"Aaaah!"
Aku terbangun dengan napas memburu.
Dadaku naik turun dengan cepat, sementara keringat dingin membasahi pelipis dan punggungku. Butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa aku masih berada di kamar, bukan di jalan setapak gelap yang muncul dalam mimpiku.
Lagi.
Mimpi itu lagi.
Aku memejamkan mata sambil mengatur napas.
Sudah seminggu.
Tujuh malam berturut-turut aku bermimpi tentang hal yang sama.
Jalan setapak yang tak berujung.
Pepohonan tinggi yang menutupi langit.
Dan makhluk hitam mengerikan yang terus mengejarku.
Yang paling membuatku tidak nyaman adalah kenyataan bahwa mimpi itu selalu terasa nyata. Terlalu nyata.
"Rienetta!"
Suara Bibi Sophie terdengar dari balik pintu.
"Kau sudah bangun? Hari ini hari pertamamu kuliah."
Aku menghela napas panjang.
"Sudah, Bi."
"Kalau begitu cepat bersiap. Jangan sampai Aeneas menunggu terlalu lama."
Aku tersenyum tipis mendengar nama itu.
Aeneas.
Satu-satunya hal yang membuat kepindahan ke Vierra Town terasa sedikit lebih mudah. Aeneas adalah sahabat yang telah menemaniku sejak kecil, sosok yang selalu ada di setiap fase penting dalam hidupku.
Setelah memastikan diriku benar-benar sadar, aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela.
Cahaya matahari pagi menyelinap di antara dedaunan lebat yang mengelilingi rumah ini.
Pemandangan itu masih terasa asing.
Seminggu yang lalu aku masih berada di Middlerea.
Kota kelahiranku.
Rumahku.
Tempat seluruh kenanganku berada.
Namun keadaan memaksaku pergi.
Aku mengalihkan pandangan dari jendela.
Memikirkan masa lalu di pagi hari bukan ide yang bagus.
Hari ini adalah awal yang baru.
Setidaknya aku harus mencoba meyakinkan diriku sendiri tentang hal itu.
---
"Lihatlah dirimu."
Bibi Sophie menggeleng pelan saat aku memasuki ruang makan.
"Ada yang salah?" tanyaku sambil duduk.
"Menurutmu?"
Aku menunduk memperhatikan pakaianku.
Kemeja putih.
Celana jeans biru muda.
Sepatu kets putih.
Menurutku tidak ada yang aneh.
"Kau akan kuliah, bukan pergi mendaki gunung."
Aku tertawa kecil.
"Bibi berlebihan."
"Aku hanya tidak mengerti kenapa kau selalu menolak memakai gaun."
"Karena aku ingin bisa bernapas dengan nyaman."
Bibi Sophie mendesah pasrah.
Aku segera menggigit roti bakar yang sudah disiapkannya.
Meskipun sering mengomel, Bibi adalah orang yang paling menyayangiku di dunia.
Sejak Ayah dan Ibu meninggal sebelas tahun lalu, dialah yang selalu berada di sisiku.
Karena itu aku tahu kepindahan ini juga tidak mudah baginya.
"Pagi, wanita-wanita cantik."
Suara yang sangat kukenal membuatku menoleh.
Aeneas baru saja masuk.
Senyumnya yang lebar langsung memenuhi ruangan.
Seperti biasa.
Dialah Aeneas, lelaki yang selalu bermulut manis dan bersikap ramah. Dia benar-benar kebalikan dari aku yang tertutup dan tidak suka bergaul. Sementara baginya mudah untuk membuat semua orang menyukainya. Aeneas berambut coklat gelap, tubuhnya tinggi dan berbadan atletis, bisa dibilang itu adalah hasil dari hobinya bermain sepakbola sejak kecil sampai sekarang.
"Aeneas."
Bibi Sophie tersenyum hangat saat pemuda itu mencium punggung tangannya dengan sopan.
Beberapa detik kemudian ia sudah berdiri di samping kursiku.
"Siap menghadapi hari pertama?"
"Tidak." Jawabanku membuatnya tertawa.
"Konsisten sekali."
"Aku hanya jujur."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan memastikan kau tidak kabur sebelum kelas pertama dimulai."
Aku memutar bola mata.
Ancaman itu terdengar sangat mungkin dilakukan olehnya.
---
Perjalanan menuju Marche University memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Sepanjang jalan, Aeneas terus bercerita tentang kampus, dosen-dosen yang harus kuhindari, hingga klub sepak bola yang hampir menjadi seluruh hidupnya.
Aku hanya mendengarkan sambil memandangi pemandangan di luar jendela.
Vierra Town berbeda dari kota mana pun yang pernah kukunjungi.
Di sini, pepohonan tumbuh lebih rapat.
Hutannya lebih lebat.
Dan entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku merasa tidak tenang.
"Kau melamun lagi."
Suara Aeneas membuyarkan pikiranku.
"Hm?"
"Kau memikirkan Middlerea?"
Aku terdiam sesaat.
"Lumayan."
"Berikan waktu."
Aku tersenyum tipis.
Mungkin dia benar.
Mungkin aku hanya butuh waktu untuk beradaptasi.
Tak lama kemudian mobil memasuki area kampus.
Marche University berdiri megah di tengah hamparan pepohonan rindang.
Bangunannya terlihat tua, tetapi justru itu yang membuatnya menarik.
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku merasa sedikit bersemangat.
Mungkin hari ini tidak akan seburuk yang kubayangkan.
Aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Lalu rasa sakit itu datang.
Mendadak.
Tajam.
Seolah seseorang menusukkan tombak tepat ke d**a kiriku.
"Akh!"
Aku terhuyung mundur hingga punggungku membentur mobil.
Pandangan menjadi kabur selama beberapa detik.
"Rie!"
Suara Aeneas terdengar panik.
Aku menggenggam d**a sambil berusaha mengatur napas.
Apa itu tadi?
Karena sesakit apa pun, rasa nyeri itu menghilang secepat saat ia muncul.
Meninggalkan kebingungan yang sulit dijelaskan.
Dan tanpa sepengetahuanku, di sisi lain kampus, seseorang baru saja merasakan hal yang sama.
===
"Rick, kau baik-baik saja?"
Richard Willem mengangkat kepala dari laptopnya di perpustakaan.
Sesaat sebelumnya, rasa sakit yang sama menghantam dadanya.
Tajam.
Mendadak.
Lalu menghilang begitu saja.
Namun yang paling aneh bukanlah rasa sakit itu. Melainkan perasaan hangat dan damai yang muncul sesudahnya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Sebagai Pemburu Kegelapan, Richard terbiasa menghadapi iblis, pertarungan, bahkan kematian.
Tapi perasaan aneh itu?
Tidak.
Itu jauh lebih mengganggu.
Aku menoleh, disampingku Ferdinand memandangku dengan wajah khawatir. Aku mengangguk setelah akhirnya bisa menguasai diri untuk menghindari tatapan ingin tahu orang-orang yang berada di perpustakaan.
Namaku Richard Willem. Di mata mahasiswa Marche University, aku hanyalah mahasiswa tahun ketiga yang menjalani kehidupan normal seperti kebanyakan orang. Tidak ada yang tahu bahwa di balik identitas itu, aku dan kedua sahabatku—Ferdinand Latov dan Benjamin Hunt—bertugas melindungi Vierra Town dari ancaman para iblis.
Dan memang begitulah seharusnya.
Semakin sedikit orang yang mengetahui identitas kami, semakin baik.
"Perlukah kita keluar dari sini?" bisik Ferdinand sambil menatapku penuh curiga.
Aku menutup laptop dan mulai memasukkan buku-buku serta alat tulisku ke dalam tas.
"Ya. Ayo."
Kami meninggalkan perpustakaan dan berjalan menyusuri lorong kampus yang mulai ramai menjelang pergantian kelas.
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Ferdinand lagi.
Aku mengembuskan napas pelan.
"Entahlah."
"Kau terlihat pucat."
"Aku hanya merasakan sesuatu yang aneh."
Ferdinand mengangkat alisnya, menunggu penjelasan.
"Sesaat tadi dadaku terasa seperti tertusuk sesuatu. Lalu tiba-tiba..." Aku berhenti sejenak, berusaha mencari kata yang tepat. "Aku merasa hangat. Tenang. Damai."
"Kedengarannya tidak buruk."
"Itulah masalahnya."
Ferdinand menatapku bingung.
"Aku belum pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya."
"Hmm... kau ingin memeriksakannya?"
"Ke dokter?" Aku terkekeh kecil. "Kurasa tidak perlu. Rasa sakitnya sudah hilang."
Aku melirik jam tangan.
"Kelas Profesor Smith dimulai tiga puluh menit lagi. Sebaiknya kita fokus memikirkan cara bertahan dari kuliahnya hari ini."
Ferdinand tertawa pelan "Kau benar."
Tak lama kemudian Benjamin bergabung dengan kami di ujung koridor, dan kami bertiga berjalan menuju kelas tanpa menyadari bahwa perasaan aneh yang kurasakan tadi akan mengubah hidupku selamanya.
===
POV. Rienetta Banes
Hari pertama kuliah berjalan lebih baik dari yang kuduga.
Aku berkenalan dengan Lalita Vern, gadis ramah yang langsung mengajakku mengobrol tanpa henti hingga kelas berakhir. Kekasihnya adalah teman satu klub sepakbola Aeneas, David Lacutta.
Menjelang sore, Aeneas pergi latihan sepak bola sementara aku akan menunggunya di perpustakaan.
"Aku akan menjemputmu di perpustakaan setelah aku selesai latihan ya Rie.."ucap Aeneas, tak terasa 3 kelas di hari pertamaku sudah selesai. Aku mengangguk, mencoba mengingat arah perpustakaan yang tadi sempat diinformasikan Aeneas kepadaku.
"Aku akan menyusul menemanimu Rie, setelah aku bertemu David ya.." lanjut Lita.
"Ok.. see you.." ucapku, kami pun berpisah berjalan berlawanan arah.
Kampus ini sangat luas. Setiap gedung dipisahkan oleh deretan pohon-pohon tinggi dan rimbun, membuat suasananya lebih menyerupai hutan daripada area perkuliahan. Bedanya, jalan setapak di sini sudah diaspal dan dilengkapi lampu-lampu yang akan menerangi jalur ketika malam tiba.
Aku bersyukur hari masih sore.
Meski sinar matahari mulai terhalang oleh lebatnya dedaunan, setidaknya masih ada cukup cahaya yang membuatku berani berjalan sendirian menuju perpustakaan.
Namun semakin jauh aku melangkah, semakin tidak nyaman perasaanku.
Tempat ini terasa begitu familiar.
Jalan setapak yang panjang.
Pepohonan yang menjulang tinggi.
Suasana sepi tanpa seorang pun terlihat di sekitarku.
Pemandangan itu membuat bulu kudukku meremang.
Ini persis seperti yang kulihat dalam mimpi selama seminggu terakhir.
Dalam mimpiku, di jalan setapak seperti ini, sebuah bayangan hitam raksasa akan muncul dari kejauhan. Tubuhnya tinggi menjulang dengan tangan-tangan panjang yang bergerak-gerak, seolah siap menangkap siapa pun yang berada di hadapannya.
Tunggu...
Aku menghentikan langkah.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Di ujung jalan, sosok itu berdiri.
Hitam.
Tinggi.
Dan sangat nyata.
Makhluk itu mulai bergerak ke arahku.
Tangannya yang panjang terulur, berusaha menggapai tubuhku.
Ini bukan mimpi.
Rasa takut langsung menyergap seluruh tubuhku.
Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Derap langkahku menggema di antara pepohonan. Napasku memburu, sementara makhluk itu terus mengejar tanpa henti.
Aku berlari tanpa arah, hanya berusaha menjauh sejauh mungkin darinya.
Namun makhluk itu selalu berhasil menyusul.
Tangan-tangan hitamnya terus berusaha meraihku. Berkali-kali aku menghindar di detik terakhir.
Tubuhku mulai dipenuhi keringat.
Kakiku terasa nyeri akibat berlari tanpa henti.
Ranting-ranting pohon menggores lengan dan tanganku hingga terasa perih.
Entah sudah berapa lama aku berlari.
Yang kutahu hanya satu.
Aku tidak boleh berhenti.
Aku tidak boleh tertangkap.
Namun tubuhku mulai mencapai batasnya.
Saat mencoba menghindar sekali lagi, kakiku tersandung akar pohon besar yang mencuat dari tanah.
Aku kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Tubuhku terjatuh keras ke tanah.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
Aku mencoba bangkit.
Namun kakiku terasa lemas.
Tubuhku kaku, seolah tidak lagi mau mengikuti perintahku untuk berdiri dan berlari.
Makhluk itu semakin dekat.
Semakin dekat.
Dan semakin dekat.
Aku memejamkan mata rapat.
Ya Tuhan...
Apakah ini akhir hidupku?
Ketakutan menguasai seluruh diriku. Aku memekik saat makhluk itu mengulurkan tangannya untuk meraihku.
Dan tepat pada saat itu...
SRAAATTT!
Suara tebasan tajam membelah udara.
Aku membuka mata.
Makhluk itu terbelah menjadi dua tepat di depanku. Darah hitam menyembur sebelum tubuhnya terbakar dan berubah menjadi abu.
Di balik kepulan asap, seorang pria berdiri dengan pedang berpendar biru di tangannya.
Rambut hitam.
Rahang tegas.
Tatapan cokelat gelap yang tajam sekaligus menenangkan.
Dan ekspresi kesal yang entah kenapa langsung membuatku sebal.
"Bagaimana kau bisa memanggilku?" tanyanya.
Aku berkedip.
"Apa?"
"Aku bertanya, bagaimana caramu memanggilku?"
Aku menatapnya bingung.
Aku bahkan tidak tahu siapa dia.
Namun pria itu tetap menatapku seolah aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat mengganggu hidupnya.
Entah berapa lama kami hanya terdiam dan saling menatap. Aku masih kaget dengan kejadian tadi, sementara lelaki itu terlihat kesal menatap ke arahku.
"Bagaimana kau bisa memanggilku?" tanyanya lagi memecah keheningan kami.
"A..a..apa itu tadi? Apakah itu ilusi? Apakah aku sedang bermimpi?" tanyaku masih tergagap karena masih kaget dan tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. Apakah ini nyata?!
"Aku yang lebih dulu bertanya.. bagaimana caramu memanggilku?"
Memanggilnya? Aku saja tidak tahu namanya. "Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Kau memanggilku ke sini dan tepat ketika iblis itu datang.. apa yang telah kau lakukan padaku?" ucapnya dengan nada kesal.
Apa sih?! Kenapa dia bersikap arogan dan menyebalkan sekali! Rasa takutku tiba-tiba berubah menjadi kesal… tenang Rie, bagaimanapun juga dia telah menolongmu…inhale..exhale… "Well…sebelumnya terima kasih karena telah menolongku dari apapun itu tadi…mengenai pertanyaanmu.. aku tak mengenalmu, jadi bagaimana aku bisa memanggilmu? Kalaupun kau terpanggil…well…aku tak tahu caranya.."
Lelaki itu sepertinya terlihat mulai menguasai diri, lalu dengan gerakan ringan muncul asap biru tipis di tangannya dan pedang yang digunakan tadi menghilangkan. "Itu Iblis Beelzebub..dari keagresifannya, sepertinya kau merupakan santapan yang lezat baginya" jelasnya.
"Hmm..terima kasih karena kau perjelas kenapa dia berusaha menangkap dan mengejarku tadi.. bukan itu maksudku! Bagaimana iblis itu bisa muncul? Ayolah ini dunia nyata kan.. apakah tadi hanya ilusi.. seperti sulap yang kau lakukan tadi ketika menghilangkan pedang?"
"Ilusi? Well kalau kau sebut tadi ilusi..selamat datang di dunia ilusi, dimana kau akan bisa menemukan berbagai macam iblis di kota ini.." jawabnya cuek.. lalu melangkah meninggalkanku
"Tunggu..!"pekikku sambil berusaha berdiri menahan sakit di kakiku. Tapi memikirkan aku akan sendirian di hutan ini terasa lebih mengerikan lagi.
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menengok ke arahku, menatapku dengan mata tajamnya. Aku berjalan mendekatinya "hmm…apakah kau bisa mengantarku ke perpustakaan?"
"Apa?!"
"Eummm.. ini hari pertamaku… aku belum terlalu paham area kampus ini.. dan setelah kejadian tadi, aku sedang tidak dalam kondisi.. euumm.." Kondisi sehat? Kondisi sadar? Kondisi normal? Apakah aku sudah gila? Aku benar-benar tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk bisa menggambarkan kondisiku saat ini.
"Dan setelah yang terjadi tadi kau masih ingin belajar?"
"Hmm..aku tidak punya pilihan lain..temanku baru akan datang nanti..kau cukup mengantarku sampai depan perpustakaan lalu kau bisa meninggalkanku..aku janji tidak akan mengganggumu lagi"
Tanpa menjawab aku bisa tahu dia menyetujui permintaanku. Dia membiarkan aku berjalan di sisinya, dan memelankan langkahnya untuk mengimbangi jalanku yang terpincang dan pelan karena sakit dikakiku.
"Jadi kau apa? Kenapa kau bisa menghadapi makhluk yang kau sebut iblis tadi?" Tanyaku memecah kesunyian diantara kami
Lelaki itu menatapnya "Anggap saja kau sedang beruntung karena aku datang tepat sebelum iblis itu melahapmu, jadi kau sekarang bisa melupakan kejadian tadi"
"Melupakannya..bagaimana mungkin? Makhluk itu..mirip dengan yang kulihat di mimpi-mimpiku sejak aku sampai di kota ini.."
Raut wajahnya terlihat bingung "Jadi kau tidak berasal dari Vierra?"
Aku mengangguk "Yup..aku baru tiba di kota ini seminggu yang lalu.."
Lelaki itu mengerutkan dahinya "Hmm..sungguh penyambutan yang luar biasa di hari pertamamu.."
"Ya..walau aku tak mengharapkan surprise itu..jadi.. kau bilang tadi di sini banyak iblis yang mirip seperti itu? Apakah akan ada kemungkinan aku akan berhadapan dengan mereka lagi?"
Dia mengangguk, "Iya..mungkin saja...aku rasa dengan energi yang kau pancarkan itu, mereka akan tertarik untuk mendekatimu"
"Hah? Mmm.. tapi aku tak berniat menarik perhatian makhluk-makhluk seperti itu.." aku mulai merasa khawatir dengan keadaan ini.
Lelaki itu menahan tawanya, wajahnya sangat tampan dengan mata elang yang tajam.
"Apakah ini lucu?" tanyaku bingung
"Well..kau mengatakan seolah-olah iblis-iblis itu adalah para lelaki yang ingin mengejar dan menarik perhatianmu.."
Aku merenggut kesal "Hei..kondisiku ini sedang tidak dalam posisi untuk bisa bercanda.."
Lelaki itu tertawa "Maafkan aku, tapi kau sungguh polos..mm… baiklah, yang perlu kau lakukan adalah menghindari tempat sepi seperti tadi..jangan pergi sendirian, aku belum punya saran bagaimana caranya agar energimu itu tak terlalu menarik perhatian iblis.."
"Jadi apakah kau mau membantuku?"
Dia menatap bingung "Aku tak bilang akan membantumu"
"Tapi tadi kau bilang kau belum punya saran bagaimana caranya agar energi yang dipancarkan olehku tidak akan terlalu menarik perhatian iblis..dan kau tadi bilang aku memanggilmu..tidakkah kau ingin tahu kenapa kita bisa terhubung seperti itu? Bukankah kau penasaran? Mungkin saja dengan kita mencari tahu bersama kita bisa mengetahui misteri apa dibalik ini semua.."
"Hei…aku tak berniat terlibat denganmu setelah kejadian ini..jadi jangan berusaha melibatkanku dengan cara simbiosis mutualisme yang kau coba bangun tadi.."
Apa dia baru saja menolakku?! Egoku mulai meningkat, siapa dia berani menolak pertemanan yang kutawarkan!
"Fine?! Maaf kalau aku berkesan ingin melibatkanmu denganku…"ucapku kesal pergi meninggalkannya, aku berusaha tetap berdiri tegak walau kakiku masih terasa sakit. Tak akan aku biarkan dia melihatku lemah! Baru beberapa langkah aku berbalik menatapnya kesal "Dan kau…sebaiknya tak perlu menghampiriku jika kau rasa aku memanggilmu lagi!" Lanjutku ketus dan berbalik. Gedung perpustakaan sudah bisa terlihat dari tempat aku berpisah dengan lelaki itu. Masa bodoh dengan sikap angkuhnya tadi, aku benar-benar kesal dengan caranya menolakku. Tenang Rienetta Banes, banyak kejadian di dalam hidupmu, dan kau selalu bisa mengatasinya. Kau tak butuh dia ataupun orang lain untuk menolongmu!
Dan saat itulah, tanpa kusadari, hidupku mulai berubah.
Karena pertemuan pertama kami bukanlah sebuah kebetulan.
Dan makhluk yang baru saja mencoba membunuhku hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.