Winter akhirnya nekat menerima tawaran Grayson Purnama. Apa yang terjadi, terjadilah. Toh tak mungkin lebih buruk dari tinggal sebatang kara di pemukiman kumuh. Tentu saja Grayson Purnama menyambut niat Winter dengan gembira. Pria paruh baya itu lega ada yang mau mengurus anak tunggalnya, yang kelakuannya bisa membuat orang tua manapun cepat wafat. Grayson seperti terlepas dari beban berat. Sekarang tugasnya mengawasi Landon pindah tangan. Grayson amat bersyukur.
Winter bertekad hanya akan menerima uang kuliah dari Grayson. Dia tidak mau aji mumpung mentang-mentang menjadi menantu konglomerat lalu merongrong atau merepotkan. Dia tidak mau memanfaatkan kebaikan dan kekayaan Ayah Asuhnya, karena itu Winter menolak ketika Grayson menawarkan jet pribadi untuk menjemputnya ke Jakarta. Winter memilih terbang sendiri naik pesawat kelas ekonomi maskapai penerbangan paling murah karena sering kecelakaan.
Di luar dugaan, ketika sampai di bandara Soeta, Winter mendapat panic attack. Tempat itu terlalu padat manusia. Dia pun agak mual selepas terbang sebab pesawat yang ditumpanginya mengalami beberapa turbulensi. Winter tidak pernah ke Jakarta. Sekarang dia berada di kota besar itu, sendirian, dan akan segera bertemu dengan orang asing. Winter agak pemalu dan bukan orang yang supel. Bertemu orang baru saja sudah membuatnya merasa tidak nyaman, gugup, apalagi sebentar lagi dia akan menikah dengan orang asing dan bergabung dengan keluarga barunya. Winter merasa takut. Takut ditolak, takut dibenci, takut dihakimi karena menikah demi uang kuliah.
Kepala Winter terasa pusing, pandangannya mulai berkunang-kunang, dadanya sesak, Winter pun menggiring kopernya mencari tempat sepi. Dia bersimpuh di pojokan, menutupi wajahnya dan mulai menangis. Dia amat merindukan sosok Mamanya. Kayaknya dia tidak kuat menjalani hidup baru sendirian. Belum apa-apa dia sudah kangen rumah dan ketakutan.
"Hei!" sapa seseorang. Terkejut, Winter pun mengangkat wajahnya. Mungkin kah itu satpam yang menegurnya untuk tidak duduk di pojokan sebab mengganggu pemandangan? Mata Winter langsung bertemu dengan sepasang mata milik seorang pria. Winter sempat termenung sebentar sebab wajah pria itu seperti lukisan. Matanya indah, hidungnya sempurna, bibirnya penuh dan giginya kecil-kecil. Rambut pria itu ikal sedikit acak-acakan, yang membuat orang gemas ingin membelai. Perawakan pria itu ramping dan lumayan tinggi. Bagi Winter, pria itu adalah pria paling tampan yang pernah ditemuinya seumur hidup. Pria itu tersenyum ke arah Winter sambil mengulurkan sapu tangan.
"Te-terima kasih..." kata Winter ragu lalu menerima sapu tangan milik pria itu. Buru-buru diusap matanya yang basah. Winter pun perlahan bangkit berdiri.
"Kenapa menangis?" tanya pria itu lembut.
Ditanya begitu, mata Winter kembali berair. "Aku takut. Aku tidak pernah ke Jakarta. Aku tidak pernah pergi jauh sebelumnya sendirian." jawab Winter jujur, sedikit terisak.
Pria itu memulas senyum, merasa iba. "Minum nih!" katanya ramah, kini dia menyodorkan sebotol air mineral pada Winter. Winter mendelik, tak percaya dia bisa bertemu dengan orang baik begitu menginjakkan kakinya di bandara, padahal kata orang, ibukota itu kejam. Semoga saja pria itu tidak bermaksud menawarkan MLM alias multi level marketing.
"Tidak usah, terima kasih..." tolak Winter halus. "Aku harus jalan. Ada orang yang sedang menungguku."
Pria itu membuka segel air mineral dan kembali menyuruh Winter untuk minum. Tak enak menolak, Winter pun meneguk air dingin yang terasa amat sejuk di tenggorokannya. Benar saja setelah minum, perasaannya jadi sedikit lebih baik.
"Sekali lagi terima kasih..." kata Winter tersenyum malu-malu.
"Sama-sama."
"Oh iya namaku Winter." kata Winter memperkenalkan diri.
Pria itu mengangguk. "Aku tahu. Kamu Winter Mulia kan? Lihat nih aku punya fotomu!"
Winter terenyak melihat fotonya yang masih mengenakan seragam SMU. "Kamu Landon?'" tanyanya shok. Dadanya langsung berdebar. Cakep sekali calon suaminya, batin Winter terkagum-kagum.
Pria itu tertawa kecil mendengar nama Landon. "Bukan... Bukan... Aku bukan Landon. Aku sepupunya, Namaku Mason Purnama." kata Mason sambil menjabat tangan Winter.
"Oh... Halo Mason, senang bertemu denganmu." balas Winter kikuk, masih membenahi wajahnya yang mungkin masih semerah kepiting.
"Aku ke sini untuk menjemputmu. Dari tadi aku menunggumu tapi kau tidak kunjung muncul jadi aku keliling untuk mencarimu lalu kulihat kau sedang menangis. Jadi aku membeli air dulu. Winter, kamu tak perlu cemas. Kami keluarga Purnama tidak menakutkan kok. Kau begini karena ini hari pertamamu di sini. Lama-lama juga akan terbiasa, malah mungkin kau akan betah tinggal di sini. Aku tak keberatan menemanimu jalan-jalan melihat kota jika kau mau."
Winter sedikit terhibur mengetahui konglomerat ternyata bisa sangat ramah dan bersahabat. "Benarkah? Terima kasih Mason. Mungkin kapan-kapan." kata Winter tersipu. "Apakah Landon ikut bersamamu?"
Mason menyeringai. "Landon di kantor. Dia sibuk. Namanya juga CEO. Dia memintaku untuk menjemputmu."
"Oh begitu." balas Winter mengerti. Dia sebenarnya agak bingung mengapa yang menjemputnya bukan calon suaminya malah sepupunya. Tapi Winter lega sepupu Landon sangat ramah. Mudah-mudahan Landon juga begitu.
"Yuk kita jalan..." ajak Mason lalu mengambil alih koper Winter.
"Mase!" panggil seseorang seraya melambaikan tangan. Mason pun menoleh.
"Sini, Fab!" sahut Mason. Pria berdasi dengan rambut disemir ungu itu pun setengah berlari menghampiri Winter dan Mason.
"Ini Nona Winter?" tanya pria itu pada Mason yang langsung dijawab dengan anggukan.
"Halo, saya Fabio, Sekretaris Landon Purnama." kata Fabio memperkenalkan diri.
"Winter." balas Winter.
"Wah ternyata Ibu lebih cantik aslinya daripada di foto.... Kalau Ibu butuh apa-apa bisa cari saya. Saya siap membantu." kata Fabio sopan. Wajah Winter memang agak sembab tetapi Fabio bisa melihat garis-garis kecantikan paras gadis itu.
"Fab, jangan tebar persona! Ini tuh calon istri Landon." tegur Mason. Fabio meringis.
"Tahu, Mase. Siapa bilang calon istriku? Bisa muntah nanti Ibu Winter..." kata Fabio cekikikan. Otomatis Mason dan Winter tertawa.
"Fabio, kayaknya kita seumuran... Jangan panggil Ibu, panggil aku Winter saja. Tidak perlu bersikap formal padaku. Aku malah tidak terbiasa." kata Winter.
"Fabio memang sudah seperti keluarga kita. Walau dia sekretaris, tapi hubunganku, dia, dan Landon lebih seperti teman main." ujar Mason.
Fabio garuk-garuk kepala. "Kurang lebih begitu, kecuali aku terus yang disuruh-suruh. Apa-apa nyuruhnya Fabio..." sungutnya sambil memutar bola mata, yang langsung membuat Winter senyum-senyum.
Mason menyeringai. "Bagus sadar... Bawakan nih koper Winter..." kata Mason langsung memberi perintah.
Fabio manyun. "Iya Mase... Aku tahu kau mengajakku ke sini kan biar tak perlu bayar jasa porter. Lumayan hemat seratus ribu!"
Mason dan Winter tergelak mendengarnya.
***
Winter bersyukur sebab Mason dan Fabio amat ramah. Mereka mengajak Winter pergi makan siang di sebuah restoran Jepang. Sejujurnya Winter kebit-kebit makan dengan dua pria keren sekaligus. Benar saja begitu tiba, mereka langsung jadi pusat perhatian. Beberapa perempuan tidak malu-malu minta foto bareng Mason. Mason dengan ramah melayani mereka. Ternyata Mason mantan model. Ini pertama kalinya Winter jalan bareng cowok yang memang cakepnya keterlaluan. Baik dan kaya pula. Entah apa kekurangan si Mason? Winter sendiri mengakui Mason amat menawan. Wajah pria itu sedap dipandang. Banyak mengandung vitamin A yang baik untuk mata.
Fabio dan Mason agak shok menemukan calon isteri Landon sangat sederhana dan polos. Winter tidak pesan makanan atau minuman mahal, hanya makan secukupnya saja. Kelihatan tidak serakah. Mason merasa Winter adalah satu-satunya cewek yang tidak centil dan matre ketika berada di dekatnya. Biasanya cewek lain pasti akan cari perhatian atau sok manja. Makannya juga jaim. Winter berbeda. Dia apa adanya dan tidak suka merepotkan. Pakaian Winter biasa saja tetapi Winter pandai berdandan dan memiliki postur bagus sehingga apa saja yang dikenakannya terlihat menarik. Messy Bunnya terlihat menggemaskan. Dandanannya yang natural juga membuat gadis itu terlihat lebih manis apalagi memang wajah Winter cukup cantik. Mungkin kalau didandani make up artist akan tambah gemilang, tidak kalah dari model. Winter memiliki daya tarik alami, batin Mason terpesona.
“Mase, bayangan kita tentang Winter beda banget ya... Dia tidak kampungan atau norak tapi malah cantik dan kalem. Begini mah si Landon bakalan suka kali.” bisik Fabio pada Mason.
“Iya Winter cukup cantik tapi bukan tipe Landon. Aku punya bad feeling.”balas Mason berbisik. Mereka pun kembali menikmati makanan mereka.
"Win, mau dessert apa?" tawar Mason setelah mereka selesai makan sushi dan sashimi.
Winter menggeleng. "Aku mau minum teh saja."
"Teh apa,Win? Chamomile, English Breakfast, Green Tea, black tea, Oolong tea, milk tea, jasmine tea, teh kotak, teh botol, teh pucuk?" tanya Fabio hendak memesan.
"Fab, kau mau menyebut semua jenis teh di dunia?" cetus Mason cekikikan.
"Green tea saja. Terima kasih." jawab Winter. Fabio pun langsung memanggil pelayan.
"Kau tidak mau es krim? Matcha ice cream di sini sangat terkenal..." tawar Mason lagi.
"Tidak usah, Mase. Aku sudah kenyang. Terima kasih..." kata Winter. Mason pun manggut-manggut.
"Habis ini aku harus mengantar Winter ke mansion Landon. Disuruh Big Boss. Pak Grayson ada di sana. Jadi kau mau kuantar kembali ke kantor atau kau mau ikut ke mansion Landon, Mase?" tanya Fabio setelah menutup panggilan dari Grayson Purnama.
"Malas ah kalau ke rumah Landon. Kalian langsung saja. Aku bisa kembali ke kantor naik taksi." jawab Mason lalu beralih kepada Winter yang sedang menyesap teh. "Win boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Mason. Meski merasa permintaan Mason aneh, Winter memberikan apa yang diminta oleh pria itu.
"Winter, ini nomor ponselku. Kalau kau butuh teman, telepon atau SMS aku saja." ujar Mason santai. Winter sendiri bertanya-tanya apakah ok berteman dengan sepupu Landon tanpa ijin dari Landon.
Winter mengangguk patuh. Tak lama kemudian mereka berpisah. Winter dan Fabio bergegas menuju rumah Landon sementara Mason masih tetap di restoran sebab tak sengaja Mason bertemu dengan salah satu temannya.
Winter bertambah gugup setelah berada dalam perjalanan ke rumah calon suaminya. Dia sama sekali tak ada ide tentang bagaimana peringai Landon. Apakah Landon ramah atau sombong? Apakah Landon mengharapkan kedatangannya atau tidak.
"Fab, boleh aku tahu Landon itu orangnya seperti apa?" tanya Winter takut-takut.
Fabio memutar bola mata, menerawang. "Dia kebalikannya Mason. Mereka berdua seperti kutub utara dan selatan. Mason orangnya cepat akrab sama siapa saja alias murahan... hahahhaa... bercanda... Kalau Landon tipe tuan muda banget. Arogan, egois, jutek, short temperament, dan perfeksionis. Tapi kadang-kadang bisa menggemaskan seperti bayi. Manis, cute, bikin ingin memasukkannya ke dalam karung. Gimana kau sudah dapat gambaran?"
Winter menganga. Gambaranya mengenai Landon makin jauh dari konkret. Arogan tapi manis? Nah yang seperti ini susah dibayangkan. Belum ada kombinasi kayak gitu.
***
Winter dan Fabio tiba di kawasan perumahan terelit Ibukota. Gerbangnya megah dengan penjagaan super ketat. Rumah-rumah mewah berjejeran dengan rapi. Penataannya sempurna bergaya Eropa dengan taman rekreasi, Mal, lapangan golf, pusat olahraga, dll. Mobil mereka masuk menuju area lebih dalam, yang merupakan area termewah di sana. Winter tidak dapat melihat tukang ojek atau angkutan umum di segala sudut.
Mobil akhirnya memasuki pekarangan sebuah mansion raksasa berlantai tiga. Bangunan itu berwarna putih. Tamannya besar ditata dengan indah, dihiasi dengan bermacam-macam patung Yunani. Ada kolam air mancur yang dibangun dengan anggun di tengah. Bangunan tersebut bergaya modern minimalis.
Ketika masuk ke dalam mansion, Winter dan Fabio langsung disambut oleh dua belas pelayan dan seorang kepala pengurus rumah tangga. Mereka diantar ke ruang tamu. Setelah itu kepala pengurus rumah mohon diri untuk melapor pada Tuan Muda mereka. Winter dan Fabio pun menunggu di ruang tamu sambil menikmati es cokelat. Winter terpukau dengan pemandangan di sekelilingnya. Tempat itu luar biasa mewah tertata dengan apik dan bersih. Kayaknya debu seujung kuku pun tidak ada. Rumah Landon tidak banyak siku. Semuanya serba luas dan plong. Cahaya matahari bisa masuk dengan bebas. Tidak banyak barang di sana tetapi barang yang tidak banyak tersebut berharga ratusan juta. Fabio bilang Landon suka segala sesuatu yang simpel tetapi berkelas. Selera Landon bisa dibilang cukup tinggi.
Winter menyapukan pandangan pada beberapa lukisan yang tergantung di dinding. Semuanya lukisan abstrak yang lagi-lagi simpel. Dia penasaran lukisan mana yang berharga dua ratus ribu USD seperti yang diberitakan di internet. Fabio pun memberi bocoran. Winter menatap lukisan yang terdiri dari dua buah garis dengan bentuk yang tidak biasa. Mungkin satu garis berharga 100 ribu USD. Dua garis 200 ribu USD. Pas. Lukisan seperti itu kok dipajang? Winter tidak mengerti di mana letak nilai seninya tetapi lukisan itu sedikit banyak menginspirasinya untuk menjadi pelukis profesional. Winter rasanya ingin marah ada orang menghabiskan uang lebih dari dua miliar rupiah demi lukisan sesederhana itu. Entah bagaimana jalan pikiran Landon. She’s totally Clueless.
"Fab, di sini tidak ada ojek ya?" tanya Winter sedang memikirkan bagaimana cara pergi ke kampus. Fabio langsung menertawakannya.
"Ya kalau mau pakai juga harus pakai ojol. Ojek biasa tidak boleh mangkal di sini. Memang buat apa? Landon punya banyak supir yang bisa mengantarmu kemana saja. Lagipula mobilnya juga berjibun. Jadi kalau kau mau keluar rumah tidak usah khawatir."
"Aku tidak mau merepotkan orang. Menurutmu apa boleh aku pinjam salah satu mobilnya untuk pergi kuliah?"
Fabio terkekeh. "Ya pasti bolehlah sama si Landon!" kata Fabio mantap, cukup lantang, habis pertanyaan Winter ada-ada saja.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya seseorang ketus, begitu mendengar namanya disebut. Winter dan Fabio pun segera memutar tubuh mereka ke belakang, ke arah pemilik suara jernih itu. Jantung Winter memompa beberapa kali lebih kencang ketika Winter bertatapan dengan orang itu. Percaya tak percaya mata Winter terpaku pada keelokkan wajah pria yang berekspresi dingin tersebut. Tatapan Winter terkunci di sana.
"Hai Landon! Ini calon istrimu sudah datang!" lapor Fabio ceria seraya menunjuk Winter. Landon melipat tangan di d**a, menatap Winter dengan antisipasi. Pria itu sama sekali tidak kelihatan ramah.
Lidah Winter terasa kelu untuk memperkenalkan diri. Daya tarik makhluk di hadapannya terlalu kuat sehingga membuatnya gugup dan minder. Landon mengenakan setelan jas hitam, kemeja putih, dasi hitam, serta pantofel warna senada. Di pegelangan tangannya terpasang jam tangan bernilai ratusan juta rupiah bahkan milyaran. Tubuhnya tinggi, atletis dan proporsional, sedikit lebih berisi dari Mason. Kulitnya putih. Kinclong seperti dugaan Emma. Entah pakai skincare merek apa. Rambutnya lurus agak panjang dengan belahan di tengah. Winter penasaran siapa penata rambut pria itu, yang jelas gaya rambut itu sangat keren dan pas untuk dipajang di salon. Penampilan Landon sangat menawan seperti pangeran. Namun yang membuat histeris adalah paras pria itu. Matanya besar dilengkapi oleh lipatan yang bagus, jernih, dengan sorot mata innocent, hidungnya mancung, bibirnya tipis warna pink. Landon mengenakan anting di kedua telinganya. Total ada lima. Salah satu antingnya merupakan stud berlian. Winter tidak suka pria pakai anting tetapi kalau Landon bisa dibicarakan baik-baik. Penampilan Landon malah lebih memukau dilengkapi aksesoris tersebut. Satu kata untuk Landon, dope! Jika dibandingkan dengan Mason, bisa dibilang Mason itu cowok ganteng sedangkan Landon itu pretty boy. Apa tidak salah dia dijodohkan dengan pria sekeren ini? Masa tidak ada cewek yang mau sama Landon? Tumben sekali nasibnya bagus, batin Winter tak percaya. Winter yakin dia sudah jatuh hati sama Landon pada pandangan pertama dan itu membuatnya cemas.
"Hai..." kata Landon singkat lalu berpaling pada Fabio seraya mengangkat dagu. "Apa yang sudah pasti boleh?"
"Oh itu... Winter nanya boleh tidak dia pinjam mobilmu untuk pergi ke kampus. Soalnya di sini tidak ada ojek." jawab Fabio sambil menahan tawa, membuat Winter tersipu.
"Oh... Tidak usah pinjam... Beli saja mobil yang kau suka." kata Landon pada Winter lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. "Use this!"
Winter melongo. Belum juga mereka berkenalan, Landon sudah menyodorkan sebuah black card. Landon ini spesies apa? Batin Winter heran meski dia tahu Landon tidak bermaksud pamer melainkan hanya ingin memberikan solusi. Siapa sih yang tidak tahu kalau black card itu adalah solusi yang dibutuhkan oleh para wanita.
Winter buru-buru mengibaskan tangan. "Tidak usah. Terima kasih. Aku tidak mau menghamburkan uangmu. Aku pinjam saja salah satu mobil yang tidak kau pakai. Cuma untuk ke kampus. Soalnya aku perhatikan tidak ada ojek atau angkutan umum di sini. Mau keluar perumahan kalau jalan kaki terlalu jauh."
Landon mengerjap mendengar penuturan Winter. Antara takjub dan heran. Fabio menahan tawa melihat reaksi bingung Landon. Astaga masa isteri konglomerat naik ojek, malu atuh si Landon, batinnya geli.
"Fab, antar dia ke garasi untuk pilih mobil. Kalau sudah selesai, suruh ke ruang keluarga." kata Landon lalu pergi tanpa pamit pada Winter. Winter merasa seperti kutu di mata Landon. Belum juga dia memperkenalkan diri, Landon sudah berlalu. Sekarang Winter mengerti omongan Fabio di mobil. Landon itu arogan tapi manis. Ternyata perpaduan seperti itu memang ada di kehidupan nyata. Gambaran Landon kini secerah langit tak berawan di kepala Winter.
Winter pucat pasi melihat koleksi mobil Landon di garasi. Kurang lebih ada tiga puluh mobil. Berarti tiap hari bisa ganti mobil dalam sebulan. Semuanya mobil mewah mulai dari Bugatti, Rolls Royce, Ferrari, Bentley, Aston Martin, Lamborghini, dll. Winter berharap bisa menemukan mobil Toyota Yaris atau Kijang tetapi tidak ada.
"Kau boleh pilih yang mana saja, Win... Asal jangan McLaren warna putih, itu mobil favoritnya si Landon."
“Fab, aku cuma butuh mobil buat ke kampus. Ini mobilnya tidak ada yang membumi apa?"
Fabio terkekeh. "Ini mobil semuanya membumi. Tidak ada yang memvenus apalagi memmars. Memmars mah kalau kita dipukul orang bisa memmars memmars."
Winter tergelak mendengar Fabio melawak. "Aku tidak jadi pinjam deh. Takut rusak."
"Winny de puh... kalau kau naik ojek sih bakal malu-maluin si Landon. Nama dia bisa tercemar. Landon itu seperti selebritis. Kehidupannya disorot orang. Kalau isterinya naik ojek, yang ada nanti dia dihujat sama media. Dibilang suami biadab. Kamu mau reputasi suamimu rusak?"
Winter langsung menggeleng. "Tidak mau... Tidak mau... Ya sudah katakan padaku mobil mana yang harganya paling murah?"
"Pakai Maserati saja. Cocok untuk cewek kecil seperti dirimu."
***
Setelah mengantar Winter ke ruang keluarga, Fabio berpamitan. Lagi-lagi d**a Winter berdesir ketika menangkap sosok Landon. Pemuda itu sedang duduk bersandar pada sofa. Bahkan di mata Winter, cara duduk Landon sangat bergaya. Kelihatan sekali berkelas dan maskulin. Winter menyapa sambil tersenyum kikuk. Landon memberikan tatapan malas. Om Grayson menyambut Winter dengan gembira. Begitu melihat Winter, pria paruh baya yang masih gagah itu langsung memeluk Winter. Grayson menanyakan banyak hal seperti bagaimana perjalanan Winter ke Jakarta, apakah Winter sudah makan, kapan Winter kuliah dll. Landon tak melontarkan pertanyaan sama sekali bahkan sekedar bersalaman tanda perkenalan saja tidak, dia kelihatan tak tertarik. Winter bisa membaca kalau Landon terpaksa menyetujui pernikahan mereka. Tidak ada ekspresi welcome sama sekali pada wajah pria itu.
"Pernikahan kalian akan berlangsung dalam dua minggu. Semuanya sudah diatur. Winter, kau cuma perlu memilih gaun pengantin. Landon juga tinggal memilih tuxedo. Sisanya tidak ada yang perlu kalian pusingkan. Undangan juga sudah disebar. Ada sekitar dua sampai tiga ribu tamu undangan. Aku telah mengatur pernikahan besar-besaran untuk kalian." jelas Grayson Purnama antusias.
Mata Winter nyaris mau keluar. Ada 3000 orang yang datang ke pernikahannya? Seakbar apakah pesta yang diadakan oleh Om Grayson?
"Landon, setelah menikah, kau harus bertanggung jawab pada istrimu. Kau harus bekerja keras untuk membiayai kebutuhan kalian. Kau tak akan tinggal di sini lagi tapi di penthouse di Sky Tower. Aku cuma akan memberikan uang lima juta seminggu. Kalau kurang kau harus cari sendiri."
Landon tertegun, menatap Papanya marah. "Tak perlu memberiku uang, Pa. Aku bisa menghasilkan lima juta dalam waktu kurang dari satu menit." cemooh Landon, yang merasa pemberian uang lima juta seminggu sebagai hinaan.
"Oh ya? Kau bukan CEO Purnama Department Store lagi! Setelah kau membuat perusahaan rugi 12 juta dolar, kau pikir kau masih berhak atas posisi itu? Sudah bagus aku tak memasukkanmu ke dalam penjara! Perusahaan yang kau pimpin cuma satu. Perusahaan baru. Lebih tepatnya perusahaan non-profit Landon Winter Foundation, yang kuberikan kepada kalian sebagai hadiah pernikahan. Tenang saja posisimu masih CEO.
Landon langsung melemparkan tatapan tidak setuju. Dari bersandar kini pria itu duduk tegak. "Winter bisa mengurus perusahaan itu sendiri, aku tidak tertarik! Aku juga tak mau pindah ke Sky Tower. Tempat itu sempit. Di mana aku harus memarkir mobil-mobilku? Tolong realistis sedikit, Pa!”
Grayson tertawa kecil. "Kau cuma boleh membawa satu mobil, yang akan kau share berdua dengan Winter."
"Kalau begitu batalkan saja pernikahan ini!" katanya enteng. Winter benar-benar dianggap nyamuk.
"Ya sudah kalau begitu kau boleh angkat kaki sekarang. Akan kucoret namamu dari daftar keluarga Purnama. Biar semuanya kuwariskan pada Austin. Toh cuma dia yang berguna untuk perusahaan. Aku mau lihat bagaimana cara kau hidup di luar tanpa pengaruh keluarga Purnama."
Landon mendengus kesal. "Papa, mengapa kau ingin sekali aku segera menikah? Apa bedanya menikah atau tidak? Apa gunanya pernikahan? Pernikahan itu hal paling bullshit yang diciptakan oleh manusia! Kalau tidak, mengapa pernikahan Papa sendiri saja gagal?! "kata Landon dengan mata berkilat-kilat.
"Lalu sampai kapan kau mau hura-hura dan membuat onar? Kau sudah dewasa Landon! Mau sampai kapan hidupmu kacau tak karuan seperti ini?! Kau itu menyia-nyiakan hidupmu! Dengan menikah, kau bisa belajar banyak hal. Sifat egoismu bisa berkurang dan kau akan lebih bertanggung jawab. Lagipula aku memberikanmu calon isteri yang baik dan cantik seperti Winter. Bukan wanita p*****r yang sering kau sewa. Kau benar-benar rusak. Minum, berkelahi, main p*****r! Sudah syukur Winter bersedia menikah denganmu! Anak tak tahu diri!"
"Apa bedanya Winter dengan wanita-wanita itu? Dia juga mau menikah denganku karena Papa membayarnya! Jadi jangan sebut dia wanita baik-baik!" seru Landon tajam lalu keluar dengan membanting pintu.
Winter shok mendengar omongan Landon yang tak pakai filter. Baru kali ini dia dihina terang-terangan. Apa mungkin Landon tidak sadar orang yang dicacimakinya ada di sana? Dia tidak invisible kan?
"Om, batalkan saja rencana pernikahan kami. Landon keberatan. Aku juga tidak mau menikah dengan orang yang jelas-jelas tidak menyukaiku. Daripada pernikahan kami membuat kami sengsara lebih baik dibatalkan dari awal." usul Winter.
"Winter, Om benar-benar butuh bantuanmu untuk mengubah Landon. Kau kan suka menolong orang. Anggap saja kali ini kau menolong Landon. Dia tak percaya pada cinta. Sejak dulu dia tak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita. Semuanya hanya untuk bersenang-senang. Om bersalah pada Mamanya. Perceraian kami membuat Landon terpukul dan dia jadi seperti ini. Hidupnya berantakan. Terlalu bebas dan selalu mengandalkan uang untuk menyelesaikan masalah. Dia itu anak Om satu-satunya. Harapan Om satu-satunya. Orang yang paling Om sayang. Jadi tolong kali ini saja Winter bantu Om. Kalau dalam enam bulan Winter sudah tak tahan, Winter boleh menceraikan Landon. Om akan tetap membiarkan Winter memiliki foundation yang sudah Om hadiahkan untukmu. Anggap saja kau menolong orang tua renta yang tak berdaya ini."
"Kenapa Landon harus menikah dengan Winter sih Om?"
"Winter, teman-teman wanita Landon itu semuanya matre, suka pesta, dan malas kerja. Semuanya mau nebeng kekayaan Landon. Bagaimana Om bisa menyerahkan putera Om satu-satunya pada wanita yang seperti itu? Winter, enam bulan saja. Jika Landon tak bisa jatuh cinta padamu dan kau ingin menyerah maka Om akan membebaskanmu dan Landon dari belenggu pernikahan. Ok Winter?'
Winter tersenyum kaku. Melihat Grayson Purnama sampai memohon begitu mana bisa dia menolak. Anggap saja dia melakukannya untuk membalas budi. Namun di hati kecilnya, Winter juga berharap pernikahannya dengan Landon bisa menjadi pernikahan sungguhan. Winter ingin sekali mencobanya. Winter bertekad akan menjalankan perannya sebagai isteri dengan baik selama enam bulan. Setelah itu biar Tuhan yang memutuskan.
***
Winter terbelalak menemukan Landon lah yang mengetuk pintu kamarnya malam-malam.
"Landon? Ada apa?"
"Ikuti aku ke beranda." kata Landon lalu berjalan tanpa mempedulikan persetujuan Winter. Mereka pun bicara di beranda besar yang berhubungan dengan kolam renang yang luar biasa megah.
"Bilang pada Papa kau ingin membatalkanlah pernikahan kita!" ujar Landon dingin.
Winter mengerjap. "Maaf Landon. Aku terlanjur berjanji pada Om Grayson. Aku tidak bisa mengecewakannya apalagi selama ini aku berhutang budi padanya. Om Grayson yang membiayai edukasiku selama ini."
"Aku akan melanjutkan pembayaran edukasimu kalau perlu sampai S3 dan aku akan memberikan apapun yang kau mau. Rumah, mobil, apa saja, asal kau segera pergi dari sini! Jadi kau dan aku tak perlu saling membenci."
Nada dingin dalam ucapan Landon sungguh amat mematikan. Winter menggeleng. "Landon, aku tidak suka ingkar janji. Berikan waktu enam bulan. Kalau dalam enam bulan pernikahan kita tidak berjalan, Om Grayson akan membiarkan kita bercerai dan saat itu kita berdua sudah mendapatkan yang kita inginkan. Aku tidak berhutang budi lagi dan kau bebas."
Landon memberikan tatapan menusuk. "Baiklah, tetapi aku ingin memberi tahu di awal. Aku tidak suka terikat. Aku membenci komitmen. Jika kau menikah denganku jangan harap aku akan menjalankan peran sebagai suami. Aku ingin kita hidup masing-masing. Kau tidak boleh mencampuri urusanku. Aku pun tak akan mengganggumu. Paham?"
Winter sakit hati juga ditolak blak-blakan seperti itu tetapi dia mengerti situasi dirinya dan Landon. Untuk pria sekeren Landon mana mungkin perempuan biasa seperti dirinya dianggap. "Baik Landon. Aku berjanji aku tak akan mengusikmu. Kita cuma akan jadi teman serumah."
***
Selama dua minggu menjelang pernikahan, Landon dan Winter nyaris tak pernah bertemu, Winter cuma beberapa kali melihat Landon dari jauh ketika pria itu hendak pergi keluar rumah atau pulang kerja. Waktu menjajal pakaian pengantin di bridal house, Landon tidak muncul. Winter rela menunggu sampai dua jam demi bisa mencocokkan pakaian mereka tetapi Landon tak kunjung datang. Landon bersikap terang-terang dia tak menyukai ide pernikahan mereka. Pria itu sama sekali tidak peduli. Meski Winter tinggal di mansion Landon tetapi mereka tak pernah makan bareng atau mengobrol. Landon benar-benar menutup dirinya dari Winter.
Winter tidak menyerah, selama dua minggu itu dia mencari informasi mengenai calon suaminya dari berbagai sumber. Dari internet, para pembantu, Fabio atau Mason. Landon ternyata sangat menyukai s**u stroberi. Kulkas pria itu penuh dengan s**u tersebut. Pembantu harus memastikan mereka tidak kehabisan stok s**u stroberi di rumah. Pelayan dengan senang hati membantu Winter menyelundup ke kamar pria itu setelah Landon pergi kerja. Sesuai tebakan Winter, kamar pria itu simpel, bernuansa hitam putih minimalis. Kamar itu sangat luas, lengkap dengan ruang tamu, ruang main game dan ruang kerja. Di kamar mandi ada jacuzzi yang cukup menampung enam orang, Kamar mandi itu bersebelahan dengan walk in closet yang lebih mirip butik. Landon bisa buka toko di sana mengingat banyak sekali isi ruangan tersebut. Melihat isi lemari pakaian Landon, Winter sempat sulit membedakan rumah duka dengan lemari pakaian Landon sebab rata-rata baju Landon berwarna gelap. Landon juga merupakan gamer sejati dilihat dari peralatan komputernya yang super lengkap dan canggih. Winter berpendapat kamar Landon sendiri sudah seperti apartment.
Winter membuat sebuah buku ensiklopedia tentang semua informasi mengenai Landon. Landon paling suka makan seafood, tidak suka makanan pedas, mahir main piano, paling benci membaca, hobi main basket, hampir setiap hari ke gym, selalu party di akhir pekan, dan yang paling membuat Winter merinding adalah informasi yang didapatkannya dari Fabio. Kata Fabio, Landon itu pecandu seks.
Sungguh aneh Winter lebih sering berinteraksi dengan Mason dan Fabio daripada calon suaminya sendiri. Mason beberapa kali datang ke mansion sekadar untuk mengisi waktu senggang. Winter bisa melihat kalau Mason sangat akrab dengan Landon. Mereka seperti soulmate. Fabio sampai bilang Landon tuh lebih mesra sama Mason daripada sama perempuan. Di depan Mason, sosok Landon yang dingin sama sekali tidak keluar. Landon sering tertawa dan melakukan hal gila bareng Mason. Kayaknya Landon selalu happy di dekat sepupuya itu. Ketika main tenis, kaki Mason terkilir, Landon tampak cemas dan langsung membopong Mason di punggungnya. Di dalam rumah, buru-buru dikompresnya kaki Mason dengan es. Dari kejauhan, Winter sungguh iri dengan perlakuan Landon pada Mason.
"Win, kau tahu tidak. Dulu pacar Landon pernah lho direbut sama Mason. Lebih tepatnya pacar Landon selingkuh sama Mason."
Mata Winter membesar, mulutnya menganga karena shok. "Terus gimana, Fab? Mereka berkelahi?"
Fabio menggeleng. "Boro-boro berantem. Landon malah tak peduli. Kalau Mason memang suka, cewek mana saja bisa Landon kasih. Bagi Landon, hubungan mereka berdua lebih penting dari cewek. Jadi kalau sampai Landon mengamuk gara-gara cewek, itu berarti dia benar-benar sudah jatuh cinta pada cewek itu. Kayaknya perjalananmu masih panjang Win..." cibir Fabio sambil mengerling.
Winter menghela napas. "Tidak akan terjadi lah Fab. Aku tuh dianggap ada saja tidak sama dia. Papasan tak pernah menyapa. Hopeless..." kata Winter tersenyum masam.
"Sebenarnya bukan tidak dianggap tetapi ada histori yang membuat dia belum apa-apa membencimu."
"Karena aku menikah dengannya supaya bisa kuliah?"
"Bukan... Hmmm... Aku tak tahu nih harus cerita atau tidak... Soalnya ini kan masalah keluarga..." ujar Fabio ragu. Disesapnya kopi panas perlahan.
"Fab, cerita dong." pinta Winter dengan tampang memohon. Wajah Winter memang imut apalagi kalau sedang memelas begitu. "Aku berharap pernikahanku dan Landon bisa berhasil. Memang kami menikah bukan karena cinta tetapi walau bagaimanapun kami akan menikah di hadapan Tuhan. Aku tidak mau menganggap pernikahan sebagai permainan. Lagipula aku sudah tidak punya siapa-siapa. Selama ini hanya Om Grayson yang memperhatikan Mama dan aku. Mungkin memang aku serakah, tetapi aku sungguh ingin menjadi keluarga Om Grayson yang sesungguhnya."
"Kau benar bukan menikah dengan Landon karena harta?" selidik Fabio.
Winter menggeleng. "Fab, kami diberikan waktu enam bulan sama Om Grayson. Jika pernikahan tidak berhasil, kami diperbolehkan bercerai. Jadi kalau memang dalam waktu enam bulan, Landon tidak menerima pernikahan kami, aku akan pergi. Aku tidak akan membawa sepeser uang pun. Biaya kuliahku sudah lebih dari cukup."
Fabio tergerak melihat keseriusan Winter. "Ya aku tahu kau bukan cewek matre sejak kau menolak untuk dijemput dengan pesawat jet. Kau juga selama hampir dua minggu di sini belum pernah kudengar kau pergi berbelanja. OK aku kasih sedikit bocoran tentang Landon. Mama sama Papanya Landon menikah dijodohkan demi urusan bisnis kedua keluarga padahal pada waktu itu Papanya Landon sudah punya calon isteri dan calon isterinya itu adalah Mamamu."
Winter terenyak.
"Walau sudah menikah, Pak Grayson masih belum bisa melupakan Mamamu. Jadi singkat cerita Mamanya Landon sakit hati merasa diabaikan, tidak dicintai oleh suaminya. Sampai setelah Landon berusia kira-kira enam tahun, Papa Landon akhirnya melayangkan surat cerai. Kondisi mental Mama Landon lemah. Dia mencoba bunuh diri. Bukan sekali tapi sampai tiga kali. Pertama minum racun serangga, kedua pakai gunting, ketiga menabrakkan diri ke jalan. Tiga-tiganya terjadi di depan mata Landon. Namun perceraian juga tidak terhindarkan. Dengan mental tidak stabil, hak asuh Landon jatuh ke tangan Pak Grayson. Tidak kuat menerima, Mama Landon sekarang tinggal di Sydney. Akhirnya ya Landon tumbuh tanpa Mamanya. Papanya juga selalu sibuk. Kurang lebih dia anak yang kesepian."
Winter mengeguk ludah. Pucat pasi.
"Jadi menurutmu kau punya harapan untuk memenangkan hatinya?"
Winter terdiam seribu bahasa.