Darma mengajakku untuk pergi ke rumahnya di akhir pekan ini. Bukannya aku menolak, tapi rumahnya sangat jauh, bagaikan di ujung pulau jawa. Sebuah desa kecil di pedalaman Jawa Barat. Tapi Darma rupanya tidak menyerah semudah itu, ketika aku menolak halus ajakannya. Dia mendeskripsikan bahwa terdapat sungai-sungai yang jernih, perkebunan teh yang luas, udara segar, dan kembang desa yang jelita, masih natural dan bebas polusi. Tentunya berbanding terbalik dengan kondisi disini, daerah kota. Akhirnya hatiku luluh, Darma berhasil membujukku dengan lihainya.
Akhir pekan pun tiba. Sebelumnya, aku dan Darma menyelesaikan tugas mata kuliah terlebih dulu supaya lebih tenang. Kutulis namaku disana sebagai identitas, Bima Suryana.
“Bim, lo udah packing semuanya?” tanya Darma sambil menggerak-gerakk