terdiam. Masih sama—selalu analitis, bahkan saat hancur.
"Saya mencoba mengingat nama saya. Tidak bisa. Seperti..." Ia mencari kata yang tepat. "Seperti file yang corrupt. Saya tahu datanya ada di sana, tapi tidak bisa diakses."
"Anda mengalami amnesia retrograde," jelas Devano dengan nada profesional yang dipaksakan. "Kehilangan memori episodik tentang identitas diri. Tapi memori semantik Anda—pengetahuan umum dan cara berpikir—biasanya tidak terdampak."
"Apakah ini permanen?"
Langsung ke inti. Tanpa air mata. Devano merasakan dadanya sesak. "Biasanya sementara. Bisa pulih dalam hitungan hari atau minggu. Tapi perlu pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit kota besok pagi."
"Kalau begitu, saya harus ke sana secepatnya."
"Besok," potong Devano tegas. "Malam ini Anda tidak ke mana-mana. Kondisi Anda belum stabil."
Sebuah ekspresi tipis muncul di wajah perempuan itu: ketidaksukaan karena diperintah. Namun, ia tidak memprotes. Ia tampak menyadari bahwa saat ini, satu-satunya orang yang memegang kendali atas hidupnya adalah pria asing di depannya ini.
"Ada yang bisa saya hubungi?" tanya Devano.
"Tidak tahu."
"Ponsel Anda tidak ditemukan di lokasi. Mobil Anda masuk ke dasar lereng."
Perempuan itu menatap tangannya yang polos tanpa cincin. "Artinya, tidak ada yang tahu saya di sini."
"Belum."
Ia mendongak, matanya menyipit tajam. "Apakah Dokter tahu siapa saya?"
Devano terdiam selama dua detik. Jeda yang terlalu lama bagi seseorang sepintar Reyna.
"Dokter tahu siapa saya," tuduhnya. Bukan lagi sebuah pertanyaan.
Devano tidak mengiyakan, tidak juga menyangkal. "Ada identitas yang ditemukan di mobil Anda. Saya menyimpannya. Tapi Anda butuh istirahat sebelum memproses informasi apapun."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Karena otak yang kelelahan tidak akan bisa menerima kenyataan dengan baik." Devano berdiri, mengakhiri percakapan. "Tidurlah."
Perempuan itu kembali menatap langit-langit. "Delta sungai itu," gumamnya lirih, suaranya mulai berat oleh pengaruh obat dan kelelahan. "Cabang tengahnya akan tembus ke sudut... yang kanan berhenti di tengah..."
Devano berdiri di ambang pintu, menatap bayangan perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang kini bahkan tidak mengenali namanya sendiri.
Ia meraba saku jas putihnya. Ada selembar kartu plastik di sana. Sebuah KTP dengan nama yang sangat ia hapal: REYNA KIRANA ADITYA.
"Apa yang harus aku lakukan padamu sekarang?" bisik Devano pada kesunyian lorong.
Hujan di luar benar-benar telah berhenti, meninggalkan bau tanah yang menusuk dan keheningan yang menyesakkan.