"Ahahaha, iya benar benar!” seru ku senang. Aku sedang menelepon temanku, Pia. Kami mulai menelepon saat jam sebelas malam.
Aku melirik jam dinding di kamar kost ku, sudah jam satu lewat. Terkadang, gibah bagi wanita itu menyenangkan, sehingga membuat lupa waktu. Aku teringat akan mata kuliah pagiku besok.
“Pi, udahan dulu, yuk. Aku ada matkul besok pagi, diajar nya sama Pak Yos pula. Kalo telat, mampus aku,” ucap ku. Pia mengiyakan ku, seolah mengerti betapa galaknya dosen ku pagi besok.
“Yaudah, dadah Pia Pia. Guling ku sudah mau ngajak ngapel nih,” canda ku. Pia tertawa. “Hati hati dengan ucapan mu,” ledek Pia.
Setelah mengucapkan ‘dadah’ berkali kali, akhir nya sambungan telepon putus. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan menarik selimut hingga d**a.
Aku membuka ponsel, ingin ber