Setiap manusia tidak ada yang abadi.
Setiap awalan pasti ada akhir dan setiap orang yang hidup pasti akan mati. Itulah yang dirasakan Tristan Wayne, ia masih berpikir jika apa yang di alaminya saat ini adalah sebuah kekeliruan. Ia masih berpikir umurnya yang masihlah muda tidak akan mati secepat ini. Ia terbangun di atas air, tubuhnya mengambang, sebagian rambut hitam legamnya berada di dalam air. Permukaan kemeja berwarna merah dan celana bahan hitam yang saat ini tengah di kenakannya tidak basah, lagi-lagi hanya bagian bawahnya mengingat posisinya yang terapung di atas air. Matanya terlihat sayu dan tubunya terasa lemas. Hanya ada kegelapan, ia tak tahu dimana ia berada saat ini.
Hanya ada 2 kalimat yang terpikirkan di dalam kepalanya..
Apakah aku sudah mati?
Apa yang sedang ku lakukan di sini?
Perlahan-lahan matanya terpejam walau ia mencoba untuk membuka matanya namun rasanya sangat sulit, tubuhnya terlalu lemas untuk melakukan sesuatu walau hanya gerakan kecil, ketika matanya terpejam tubuhnya bergerak lambat menariknya masuk ke dalam air.
“sampai kapan kau akan bermalas-malasan begitu?.”
Tiba-tiba saja Tristan membuka matanya dan ia melihat langit malam dan beberapa bintang terlihat menghiasi malam itu. Ia bangkit terduduk dan mendapati dirinya berada di atas rooftop sebuah gedung, angin berhembus cukup kencang hingga membuat rambut hitam nya bergerak terhempas angin. Ia sadar apa yang saat ini tengah ia lakukan benar-benar membuang-buang waktu.
“benar, aku harus pulang. Jam berapa sekarang?.”ia menarik lengan kemeja kirinya untuk meihat jam tangan rolex yang melingkar di sana. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Bisa-bisanya ia tertidur di sini piker Tristan, ia bahkan takt ahu dia berada di gedung entah dimana saat ini.
Tubuhnya bangkit berdiri seraya menepuk kemeja dan celananya yang terasa kotor akibat berbaring di sini, ia berbalik untuk pergi namun langkahnya terhenti ketika berhadapan dengan seorang [ria berpakaian serba hitam, setelan jas hitam, cukup tinggi selisih 2 cm darinya kemungkinan 185 mengingat tinggi Tristan 183 cm.
“kau mau kemana?.”tanyanya.
“siapa kau? Kenapa kau berada di sini? Kau pegawai di sini?.”
Pria itu hanya terdiam dan mengamati Tristan tanpa berkata apa-apa lagi. Tristan menatapnya sengit lalu memutuskan untuk pergi dari sana, baru saja ia ingin menyentuh kenop pintu rooftop untuk keluar dari tempat ini pria itu kembali berkata.
“kita harus bicara, kau tidak akan bisa keluar dari sini tanpa seizin ku.”
Bibir Tristan berkedut menahan tawa, itu adalah kalimat yang biasa ia utarakan untuk seseorang. Bagaimana bisa kalimat itu berbalik padanya, tubuhnya menyamping, pandangannya kembali menatap pria itu dengan ujung bibir tertarik.
“tidak ada yang bisa memerintahku.”Tristan mengabaikannya, saat ia ingin menyentuh kenop pintu, kedua matanya terbelalak terkejut, bagaimana tidak ia tidak bisa menyentuh kenop pintu, tangannya menembus kenop pintu tersebut, ketika ia menyentuh pintu rasanya seperti tersetrum hingga membuat tubuhnya tersentak kaget. Tristan kembali menatap pria itu dan berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa.
“apa yang kau lakukan padaku huh!.”
“aku tak melakukan apapun, tanganku bersih,”pria itu mengangkat kedua tangannya sejajar bahu, menunjukkan telapak tangannya pada Tristan. “kau tahu, kau mungkin saja sudah mati sekarang.”
“mati! Kau sangat konyol!.”
“aku tidak mau basa-basi. Kau sekarat.”perkataannya membuat Tristan tersenyum.
“jadi.. apa ini alam baka! Jujur saja jika ya, maka sangat payah aku sedikit berharap dunia itu terlihat lebih baik dari ini.”Tristan tertawa seraya menunjuk sekelilingnya dengan gerakan tangan.
“tentu saja tidak, tergantung bagaimana tabungan kebaikan dan keburukan yang kau bawa di masa hidupmu dan hal itu akan menggambarkan kehidupan yang kau dapat setelahnya, dan kau belum pantas menerimanya karena kau masih sekarat. Namun aku bisa memberikan dua pilihan untukmu jika kau menginginkannya.”
“kau tahu aku bisa melakukan apapun dan aku tidak berminat untuk melakukan negosiasi di saat seperti ini denganmu, jika kau macam-macam, aku bisa membunuhmu. Jadi kembalikan aku sekarang, secara normal dan jujur saja, aku tak percaya dengan semua kebohonganmu. Apakah ini sulap, tipuan ? kekonyolan yang kau ciptakan.”
“Aku meragukan hal itu, kau takkan bisa melakukannya karena aku tidak bisa mati.”senyumannya menyeringai tampak mengerikan, ia menjentikkan jarinya hingga membuat Tristan memejamkan mata. Rasanya seperti ada debu yang masuk ke dalam matanya. Ketika Tristan membuka mata ia tengah berdiri di dalam Lorong dengan dinding berwarna kehijauan dengan ukiran-ukiran bunga lili berwarna putih dan pintu-pintu di setiap sisinya berwarna kecoklatan. Tubuh Tristan berputar ke kanan dan ke kiri, lalu berputar sebelum berjalan ke ujung lorong, ia mencoba membuka pintu, pintu itu terkunci, setiap pintu yang ia coba untuk membukanya terkunci. Ada satu pintu di ujung lorong lainnya yang perlahan-lahan terbuka, Tristan berlari ke sana saat ia berpikir itu dalah jalan keluar dari lorong yang tak masuk akal ini. Saat ia sampai di sana ia malah melihat dirinya sendiri, berdiri di tengah-tengah ruang dengan wajah tertunduk. Perlahan-lahan kepalanya mendongak, kedua matanya yang tajam menatap tajam dengan smirk menyeramkan hingga bisa membuat Tristan, pria yang semasa hidupnya tidak pernah takut apapun bergidik ngeri, mengambil beberapa langkah mundur menjauh dari ruangan tersebut. Sosoknya nampak mengerikan dengan aura gelap yang mengelilinginya.
Tristan mundur beberapa langkah dan semua pintu terbuka secara bersamaan, menampakan sosok dirinya yang berbeda-beda namun ada satu kesamaan dari mereka semua, terlihat sangat suram dan menyeramkan. Tristan jatuh terduduk, terasa hampir gila, di dalam pikirannya ia merapalkan satu kalimat. ‘semua ini tidak nyata’.
“kau masih tidak percaya.”
“ini pasti hanya magic.”
Angin berhembus dengan kencang saat Tristan membuka mata ia tengah berdiri di atas Space Needle. Saat ini jam 1 malam, berdiri di pinggiran lantai kaca berbentuk piringan di puncak space needle bukanlah ide yang bagus tentu saja. Angin bertiup sangat kencang hingga membuat tubuhnya hampir saja goyah.
“apa kau sudah gila! Aku bahkan tidak memiliki tiket untuk berdiri di sini.”Tristan menatap ke bawah, tingginya ribuan kaki jika ia terjatuh dari sini maka hanya aka nada jejak seperti muntahan. Pria itu berdiri tepat di sisi kiri Tristan, menoleh padanya.
“kau tidak memerlukannya. Cukup nyata bagimu bukan?.”pria itu mencubit lengan Tristan hingga membuat pria itu mengaduh. Bermaksud untuk membuktikan pada Tristan jika semua ini adalah nyata.
“ini tidak nyata. Ini tidak nyata.”gumamnya.
“kalau begitu tidak masalah jika kau terjatuh dari sini bukan!.”perkataan pria itu membuat Tristan spontan menoleh padanya dengan mimik wajah terkejut.
“Apa? Tunggu, tunggu, tunggu maksudmu?.”pria itu langsung mendorong Tristan dari pinggiran hingga membuatnya terjun bebas tanpa sebuah pengaman apapun. Tristan merasa semua ini benar-benar nyata namun rasanya tidak bisa menganggap jika ini adalah kenyataan, jantungnya berdebar keras hingga rasanya seperti akan meledak, tubuhnya bergetar hebat dan melemas. Sebuah sinar muncul di arah pandangannya ketika ia hamper saja menyentuh tanah. Tiba-tiba saja ia berada di dalam air, seolah-olah ia berada di dalam lautan dengan warna biru yang berada di sekelilingnya. Spontan Tristan menahan nafasnya ketika ia terhisap masuk ke lebih dalam kelautan. Ia bisa merasakan tekanan air pada tubuhnya dan bagaimana sekelilingnya semua ini terasa sangat nyata. Tristan mencoba untuk berenang ke atas namun ia terus menerus terdorong ke bawah ke dalam lautan. Hingga nafasnya terasa hampir habis. Tristan memejamkan mata.
“kau percaya?.”
Tristan kembali membuka matanya dan kini ia sedang berada di dalam rumah sakit, ada seorang pasien di sana yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia kembali terkejut bagaimana tidak saat melihat seorang pria tengah mondari-mandir di samping ranjang rumah sakit dengan mimik wajah kebingungan, masalahnya bukan itu tapi dengan wajah yang sama pria lain tengah berbaring di atas ranjang tempat tidurnya. “sama denganmu, jadi perhatikan ini.”
Pria itu pergi ke arahnya, Tristan hanya memerhatikan dengan berdiri di samping pintu kamar rumah sakit. Arwah itu nampak Bahagia ketika melihat nya dan menunjuk ke arah tubuhnya sendiri yang tengah berbaring di atas ranjang tempat tidur.
“kau bisa kembali ke tubuhmu sekarang.”
“terima kasih.”
Perlahan-lahan arwah itu naik ke atas ranjang dan berbaring menyatu bersama dengan tubuh aslinya. Kemudian matanya terbuka, ia tersadar dalam komanya. Perhatian Tristan kembali pada sang pria misterius, pria itu kembali menjentikan jari dan tiba-tiba ia berpidah, posisinya saat ini berada di rooftop rumah sakit.
“Ada yang ingin kau tanyakan?.”
“Ya. Apa yang kau lakukan padaku? Dan kenapa aku bisa menjadi seperti ini, apa itu tadi? Arwah? Apa aku sudah mati? Atau apa aku bisa kembali hidup seperti itu? Siapa kau? Dan jawab aku sekarang, secara lengkap jelas dan tidak bertele-tele. Kau mengerti.”