Aku mendengar suara isak tangis. Seketika itu juga seakan tubuhku ditimpa sesuatu yang besar hingga napasku sesak, jantungku berdesir tak karuan, seakan aku mau menghilang saja. Suara itu tak henti-hentinya menemaniku, mataku menjadi enggan tuk mengatup. Aku mengeratkan genggamanku pada selimut yang kugunakan untuk melindungi diri bak kura-kura dalam tempurungnya.
Lagi, suara itu semakin menjadi, kontan tubuhku tergerak sendiri untuk bangkit dan berteriak sekencangnya.
Sepersekian detik terdengar suara gagang pintu yang digerakkan sebelum ambang pintu itu terbuka secara paksa. Kedua orang menyembul dari baliknya.
“Sayang, Marini. Ada apa?” tanya seorang perempuan paruh baya, sementara di belakang perempuan itu berdiri seorang laki-laki dengan kacamata membingkai indra penglihatnya. Ia b